Hope and Wish

Hope and Wish
H&W68. Suami ekspresif



"Tenang dulu, Sayang. Dengerin dulu mulut Abang." Ia mendekatiku dan memelukku. 


Aku melepaskan pelukannya dan mendorong tubuhnya, tapi ia malah terkekeh geli dan berusaha memelukku lagi. Apa ia kira aku mengajaknya bergurau? 


"Aku tak doyan mulut kau!" Aku menatapnya tajam. 


"Wah, masa?" Ia langsung mendekatiku lagi dan meraup bibirku. 


"Apa sih?!" Aku mendorongnya lagi, kemudian mengusap bekas basah itu. 


"Ya udah deh mulut bawah aja." Ia tersenyum mesum dan menaik turunkan alisnya. "Duduk di sini, Sayang." Ia menarik lenganku, kemudian mencoba mendudukkanku. 


Jelas aku langsung meronta keras. Tetapi, ia malah tertawa lebih puas. Ia memelukku lagi dan aku tidak melakukan perlawanan atau membalas pelukannya. 


"Kita ajak baku tipu, gitu kata pakcik Gavin. Maunya mereka Abang ikut andil dalam hal apapun, ya tinggal iyain aja. Toh, kita kan mau ke Jakarta juga. Kita pergi kan gak harus izin ke mereka, kita bisa pergi kapan aja. Mereka nuntut Abang andil pun ya gimana? Kita kan jauh juga." Ia membingkai wajahku dan tersenyum lebar. 


Ohh, jadi maksudnya ini? 


"Terus kalau Bunga ke sana, gimana?" Aku takut Bunga senekat itu. 


"Semoga aja gak, Yang. Lagian untuk apa dia sampai nyusulin Abang? Apa dia gak takut istri Abang? Kadang ada bersyukurnya, untungnya posisi Harum digantikan Adek. Coba kalau dia, rumah tangga direcokin Bunga gini? Dia pasti udah nangis aja, udah stress duluan. Mana bisa dia ngomong mencak-mencak kayak Adek gitu. Tetap seperti ini ya? Tetas jos lawan Bunga ya?"


Aku heran di sini, kenapa suamiku malah menyemangatiku? 


"Abang kenapa sih?!" Aku mengamati wajah suamiku dengan seksama. 


Ia terkekeh kecil, kemudian menenggelamkan wajahku di pelukannya. "Berulang kali Abang ngerasa beruntung karena punya istri yang kayak istri Abang begini. Alhamdulillah, dulu ya Harum cintanya tulus banget. Sekarang, alhamdulillah juga dikasih istri yang cinta banget lagi sama Abang. Meskipun karakternya jelas beda, cara mereka menunjukkan perasaannya jelas beda, tapi tersampaikan di hati Abang. Meskipun Adek gak pernah bilang aku cinta banget sama kamu, tapi dengan semua yang udah Adek tunjukkan, Abang ngerasa dicintai banget." Matanya berbinar-binar seperti aku ketika melihat tumpukan dolarnya ayah. 


Ia ekspresif sekali dalam ungkapan perasaannya. Aku mana bisa seperti itu, rasanya kaku dan malu duluan. 


"Ngomong apa sih?! Muak betul ngomongin hal itu. Awas-awas, sana tuh!" Aku mencoba melepaskan diri darinya. 


"Bodo amat! Bodo amat! Bodo amat!" Bang Bengkel malah lebih mengeratkan pelukannya. "I love you, I love you, I love you." Ia menciumi seluruh wajahku. 


"Ampun! Laki-laki ini! Risih betul aku!" Aku mencubit part belakangnya, karena kuat sekali pelukannya. 


Ia tertawa terbahak-bahak dengan melepaskanku dan mengusap-usap part belakangnya. "Gengsi banget, tinggal jawab aja 'I love you too'." Ia melirikku, kemudian ia duduk di sofa dengan merentangkan kedua tangannya. 


"Lebay! Yang penting aku mau Abang tidurin, yang penting aku mau hidup bersama." Aku menghempaskan tubuhku di sasampingnya. 


"Sekali aja, Yang. Pengen banget cinta Abang terbalaskan dengan kata-kata dari Adek." Ia mengapit leherku, kemudian mencium pipiku. 


Ampun, napasku rasanya ngap sekali. 


"TUAN ALBUNDIO!!! Lepasin aku! Aku sesak napas!" Aku sudah berkeringat parah. 


Aku ngeces melihat keromantisan dalam film, tapi jika melakukannya sendiri rasanya malah emosi sekali. Seperti diikat kuat-kuat, risih dan sesak napas. 


"Gak akan! Bilang I love you too dulu!" Ia menempelkan pipi kami. 


Agak lain ini laki-laki. 


"Iya, iya! I love you too!" Aku mendorongnya hingga terlepas dari pelukannya. "Puas, heh?!!" Aku melepaskan hijabku, kemudian menyeka keringat di leherku. 


"Belum, Sayang. Belum dikeluarin." Tiba-tiba ia mengeluarkan miliknya. 


Heh, kenapa sih laki-lakiku serandom ini? 


"Eh tengok, kek belalai gajah. Lemes betul itu! Abang punya malu tak sih?!" Aku meledeknya. 


"Enak, Sayang. Terus, Sayang." Ia malah berakting mend***h-d****, padahal tak aku apa-apakan, hanya digenggam saja. 


"Belum, dodol!" Aku meraup wajahnya dengan tanganku yang satunya dan ia malah tertawa renyah. 


"Hajar, Sayang. Ayo, dong. Semangat dong." Ia membawa tanganku untuk mengurutnya. 


"Sini! Sini! Sini! Berisik kau ini?" Aku mengambil posisi untuk berlutut di hadapannya. 


"Nah, gitu dong? Adek Ra sayang pasti dapat surganya Abang, jaminan!" Ia merapikan rambutku dan mengamankannya dengan tangannya sendiri. 


"Berisik!" Aku langsung bekerja melayaninya. 


Heran, kenapa aku memiliki suami yang seperti itu? Ia yang tadi hanya berakting, sekarang merem melek beneran.


Siang harinya, aku berkumpul dengan kedua anakku di ruang keluarga rumah ayah. Bang Bengkel sedang dibawa oleh ayah ke ruang kerjanya, katanya ada sesuatu yang penting sebelum mengurus tiket penerbangan ke Jakarta katanya. 


"Dek, fitting baju dulu. Biar pas resepsi, udah tak mikirin baju lagi." Biyung membawakan bubur jadi untuk Farah. 


Aku tadi memang meminta tolong pada biyung untuk membuatkannya sementara aku menjaga Galen dan Farah. 


"Ck, aku udah tak semangat untuk resepsi." Itu bukan impian terbesarku lagi. 


Menjadi ratu sehari, setelahnya akan dibuat lelah tiap hari. Yahhh, itulah faktanya pernikahan. 


"Kasian, Han belum pernah ngerasain." Biyung melirikku, sebelum akhirnya dirinya menyuapi Farah. 


Boro-boro ingin rutin memakai hijab, rambutnya diikat saja Farah rewel sekali. Sepertinya rambut ibunya smoothingan terus, karena jika rambutnya asli tanpa perawatan ya akan seperti Farah juga sepertinya. Entah rambut ayahnya yang begini, karena aku tidak pernah tahu rambut bang Bengkel versi gondrongnya. Ah, lagian jangan sampai gondrong. Aku takut penampakan dia jadi seperti bujang pemilik cafe shop yang pernah ayah kenalkan padaku itu. 


"Peduli menantu Biyung sih." Aku membantu Galen yang ingin meraih sofa. 


Anak laki-laki sebelas bulan ini sudah rambatan. 


"Kita hidup bareng di sini, Dek. Masa tak mikirin sesama? Cuma beberapa puluh juta, bisa buat orang tersayang bahagia."


Aku melongo. Ibaratnya biasanya dengan kata-kata 'beberapa ribu', di mulut biyung jadi 'beberapa puluh juta'. 


"Yang, sini dulu. Dipanggil ayah." Bang Bengkel muncul dengan wajah serius, ia melambaikan tangannya padaku. 


"Biyung, nitip anak-anak dulu ya?" Bang Bengkel tersenyum ramah pada ibu mertuanya. 


"Iya, Han." Biyung mengangguk. 


"Sus…. Pegangin Galen," serunya lepas. 


Ya iya, biyung kan tidak pernah menghandle semua anaknya sendiri. 


"Kenapa, Bang?" Aku menghampirinya, begitu Galen ada yang memegang. 


Farah bersuara, ia mengangkat tangannya melihatku pergi. 


"Sebentar, Sayang. Bentar ya, Cantik?" Aku melambaikan tanganku pada Farah. 


Eh, tangisnya malah terdengar. 


Aku melihat biyung menggendong Farah dengan selendang, kemudian membawanya keluar, sebelum aku masuk ke ruangan ayah. Ternyata, di dalam ruangan ayah ada orang lain selain ayah. Ia kuasa hukum kepercayaan ayah, ia tersenyum ramah saat aku masuk ke dalam ruangan. 


...****************...