Hope and Wish

Hope and Wish
H&W57. Pisah sejenak



"Kan kamu denger sendiri, tunggu Bunga beres baru Zee diambil alih," tegasnya dengan memukul tepian brankar. 


"Jadi selama setengah tahun mau berbagi peran suami terus? Udah, lebih baik aku ikhlasin Abang juga. Sebulan belakang, tak ada pengaruh yang signifikan kok dari hadirnya Abang di hidup aku. Jelas kan, dalam hidup Bunga Abang lebih berguna dan berarti. Mungkin kalau sama Bunga, Abang tinggal ngang**** aja, dia yang kerja, dia yang penuhi semuanya."


Aku kadang heran dengan orang yang tidak bergerak cepat untuk menyelesaikan masalah. Kok ada orang seperti itu? Aku dan keluargaku tidak seperti itu rasanya. 


"Yang, kok jadi ngerambat ke mana-mana?" Napasnya sudah berat, ia terbawa emosi juga sepertinya. 


"Ya karena permasalahan ini kalau tak cepat dikasih ketegasan, bakal ngerambat ke mana-mana. Meskipun Abang orang, yang katanya tak bisa direbut. Tapi kalau Abang terus pengen selalu ada untuk Zee, tanpa bawa Zee untuk aku urus. Itu sama halnya Abang menyerahkan diri ke Bunga, sekalian aja kalian nikah dan hidup bersama. Kalau memang Abang ngerti, nerima dan sepakat untuk tunggu Bunga selesai semuanya baru Zee dibawa, berarti selama itu Abang harus tega-tegain ke Zee. Toh, kakeknya ahli dalam bidang medis kok. Di rumah sakit Bunga tak benar-benar sendirian kok, ada dokter dan ada perawat. Dia panik dengan kondisi Zee, ya tinggal lapor ke perawat yang jaga. Sama halnya kek ayah selama di sini, demam aku tinggi, ayah laporin, aku muntah, ayah laporin, aku sakit perut, ayah laporin. Ayah juga sendirian kok jaga anaknya, tak beda jauh sama Bunga yang jaga Zee." Aku masih mencoba memaksanya untuk tegas, sebelum benar-benar rumah tangga kami yang kacau. 


"Tapi Zee anak Abang, Yang! Dengar anak keadaannya kayak gitu, orang tua mana yang tega! Kamu tuh gak berhati banget!" Matanya sampai mekar sempurna. 


"Kalau tak bisa tega, ambil dia dan kita besarkan bersama! NGERTI?!" Aku berani membalas matanya yang membulat itu. 


"Kamu bisa ngerti keputusan mereka gak sih, Yang?! Kok kamu nyolot banget biar aku terus menentang mereka?!" Ia menunjuk dirinya sendiri. 


"Jadi lebih baik nentang aku, begitu?!" Aku merendahkan nada suaraku. 


"Yaaa, bukan gitu juga. Cuma kan nantinya aku terkesan gak sopan, Yang. Kan udah dijelasin di awal, kalau Zee sama Bunga sampai Bunga selesai semuanya. Masa ngeributin itu lagi, itu lagi, kan udah dijelasin dari awal." Ia mengetuk-ngetuk brankarku. 


Ia tipe yang menerima ternyata. 


"Ya udah, berarti harus tega-tegain ke Zee selama Zee di Bunga." Aku memperjelas untuk kedepannya. 


"Ya Allah, Yang. Tega ya kamu?" Ia berdecak dan menggeleng berulang. 


"Itu namanya kau tak tegas untuk rumah tangga kita, Bang! Jangan mentang-mentang kau kepala rumah tangga, terus dengan seenaknya kau begini. Abang pulang ke ayah Abang, sampai Abang bisa tegas untuk masalah Zee ini." Aku tetap teguh dengan pilihan awal yang aku berikan untuknya. 


"Ck…." Ia membuang napasnya dengan bangkit dari kursinya. 


Ia berjalan mondar-mandir, dengan memijat kepalanya dan menarik-narik rambutnya. Kemudian, ia berjalan ke arah jendela. 


"Jangan batesin Abang untuk nemuin Adek." Ia menoleh ke arahku, dengan posisi masih berada di jendela ruang inap sederhana ini. 


"Ya percuma kalau kek gitu. Kau minta makan, kau minta selang******, kau pulang ke aku, ya rasanya percuma aja kita pisah, kalau cuma tidurnya aja yang pindah ke ayah Hamdan. Abang temuin aku, kalau Abang udah bisa tegas tentang Zee." Aku merasa ia tidak bisa berpikir panjang tentang rumah tangga kami, karena fokusnya seolah pada Zee saja. 


Jadi siapa yang tega? Ia bahkan meninggalkan aku sendirian di rumah sakit. Ia pasti tidak tega melakukan ini pada Bunga atau Zee, tapi ia dengan mudah meninggalkanku. 


Aku hanya berharap ayah lekas datang. 


Harapanku tidaklah salah, ayahku langsung datang dan membawa makanan juga. 


"Han bilang kau sendirian. Kau usir dia?" Ayah membuka satu persatu wadah kedap udara yang ia bawa. 


Baunya seperti tumis daun kunyit. Ini lezat sekali, aku jadi ingin makan. 


"Ya aku usir dia dari rumah, bukan usir dia dari ruangan ini." Aku terus memperhatikan kegiatan ayah. 


"Iya, dia bilang gitu. Kesel katanya, takut salah ngomong sama kau." Ayah mengarahkan sendok ke mulutku. 


"Halah, dia kalah ngomong paling." Aku memalingkan wajahku ke arah lain, aku takut ayah memahami semburat kecewaku pada suamiku. 


Jika rasa cengeng itu datang, mengunyah dan memakan makanan rasanya sulit sekali. Seperti ada sesuatu yang besar yang mengganjal di tenggorokan. 


"Memang kau mutusin apa, Dek?" Ayah menyuapkan suapan kedua. 


"Pisah rumah sementara, sampai dia bisa tegas ke tentang Zee. Kalau memang dia nerima keputusan untuk asuh Zee setelah urusan Bunga selesai, artinya selama Zee di Bunga dia harus tega. Tak kek gini nih, Yah. Kasih kebutuhan sih tetap, nengok ya tetap, tapi dia tak ikut serta begini. Tapi dia bilang aku tega sama anak, lah dia sendiri kan tega ke istri. Terus pilihan keduanya, ambil Zee dengan tegas dan kami asuh. Mau dia di rumah sakit seharian sama Zee juga tak masalah, kalau Zee dalam hak asuh aku." Aku lebih dulu mengunyah makananku sebelum berbicara panjang lebar. 


"Han bilang apalagi, pas kau ngomong gitu?" Urat wajah ayah serius semi marah. 


"Dia bilang, udah diberi keputusan sama mereka dari awal. Jadi tuh, bang Bengkel ini nerima kalau Zee di Bunga selama urusan Bunga belum selesai. Tapi dia tak mau tega sedikit ke anak, malah aku yang dibilang tega ke anaknya. Kan Zee masih punya keluarga juga, masih ada Bunga dan masih ada paksa. Ternyata lagi, kemarin dia tak pulang-pulang itu karena Bunganya sakit. Jadi dia full jagain Zee, sementara Bunga istirahat. Yang buat aku tambah kecewa, sebenarnya terapi itu bukan di playground. Tapi aslinya, mereka ke playground setelah terapi. Dengan kondisi aku kek gini, suami aku malah jalan-jalan ke swalayan besar yang ada playgroundnya. Apa tak makin meradang aku, Yah? Terus masalah keputusan aku untuk pisah rumah dulu, dia minta aku jangan batasin dia untuk keluar masuk rumah. Ya percuma aja kalau pisah, cuma pisah untuk tidur, tapi dia tetap dapat makanan dari aku dan tetap bisa makan aku. Pisah ya pisah segalanya menurut aku, gitu." Biar saja ayah tau semuanya, agar ia bisa menyimpulkan sendiri siapa yang salah. 


Aku tidak mau terlihat salah, tapi jika aku salah aku tidak keberatan diberi hukuman. Saat pulang-pulang dari Cirebon dengan hanya membawa badan yang terlapisi baju kumel, ditambah kondisi wajah yang terluka. Aku mengaku pada ayah begitu sampai rumah, bahwa aku hampir membuat nyawa ayahnya Galen hilang. 


Setelah itu ayah membawaku untuk visum, aku pun diperiksakan karena full dari putih-putih mataku berwarna merah. Jelas, orang tua mana yang tidak panik. Aku menggugat pun aku menjelaskan semuanya bahwa dia KDRT dan aku membalas, aku dihukum dan aku menerimanya. 


Tidak seperti orang-orang yang aku kenal. Jika salah, awal kalimatnya pasti 'yaa bukan gitu, ya maksudnya, yaaa'. Termasuk suamiku, ia ketulusan membela diri dari kesalahannya seperti keluarga pakwa.


...****************...