
"Om yang nikahin langsung?" Bang Bengkel terlihat panik.
"Loe pikir bagemane?!" Ayah duduk berhadapan dengan bang Bengkel.
"Aduh, deg-degan." Bang Bengkel celingukan, dengan mengusap-usap dadanya.
Aku tidak di sampingnya, aku hanya bisa mengintip saja. Ini pun karena acara belum dimulai, jika sudah dimulai aku akan dipaksa duduk anteng di tempat yang berbeda dan tertutup.
Semua orang tertawa geli. Aula KUA ini begitu ramai, hanya karena kedatangan keluarga besarku saja.
"Sini, Dek." Mama Aca menarikku.
"Ya, Ma." Aku mengikuti tarikan tangan ibu asuhku.
Bukan pakaian adat, bukan kebaya juga. Hanya dress mewah berbahan satin silk berwarna putih dengan perpaduan variasi warna biru muda, tak lupa selendang tile untuk melapisi hijabku juga.
Bang Bengkel hanya mengenakan setelan jas hitam, tidak lupa dengan kemeja putih panjang di dalam jasnya. Peci hitam menjadi identik untuk akad nikah di sini, meski sebagian besar orang biasanya menggunakan peci adat atau biasa disebut kupiah meukeutop.
"Ra, ingat-ingat omongan Mama lagi. Mama tak minta banyak-banyak, yang penting satu harus kau ingat. Seperti biasa, jangan kasar kalau suami kau tak berlaku kasar. Jangan lampiaskan ke anak, kalau kau marah sama suami kau. Kendalikan emosi, jangan sampai anak atau keluarga jadi imbas dari kekesalan kau." Mama Aca menyentuh kedua lenganku.
"Siap, Ma. Aku selalu ingat petuah itu dari kecil, Mama selalu ingatin berulang kali." Rasanya telingaku bosan mendengarkan nasehat mama Aca, tapi aku tahu ia khawatir aku lupa dengan nasehatnya.
"Penuhi kebutuhan ranjangnya, jalin komunikasi dua arah, protes ke suami saat perut suami udah kenyang, jangan ganggu privasi dia. Laki-laki mahal, sekalipun dibebasin kek gimana juga, dia pasti bisa jaga keimanan dan n****nya. Jangan cari tau hal-hal tentang masa lalu Han yang bisa nyakitin kau, kecuali semesta menunjukkan sendiri. Jangan cari penyakit, di tengah kebahagiaan kalian. Biarpun Han hapus-hapus chattingnya dengan perempuan lain di luar sana sebelum pulang ke rumah, sekalian kau tak tau aja. Dia tengah coba jaga perasaan kau meski dengan membohongi kau, kau yang dijaga dia jangan menyakiti diri sendiri dengan cari tau kebenarannya. Kalau memang Han benar-benar salah, Allah pasti nunjukin semuanya di depan kau. Jangan jadi perempuan yang pada umumnya, meski kita perempuan pada umumnya. Kita hidup di negara hukum, cukup kau kumpulkan buktinya aja, jangan kau menghakimi kesalahannya. Laki-laki yang berselingkuh, apalagi sampai ke ranjang itu hukumannya ditanam sampai leher, kemudian dilempar batu sampai mati, bukan di maafkan. Tapi bukan berarti kau merasa tersakiti, jadi kau merasa pantas menghukumnya. Ini cuma nasehat, untuk pegangan seumur hidup kau. Mama tak bermaksud kacauin pikiran kau, Mama cuma tak mau kau gagal lagi, Ra. Sekalipun gagal, Mama harap bukan kau yang bersalah." Mama Aca menyunggingkan senyum manis.
Hatiku menghangat, aku langsung memeluk dirinya. "Makasih petuahnya, Ma. Aku ngerti kok dengan semua yang Mama sampaikan, itu semua tak buat aku berpikiran buruk, tapi aku paham kalau aku harus tetap logika di sini."
Ehh, mama Aca langsung menepuk jidatnya setelah terlepas dari pelukanku saat aku selesai berbicara.
"Tak harus apa-apa logika juga, malah kalau kek gitu ya jadinya suami itu tak berfungsi sebenarnya. Apa sih bisanya dia? Cuma n******in kita aja kan? Buat kita hamil, buat kita makin repot karena telinga mereka dijual terpisah."
Aku tertawa lepas mendengar kalimat akhirnya itu. Memang sih, tidak ayah ataupun Syuhada sama-sama harus dipanggil berulang. Mereka seolah tidak mendengar, padahal jika dilihat dari dekat ya mereka sebenarnya tengah fokus.
"Terus harus gimana, Ma? Aku dari kecil diajarin logika, tak kek bang Chandra yang dengar suara orang jualan tahu bulat malam-malam dia nangis karena kasihan." Giliran mama Aca yang tertawa renyah karena ucapanku.
"Harus saling nerima, Dek. Nanti ajak Han makan malam di rumah Mama, Mama pengen ngobrol juga sama pilihan kau. Eh, tapi kenapa sih kau milih dia? Dilihat dari nilai pendapatan dan tunjangan bagian ayahnya, Kaf lebih unggul loh." Mama Aca terkekeh geli.
Aku tahu ia bukan perempuan matre, tapi aku pun paham jika segala jenis kebutuhan itu ada nilainya. Aku pun merasakan sendiri menjadi ibu rumah tangga, yang selalu memutar uang jatah dari suamiku sebelumnya.
"Aku tuh baper sama dia, Ma. Apa ya? Dia tuh nampak bertanggung jawab, orangnya asik, mesumnya juga dapat tuh. Aku ingat awal bareng Syuhada, dia tak bisa apa-apa loh, Ma. Bahkan, n****nya pun kalah sama aku. Inisiatifnya tak ada yang berarti gitu, harus diajarkan aja."
Mama Aca tertawa geli dengan menepuk-nepuk pangkuanku.
"Jejaknya aja punya anak di luar pernikahan, ya pasti lah ahli dalam memperdaya perempuan. Memang kau udah diapakan sama dia?" Mama Aca merendahkan suaranya.
"Mama jangan bilang-bilang nih." Aku melihat reaksi tegang dari wajah mama Aca, pasti ia takut jika aku benar-benar diapa-apakan oleh bang Bengkel.
"Oke, apa?" Matanya sudah fokus padaku.
Ekspresinya langsung, 😑.
"Mama kira kau diapakan." Mama Aca menghela napasnya.
"Tapi aku langsung susah tidur pas pulang tuh, Ma. Deg-degan betul, aku udah ngebayangin dia berbuat lebih." Aku mengatakan itu sambil tertawa geli.
Mama Aca meraup wajahku. "Eh, tapi memang sih kalau duda tuh keknya menarik betul. Dulu Mama didekati bujang, tapi lebih berat ke papa Ghifar yang duda anak dua. Pas jebret tak berbusana juga, mereka ini beneran enak loh, Dek."
Tawaku lepas seketika, tapi mama Aca langsung membekap mulutku.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku ingin menciummu Ratuku. Hahahaha….," seru seseorang yang baru masuk ke ruangan ini.
Aku langsung menoleh, aku pun melihat beberapa anggota keluarga membawa kamera ala-ala fotografer. Ada juga yang membawa ponsel.
"Doa dulu, Bodoh!" maki ayah yang mengekori bang Bengkel.
"Memang gak boleh langsung caplok aja?" Bang Bengkel berhenti di sampingku.
Mama Aca langsung mengajakku berdiri, ia membenahi tile pelapis hijabku.
"Kau kira ngasih makan ikan?" Ayah berdiri di sampingku.
"Gimana, Yah? Ajarin, maklum nih duda pengalaman perjaka." Bang Bengkel terkekeh kecil.
Ia sudah memanggil ayah dengan sebutan semestinya, bukan lagi 'om'.
"Ini udah sah, Yah? Dia udah suami aku?" tanyaku dengan menoleh ke arah ayah.
"Udah, Dek. Bodoh betul dia, tiga kali pengulangan. Abang kau waktu duda dan nikah lagi, tak sampai ngulang kek gitu." Ayah melirik bang Bengkel.
Bang Bengkel seperti tersenyum malu. "Ya maklum, orang nervous." Ia membuka kancing jasnya.
"Nih, kau dengerin. Tangan kanan kau taruh di atas ubun-ubun Ra." Ayah bersedekap tangan sembari memberi perintah tersebut.
"Oke, gini?" Bang Bengkel melakukan dengan benar.
"Kau nunduk, Dek. Ngapain kau dongak aja? Nungguin Han nyium kau?"
Ya ampun, ayah membuatku malu saja. Aku menunduk menahan tawa, ditambah banyak keluarga yang mentertawakanku.
"Terus….
...****************...