Hope and Wish

Hope and Wish
H&W87. Kembali ke ayah



"Aku sadar, anak perempuan aku ini bukan anak yang terpuji sikapnya. Tapi dari kecil sampai besar, aku tak ngerasa kurang ngasih dia wejangan dan pemahaman. Aku pikir, suaminya bisa bimbing dia jadi perempuan yang terpuji sikapnya. Terus juga, bukannya laki-laki di Indonesia ini semuanya tau kalau kata cerai itu haram diucapkan laki-laki meski hanya bercanda? Ini apalagi? Dengan emosi. Bukan maksud membandingkan dengan diri sendiri, tapi sekasar-kasarnya mulut aku, aku lebih milih berucap kata-kata kotor, ketimbang ngeluarin kata keramat itu. Itu mempersulit diri kita sendiri, menghancurkan rumah tangga kita sendiri dan merepotkan hati kita sendiri. Yang semuanya baik-baik aja, tiba-tiba harus jadi punya masalah yang sangat-sangat runyam," ujar ayah dengan suara stabil. 


"Yah, Saya gak kurang-kurangnya nasehatin Han. Saya paham dia masih muda, egonya masih tinggi." Ayah Hamdan terlihat merasa bersalah. 


"Tak menyalahkan kau, tak menyalahkan Han juga. Ada pengen rumah tangga anak baik-baik aja, tapi ada pengen juga lebih baik Ra dikembalikan ke orang tua aja dulu." Ayah membuang napasnya, kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela. 


"Jadi baiknya Saya sampaikan ke Han gimana?" 


Ayah Hamdan sepertiku juga rupanya, pasrah. 


"Ya kapan-kapan kalau pulang, minta itikad baiknya untuk anter Ra pulang ke rumah orang tuanya. Sekarang, baiknya diproses sama Ra aja dulu. Han banyak rencana di sana, biar dia fokus sama rencananya dulu. Untuk pelajaran juga untuk Ra dan Hannya, bahwa rumah tangga itu harus dipikirkan baik-baik di awal, tak buru-buru macam beli barang diskonan. Ra juga mungkin belum siap untuk berumah tangga kembali keknya, keteteran begini hidupnya, sampai lupa laparnya. Padahal rencana habis lebaran mau lanjut pendidikan, mau tetap pegang usaha, mau urus anak dan suami pakai tangan sendiri. Paham, semuanya butuh waktu. Tapi dengan tambahan waktu, bertambah juga permasalahan dengan Bunga, karena Han tak bisa kasih tegas ke Bunga."


Aku rasa, keputusan ayah ini sudah paling baik. 


"Apa Saya suruh Han pulang dulu?" Ayah Hamdan mengeluarkan ponselnya. 


Ayah memasang telapak tangannya di depan dadanya. "Tak perlu, biasa aja. Pulang kalau dirasa mau jemput anaknya aja, sekalian antarkan Ra pulang gitu kan? Perlu diingat juga, Jasmine lagi hamil. Dia pun punya anak kandung juga, yang lambat laun harus diawasin dirinya sendiri karena mak Nilam udah tua. Jadi baiknya Han pikirkan pengasuh atau apa, biar Jasmine bisa fokus sama kandungannya dan tanggung jawabnya sebagai ibu dari Varro dan sebagai istri kau."


Ayah Hamdan mengangguk. "Saya bakal usahain untuk ambil pengasuh satu lagi untuk Zee. Masalah mereka ikut Han, Saya harus ngomong dulu sama anak itu. Hidupnya lagi gak beres, Saya gak mau semua orang jadi kena imbasnya. Saya gak mau cucu-cucu Saya kurang terawasi kalau harus dipaksa ikut Han ke Jakarta."


Bingung juga aku memikirkan. Ayah Hamdan berencana mengambil pengasuh satu lagi, tapi secara tidak langsung ia keberatan jika cucu-cucunya dibawa ke Jakarta. 


"Terserah kalau kek gitu, obrolin sama Jasmine. Kalau merasa rumahnya kurang cukup, boleh dibangun lantai duanya, sementara dibangun boleh tinggal bareng di rumah dulu. Sekarang udah malam, baiknya kita istirahat, pulang." Ayah bangkit dan mengajakku untuk bangun. 


"Silahkan, Yah. Saya mau ngobrol sama bang Chandra dulu, sekalian mau nyampaikan ke Han kalau baiknya kayak gitu." Ayah Hamdan mengangguk ramah. 


Ayah mengangguk, kemudian memandangku. "Ayo pulang, Ra," anaknya kemudian dengan merangkulku. 


"Ayah, aku di rumah sendiri aja." Aku mengikuti langkah kaki ayah. 


"Di rumah Ayah aja. Biyung ngurusin Ayah, coba perhatikan Galen dan pengasuhnya dulu." 


Aku rasa ini hanya alibinya saja, ayah tak mau aku sendirian dan meratapi nasibku. 


"Yah, aku mau langsung diproses malam ini aja." Aku takut, aku berubah pikiran. 


"Nanti sampai rumah kita hubungi kuasa hukum Ayah. Biar dia yang urus, kau fokus bahagiakan diri aja. Tak usah ditangisin, tak usah diratapin. Kau sakit, kau kenapa-napa, yang sedih bukannya Han, yang merasa kehilangan bukannya Han. Tapi Galen dan kita keluarga kau. Bahagiakan diri kau sendiri, jangan buat kita dan Galen repot." Mulut tajam ayahku membuatku tersenyum samar. 


Aku tahu niat ayah baik. 


"Siap, Ayah." Aku memberikan buku nikahku ke tangannya. 


"Boleh nonton film?" Aku akan melancarkan aktivitas rutinanku. 


"Boleh. Jangan film dewasa, b**** nanti."


Aku terbahak-bahak mendengar ucapan ayah. Frontal yang sangat membuatku shock, tapi geli juga kedengarannya. 


"Besok ke kampus ya? Minta bang Chandra antar dan urus dokumen untuk lanjutin pendidikan." Ayah melepaskan rangkulannya, karena sudah berada di depan gerbang rumah. 


"Siap, Yah." Aku mengangguk mantap.


Aku seperti tidak diberi waktu untuk menata semuanya. Tapi dengan aku memiliki banyak kesibukan, sudah pasti aku akan melupakan hal-hal yang membuatku sakit. 


Namun, tiba-tiba aku teringat dengan perjuangan Hema. Ya Allah, laki-laki yang tengah berobat jalan itu kan berharap aku bahagia dengan suamiku setelah Zee berada di tangan suamiku. Jika ia tahu cerita ini semua, ia pasti kecewa sendiri karena sudah mengorbankan dirinya untuk mendekam di sana. 


"Yah, aku ambil laptop dulu." Aku berbelok naik ke teras rumahku. 


"Ayo, Ayah tungguin." Ayah ada di belakangku. 


Aku mengangguk, kemudian lekas masuk ke dalam rumah. Aku mengambil barang-barang yang aku perlukan, kemudian keluar dari rumah kembali. Ayah masih menungguku, bahkan ia membawakan barang-barangku. 


"Dek, Ayah masih agak demam. Ayah mungkin masih banyak istirahat."


Aku langsung menyentuh tangan ayah. Memang terasa hangat, apalagi di udara yang begitu dingin begini. 


"Maaf ya, Yah?" Aku merasa tidak enak pada ayah. 


"Maaf kenapa lagi kau ini? Masuk, cari kamar yang kosong. Mana aja, kamar bang Chandra pun tak apa." Ayah menggiringku masuk ke dalam rumahnya. 


Entah karena lelah menangis tadi, entah karena aku sudah merasa tenang karena sudah diputuskan dan aku kembali ke pelukan ayah. Aku begitu mudah tertidur, bahkan hanya beralaskan karpet ruang keluarga saja. 


Ketika aku terbangun esok harinya, jagoan kecilku ada di sampingku. Ia memeluk adaptor laptopku, yang untungnya tidak terhubung ke stop kontak. Pasti malam tadi ia bermain-main dengan kabel ini, karena aku sempat mengASInya sebelum aku pulas. Pengasuh Galen pun tidur tak jauh dariku, ia beralaskan karpet juga dan ia sampai mendengkur halus.


Sepertinya, hari-hari pertamanya di sini sangat berat karena belum memahami kebiasaan Galen. Aku akan berusaha untuk bekerja sembari kuliah, agar mampu membayar pengasuh Galen. Aku tidak mau merepotkan ayah terus, setidaknya aku ingin beban ekonomiku dan anakku, aku tanggung sendiri. 


"Dua tahun lagi, Dek? Yakin? Tak mau ambil D1 aja kah, satu tahun selesai?" Bang Chandra muncul dengan beberapa berkas di tangannya. 


Hufttt, masih jam lima pagi. Rajin sekali dirinya, pasti ayah yang memerintahkannya untuk mengurus kuliahku kembali. 


...****************...