Hope and Wish

Hope and Wish
H&W94. Menjenguk Bunga



"Yah, jangan ikut campur." Aku tidak mau ayah semakin repot.


"Aduh…." Ayah berbalik lagi ke arahku dengan menggaruk kepalanya. 


"Kasian, Dek." Ayah menoleh kembali ke arah daun pintu rumah tersebut. 


"Ya terus gimana? Kita orang luar, Yah." Aku tidak mau masalah mereka merumit karena ayah ikut campur. 


Brakkkhhhhhh….


Pintu dibuka dan terbanting paksa. 


"Ini pilihan kau kan?!" Pakwa berada di ambang pintu. 


Aku dan ayah saling memandang, kemudian aku mendekatkan diri pada ayah. 


"Ini bukan mau aku, Bang. Tapi kau dan anak kau terkesan maksa aku untuk pergi." Makwa Ajeng keluar dari rumah, dengan kain jarik menutupi rambutnya. 


Bahkan ia hanya memakai dress sepanjang bawah selutut. 


"Pantas aja Elang disuruh sama neneknya di kampung, ternyata ada tujuan untuk pulang ke orang tua." Pakwa Ken menatap tajam makwa Ajeng. 


"Terserah! Udah capek! Aku tak pernah ribut tentang anak-anak kita yang spesial, tapi malah selalu ribut sama anak sulung yang udah dewasa dan normal." Makwa Ajeng melangkah ringan keluar rumah dengan bertudung kain jarik. 


Ia melihat kami, kemudian ia tertunduk dengan melanjutkan langkah kakinya. Ada ponsel di genggamannya, itu alat utama untuk membawanya pulang ke daerahnya. Tapi, apa ia memiliki aplikasi uang elektronik? Apa ia memiliki tabungan pribadi. 


"Bantuin tak, Dek? Tapi Pakwa lihatin kita terus." Ayah berbisik padaku. 


Namun, makwa Ajeng melewati kami begitu saja. Yang artinya, ia tidak membutuhkan pertolongan kami. Aku dan ayah saling memandang kembali, sampai akhirnya dipanggil oleh pakwa Ken. Sedari tadi ia tidak langsung masuk, melainkan memperhatikan kepergian istrinya begitu saja. 


"Ada apa?" Pakwa berjalan ke arah teras rumahnya. 


Ia sudah tua, lalu istrinya disuruh pergi. Ia akan bersama siapa jomponya nanti? Nikah lagi? Apa akan langgeng, jika wanita baru mengetahui bahwa pakwa memiliki dua anak spesial dan satu anak normal yang menguras emosi. 


Jika diperhatikan, makwa Ajeng bisa dibilang pergi karena Bunga. Bukan karena ia tidak kuat mengurus dua anak spesial mereka. 


"Bunga ada?" Ayah melangkah dengan menggenggam pergelangan tanganku bagaikan istrinya. 


"Ada, masuk aja." Mata pakwa masih terlihat memerah dan bringas, pasti emosinya masih berada di ubun-ubunnya. 


"Kita pengen ketemu Bunga." Ayah berhenti di teras rumah pakwa, kakiku pun diam melangkah mengikuti pergerakan ayah. 


"Masuk aja ke kamarnya." Pakwa berjalan ke arah pintu dan menahan pintu tersebut tertutup. 


Suara tangis anak-anak terdengar lepas, mereka seolah tahu bahwa mereka ditinggal oleh ibu mereka. 


"Hua, jangan nangis aja! Hua tak boleh nangis!" Pakwa berjalan ke arah lain. 


Hua tidak boleh menangis, jantungnya tidak aman saat ia menangis lepas apalagi terdengar lama seperti ini. 


"Kamar Bunga yang mana ini, Yah?" Aku celingukan melihat isi dalam rumah besar ini. 


Rumah ini lebih megah dari rumah nenek Dinda. Maksudnya, model ruangannya. Rumah ini seperti aula gedung pernikahan, setelah membuka pintu lalu terlihat hamparan yang sangat luas. 


Bunga melihat kami, ia seperti gelagapan saat aku masuk ke dalam kamarnya. 


"Udah lebih baik?" tanya ayah dengan mendekati ranjang Bunga. 


"Yah…." Bunga mengulurkan tangan kanannya pada ayah, tapi tidak padaku. 


"Gimana keadaan kau?" Ayah duduk di tepian ranjang, sedangkan aku tetap berdiri dengan bersedekap tangan. 


"Tak lebih baik, Yah. Aku lumpuh sementara." Nada bicaranya amat sedih, kemudian ia mengusap matanya. 


Aku memperhatikannya dan aku tidak melihatnya menangis. 


"Sabar, kau pun tau sebab dan akibat dari ini semua." Ayah menggenggam tangan kanan Bunga. 


Kedua kakinya dibalut dengan kain kasa, tapi hanya sebatas di atas lutut. 


"Ayah bela pembunuh." Tangisnya pecah sekarang. 


Ohh, aku pembunuh? 


"Terus gimana? Ayah belain perempuan yang genit ke menantu Ayah?"


Aku kaget dengan respon ayah. Tangis Bunga pun berhenti seketika, ia melirikku dan mengusap ujung matanya. 


"Ayah percaya itu?" Bunga menggoyangkan tangan ayah. 


Apa ayah harus percaya pada Bunga? 


"Ada CCTV, ada saksinya." Ayah melepaskan tangannya dari genggaman Bunga, kemudian ayah memandangku. 


"Terus kenapa Hema harus gantiin dia? Apa selicik itu pikiran Ayah untuk melindungi Ra?" Bunga menatapku marah. 


Ampun, dengan kondisi seperti ini ia sempat-sempatnya memberikan tatapan yang membuat ibaku padanya hilang. 


"Ayah tak nyuruh Hema. Kalau Ayah bakal naikin kasus ke desa dulu, biar tau kenapa Ra sampai bertindak seperti itu. Terus pas nunjukin bukti kalau kau memang melakukan hal yang seharusnya tidak diperbolehkan itu, kau bakal kena hukum syariat. Terus baru tindakan Ra diproses, entah di desa lagi atau naik ke proses hukum." Ayah berbicara perlahan dan lembut. 


Rintihan sedih Bunga terhenti, ia diam tanpa ekspresi kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela. 


"Kau mau perpanjang ini ke hukum? Ayah bawa ke desa juga nanti ya kau." Nada bicara ayah tidak seperti mengancam. 


"Yah, bukan aku yang bawa naik kasus itu." Bunga memandang ayah kembali.


"Percaya, kau lagi tak berdaya. Kau tak bisa laporin hal itu ke polisi. Terus, apa sekedar saling memaafkan aja tak mau juga?" 


Ayah menatapku dan Bunga secara bergantian. Aku ingin menjawab, ya itu tergantung Bunga mengawalinya. Kan ia dulu yang ingin aku mencelakainya. 


"Mau Ayah gimana?" Bunga seperti menantang ayah. 


...****************...