Hope and Wish

Hope and Wish
H&W98. Satu tahun kemudian



"Orang Ayah udah urus, Dek. Kita pulang aja dulu, nunggu kabar selanjutnya. Ayah juga udah minta Keith antar Jasmine pulang, kasian dia takut keteteran ngurus cucu-cucunya." Ayah menggiringku masuk ke dalam mobil. 


"Tapi kabar itu bukan hoax kan, Yah?" Aku menoleh memperhatikan wajah ayah secara dekat, aku menurut saja ketika dipaksa duduk di mobil lagi. 


Ayah tidak langsung menjawab. Ayah menutup pintu mobilku, kemudian ia berjalan memutar untuk duduk di tempat kemudi. 


"Ya kurang tau, Dek. Tapi rasanya butuh usaha betul, kalau Han harus foto narsis dengan kondisi yang memprihatinkan. Bisa dibilang, ya bukan editan. Makanya tunggu kabar dari orang Ayah, biar kabarnya lebih jelas dan transparan." Ayah menarik napasnya dalam. "Udah, jangan terlalu dipikirkan. Katanya mau bawa Galen cek gigi, lanjutin aja aktivitas kau." Mobil mulai berjalan kembali. 


Aku mengatur napasku, agar aku lebih tenang. Aku merasa ujian di hidupku terlalu berat, entah aku sendiri yang merumitkan hidupku.


Sungguh, jika Han tidak sampai demikian menanggapi Bunga. Mungkin aku bisa mengajaknya mengatur strategi untuk menjauhi Bunga, bukan malah asyik bertindak sendiri yang menurutnya benar. Mana dia main mengajak cerai lagi, mentang-mentang masih muda dan laku, mulutnya lancang sekali. 


Galen cukup kooperatif saat diperiksa oleh dokter spesialis anak, mungkin karena Barra ikut masuk menemani Galen. Alhamdulillahnya, anak laki-lakiku ini memiliki cikal bakal gigi. Hanya saja, belum saatnya muncul ke permukaan gusi. Yang artinya, anakku tidak seterusnya ompong seperti yang aku takutkan. Dokter langsung memberikan resep untuk mempercepat pertumbuhan gigi pada Galen, setelah itu kami boleh pulang. 


Galen tidak diminta berobat jalan atau semacamnya, hanya saja aku diminta untuk tenang untuk menyikapi pertumbuhan gigi Galen yang sedikit lambat. Ya maklum lah, aku ibu baru yang mudah termakan omongan ibu-ibu yang lain. Apalagi membaca artikel pada Google, katanya gigi anak paling telat tumbuh usia satu tahun. Sekarang Galen sudah satu tahun dan belum ada tanda-tanda giginya tumbuh, wajar aku panik begini. 


"Makcik, Makcik habis keluyuran dari mana pagi tadi?" Mulut Barra berisik sekali. 


Anak ini aktif bertanya, sedangkan Galen aktif merespon dengan senyum dan tawa. 


"Kuliah, Bang. Kau tadi pagi nemenin Galen main tak?" Aku duduk di bangku tengah bersama Galen dan Barra. 


Sedangkan pengasuhnya malah di bangku depan di samping bang Chandra. Barra mengatakan pengasuhnya makan tempat, sedangkan aku ingin memangku Galen. Ditambah lagi, Barra ingin selalu dekat Galen. 


"Anak kau itu dipegang Susnya Barra, terus kau tanya Barra nemenin Galen tak? Kau ngaco ya, Dek?!" Bang Chandra bernada sewot. 


"Biarin aja, Ayah. Makcik kan suka keluyuran." Anak ini suka menambah panas suasana. 


"Apalah kau ini, Makcik dibilang keluyuran terus! Makcik kuliah, kan Makcik udah bilang?" Aku menarik pelan hidup Barra. 


Ia tertawa lepas, begitu pula dengan Galen. Jadi begini ya circle pergaulan anakku? 


"Gimana kabar Hema?" tanya bang Chandra tiba-tiba. 


"Memburuk, dia ada ruang perawatan khusus. Kasian dia, Bang." Aku teringat kembali saat Hema kejang-kejang. 


Kapan laki-laki itu bisa lepas total dari candunya? 


"Ini proses, Hema tak bisa ninggalin prosesnya untuk dapat kehidupannya yang lebih baik. Kalau dia tak mau melewati proses ini, tandanya ia masih pengen ada di masa lalunya yang selalu membuat otaknya tak sadar."


Benar juga ucapan bang Chandra. 


"Semoga dia bisa cepat sembuh, Bang." Aku tak bisa berbuat apapun selain mendoakannya. 


"Gimana kabar Han?" Mendengar pertanyaan bang Chandra yang ini, aku langsung buka suara mengenai keadaan Han. 


Aku tidak tahu membawa takdir ini ke mana, sampai akhirnya datang satu tahun kemudian. Dari kelahiran anak kak Jasmine dan ayahnya Han, Han tak pernah muncul dan tidak ada kabar terkini tentangnya. Mungkin ayah tau dari orang-orangnya, tentang kondisi Han selepas kebakaran itu. Namun, sampai kek Jasmine pun tidak pernah menceritakan apapun tentang Han. Entah karena aku sibuk dengan studiku, entah karena memang mereka menutup akses komunikasi dengan Han. 


Yang jelas, sampai sekarang ia tidak pernah datang untuk mengembalikanku pada ayah. Bukankah laki-laki baik tidak seperti itu ya? 


Kini Galen sudah berusia dua tahun, giginya sudah penuh dan sedihnya ia masih ASI padaku. Aku selalu menangis, ketika Galen membuat luka ujung dadaku. Ingin mengatakannya jahat, tapi ia tidak mengerti jika hal itu menyakiti ibunya. 


"Sana tuh main sama bang Barra, Mamah mau bobo." Sampai sekarang, Galen diasuh bersama Barra.


Galen tidak memiliki pengasuh pribadi. Pernah ada pun, tidak lama mengundurkan diri karena Galen anaknya sulit dikendalikan. Benar, ia anak yang liar. Ia lebih suka diperhatikan dari jauh, ketimbang dikejar ke sana ke mari. Sedangkan pengasuh memiliki rasa khawatir karena Galen masih belum mengerti dunia luar, jadi ia selalu mengikuti langkah kaki Galen. 


"Mana?" Alisnya naik turun, otomatis matanya melebar dan mengecil. 


Dasar, Givan kecil. 


"Tak tau, bang Barra di mana memang?" Aku merapikan penutup ASIku. 


"Lumah yayah Anda."


Aku tertawa geli tiap kali mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Galen. Ia berani menjawab ketika ditanya, tapi kosa katanya tidak jelas. 


"Siapa yayah Anda tuh? Yayah Mamah ya kakek Ipan." Aku mencandak tangan anakku, kemudian aku mengusap mulutnya yang belepotan ASI. 


"Entu tuh, yayah Bala." Galen menunjuk pintu kamarku yang tertutup. 


"Bala-bala." Aku tertawa geli, mendengar kosa katanya yang lain. 


"Ayo, ain." Ia tidak perduli ditertawakan, ia menarik-narik tanganku dengan penuh semangat. 


"Bang Galen Mamah anter main ke bang Barra ya? Nanti Mamah pulang lagi, Mamah mau bobo." Aku bangkit dan menurunkan satu persatu kakiku dari ranjang. 


"Ya deh, ya deh."


Aku tertawa kembali mendengar responnya itu. 


Ia sudah bisa naik turun ranjang sendiri, sayangnya ia tidak bisa membuka dan menutup semua pintu di rumahku. 


"Ayo, main." Aku merapikan hijabku, kemudian menggandengnya dan keluar dari rumah. 


Ohh, kejutan. Jadi ini orangnya pemilik Civic Turbo warna merah hantaran pernikahanku? Spesial sekali, memang benar sekali ucapan ayah. 


...****************...