
"Keadaan Hema kan kemarin tak kek gini, Bang. Terus aku harus paksa Hema ceraikan aku?!" Bunga memeluk dirinya sendiri.
Harusnya latarnya di bawah guyuran hujan deras di tengah malam.
"Aku kemarin ajukan cerai duluan, meski aku diproses juga. Tak masalah, mau istri kah suami yang duluan ngajuin. Yang penting, ikutin proses aja," sambungku kemudian.
Aku tidak mengerti dengan Bunga yang tidak mau sat set. Kalau ia sudah bebas dari pernikahan kan, enak juga dia ingin melangkah ke mana saja.
"Ra, kemarin aku tak megang uang sama sekali," aku Bunga dengan wajah memelas.
"Aku kira Ayah kau orang kaya." Aku memalingkan pandanganku dari arahnya.
Muak sekali rasanya lama berada di obrolan ini.
"Ra, kau kenapa jadi gitu ke saudari kau sendiri? Gara-gara Han, kau ke Bunga jadi ketus terus?"
Aku menoleh karena pertanyaan pakwa.
"Sebetulnya tak ada gara-gara, cuma tak sukanya ini kenapa Bunga dan Pakwa tak gerak cepat?" Aku memandang pakwa cukup lama.
Kepala rumah sakit seperti ini? Aku khawatir dirinya yang sakit malah.
"Ya lihat situasi dan kondisi dulu, Ra. Barangkali hubungan Hema dan Bunga masih bisa diperbaiki, masa orang tua main ceraikan rumah tangga anak aja, sedangkan anak belum mutusin untuk berpisah."
Bukan aku kicep juga, aku malas meladeninya. Karena apa? Karena sudah mereka jelas tak cepat bergerak, mereka juga tak mau disalahkan. Mereka selalu memiliki pembelaan yang menurut mereka benar.
"Ya udah, sekarang intinya gimana? Apa mau aku bantu prosesnya? Bang, aku nih rasain sendiri tak enak kumpul bareng ada Ghifar begini. Apalagi ada Candanya, apalagi ada Acanya. Belum lagi misalkan almarhum Lendra masih hidup, ada dia ikut ngobrol di sini. Tak enak aku rasanya, Bang. Misal salah satu di antara mereka ngomong, gimana Canda masih enak tak. Sesak hati aku, Bang. Di satu sisi, perkataan itu seolah menyadarkan bahwa Canda sebelumnya pernah dengan orang lain. Ditambah lagi, seolah meledek tentang bagaimana rasanya bekas dari mereka itu. Intinya, secara tidak langsung aku merasa istri aku dihina. Meskipun sampai saat ini tak pernah datang pertanyaan seperti itu, memang ada beberapa candaan nyelekit serupa, tapi dikemas dengan hubungan kakak adik. Nyaman, tak bermasalah sama hubungan persaudaraan kami, tapi rasa tak enak di hati itu ada, Bang. Aku udah ingetin Han sama Ra di awal, tapi mereka kekeh untuk bersama. Jadi aku ngerasain gimana rasanya jadi Ra. Ra tak merasa bersalah kok ke Bunga, begitu juga aku ke Ghifar. Itu udah takdir, intinya. Tapi sebaiknya tak terlalu dekat, apalagi Bunga dan Ra sesama perempuan. Obrolannya merambat, obrolannya terbuka, nanti yang ada saling menyakiti, terus berimbas ke keharmonisan Ra sama Han. Bunga sih mungkin fine-fine aja, Bunga sama Hema udah mutusin untuk tidak bersama soalnya. Cuma nih, kita obrolin cepat, ambil keputusan cepat, biar kedepannya enak. Mana tau setelah Bunga pulang dari pesantren dia lebih berilmu dan beradab, hubungan persaudaraan sama Ra makin rukun. Tapi untuk sekarang, baiknya itu disegerakan. Baiknya dijauhkan, baiknya direnggangkan. Karena selain Ra dan Han masih baru, mereka pun masih adaptasi sama pernikahan mereka, mereka juga harus menstabilkan hati dari pengaruh masa lalu pasangan. Aku sama Canda udah tiga tahun nikah kurang lebih, terus Ghifar datang. Kita tetap tak baik-baik aja, Bang. Sekalipun Ghifar memang tak ngapa-ngapain, Ghifar tak pernah nanya apapun. Aku sama Canda ya merenggang, atas kepulangan Ghifar saat itu. Aku dan Ghifar pun merenggang, atas kejadian yang terjadi di masa lalu. Jangan salahin aku ngasih restu, aku udah kasih mereka gambaran tentang hubungan skandal begini, tapi mereka sendiri yang memilih. Selain tentang masalah perceraian Bunga, hak asuh Zee, aku minta kalau bisa Bunga dibawa pulang dulu sementara sidang dan masa iddah. Di sana banyak saudara ipar laki-laki, ada Han, Fa'ad, Hadi pun sering datang dan pergi, belum lagi ada Chandra, ada Zio yang udah balik ke sini. Intinya, di sini banyak laki-laki untuk masa iddah Bunga. Biar dia fokus, kalau memang ingin kembali sama Hema kan bisa lanjut proses untuk akad ulang atau gagal cerai dan semacamnya lah."
"Katanya aku anak Ayah." Raut wajah Bunga seperti akan menangis.
Kelopak matanya pun sudah memerah. Entah akting atau betulan, tapi aku tidak suka dengan dramanya.
"Dari awal pun aku tak minta dia tinggal di sana, Van. Aku minta dia tinggal di sana bareng Ajeng, bareng Elang, bareng kedua adiknya. Tapi apa? Ribut terus, Van. Yang di sana ngomong Bunga begini-begini, harusnya dia begini, tapi tak mau dia dengar. Yang jadi Bunga cerita, bunda gini-gini, tak ngertiin aku, membedakan aku. Milih anak, sulung ya maksudnya, ya resiko aku kehilangan istri. Sedangkan kami tak bisa pisah, karena anak-anak istimewa kami yang memang butuh peran orang tua yang lengkap. Di rumah Ajeng jaga, urus dengan baik. Aku ya gerak cepat, kalau memang ada keadaan darurat dari mereka. Sebenarnya aku tak milih istri, tapi kasian Hanna sama Hua. Nanti mereka gimana kalau aku dan bundanya tak serumah? Sedangkan kita bekerja sama untuk anak-anak kita. Pengasuh memang ada, tapi mereka tak punya wewenang dan hak untuk anak-anak kami. Dengan Bunga bilang, aku aman di lingkungan ayah. Ya aku pikir, ini memang pilihan terbaiknya. Toh, kan tak jauh dari kediaman aku juga." Pakwa masih terkesan membela menurutku.
Ya, ia seolah mengatakan. Bahwa, bukan ia yang menyuruh Bunga ada di lingkungan ayah. Itu pilihan Bunga dan pakwa percaya pada ayah.
"Bisa kau buatkan dia rumah, Bang. Apa perlu kita patungan? Kalau Ria setuju, tanpa patungan pun aku oke aja kasih dia tempat tinggal sederhana. Tapi dia mau tak tinggal di rumah sederhana? Itu masalahnya." Pakcik Gavin pasti tahu tentang Bunga yang tidak mau tinggal di rumah sederhana, ya contohnya di penginapan.
Ayah memberikan satu kamar cuma-cuma, tidak perlu bayar, hanya perlu isi token sendiri, karena akan ditempati jangka yang cukup lama, bukan satu atau dua hari, yang jelas jadi tanggungan pihak penginapan.
"Ayah, anak aku bayi yang butuh sirkulasi udara yang bagus. Tempat dia tumbuh dan berkembang yang luas dan nyaman." Bunga memandang pakcik Gavin.
Ya, ia memanggil ayah dari adiknya pun dengan sebutan itu.
"Kalau obrolan terus berputar begini, kita tak akan nemu hasil akhir. Apa aku yang harus bawa Ra dan anak-anak yang pindah? Tapi, apa Ayah izinkan?" Bang Bengkel memandang semua orang, ia menoleh ke arahku dan beralih memandang ayah.
Terlalu berbelit, Bunga dan pakwa sama saja. Masalah rumah, banyak alasan. Masalah Zee, banyak alasan. Masalah pesantren pun, mereka banyak alasan.
Apa harus ada biyung lagi yang mencerahkan pemikiran pakwa dan Bunga? Tapi tahu sendiri, biyung itu modenya on-off otomatis. Aku tidak tahu kapan biyung bijak dan errornya.
...****************...