Hope and Wish

Hope and Wish
H&W83. Sepenggal nasehat yang didapat



"Kadang laki-laki itu selemot itu berpikir." Papa Ghifar melirik ke arah pintu belakang, mama Aca muncul dan berjalan ke arahku. 


Ia menarik kursi plastik, kemudian duduk di hadapanku dan papa Ghifar. 


"Papa jawab cepat, baik Mama atau baik Canda?" Mama Aca menaruh telapak tangannya di paha suaminya. 


"Baik Canda lah." Ia tertawa lepas. 


Mama Aca langsung manyun, kemudian menarik hidung papa Ghifar. 


"Kan pertanyaannya baik, saking baiknya orang yang jahatin dia dan keluarganya pun pasti tetap dikasih makan. Nah Mama kalau nerima tamu aja lihat-lihat, bukan keluarga, bukan ipar bestie, tamu lempar ke Papa, atau tak ya malah menyibukkan diri di dapur." Papa Ghifar menarik pipi mama Aca berlainan arah. 


"Halah! Tetap Mama kok yang ditidurin, yang ngurusin Papa." Mama Aca mengibaskan rambutnya. 


Aku terkekeh geli, melihat pasangan yang lapuk tapi terlihat tetap romantis ini. Bahkan, papa Ghifar terang-terangan mencium pipi mama Aca di depanku. 


"Setiap Mama cemburu, apa Mama pakai pemikiran konsep demikian?" Aku memperhatikan mama Aca yang tengah mengusap bekas ciuman suaminya di pipinya. 


"Cemburu gimana? Papa kau punya keturunan sama Mama, usaha diolah bersama, setiap hari sama Mama. Masalah keturunan dia dengan perempuan lain kan tak begitu berarti, karena Mama yang besarkan dan istri terdahulunya juga udah wafat. Masalah biyung kau? Kan cuma gitu-gitu aja, Papa kau tak pernah chattingan sama biyung kau, tak pernah jalan berdua, tak pernah tidur bareng juga. Mama harus ngamuk gitu? Masalahnya, biyung kau pun haha-hehe ke semua iparnya. Jangan buat kurus badan aja, Ra. Tak perlu dipermasalahkan, itu bukan kesalahan dan itu bukan hal yang harus diperdebatkan. Toh, Mama udah tau dari awal tentang biyung kau dan Papa kau. Kenapa harus shock? Kan udah dikasih paham di awal. Cuma tentang tak tenang, khawatir, sayang ibaratnya. Pasti laki-laki pun profesional bagi-bagi rasanya, Ra. Sayang ke orang tua, anak, istri, masa lalu, itu punya tempat sendiri-sendiri. Jangan kira karena dia punya masa lalu yang tak bisa dilepaskan, jadinya dia tak sayang ke kita sebagai istrinya. Tak begitu konsepnya, apalagi kami tetap baik-baik aja." Mama Aca memberikan perhatian penuh padaku. 


"Baru-baru kawin, cemburuan wajar keknya, Ma," timpal papa Ghifar. 


"Kalau pemikiran kau tak diubah, kau bakal punya pemikiran yang sensitif terus. Kakek Adi malah lebih hebat pikirannya, Dek. Tentang cinta, kakek Adi mikirnya gini. Perasaan cintaku padamu, itu urusanku. Cintamu padaku, itu urusanmu sendiri, bukan urusanku. Jadi misalkan cintanya udah bertepuk sebelah tangan pun, ya tak masalah. Yang penting, kakek Adi tetap cinta sama nenek Dinda." Mama Aca mengusap pipiku sekilas. 


"Papa tau kau wataknya legendaris sekali, Dek. Tapi jangan sedikit-sedikit pakai kekerasan, Papa jadi inget mama Kin." Papa Ghifar menatapku miris. 


"Betul, Mama punya ketakutan ke sana kalau kau tak punya wadah," tambah mama Aca. 


Jujur saja, aku tersinggung karena secara tidak langsung aku dibilang memiliki sindrom othello seperti mama Kin. Tapi aku bisa membedakan dunia nyata dan halusinasi, aku pun tidak menyakiti diriku sendiri. Mengenai menyakiti pasangan, aku marah karena ia tidak melawan pelukan Bunga. 


"Sekarang ketikan dulu pesan ke Han, minta maaf kalau kau tak sengaja nyelakain dia dan Zee. Kan kita sama-sama tau, kalau kau memang sengaja pengen hilangin nyawa Bunga." Papa Ghifar merangkulku dan mengusap-usap lenganku. 


"Sok diketik, Mama mau tau. Terus ayo kita berangkat, orangnya ada di rumah katanya kalau abis Dzuhur sampai Ashar." Mama Aca tersenyum meyakinkan padaku. 


"Ya, Ma." Aku mengangguk dan merogoh ponselku. 


"Bilang, aku minta maaf pasal kejadian kemarin. Bukan bermaksud nyelakain abang dan Zee, aku gelap mata karena lihat Bunga peluk abang. Sok, ketik kalimat sederhana itu. Biar dia pas buka HP, dia bisa lihat pesan itu. Terus siap-siap gih, ikut Mama Aca." Papa Ghifar masih merangkulku, ia pun memberikan senyum yang amat meyakinkan. 


"Oke, Pa." Aku masuk ke room chatku dengan bang Bengkel. 


[Bang, aku minta maaf atas kejadian kemarin. Bukan maksud hati untuk nyelakain Abang dan Zee, aku gelap mata karena lihat Abang dipeluk Bunga.] aku mengetikkan kata sederhana itu. 


Ceklis satu, nomor suamiku belum aktif. Katanya, mungkin waktu Ashar ia sudah tiba di Jakarta katanya. 


"Yuk, siap-siap." Mama Aca bangkit dari tempatnya. 


"Ma, Papa boleh beli motor besar?" Papa Ghifar menoleh ke arah perginya istrinya. 


"Dek, kau pernah bawa motor?" Papa Ghifar melirikku. 


"Sepeda pernah, nabrakin semua orang itu." Aku terkekeh geli. 


"Wah, keok. Nenek Dinda jago mobil, jago motoran juga. Ayo couplean beli Kawasaki Ninja ZX-6R 636 SE." Papa Ghifar menaikturunkan alisnya. 


"Nanti ya, Pa? Aku mikirin biaya yang belum tercover asuransi dulu sama ayah, ayah Ipan tersayang lagi demam soalnya. Papa dulu aja yang beli, nanti ajarin aku." Aku tersenyum lebar pada papa Ghifar. 


"Ck…. Udah sedih Papa sih, paling ujung-ujungnya matic, motor bongsor. Mama Aca paling nyaman ya naik matic soalnya, enak roknya tak kesingkap katanya." Papa Ghifar menatap lurus ke depan. 


Ya aku pun sama sebenarnya seperti mama Aca. Dulu waktu diantar jemput motor besarnya bang Chandra, rasanya sakit pinggang terus selama perjalanan. 


"Nurut aja lah, Pa." Aku menepuk pangkuan papa Ghifar. "Aku siap-siap dulu." Aku melangkah pergi. 


"Ya, Dek. Pesan taksi online aja, Dek," saran dari papa Ghifar akan aku pertimbangkan. 


Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di kawasan mewah perumahan kota. Seperti bertamu biasa, seperti mengobrol biasa, aku hanya diminta curhat dan bercerita. Hasilnya menurutku tetap saja, aku tetap merasa plong seperti bercerita pada ayah atau mama Aca. 


"Perlu nebus obat tak, Kak?" tanya mama Aca sebelum kami pamit. 


"Tak perlu, Bu. Kakaknya tak punya gangguan kecemasan," jawab orang tersebut, yang kemungkinan psikolog atau psikiater, sambil mengantar kami keluar rumahnya. 


Aku tidak merasa gila juga, tapi ya sudahlah aku menurut saja. 


"Terima kasih ya, Kak? Kami permisi, assalamualaikum." Kami berjalan ke arah mobil ayah kembali. 


Ya, akhirnya aku dan mama Aca memutuskan untuk meminjam mobil milik ayah saja. Toh mobilnya menganggur di rumah, karena orangnya tengah sakit. 


"Sama-sama, ati-ati. Waalaikumsalam." Ia tersenyum ramah. 


Hanya sepenggal nasehat yang ditanamkan di otakku. Yang pertama katanya aku harus bisa memenangkan diri, caranya duduklah dan berlatih tarik napas dalam. Tarik nafas menggunakan diafragma, tahan selama tiga detik dan hembuskan, lakukan berulang. Walaupun menarik napas dalam tidak dapat meredakan emosi. Namun, setidaknya pikiran akan menjadi lebih tenang dan dalam keaadaan seperti ini keputusan selanjutnya akan lebih tepat dan bijaksana.


Kedua, dampak amarah. Pertimbangkan dampak yang terjadi jika amarah tidak terkontrol. Hubungan dengan keluarga, saudara, relasi dan yang lainnya dapat merenggang bahkan hancur ketika amarah tidak terkontrol. Ketika keadaan lebih tenang, pikirkan langkah yang dapat kita ambil dalam suatu masalah. Kekerasan bukan jalan keluar terbaik, karena akan ada dampak setelah amarah dituntaskan dengan kekerasan. 


Ketiga, jangan berlebihan. Keempat, berdoa. Kelima, waktu yang tepat. 


Yang dimaksud waktu yang tepat adalah, jangan asal melampiaskan emosi sesaat yang akhirnya akan disesali dikemudian hari. Mengendalikan emosi berbeda dengan meredam emosi, meredam emosi adalah membatasi diri untuk mengekspresikan perasaan. Meredam emosi malah dapat berakibat buruk bagi kesehatan seperti kegelisahan, gangguan tidur, tegang, tubuh dirasa tidak sehat, bahkan depresi. 


Maka dari itu, disarankan untuk berdoa juga karena doa yang dimaksud adalah mencurahkan emosi atau mengadukan pada Sang Pencipta. Ada saran jangan berlebihan juga, karena sudah tertulis juga bahwa bahagia pun tidak boleh berlebihan. Apalagi, emosi dan sedih. 


Intinya, aku harus berpikir panjang setiap kali akan mengamuk. Ya semoga aku bisa mengendalikan diriku sendiri ketika tengah marah, yang paling utama aku harus memikirkan dampaknya dulu. Atau setidaknya, aku harus teringat jika lawan kita punya nyawa dan punya keluarga. Jangan menghabisi nyawa orang, karena akan ada satu keluarga yang bisa saja dendam padaku. 


Semoga aku siap untuk membaca pesan balasan dari suamiku. 


...****************...