
"Aku tuh pengen nangis aja." Aku memukul-mukul pangkuanku sendiri.
"Jangan nangis, tinggal bilang. Aku gak bakal ngejer-ngejer lagi kalau kamu gak mau, biar kamu gak risih." Ia mengulas senyum.
"Yang sekiranya aku nolak, tapi kau tetap berjuang ngejer-ngejer tuh." Aku menatapnya sendu.
Ia tertawa geli. "Pengen ada drama juga? Tapi nanti novelnya panjang, sedangkan kita udah sepakat semua loh novelnya gak panjang. Sat-set aja ya? Mau aja ya? Aku udah cek darah kok pas kamu belum pulang, aku bersih dan semuanya normal."
Iya sih.
"Ya udah, mau aja deh."
Ia tertawa kembali mendengar jawabanku.
"Ayo kita ngomong bareng-bareng ke ayah kamu." Ia bangkit dan mengulurkan tangannya padaku.
"Ayah suruh sini aja, takut Galen nangis tak dengar kalau aku duduknya kejauhan." Aku meraih laptopku dan menutupnya.
"Oke, bentar ya?" Ia berjalan ke arah rumah ayah.
Belut listrik itu jangan sampai lepas, menangkapnya susah dan belum lagi bisa mencelakaiku.
Tak lama kemudian, dua laki-laki bersarung itu berjalan gagah ke arahku. Ayah berada satu langkah di depan bang Bengkel, meski akhirnya kami duduk melingkar bersama.
"Kenapa, Dek?" Ayah duduk di sebelahku.
"Kita ngobrol dulu, Om." Bang Bengkel tersenyum ramah.
"Iya, gimana?" Ayah langsung memberi ketegasan dalam suaranya.
Sepertinya, ayah dalam mode tidak bisa diganggu. Tapi apa boleh buat, ini aku yang memintanya untuk ikut mengobrol.
Bang Bengkel memandangku, membuat ayah akhirnya menoleh padaku juga.
"Jangan diem-dieman, ngomong yang jelas!" tegas ayah kemudian.
"Aku jadi aja sama Bang Bengkelnya, Yah." Aku bingung, karena bang Bengkel memilih diam. Sedangkan, ayah sudah sewot.
"Han, Bunga mau jadi janda. Pikir ulang, jangan terburu-buru." Ayah menepuk pangkuannya dan menggosokkan telapak tangannya di atas pangkuannya.
"Ra udah janda, Yah." Ia tersenyum lebar dan mengarahkan pandangannya padaku, dengan jarinya mengisyaratkan saranghae kembali.
"Bukan lagi bercanda, Han." Ayah menghela napas melihat tingkahnya.
"Ngapain ngulang masa lalu?" Bang Bengkel malah melempar pertanyaan.
"Kenapa tidak, kan ada anak juga? Om aja rujuk sama biyung, karena alasan anak juga kok." Pernyataan ayah cerdas, sampai membuat bang Bengkel tertunduk.
"Kisah aku bukan kisah cinta, Om. Tapi kisah zina." Bang Bengkel memandang ayah dan membuang napasnya.
"Kalau Om kan jelas rujuk sama mantan istri, bukan rujuk sama mantan FWB," lanjutnya kemudian.
"Iya, kenapa tak? Kau udah tau kegilaannya, kegilaan kau pun ada di dirinya. Hal terbesar dalam rumah tangga itu apa? S**s kan? Fantasi kalian kan? Tanpa itu, apa bakal baik-baik aja?" Ayah berbicara pelan dan perlahan.
Mungkin karena ada kata-kata yang cukup vulgar.
"Kenapa gak aku lakuin dengan Ra?"
Bang Bengkel selalu melemparkan pertanyaan dan aku tidak suka.
"Mantan itu masih ada sisa-sisa rasa, Han. Masih ada kecanggungan yang tertinggal." Ayah masih mode sabar.
"Kenapa aku gak gitu ya? Dua kali ketemu dia, perasaan biasa aja. Aku penasaran sama anaknya, pengen tau mukanya." Ia melirik ke atas.
"Jangan sok mampu mengelabui aku, Han!" Suara ayah tiba-tiba meninggi.
Ayahku si emosian, tidak bisa sabar lama-lama.
"Kalau ngutamain n****, aku pasti kalah, Om. Tapi aku kemarin dikecewakan, aku kemarin ditipu, aku kemarin diperdaya. Kalau istri aku kemarin bukan Harum, mungkin aku buat surat perjanjian juga biar kejadian waktu sama Bunga gak terulang. Aku takut ditinggalkan dengan anak aku dibawa, Om. Aku bakal sangat nyesel, kalau gak tau bagaimana kehidupan anak aku."
Jadi karena alasan itu juga ia menginginkan surat perjanjian? Tapi bukan masalah besar untukku, dengan surat perjanjian itu pun aku akan aman dengan kesalahan yang ia perbuat.
"Iya, disamping karena Ra gak percaya sama aku juga." Ia memandangku dalam.
Aku merasa dari pandangannya itu ada perasaan sayang.
"Kenapa kau tak percaya, Dek?" Ayah mencolek lenganku.
Aku menoleh pada ayah. "Bukan aku tak percaya, kalau kena hantam tangan lagi kan yang sekiranya jangan aku yang keluar uang banyak kek kemarin."
Perceraian ajukan sendiri. Belum lagi biaya karena aku masuk sel, untuk prosedur dan segala macam. Aku pun harus berbesar hati tidak menuntut nafkah untuk Galen dari ayahnya.
"Jadi, mau isi perjanjian gimana?" Ia memasukkan tangannya ke dalam saku hoodienya.
Untuk pendatang, udara di sini memang sangat dingin.
"Mau dibuat sekarang? Kau beneran mau sama Han?" ungkap ayah kemudian.
"Iya, Yah. Aku mau sama dia." Aku memandang ayahku.
Mungkin, baiknya seperti ini. Aku tidak mau melepaskannya.
"Ya udah buat sekarang aja, Om." Bang Bengkel seperti sangat mantap dengan keinginannya.
"Untuk sementara, tulis tangan aja dulu ya? Aku ambil kertas sama pulpen dulu di dalam." Aku bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Aku menyempatkan diri untuk melihat keadaan Galen. Ia pulas dan berkeringat di atas tempat tidur, AC tidak dinyalakan karena dingin.
"Ini, Bang." Aku keluar dan memberikan kertas dan bolpoin.
"Ra, ini hal buruk yang gak pernah aku bayangkan. Tapi, kalau pada akhirnya rumah tangga kita gak berjodoh panjang. Aku pengen hak asuh anak kita jatuh ke tangan aku, anak-anak sama aku semua." Ia memandangku dan melirik ayah.
"Tidak termasuk Galen," terang ayah kemudian.
"Kenapa gak? Kan nanti aku ayahnya."
Bagaimana ya menyadarkan pikirannya?
"Aku tak setuju kalau Galen dibawa juga." Aku buka suara.
"Kenapa? Dia anak aku juga nantinya, apa aku ayah yang buruk?"
Rasanya ingin aku getok kepalanya.
"Dia bukan darah daging kau, Han! Antara Galen dan Farah pun boleh menikah, nasab mereka berbeda." Gigi ayah sampai bergemeletuk.
"Ya oke, aku sepakat. Asal kalau cerai, harta benda dan aset kau untuk aku semua, Bang." Aku tidak benar-benar menginginkan, hanya membuatnya takut saja.
"Lah, kalau kayak gitu. Gimana nanti aku kasih makan anak-anak aku? Jahat itu sih." Ia manyun seperti anak kecil.
"Berarti tak dapat kesepakatan di sini. Coba cari alternatif lain, Dek, Han." Ayah memandangku dan bang Bengkel bergantian.
"Gimana, Om? Aku gak mau kehilangan anak-anak aku."
Pasti cintanya lebih besar untuk anak-anaknya ketimbang pasangannya.
"Anak-anak tak bakal hidup nemenin kau sampai seumur hidup kau, itu peran pasangan kau. Kalau kau terlalu berlebihan pada anak, gimana perasaan pasangan kau yang nemenin kau sampai ke tanah? Om bimbing anak-anak Om yang mau aja, tapi semuanya pada mau. Yang tak mau ya udah, rasain sendiri akibatnya. Tapi ke istri Om, Om tak mau bimbing dia untuk mandiri. Biar Om yang ngerasain susahnya bangun usaha, biar dia yang nikmati hasilnya aja. Coba dipikirkan, Han. Ini ucapan seorang bujang yang dulu nikahin janda, yang nikahin ibu Om." Ayah menepuk-nepuk dadanya sendiri.
Kakek Adi.
"Aku takut mereka gak beruntung kalau di tangan orang tua sambungnya, Om." Bang Bengkel memandang ayah dan menaruh bolpoin begitu saja.
Ia urung untuk menulis sesuatu.
"Ini buktinya, Om sangat beruntung. Kau tau, Han? Om kecil lebih terurus setelah punya ayah sambung, hidup lebih tertata dan pendidikan lebih terjadwal." Ayah terlihat berbangga diri. "Om disuapin, digosok belakang telinganya pas mandi, tidur dipuk-puk. Ngaji dan sekolah diantar, ditungguin, dijemput. Di rumah diulang lagi, dibantu hafalkan dan dipelajari artinya. Kau tau, sama mamah kandung malah dibuat uji nyali. Makan tak cepat, dibentak tak usah makan. Bukannya disuapin kek papah sambungnya Om, tapi malah tertekan lahir batin." Ayah memijat kepalanya.
"Masa ibu kandung begitu? Aku takutnya anak perempuan dan punya bapak sambung yang cabul, udah pengen nangis aja rasanya ini, Om." Bang Bengkel menyatukan alisnya.
...****************...