
"Adek Galen jangan dibawa, Makcik." Barra hampir menangis, kala aku menjemput Galen setelah aku berganti baju dan membersihkan diri.
"Makcik mau ajak Galen ke rumah masyik Aca dulu ya?" Aku tetap mengambil alih Galen dari bangku mobil-mobilan Barra yang bisa disetir lewat pendorong di belakangnya.
"Jangan…." Tangis Barra lepas. "Makcik biasanya keluyuran sendiri, tak bawa-bawa Galen. Galen lagi anteng tuh, taruh dia di mobil-mobilan aku." Barra jongkok di depan mobil-mobilan besarnya, kemudian menepuk-nepuk stir mobilnya.
"Biar Galen di sini aja, Kak. Dia anteng kok, tak rewel. Ini lagi barengan disuapin puding mangga juga." Pengasuh Barra menunjukkan cup berukuran sedang yang berada di tangannya.
"Kenapa sih mau sama Galen aja tuh? Barra kan adeknya banyak, ada lima, udah kek balonku." Aku berjongkok di sebelah mobil-mobilan Barra, kemudian menurunkan kaki Galen ke tempat duduk yang berada di tengah mobil-mobilan itu kembali.
Sedih sekali tangisannya.
"He Five batat, Makcik." Barra mengusapi air matanya sendiri, ia mengatur napasnya yang sesenggukan dalam sekejap itu.
"Hayo, hayo, Barra…. Lawan kalau ada yang nakalin! Gaplok, gaplok lagi. Tendang, tendang lagi. Masalah berobat, biar yayah kau yang maju," seru kakak ipar yang semakin mendekat.
Kemudian, sosoknya muncul dari dalam rumah. Ia berdiri di teras rumahnya dan memperhatikan kami yang berada di halaman rumahnya dengan bertolak pinggang. Garangnya kakak ipar yang seumuran dan besar bersamaku itu seperti mama Aca, mentang-mentang ia penghuni pertama rahim mama Aca.
"Ini, Una. Galennya mau dibawa Kak Ra, tak boleh sama Bang Barranya," terang pengasuh Barra dengan tersenyum ramah.
"Ya ampun, Adik Ipar! Kau pulang, bawalah Barra sekalian. Galen dikempit-kempit terus di sini kok, sebentar ajak Barra, kenapa sih?! Kenapa harus dibuat nangis?" Kentara sekali emosi ibu enam anak itu meledak-ledak.
"Iya, iya, iya, Kakak Ipar." Yang penting iya saja, aku malas ribut dengannya.
Una yang bawel itu akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Kemudian, seruannya berganti untuk salah satu nama anaknya dari kelima anak kembarnya. Aku kadang membayangkan, bagaimana sempitnya di dalam perut dihuni oleh lima bayi. Memang ia mengandung tidak sampai sembilan bulan, tapi aku benar-benar tidak tahu bentuk perutnya. Karena selama ia hamil dan melahirkan, ia ada di Singapore.
"Eh, memang Galen tak batat ya?" Aku mencolek pipinya yang sedikit berisi.
Ia tidak amat kurus sekarang.
Batat itu bisa diartikan sebagai keras atau bandel.
Barra menggeleng. "Galen suka ketawa." Ia tersenyum dan mengusap-usap kepala Galen.
Begini saja, gusi Galen kelihatan semua.
Pikiranku ke mana-mana, semoga Barra hanya suka Galen sebatas ia menyayangi adik laki-lakinya. Maksudnya, tidak untuk ketertarikan khusus di masa mendatang dan jangan sampai seperti itu.
"Bareng ya sama Galen? Makcik keluyuran dulu nih, katanya suruh keluyuran sendiri aja?" Aku memperhatikan wajah Barra, kemudian menarik dagunya.
Aku amati sejenak wajahnya, tidak mirip sana-sini sih. Ya seperti Barra memiliki urat wajahnya sendiri. Tidak cenderung seperti Bunga, Hema, atau keluarga yang mengurusnya. Jika warna kulit, ya jelas sawo matang.
"Iya udah sana, keluyuran sendiri aja." Barra melepaskan tanganku dari dagunya, kemudian ia memutari mobil-mobilannya dan mendorong pegangan di belakang mobil-mobilan tersebut.
"Pelan-pelan, Bang. Buka dulu mulutnya." Pengasuhnya langsung mengikuti pergerakan mobil-mobilan yang didorong oleh Barra tersebut.
"Jagain ya Galennya, Bang?" Aku memperhatikan pergerakan mobil-mobilan yang semakin jauh itu.
"Iya." Barra menyuarakan tawanya dengan Galen.
Mereka terlihat satu frekuensi.
Aku pergi meninggalkan halaman rumah ini, langkahku menuju ke rumah mama Aca. Setidaknya, aku harus melaporkan keputusan akhir rumah tanggaku.
"Kaf, anterin ke papa kau. Sambil sana ikut belajar, jangan cuma nemenin papa kau makan."
Suara mama Aca amat menggelegar ketika aku membuka pintu rumah yang terlihat paling megah nomor dua, setelah rumah yang bang Chandra tempati. Percayalah, kami semua tidak pernah mendapatkan bansos dalam bentuk apapun. Pernah ada bantuan pemerintah nyasar ke ayah, tapi ayah langsung konfirmasi ke RT setempat untuk menolak bantuan tersebut.
"Bisnis lagi, bisnis lagi!" Kaf merengek bagaikan anak kecil.
"Heh, kau pikir gimana?! Ngurus rumah sakit besar juga bisnis, Kaf. Memang kau sampai tua mau ngotak-ngatik tubuh manusia terus?" Suara mama Aca makin mendekat ke arah ruang tamu.
Sepertinya, mama Aca ingin menghampiri kamar Kaf yang berada di sebelah ruang tamu.
"Sayang modalnya kalau gagal." Bertepatan dengan jawaban Kaf, mama Aca muncul dengan tampang serius.
"Lagi sibuk kah, Ma?" Aku mendekatinya.
"Tak, abis nyiapin makan siang untuk papa kau. Ini Kaf suruh antar." Mama Aca mengangkat tentengannya, kemudian lanjut berjalan ke kamar Kaf.
"Nerusin usaha tak pakai modal juga, Kaf. Kau cuma perlu belajar dulu aja sekarang, jangan takut resiko, sayang modal, takut tak jalan, takut salah langkah. Takut terus, heran. Padahal turunan orang bisnis semua." Mama Aca sudah berada di kamar Kaf, aku pun bergerak untuk ikut masuk ke kamar Kaf.
"Ya ampun…." Aku kaget melihat Kaf yang memasang foto Cani yang berukuran besar, di atas kepala ranjangnya.
Mana Cani dalam foto tersebut tidak bercadar lagi. Entah dari mana ia mendapatkan gambar wajah Cani full, yang tengah melirik ke arah kiri. Foto tersebut sepertinya diambil tanpa sepengetahuan Cani.
"Aku mau ditunangin sama Cani, bentar lagi kalau dapat gelar spesialis," akunya dengan terkekeh malu.
"Kenapa kau tak balik sama mantan kau yang perjakain kau itu?" Mama Aca menaruh tas bekal tersebut di atas nakas dekat ranjang milik Kaf.
Mantan Kaf? Mengambil keperjakaan Kaf?
"Ck, udah punya anak dia." Kaf duduk di ranjangnya, setelah selesai memasang foto tersebut.
"Ya tak apa, nanti juga janda. Kan biasanya gitu anak muda jaman sekarang, mudah jadi janda, mudah jadi duda."
Aku merasa tersinggung dengan ucapan mama Aca. Apalagi, Kaf melirik ke arahku.
"Tak mau, mau yang ting-ting kek Cani." Ia tersenyum lebar.
"Masalahnya, Caninya yang tak mau sama kau." Mama Aca menghela napasnya.
Kaf langsung menoleh ke arah mama Aca. "Mau, Ma. Dia tergantung ayah Givan aja." Percaya dirinya tinggi.
"Ya, itu pun kalau kau bisa bisnis. Warisan Cani banyak, kau disetirin sama ayah Givan nanti." Mama Aca mengulurkan tas bekal tersebut.
"Sana ke papa, minta ajarin basicnya. Biar nanti tak kaget kalau udah jadi suami Cani."
Iming-iming mama Aca tokcer juga, karena Kaf langsung bergerak turun dari tempat tidur.
"Iya, iya, Ma." Kaf mengambil tas bekal tersebut, kemudian berjalan ke luar dari rumah.
"Di halaman belakang yuk, Dek. Mama mau cuci mulut." Mama Aca mengajakku keluar dari kamar Kaf.
Apa ya parfum ruangan yang Kaf pakai? Segar sekali, seperti berada di ruangan dokter spesialis saat aku rutin periksa kandungan. Kelihatan dari kondisi kamarnya, ia seorang laki-laki yang perfeksionis dan menyukai kebersihan.
Benar tebakan kalian, mama Aca menghembuskan asap rokoknya dengan merdeka. Makruh versi alim, ia tetap merokok meski sudah jadi nenek-nenek. Nenek-nenek cantik gemoy tentunya, tidak terlihat seperti nenek-neneknya.
"Yang kecil pada ke mana, Ma?" Aku mengedarkan pandanganku.
Maksudku, anaknya.
"Di rumah tante kau, gudangnya anak-anak."
Benar, rumah tante Ria sudah seperti basecamp anak-anak. Bukan tanpa alasan, rumah tante Ria dilengkapi wahana bermain anak-anak juga soalnya. Ada seluncuran, ayunan, jungkat-jungkit, tangga majemuk, tangga brakiasi dan lain-lain.
"Ma, aku udah ajukan perceraian sama ayahnya Farah. Semalam aku ditalak dari pesan chat," ungkapku langsung.
Mama Aca melirikku, dengan menghembuskan asap rokoknya. "Terus? Mama mau lihat pesan talaknya." Mama Aca menengadahkan tangan kanannya.
Aku mencari hasil screenshot semalam. Aku sudah memblokir nomor Han, semata-mata agar aku tidak terlena dengan kata-katanya lagi.
"Bunga tertawa melihat ini." Mama Aca menaruh ponselku di depannya, kemudian ia terkekeh kecil.
Kenapa mama Aca merespon seperti itu?
...****************...