Hope and Wish

Hope and Wish
H&W51. Mendadak panik



"Kamu ingin masa laluku? Apa Anda siap menyakiti diri Anda sendiri? HAHAHAHA…." Bang Bengkel tertawa jahat begitu lepas. 


"Bangsat memang kau, Bang." Aku terkekeh kecil. 


"Lagian, ngapain sih nyakitin diri sendiri? Ibunya Farah tuh gitu tuh." Bang Bengkel merangkulku keluar dari kamar mandi. 


"Keknya semua perempuan deh." Biyung pun sering mengungkit setahuku. 


"Iya, ya Adek jangan jadi kayak gitu. Ayo lah, kita pom** mood kita." Bang Bengkel mengangkat tubuhku seperti karung beras.


Aku nyangkut di bahunya. 


Kami tengah bersenda gurau, dengan meloloskan satu persatu pakaian baru kami. Namun, ada sedikit gangguan lantaran ada panggilan telepon masuk dari ibunya Zee. 


Ada apa lagi dia? Kenapa ia menelpon suamiku? 


Aku tidak tahu sejak kapan mereka saling memiliki nomor telepon masing-masing. Tapi yang aku tahu, sejak kami menikah memang story Bunga sudah muncul di daftar story dalam aplikasi bang Bengkel. Yang artinya, sebelum kami menikah memang mereka sudah bertukar nomor telepon. Mungkin pertukaran nomor telepon terjadi, saat mereka sibuk dengan tes DNA. 


"Angkat aja." Aku memakai kembali penutup ASI milikku. 


"Ck, ganggu aja." Ia menggigit bibir bawahnya sendiri. 


Ia tengah tanggung. 


"Sini, sambil aku service." Aku membuka resleting celananya. 


"Takut keluar, Sayang." Ia menerima panggilan telepon tersebut dan meletakkan ponselnya di atas bantal sofa. 


Tangannya bergerak membantuku untuk membuka resleting celananya. 


"Bang, Abang…." Suara Bunga seperti terengah-engah dan seperti panik. 


"Ada apa?" Bang Bengkel memegangi rambutku, meski pertanyaannya tertuju untuk seseorang yang tengah menelponnya itu. 


"Zee kejang tanpa demam, kata ayah kemungkinan epilepsi. Kurang tau juga, karena belum pemeriksaan. Ini kita lagi ke rumah sakit besar, Abang susul segera."


Sejurus kemudian, bang Bengkel memasukkan kembali miliknya yang baru saja aku basahi. Ia mendadak panik. 


"Kami siap-siap. Rumah sakit mana? Share loc aja nanti." Ia mencoba memasang pengait celananya. 


Ya ampun, aku sudah hampir tanpa busana. Aku mengerti, sangat mengerti. Zee anaknya, lalu Zee harus diperiksa. 


"Ayo, Yang. Cepat, Sayang." Bang Bengkel tergesa-gesa memakai kembali kemejanya. 


"Siap, Bang." Aku membalik bajuku, kemudian menggunakannya. 


Lipstikku hilang di bibirku, aku tidak memakai ulang karena keburu ditarik oleh suamiku. Ia tidak memikirkan Farah, ia tidak teringat Galen. Pandangannya begitu fokus, ia begitu konsentrasi mengemudi untuk mencapai tujuannya. 


Nyatanya, sesampainya di rumah sakit kami hanya menunggu. Zee masih di UGD, ia terlihat baik-baik saja, ia menangis karena dipasang infusan. Aku tidak mengerti apa itu epilepsi, tapi Zee duduk di tengah-tengah ranjang dan merespon bang Bengkel yang mencoba berinteraksi dengannya. 


"Awalnya dia kenapa?" Bang Bengkel bertanya pada Bunga, yang berada di sisi kanan brankar. 


"Awalnya tidur, terus badannya tiba-tiba kek kaget. Kata ayah, itu bukan efek mono. Efek mono itu, reaksi bayi yang tiba-tiba kaget karena dengar suara yang mengagetkan. Soalnya memang lagi tak ada suara apapun, kami di kamar tamu depan dan tamu udah pada pulang." Kelopak mata Bunga basah, ia jelas panik dengan kondisi anaknya. 


Aku mencoba percaya bahwa itu cerita asli. Ia memang ke sini dengan paksa, tapi pakwa pulang lagi setelah mengarahkan dan berbicara pada dokter UGD. Pakwa mengatakan, dirinya akan mengambil rekam medis Zee. 


"Bapak, silahkan untuk mengurus administrasi kamar inapnya dulu." Seorang suster menyibakkan tirai penyekat ruangan besar ini. 


"Baik, Sus." Bang Bengkel keluar, setelah mengusap pundakku. 


"Maaf ya ganggu waktu istirahat kalian, Ra." Bunga tersenyum samar. 


Rasanya, kepalaku berat sebenarnya. Bukan lagi nanggung, tangannya sudah mengaduk-aduk di bawah sana tadi. 


"Sampai udah no make up, udah hampir lelap ya keknya?"


"Iya, kenapa? Kau sendirian kan? Kau butuh teman? Kami datang, jadi tak usah banyak basa-basi." Aku memahami secuil maksud dari kabar yang terburu-buru ini. 


Pakwa pulang mengambil rekam medis, sedangkan dirinya dan anaknya sendirian di rumah sakit besar. Ia tidak tahu ingin ke mana, ia tidak tahu dipindahkan ke mana. 


"Kau kenapa seketus ini sama aku? Kau udah nguawasiin dia, Ra. Kenapa kau terkesan panik terus?" Ia tertawa sumbang. 


Aku panik katanya? 


"Kalau dia mau kau, akan aku berikan sampai wafatnya juga, Bunga. Kau tak perlu berpikir bahwa aku takut kehilangan dia, apalagi takut diambil sama kau." Sebaiknya logikaku tetap bermain di era gempuran masa lalu begini. 


"Mulut kau sombong betul, Ra." Ia geleng-geleng kepala, dengan mengusap rambut anaknya. 


"Tenang, akan terbukti kalau memang dia barang murahan. Kalau jejeran barang diskon, atau nilainya rendah, biasanya berada di rak yang sama, kau tenang aja, Bunga." Aku juga bisa tertawa sumbang sepertinya. 


Ia langsung melihatku, kemudian ia tertunduk dan pura-pura fokus pada anaknya. 


Apa yang ia inginkan sebenarnya? Benarkah ia ingin suamiku? Atau ia ingin melengkapi kebahagiaannya dengan utuh? Ya, dengan anaknya dan sang sumber benihnya. 


Rasanya lama sekali proses administrasi ini dan itu, sampai akhirnya Zee dipindahkan ke kamar inap. Tak sampai di situ, pemeriksaan pun segera dilanjutkan. Aku kembali digandeng bang Bengkel menuju ke ruangan pemeriksaan Zee selanjutnya, tidak hanya cek darah, scan kepala pun dilakukan. 


Kurang lebih tiga jam proses bolak-balik ini berlalu. Sampai akhirnya, bang Bengkel menyadari jika aku demam. 


"Sekalian periksa aja ya, Yang?" Bang Bengkel tak hentinya memeriksa kulitku. 


"Ini cuma efek ASI penuh aja." Aku memijat pelipisku sendiri. 


Kepalaku pusing memang, padahal bang Bengkel tak telat memberiku makan. 


"Jadi gimana? Mau pulang aja?" Bang Bengkel nampak gelisah melihat keadaanku. 


Mungkin ia bingung juga, karena Zee terbaring lemas setelah banyak dilakukan pemeriksaan. Hari ini libur, tapi karena pakwa berpengaruh ya semuanya bisa dilakukan segera. 


Herannya aku, pakwa pergi lagi setelah memberikan rekam medis Zee. 


"Iya, Bang." Aku takut kondisiku semakin turun, jika ASIku tidak segera dikuras. 


"Bunga, aku pulang dulu ya? Ra demam, ASInya penuh." Bang Bengkel melepaskanku sejenak. 


"Aku sama siapa di sini? Kalau Zee kenapa-kenapa, gimana?" 


Aku paham, Bunga tidak bisa menjaga anaknya sementara dokter tengah menunggu hasil semua pemeriksaan. Ini terlalu berat untuk seorang Bunga yang lemah, letih dan rapuh untuk seorang single mom. 


"Aku naik ojek online aja." Ini bukan usulan amarahku, aku hanya mencoba bersikap dewasa saja. 


"Gak, gak akan. Kamu aku antar pulang." Bang Bengkel langsung memegangi pergelangan tanganku kembali. 


"Tapi janji nanti ke sini lagi ya, Bang? Jantung Hanna lagi tak stabil, dia tak bisa ditinggal ayah." Bunga sudah berkaca-kaca kembali. 


"Tapi Ra sakit, Bunga. Toh, Zee udah diperiksa juga. Tinggal nunggu hasil aja kan? Dokter pun tadi bilang, kalau nanti paling diberikan pengobatan, tak akan dioperasi atau diberi tindakan besar." Bang Bengkel meninggalkanku, ia berjalan ke arah Bunga. 


"Bang, ini anak kita. Kalau Zee kenapa-kenapa, apa kau tak nyesel karena tak ada di sampingnya?" Setetes air mata lolos dari kelopak mata besar milik Bunga. 


...****************...