
"Pengen pindah aja dulu, cari aman. Takut sendiri Abang tuh, Dek. Tapi pindah bareng-bareng, jangan Abang sendirian." Ia menggenggam tangan kananku.
Sepertinya, ini alternatif yang paling bagus. Dengan kami pindah sementara, sudah pasti jauh dari Bunga. Materi untuk Zee tetap bisa dikirim, atau lewat tangan keluargaku. Setidaknya, hubunganku dan bang Bengkel pasti baik-baik saja.
"Takut kenapa?" Aku memandang matanya.
"Takut tambah buruk di mata Adek. Demi Allah, Abang gak punya maksud selingkuh atau semacamnya. Selama Abang di rumah sakit pun, Abang gak banyak bicara sama Bunga. Abang fokus ke Zee, atau spam Adek. Keluar kamar Zee, duduk-duduk ngobrol sama orang tua lain yang nungguin anaknya juga. Abang di sana untuk Zee, bukan untuk Bunga."
Aku merasa ia berbual, aku langsung menyentil bibirnya. Namun, aku tidak tahu jika bibir tebalnya sampai berdarah.
"Adek…." Ia mengusap darah di bibirnya dengan jemarinya.
Aduh, aku jadi merasa bersalah.
"Maaf…." Aku membantunya mengusap darah di bibirnya.
Bagian dalam yang sedikit sobek, sepertinya terbentur dengan giginya saat aku menyentil bibirnya.
"Gak dimaafin, harus dicium." Ia memasang wajah sinis.
Loh?
"Ihh! Orang Abang aja belum aku maafin." Aku menepuk pangkuannya.
"Sakit hati aku tuh, Yang." Darahnya sudah berhenti, tapi ia masih mengusapi bibirnya.
"Sakit hati kenapa?!" Aku memperhatikan Galen, ia sudah pulas dan melepaskan pabrik ASInya.
"Mulut Adek tuh, kasar betul. Buat Abang gak bisa tidur, buat ingat terus." Ia memelukku kembali, tangannya melingkar di perutku.
Aku harap Galen tidak terganggu karena gerakan ayah sambungnya itu.
"Sana tuh, risih." Aku cuma tidak mau hatiku terenyuh begini.
"Adek gak minta maaf udah ngusir Abang, udah sentil bibir Abang." Ia berbicara di telingaku.
Ia mengajakku perang.
"Udah aku pernah kasih paham, jangan dekat-dekat telinga aku!" Badanku menjauh darinya.
"Karena kamu sa*****. Iya kan?!" Bang Bengkel menunjuk wajahku dan terkekeh kecil.
"Apa sih?! Tak ah, sana jauh-jauh." Ia pasti sudah hafal bagaimana aku, hanya saja aku tidak mau ditebak.
"Nih dengerin Abang, Yang. Demi keutuhan rumah tangga kita, Abang turunkan ego Abang untuk mantau Zee. Ini semua setelah Abang yakinin hati, bahwa Zee pasti aman di tangan kakeknya itu yang ahlinya medis. Abang gak bodoh-bodoh amat, ini dicermati kok Bunga tambah berisik. Karena apa? Karena video call di waktu yang gak tepat, masa iya Zee tuh kalap ayahnya? Padahal selama di rumah sakit pun, Zee ya kayak asing ke Abang tuh. Udah begini, dia tambah sering nyapa. Takutnya, malah kena fitnah. Abang gak macam-macam, tapi orang salah paham."
Pasti ia sudah kenyang, makanya pikirannya jernih dan terang.
"Terus?" Aku masih menyimak ucapannya.
"Ya udah, pindah. Bilang ke ayah Givan, minta izin pulang ke Jakarta. Udah tau perjanjian awalnya, tapi kan Adek istri Abang, masa gak boleh Abang bawa pergi? Satu atau dua bulan gak masalah katanya kan? Ya udah gak apa, Abang gak keberatan. Nanti pulang ke sini setelah satu atau dua bulan, nanti berangkat lagi gitu kan? Soalnya kalau di sini terus, Abang pasti gak bisa gak panik kalau dapat kabar buruk tentang Zee. Ditambah lagi, Bunganya makin berani. Adeknya cemburuan, tambah takut diceraikan Abang tuh." Ia menciumi tanganku yang ia genggam.
"Aku tak ada yang bantu urus anak." Aku pasti panikan, jika jauh dari keluarga besar dengan menghandle dua anak.
Ia seperti kucing.
"Ya udah, ayo ke ayah." Aku menarik tanganku, aku membenahi posisi Galen agar mudah aku gendong.
"Cepat banget, langsung ke ayah aja." Ia bangkit dan membenahi sarungnya.
"Iyalah, ngapain lama-lama?! Kita belum maafan loh." Aku mengacungkan jari telunjukku di depannya.
"Iya, nanti malam juga udah dua jari." Ia menaik turunkan alisnya.
Ia kira aku semudah itu ia taklukan setelah masalah panjang ini.
"Bacot!" Aku pergi mendahuluinya.
Ia terkekeh kecil.
Apa ya peletnya, kok nada bicaraku sudah tidak seperti saat di klinik lagi?
"Yah…." Aku masuk ke dalam rumah ayah, diikuti dengan bang Bengkel.
"Assalamualaikum…." Bang Bengkel menutup kembali pintu rumah ayah.
"Tuh, kan? Padahal Ayah baru mingkem sebelum Maghrib tadi, lepas Maghrib langsung ekor-ekoran aja." Ayah terkekeh kecil, saat kami berdua mulai memasuki ruang keluarga.
Kepala ayah berada di pangkuan biyung, sedangkan kaki ayah tengah dipijak oleh anaknya yang bercadar itu.
"Ini, Yah. Bang Bengkel mau ngomong." Aku lebih dulu melipir ke kamar pribadi ayah dan biyung, untuk merebahkan Galen yang sudah pulas.
Bibirnya masih latah seperti tengah menikmati ASI, tapi ia benar-benar pulas. Biasanya, jam sebelas malam ia bangun dan mencari ASI kembali.
"Iya, Yah. Aku pikir, itu jalan terbaiknya, biar aku ini bisa tega ke Zee seperti yang Ra maksud. Sekalipun aku gak tega juga, jaraknya jauh, jadi aku gak mungkin seceroboh itu langsung beli tiket pesawat."
Ketika aku keluar dari kamar, bang Bengkel sudah menjelaskan tentang niatnya ke ayah. Syukurlah, jika ia sekarang sudah sat set. Ini yang aku inginkan dari kemarin, tidak harus menungguku ngereog dulu.
"Anak-anak kau gimana? Selain kau punya tanggung jawab ke anak-anak kau, kau pun punya tanggung jawab ke Ra." Ayah tetap dalam posisi semula.
Sedangkan bang Bengkel duduk bersila di depan ayah yang tengah rebahan itu.
"Ibu Jasmine dari Singapore mau tinggal di Jakarta, ayah Hamdan juga, Yah. Ayah punya rencana rehab bengkelnya, diperluas gitu, Yah." Bang Bengkel melirikku.
"Kau dapat ide dari ayah kau?" Ayah bangun dari posisinya, saat aku duduk di sebelah biyung.
"Gak, Yah. Tadinya aku punya rencana rehab bengkel aku yang di Kebayoran Baru, pikir aku daripada ngelamun aja. Tapi aku mikir lagi, kalau aku malah kabur seorang diri di Jakarta, udah pasti aku diceraikan Ra. Jadi lebih baik aku bareng Ra aja di Jakarta, terus ibu Jasmine minta ikut. Katanya pengen ngerasain suasana Jakarta. Ayah bilang, dipinjam dulu uangnya sama ayah, Ayah dulu yang rehab, baru gantian aku. Paling nanti abis bersalin digantinya, gitu kata ayah."
Aku merasa ia terlalu jujur, ia malah berterus terang tentang rencana uangnya dipinjamkan itu. Rencana rehab tempat usaha sudah tertata sejak seminggu setelah menikah, rencananya digelar setelah bulan haji.
"Resepsi jadi tak sih? Kalian jadinya cerai atau resepsi?" Mulut biyung terlalu menohok.
Bang Bengkel sampai melebarkan matanya, ia nampak shock.
...****************...