
"Kau tak apa kan? Sering tengokin Hema aja kitanya. Kita kasih kebutuhannya rutin, Dek." Ayah menggandeng tanganku saat berjalan menuju parkiran.
"Iya, Yah. Tapi tetap, aku ngerasa aku punya hutang budi sama Hema." Aku memperhatikan suamiku dari jauh.
Ia tengah merokok dan bersandar pada mobil bang Chandra.
"Motornya bengkok juga, Dek. Coba berhentiin mobil yang kau kendarai, jadi dia nabrakin motornya ke mobil kau. Ayah udah bilang ke Wildan, nanti diganti baru aja. Motornya Wildan soalnya, tapi Hema yang nyalain dan sengaja hantamin ke mobil papa kau."
Aku lekas menoleh pada ayah.
"Gih masuk, Ayah ikutin mobil kalian dari belakang." Ayah membawaku sampai ke depan pintu mobil bang Chandra, kemudian ia melipir ke mobilnya sendiri.
Kenapa aku seceroboh ini? Aku sadar, tapi aku memaksakan emosiku. Kini, ayahku yang harus mengganti rugi semua kendaraan yang hancur.
Bukan hanya mobil putih milik papa Ghifar, mobil pink milikku, mobil bang Chandra dan motor milik bang Wildan.
"Yang…." Bang Bengkel menatapku, ia seperti memikirkan kata-kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Iya? Kenapa?" Aku memperhatikannya yang tengah memainkan gigi mobil.
Diam.
Namun, diamnya membuatku semakin penasaran. Aku tidak mau ia hanya diam, harusnya ia membuka mulutnya.
"Farah tinggal di rumah ayah Hamdan aja ya? Kan udah ada pengasuh juga. Lusa, mungkin mereka berangkat ke Singapore. Farah dibawa mereka aja ya?" ujarnya, dengan melajukan perlahan keluar dari parkiran rutan ini.
"Kenapa? Ada aku di rumah, kita juga mau ke Jakarta kan?" Aku tidak mengerti keputusannya kali ini, bukannya ia mencari istri untuk menjaga anaknya juga?
"Gak, Abang aja yang di Jakarta. Adek di rumah aja, gak apa gak ikut."
Aku menoleh kaget. Apa maksudnya ia ingin kami LDR?
"Kenapa begitu?" Aku tidak siap mendapatkan keputusan mendadak begini.
Apalagi, rencana kami sebelumnya udah tersusun rapi.
"Gak apa-apa, mungkin baiknya begini dulu."
Begini dulu? Berarti ada apa-apa sebenarnya?
"Gimana? LDR? Aku bisa ikut, kenapa harus ditinggal?!" Padahal aku sudah mentekadkan hati untuk memantapkan diri tinggal di sana.
"Kita butuh waktu untuk nenangin diri. Abang kayaknya gak bisa kalau Farah tetap sama Adek."
Jleb, perkataannya sungguh tajam.
"Ya udah, pisah aja sekalian!" Aku butuh support darinya, tapi ia malah menginginkan waktu untuk kami berpisah sejenak.
"Bisa gak, apa-apa gak langsung minta pisah?!" Ia menoleh dengan memberikan tatapan tajam, kemudian ia meluruskan pandangannya lagi ke depan.
"Ya maksudnya apa ngomong kek gitu?! Farah anak kita, kenapa tak boleh sama aku?!" Ia membuatku tersinggung parah.
"Bukan gak boleh, tapi lebih baiknya dalam pengawasan ayah aja. Kamu lagi marah-marah terus, Abang takutnya kamu marah ke Abang, tapi lampiasin ke anak Abang."
Pemikirannya pendek sekali.
"Kalau tak ada kejadian kau dipeluk perempuan lain pun, aku tak akan senekat itu. Aku tak suka milikku dinikmati perempuan lain!" seruku lepas di telinganya.
"Terserah! Intinya, Farah sama ayah Hamdan." Ia mengibaskan telapak tangannya.
Ya Allah. Aku tersinggung luar biasa karena sikap yang ia ambil, ia seorang suami tapi tidak mengerti perasaanku.
"Ya hallo…." Ia menerima telpon dari seseorang.
"Ke mana? Di rumah?" Ia masih berbicara dengan seseorang di panggilan telepon tersebut.
"Iya, heem. Iya aku ngerti, Pakwa. Ya udah aku jemput sekarang." Senyumnya terukir.
Pakwa? Pakwa Ken? Ayah saudara tertua di sana, tak ada lagi yang dipanggil pakwa.
"Yang, suruh jemput Zee. Makwa Ajeng keteteran katanya, Hua gak suka makwa Ajeng ngurus Zee." Ia menoleh dan memberikan senyum berlesung pipi itu padaku.
"Ya, itu rencana Hema. Seneng kan? Tengok, demi kebahagiaan kita, orang lain rela mendekam di penjara." Rasanya, Zee juga tak mungkin aku jaga. Karena tadi ia bilang sendiri, bahwa Farah saja sebaiknya diawasi oleh ayah Hamdan.
"Kita gak tau motif Hema aja, mungkin aja biar bisa dapat toleransi dari Bunga. Mana tau itu jalan mereka untuk rujuk."
Pemikirannya hewan sekali!
"Terserah!" Aku lelah menjelaskan pada orang bodoh.
"Ya iya, pasti begitu jawabannya. Memang dari awal pun gak mau kan untuk urus Zee???" tuduhnya yang membuat emosiku menguap kembali.
"Terserah! Terserah!" Aku tak ingin menunjukkan bagaimana lebihnya diriku, aku takut ia bertambah tidak percaya jika anak-anaknya dalam pengawasanku.
Hanna riang sekali ketika bertemu denganku. Namun, makwa Ajeng memaksa Hanna agar kembali ke kamar.
"Baju-bajunya ada di rumah yang di sana, Ra. Minta tolong nanti diambil aja perlengkapan Zee, maaf ya ngerepotin." Makwa Ajeng bercucuran keringat.
Tangisan Hua lepas sekali. Ia muncul dengan digendong oleh pengasuh, dengan bibir dan kuku tangan yang sudah amat biru.
"Dek, jangan nangis aja dong." Makwa Ajeng menghampiri Hua, ia mengusap-usap dada Hua.
Kasihan sekali anak perempuan itu. Bibirnya biru yang benar-benar biru, seperti menggunakan obat sariawan.
"Makwa, kami pamit ya? Nanti bilang aja ke pakwa, kalau kami udah bawa Zee." Bang Bengkel kentara sekali tidak nyaman berada di sini.
Pahamilah, Hanna senang ada yang mengunjunginya.
"Iya, iya, Han. Maaf tak bisa nemenin ngobrol." Ia menggendong Hua yang bertubuh besar, kemudian membawa Hua ke ruangan lain.
Kasihan sekali aku padanya. Oleh pakwa, ia terkesan hanya untuk mengurus anak-anaknya saja. Ia masih muda, mungkin usianya baru tiga puluh duaan. Tapi jauh terlihat lebih tua dari biyung, mungkin karena ia yang benar-benar tidak memiliki waktu untuk mengurus dirinya sendiri.
"Anak Ayah, sehat?" Bang Bengkel menciumi anak perempuan yang berada di dekapannya.
Mobil ayah lurus pulang ke rumah, tidak ikut kami singgah ke rumah pakwa Ken.
"Zee udah ada di dekapan, apa kita jadi ke Jakartanya?" Aku masih berharap kami bisa rukun satu rumah.
"Zee juga sama ayah Hamdan, nanti Abang carikan pengasuhnya juga. Adek gak apa di rumah aja, tenangin diri dulu. Galen kan udah ada yang ngasuh juga, dia juga udah terbiasa minum ASIP." Ia tersenyum padaku. "Adek yang bawa mobil ya?" Ia memberikan kunci mobil milik bang Chandra padaku.
Aku mengangguk, yang penting pulang ke rumah saja dulu. Nanti aku bisa mengobrolkan hal ini di rumah pikirku.
Namun, turun dari mobil ia langsung membawa Zee pergi ke rumah kak Jasmine. Aku pulang dan menunggunya lama sembari melakukan pekerjaan rumah pun, ia tidak kunjung pulang.
Sampai aku memutuskan untuk mengajaknya pulang ke rumah, karena hari sudah akan Maghrib. Tetapi, jawabannya membuatku sesak napas mendadak.
"Abang tidur di sini aja, Yang." Senyumnya yang terukir itu, hanya menambah rasa sakit hatiku.
Setelah semua yang terjadi dan Zee sudah di tangannya, ia seolah mundur perlahan dari kedudukannya menjadi suamiku. Ingin tidak menangis pun tidak bisa, ini hal yang paling menyakitkan untukku.
"Dek, makan belum?" sapa biyung, saat aku berlari cepat dengan tangisku menuju ke rumahku kembali.
Tidak ada yang mengerti diriku sama sekali, sekalipun itu suamiku. Tidak ada yang mensupportku sama sekali, begitupun suamiku.
...****************...