
"Nitip ya? Temenin tidurnya." Ayah memandang mama Aca, kemudian membingkai wajahku.
"Iya, nanti Ghifar suruh ngelonin Kaf. Kecil ribut tak sama papanya, sekarang malah ribut aja. Ngeributin masalah bisnis, Kaf takut mulai dan takut gagal. Sedangkan kata papanya, gagal tak masalah yang penting udah mulai. Pedoman Kaf, pantang gagal sebelum keluar, di meja operasi maksudnya Kaf. Katanya apa kita tak ikut nangis, perut baru dibuka terus pasiennya menggap-menggap? Begitu pun ribut, usahanya tak jalan, ributnya jadi." Mama Aca menghela nafasnya dan geleng-geleng kepala.
Sepanjang mama Aca bercerita, ayah hanya memandang wajahku dan mengusap pipiku dengan ibu jarinya. Sorot mata ayah amat sedih, ia seolah melihat kejadian yang amat pedih untuknya di mataku.
"Ayah banyak salah, tapi tak mau anak-anak perempuan Ayah yang dapat karmanya." Air matanya tak terbendung lagi dari sudut matanya.
"Ayah harus gimana, biar kalian hidup bahagia?" Ayah mengusap kasar air matanya, kemudian mengusap-usap pipiku lagi.
Ayah berlutut di depanku yang duduk di sofa. Sejak tadi, ayah mengamati wajahku. Aku tidak tahu, jika ayah teringat akan kejahatannya dulu. Tapi menurutku, tidak ada yang namanya karma. Mungkin memang sudah nasibku saja yang begini.
"Kau apa sih, Van?! Nangis gitu, buat sedih aja." Mama Aca merangkul bahuku, kemudian mengusap-usap lenganku.
Ayah melirik ke mama Aca sekilas. "Aku udah ketar-ketir, pas paham bahwa aku diberi amanat banyak anak perempuan. Masa Ra harus jadi janda lagi? Harus jadi korban egonya laki-laki lagi? Apa tak ada satu laki-laki yang bisa ngertiin dia? Dia tak buruk, aku tau wataknya dari kecil." Suara ayah bergetar, kemudian ayah memelukku dengan erat.
Aku melihat mama Aca mengusap-usap punggung ayah, kemudian menepuk-nepuk pundak ayah. Di sini suaminya lagi sedih, biyungku malah tertawa lepas dari dalam kamar. Entah dari kamar yang mana, tapi tawanya membahana sekali.
"Belum nemu laki-laki yang tepat aja, Van. Mungkin sekarang hanya salah paham aja, jangan dulu dituain. Lebih baik bawa pulang istri kau dari kamar Kaf, daripada nanti malam Ghifar ngigau nyebut nama Canda karena bercanda aja sama Canda. Aku nanti yang meradang. Gih…." Mama Aca menunjuk letak kamar yang terlihat dari ruang tamu ini dengan dagunya.
Ayah menoleh ke arah tersebut. "Ada Ghifar di kamar Kaf itu? Perasaan, tadi dia di dapur pas aku kasih surat itu." Ayah lekas bangkit dengan memegangi lututnya.
"Beberapa menit lalu masuk, terus ngakak-ngakak tuh suaranya." Mendengar penjelasan mama Aca, ayah langsung bergegas.
Tak lama kemudian, biyung keluar dari kamar dengan lehernya diapit oleh lengan ayah. Biyung masih tertawa saja, meski wajah suaminya sudah seperti menahan mulas.
"Di kamar atas aja, Ra. Kita sambil order makanan, kau mau makan apa?" Mama Aca merangkulku, mengajakku naik ke lantai dua.
Ia tidak panik seperti ayah, meski tahu suaminya bercanda dengan ibuku yang notabene adalah mantan pacar suaminya. Bagaimana mama Aca menata perasaannya, di lingkungan yang penuh skandal begini? Kenapa ia bisa terlihat baik-baik saja? Kenapa aku tidak bisa sepertinya? Kenapa aku gelap mata duluan, meski suamiku tidak merespon Bunga layaknya papa Ghifar merespon candaan biyung?
"Kau mau sate, Ra? Mama masak ikan, agak malas makan ikan. Tapi Kaf suka menu sehat, sampai diatur harus berapa menit masak." Mama Aca membuka pintu kamarnya.
"Belum kepengen makan, Ma." Rasanya masih sesak di ulu hati ini.
"Sini duduk, Mama mau pesan sate dulu." Mama Aca mengambil sesuatu di nakas, yang ternyata adalah ponselnya.
Aku memperhatikan halaman rumah ayah dari jendela kamar lantai dua ini. Aku berharap suamiku muncul dari pintu penghubung halaman rumah sebelah, kemudian ia pulang ke rumah dan mencari keberadaanku. Namun, sampai mama Aca selesai order makanan pun. Nyatanya, klise suamiku tak menunjukkan tanda-tanda keluar dari pintu penghubung.
Ia tengah menikmati waktunya dengan dua anak perempuannya itu.
"Jangan ngelamun aja, Ra. Jangan buat harapan kau makin besar." Mama Aca menghampiriku, kemudian mengusap punggungku.
"Suami aku tak percaya anak-anaknya dalam pengawasan aku, dia takut aku berbuat jahat ke anak-anaknya. Dia pun takut tidur sama aku, Ma. Dia tak mau pulang, meski udah aku jemput. Awalnya kita punya rencana ke Jakarta sekeluarga kecil kita, tapi rencananya berubah karena kejadian kemarin. Dia tak mau ajak aku pergi ke Jakarta, dia mau sendirian aja di Jakarta, dia mau kita sengaja berpisah tempat dengan alasan menenangkan diri. Ma…." Aku menoleh ke arahnya, dengan mengusap air mataku yang lolos kembali. "Aku tak bisa tenang, kalau kita berjauhan begini. Aku masih pengen punya suami dia," ungkapku dengan air mata yang sudah banjir, karena aku membicarakan tentang perasaanku sendiri.
"Ya udah, turutin."
Aku lupa caranya berkedip, aku kaget mendengar saran singkat dari mama Aca.
"Untuk nenangin diri kan? Bukan untuk pisah?" Mama Aca memandang wajahku lekat.
"Aku tak tau, Ma. Tapi dia marah, pas aku pernah minta cerai lagi." Aku takutnya, aku terlupakan olehnya yang jauh di Jakarta.
"Ya makanya coba turutin dulu, sambil kita pantau bagaimana Han jaga rumah tangga kalian. Karena biasanya, LDR itu komunikasinya kenceng. Karena biasanya, LDR itu malah lebih bisa ngertiin perasaan masing-masing ketika jauh dan bisa meraba kebutuhan masing-masing. Kita biasa tiap hari ketemu, kita tak tau pasti kita cinta tak sama dia. Tapi pas jauh, tiba-tiba rasanya campur aduk, cintanya berasa dan menyadari. Pas jauh juga, mana tau Han ingat nasi, jadi ingat kau. Aduh iya, di rumah istri aku terus yang masak nasi, sekarang jauh jadi masak sendiri deh, ah baiknya jemput istri deh. Nah, mana tau Han punya pemikiran begitu kalau udah nyadarin perasaannya dan kebutuhannya. Kita jangan sedih kalau dia ingat nasi jadi ingat kita, tandanya dia terbiasa dengan pelayanan kita. Jangan malah mikir, apa aku dianggap pembantunya? Tak boleh mikirin buruk, kan suami istri saling membutuhkan. Dia butuh kau, kau pun butuh dia. Barangkali kau lihat guling, jadi ingat caranya ngelonin kau kan?" Mama Aca terkekeh kecil, dengan menyingkirkan tetesan perasaanku yang tumpah membasahi pipiku kembali.
Aku sedikit merasa tenang mendengar semua ucapannya. Selain masuk di otak, pemikiran burukku tentang kehancuran rumah tangga jika kami berpisah sedikit terkikis.
"Besok nanti, kita ngopi di cafe. Kita temuin seseorang, yang mungkin bisa buat emosi kau punya wadah. Kau udah dewasa, kau udah jadi ibu, kau harus punya wadah dan harus bisa kendalikan emosi kau. Mama tau ini watak kau, Mama yang ngurus kau pas balita. Tapi kau tak boleh jadi orang-orang baru yang kau sayangi begini, malah takut sama watak kau. Han cuma belum ngerti aja, tapi Mama ngerti ketakutannya. Semua orang itu punya titik takut dan titik khawatir, Ra. Mama tak lagi berpihak pada Han, tapi Mama coba kasih solusi biar kedepannya kau tak gelap mata lagi begini. Karena Mama tau, akhirnya kau sendiri yang merugi. Tak sedikit orang takut dengan kekerasan sekecil apapun, Ra. Mama Aja yang segede gaban begini, Mama nangis kalau dibentak papa Ghifar, kalau marah dimarahin anak. Tak semua orang paham dengan gemetarnya efek bentakan itu, tapi untuk Mama yang udah capek dan tak pernah dibentak dari kecil, merasa tak ada yang sayang dan tak ada yang cinta karena orang terdekat aja berani bentak. Pahami, Ra. Mama sayang sama kau." Mama Aca memelukku di akhir kalimatnya.
...****************...