Hope and Wish

Hope and Wish
H&W55. Bertengkar



"Ayah urus baju kotor kau dulu ya, Dek? Nanti Ayah ke sini lagi bawa pakaian bersih." Ayah mencium dahiku. 


"Makasih, Yah." Aku tersenyum untuk ayahku. 


"Tanggungan Ayah, tak perlu makasih, Dek." Ayah mengusap kepalaku dan pergi dari ruanganku tanpa menitipkanku pada bang Bengkel. 


"Yang…. Kamu harus dengar cerita Abang." Bang Bengkel menempati kursi yang ayah kuasai sejak bersamaku di ruangan inap sederhana ini. 


"Tak perlu, simpan aja sendiri." Aku tidak mau menyakiti diriku sendiri, aku tidak ingin mengorek tentangnya seperti kemarin. 


Biarkanlah kebenarannya menunjukkan padaku sendiri. 


"Jangan gitu, Adek nanti gak percaya. Dengerin dulu, biar tau kejadiannya gimana. Kenapa sih gak mau tau? Zee gak penting ya untuk Adek?"


Saat Farah kejang, ia mengatakan bahwa aku tidak khawatir dengan Farah. Sekarang giliran Zee, ia mengatakan Zee tidak penting untukku. 


"Kalau memang mau aku urus, bawakan ke aku. Jangan banyak drama begini, ayahku tak suka. Jangan nanya khawatir tak, penting tak. Boleh aku tanya prioritas Abang? Di akhirat, Abang bakal ditanya tanggung jawab Abang atas aku, Faraj sama Galen. Bukan atas Zee yang bukan nasab Abang." Aku menepuk dadanya. 


Lagi sakit pun, aku harus dipancing emosi begini. 


"Kenapa selalu ngomong kayak gitu? Zee anak biologis Avang. Abang gak mau dengar tentang nasab Zee yang berbeda, besar nanti dia ngerti bakal tersakiti dengan ucapan Adek. Zee, Farah atau Galen tak ada bedanya. Mereka anak Abang semua, Yang."


Ayah yang tidak pandang bulu tentang anaknya, apa ia pantas mendapatkan sanjungan setinggi awan? 


"Terserah! Pulang aja, istirahat kalau capek." Aku memunggunginya. 


"Ra, hargai kehadiran aku. Aku di sini untuk kamu!" Ia membalik posisiku untuk menghadap langit-langit kembali dengan cukup kasar.


Aku tersentak dengan bentakannya. Aku tidak sakit hati dibentak ayah, tapi dibentak suami rasanya begitu sesak. Apalagi, dalam kondisiku yang tengah sakit begini. 


"Batalin aja resepsi kita." Resepsi masih sekitar tiga minggu lagi. Jika dibatalkan dari sekarang, kerugian materi biyung tidak begitu besar. 


"Kenapa harus ngancem? Aku stress, Yang. Aku stress, di sana anak sakit, di sini istri sakit. Aku datang, kamu gak mau diurus. Mertua nyudutin aja, gak ngerti kondisi aku. Aku harus gimana coba?!"


Aku menoleh ke arahnya. Aku tidak mengerti kenapa ia malah ngamuk. 


"Pantas istri kau cepat mati! Bagus ya kau bersikap gitu ke aku?! Di awal effort kau bagus, Bang. Kau lembut, kau dewasa, kau terkesan bertanggung jawab. Pulang kau sana ke ayah kau! Tak mau aku hidup lama-lama sama laki-laki kek kau!" Bibirku bergetar, napasku berat dan mataku berair. 


Aku tidak bisa sekasar ini dengan orang-orang yang aku sayang, tapi aku tidak bisa hanya diam jika orang yang tersayang keterlaluan seperti ini. 


Ia memundurkan kepalanya. Matanya melebar, kemudian ia mengusap dadanya. 


"Ngerti! Aku NGERTI! Tapi pikiranku jernih, bisa memikirkan semua orang di sekeliling aku, bahkan ingat kalau beberapa lampu rumah belum dimatikan. Kau dikasih pengertian, masih nuntut aja pengertian. Aku tak mau ngomong sedih, tentang aku yang tak terurus suami. Aku beruntung, aku beruntung punya ayah kek ayah, meski suami aku kek kau! Kau tak bisa tegas, aku yang bakal tegas. Aku tak lagi ngancam, tapi aku tak suka kalau kau tak cepat ambil keputusan. Aku relakan aku dijadikan perantara biar kau dekat sama Zee, bukan berarti kau sepelekan aku. Kalau kau masih mau sama aku, ambil Zee atau lepasin Zee sama ibunya." Suaraku bergetar, emosiku tumpah dengan rasa cengengku. 


Aku tidak mau menangis di depannya. 


Tapi ia bajingan, ia malah memelukku dan membuat tangisku pecah di pelukannya. Bagaimana pun juga aku punya perasaan, aku punya hati dan aku punya cinta. Aku ingin dicintai dan dihargai suamiku, aku tidak ingin suamiku menyepelekanku dan menyia-nyiakanku.


Aku tahu ini tentang anaknya, aku pun punya anak dan aku tahu rasanya khawatir ke anak. Tapi jika memang suamiku sakit, aku bisa berbagi perhatian dari anakku untuk suamiku. Setidaknya, aku akan memastikan keadaannya dari orang-orang yang berada di dekatnya. Tidak diam saja seperti yang ia lakukan padaku. 


"Aku gak bisa milih, Yang. Abang lagi usahakan, sabar sebentar."


Kalau aku bersabar di dalam kamar menunggunya pulang untuk melihat kondisi parahku, mungkin sekarang aku sudah mati dehidrasi. Aku muntah-muntah sehari berulang, belum lagi keringat yang terus keluar. Sekarang, ia minta aku bersabar lagi.


"Ya udah, Abang pulang aja dulu ke ayah Abang. Tak usah ajarin aku sabar, aku udah banyak makan sabar." Aku mencoba melepaskan diriku darinya. 


Mungkin semua istri yang disepelekan ingin banyak berbicara sepertiku, tapi aku yakin mereka tertekan oleh keadaan atau memang takut ditinggal. 


"Jangan, Yang. Kita sama-sama, Yang. Maafin Abang, Abang janji gak ulangin kesalahan ini lagi." Suaranya parau, tapi hatiku tak tersentuh karenanya. 


"Lakuin kesalahan yang lain, ya?" Aku menatap wajahnya, agar bisa memahami ekspresi yang ia tunjukkan itu. 


Ia menggeleng. "Abang bakal perbaiki diri Abang lagi, Yang. Jangan suruh Abang pulang ke ayah, kita sama-sama, Yang." Ia mencoba memeluku kembali. 


Bunga, kau hebat sekali sampai membuat suamiku lupa akan istrinya. Pasti ia tersenyum puas sekarang, apalagi jika ia tahu bahwa aku dan bang Bengkel bertengkar hebat. Ia pasti merasa menang, jika melihatku dan bang Bengkel tidak satu rumah lagi. 


Seperti yang Kaf ceritakan, ternyata permasalahan anak itu sekompleks ini sampai ada yang membawa ke persidangan. 


Syuhada tidak ada gangguan dengan masa lalu, ia pun tidak ada indikasi selingkuh. Tapi, tangannya ringan sekali. Tapi, ia cemburuan sekali. Bang Bengkel yang jelas tidak cemburuan, ia malah terkesan tidak mencintaiku, ia malah menyepelekanku. 


Benarkah aku sebagai istri yang kurang menerima? Atau memang laki-lakinya yang tidak bisa memperlakukan istri dengan semestinya? 


Aku kah yang terlalu sombong dan kasar? Atau memang ia yang harus diberi ancaman dan peringatan terus? 


Yang lebih membuatku bingung, ia tahu bagaimana karakterku. Lalu kenapa ia malah membentakku, saat kondisiku tengah tidak sehat begini? Ditambah dengan kesalahannya itu, aku merasa ia seperti dicuci otaknya oleh Bunga. Dalam semalam, ia sudah amat berbeda dengan alasan anaknya sakit itu. 


"Yang, dengerin cerita Abang dulu biar Adek gak salah paham. Biar pikiran Adek tenang, biar gak nyangka Abang ini itu terus. Dengerin, Abang mohon dengerin. Abang pengen berbagi cerita sama pasangan hidup Abang. Bukan Abang cari pembelaan, tapi Abang memang gak mau Adek salah paham ke Abang terus. Abang gak mau karena kejadian ini, kedepannya Adek malah kurang percaya sama suami sendiri." Ia menggenggam tanganku, kemudian mengusap wajahku. 


...****************...