
"Apa tuh?" Aku menahan tubuh Galen, karena ia ingin turun dari tangga teras.
"Adek pakai baju tidur kurang bahan," bisiknya di telingaku.
Aku langsung terbahak-bahak, sampai Galen diam dengan memberiku telunjuknya yang baru keluar dari mulutnya. Ia membasahi pipiku dengan air dari mulutnya.
"Oke, oke." Aku mengangguk berulang.
Aku pun punya beberapa koleksi pakaian dinas malam tersebut, aku punya dan aku sering memakainya di dalam rumah ketika sudah malam di hadapan suamiku dulu.
"Cari kegiatan apa ya?" Ia menggendong Galen, karena anak laki-laki itu ingin turun saja dari teras.
"Jagain anak-anak aja, aku nyuci, masak juga, Bang."
Aku bukan perawan, aku tidak kesakitan karena kembali berhubungan suami istri. Aku bisa tetap produktif, malah aku merasa tubuhku lebih ringan sekarang.
"Oke, deh. Nanti Abang mau main ke saudara-saudara ya? Biar hafal, biar akrab sama yang lain juga." Ia berdiri dan tersenyum lebar.
"Oke, Bang." Aku membalas senyumnya dan masuk ke dalam rumah.
"Mammmm, aemmmmm…." Rengekan Galen, membuatku ingat perutnya.
"Bang, bentar. Ini sambil nyuapin Galen," seruku dengan melambaikan tangan padanya.
"Oh, iya." Bang Bengkel menoleh dan mengangguk, ia mendengarku.
Tidak repot, cukup telur mata sapi saja. Kemudian aku langsung mengeluarkan sepeda roda tiga milik Galen, agar bang Bengkel mudah untuk menyuapi Galen.
Aku lanjut beraktivitas, setelah membekali Galen dengan air minum juga. Aku mulai memilah sayuran, kemudian langsung melanjutkan cucianku. Sesekali, aku menyelingi untuk mengolah daging.
Penghasilan bang Bengkel cukup besar dari satu cabang usahanya, sekitar tujuh puluh lima juta sampai seratus. Beda cabang, beda penghasilan. Yang paling besar, cabang usahanya yang di Bekasi itu.
Itu total bersih, sudah dipotong untuk listrik dan dibagi dengan ayah juga. Ayah tidak menaruh modal besar, jadi ayah hanya dapat sekitar lima belas persen saja. Total nilai pendapatan bang Bengkel tersebut, sudah dipotong oleh ayah. Sudah untuk membayar orang-orang ayah juga, yang bekerja pada bang Bengkel.
Jadi bisa dibilang tujuh puluh lima juta dikali empat, jadi jelas penghasilan segitu untuk sebulan ya lebih dari cukup. Aku ingin mencontoh ayah, di mana dirinya memiliki usaha lain. Jika aku tidak memikirkan dari sekarang, sudah pasti nanti kedepannya bakal tak terpikirkan karena kebutuhan anak-anak semakin banyak dan mungkin juga, aku akan menambah jumlah anak.
Tidak terasa momen pengantin baru sudah habis, aku dan bang Bengkel sudah merasa biasa saja. Bukan berarti sudah tidak cinta, tapi hubungan ranjang kami sedikit berkurang frekuensinya, tidak lagi setiap hari melakukan hubungan itu karena kami sudah memiliki aktivitas masing-masing. Ditambah lagi, aku dalam bulan puasa ini menjadi ibu dari dua orang anak.
"Minal aidin wal faidzin." Kami kembali bersalam-salamnya.
Jam sepuluh siang, kami belum selesai menerima tamu di rumah bang Chandra itu. Lihatlah cucu laki-laki yang dituakan itu, tuan rumah itu malah pulas di tengah-tengah tamu yang datang silih berganti. Bukan hanya keluarga besar, tapi para tetangga juga warga kampung yang mengenal kami berbondong-bondong datang ke rumah. Tapi banyak diantara mereka itu, tidak berani untuk membangunkan bang Chandra.
"Wah, ini mabuk daging kambing atau gimana?" tanya ketua RT yang bertamu ke rumah.
"Memang nyender tidur dia sih, Pak. Tadi anak-anaknya suruh injak-injak punggung, eh anaknya kabur, dianya pulas." Ayah terkekeh kecil.
"Permisi, maaf…." Bang Bengkel melewati beberapa orang dengan punggung sedikit membungkuk.
Kami semua duduk di lantai beralas karpet permadani lembut.
"Kenapa, Han?" Ayah memandang ke arah bang Bengkel.
Wajahnya serius, seperti ada sesuatu yang perlu dibicarakan.
"Dipanggil pakwa, Yah. Itu di ruang keluarga, katanya mana hasil tes DNA yang kemarin diambil." Bang Bengkel berbicara lirih ketika sudah berada di hadapan ayah.
Aku berada di samping ayah, Farah berada di dekapan ayah.
"Nanti Ayah ambil, ajak Ra makan dulu sana, Han." Ayah menoleh padaku, kemudian ia bangkit dengan membawa pergi Farah.
Sepertinya, ayah hendak mengambil hasil tes tersebut. Aku tidak tahu hasilnya, tapi kata ayah seperti yang Bunga katakan.
"Yang, ayo makan?" Ia mengulurkan tangan dan tersenyum padaku.
"Belum pengen, Bang." Lambungku masih merasakan suasana bulan puasa.
"Ayo pindah ke ruang tengah dulu, Galen di belakang tuh sama Kirei dan Gabriel."
Pasti bang Bengkel mengajakku untuk membicarakan hasil tes DNA itu. Bukan aku tidak siap, aku merasa siap-siap saja mengasuh tiga anak juga. Tapi entah karena faktor puasa atau kurang istirahat, banyak saudaraku mengatakan bahwa aku lebih kurus dan pipiku langsung tirus setelah satu bulan menikah.
Fisikku sanggup mengurus dua anak, mungkin akan segera ditambah satu lagi dari anak Bunga. Aku pun tetap bisa memasak, bisa mengurus suami juga meski kurang maksimal. Dari awal memang aku sudah meminta pengasuh bayi berpengalaman dan bersertifikat, tapi menjelang lebaran mereka itu tidak menerima pekerjaan.
Ini bukan hal rumit, tapi aku merasa tidak enak dengan bang Bengkel, karena saudaraku mengatakan aku kurusan dan pipiku tirus. Terkesan bang Bengkel kurang bisa membahagiakanku dan seolah aku terus dibuat kelelahan, hingga waktu istirahatku kurang karena aku kurusan dan tirus.
Ia perhatian, memegang anak-anak juga. Ilmu agamanya bertambah, ia sering datang ke kajian juga. Tapi memang, ia bekerja juga karena merasa malu berada di rumah saat pagi sampai siang. Memang dia bos, tapi ayah yang bos besar saja tidak selalu ada di rumah. Itu yang ada di pikirannya, harga dirinya tergores jika ia selalu mendekam di rumah.
Bekerja pun inisiatifnya sendiri, meminta pekerjaan pun datang dari mulutnya sendiri ke ayah. Ia diberi kepercayaan untuk memegang usaha rumah furniture yang di sini, sebut saja posisinya seperti CEO.
Ya, dia bekerja di kantornya. Dia berangkat pagi dan pulang sore, meski bulan puasa juga. Sabtu dan Minggu ia libur, tanggal merah dan cuti nasional pun libur. Ia selalu ada waktu untuk kami berdua dan untuk keluarga kecil kami, tapi seperti di pandangan saudaraku yang lain bang Bengkel tidak demikian. Bang Bengkel dinilai sibuk, banyak kegiatan sendiri, bahkan kakak iparku yang menikah dengan bang Chandra itu mengatakan bahwa suamiku hanya butuh penjaga untuk anaknya.
Ke mana ayah Han? Ia pergi ke Singapore untuk mengurus usaha istrinya, mana usahanya ada dua, satunya di Sulawesi. Kak Jasmine masih belum bisa beraktivitas jauh, hingga ayah Han yang mengurus pekerjaan istrinya itu. Ia datang hari ini, tapi ia rindu menikmati waktu dengan istrinya.
Aku tidak ingin memikirkan pendapat saudara-saudaraku, tapi karena mereka terus mengatakan hal itu, bahkan sampai ke telinga suamiku. Rasa tidak enakku pada suamiku semakin bertambah. Aku tidak tahu kenapa aku kurusan sekarang, kenapa pipiku tirus sekarang. Inginku pun tidak seperti ini, tapi bang Bengkel jadi merasa bahwa dirinya tidak membawa kebahagiaan untukku.
Baru bulan pertama, ternyata ada saja ya ujian rumah tangga. Padahal kami belum resepsi, tapi rumah tangga kami sudah ada rasa tidak enak begini.
Bang Bengkel merasa dirinya bersalah karena perubahan fisikku. Apalagi kak Key menambahkan 'kau puasa Senin Kamis pun, tak pernah sekurus sekarang ini'. Ia berbicara seperti itu, saat suamiku ada di sampingku.
Ya, siapa orangnya yang tidak tersinggung?
Aku pun jelas merasa bersalah juga, aku tidak paham kenapa fisikku mengalami penyusutan. Tapi suamiku yang disalahkan dan seolah dirinya tidak becus untuk membahagiakanku.
"Duduk di sini, Yang. Di samping Abang." Bang Bengkel memindahkan beberapa air mineral kemasan gelas yang sudah kosong, agar aku duduk dengan nyaman tanpa barang-barang yang mengganggu.
Arghhhh, aku naik pitam melihat senyum miring ibu biologis putri dari suamiku itu. Ia seolah mengejekku juga.
...****************...