
"Panggilin ayahnya, tadi ikut ngobrol di sini." Ayah menggendong salah satu anak bang Chandra yang menangis karena terjatuh.
"Ke una yuk? Udah belum tuh una mandinya." Bang Chandra mencoba mengambil alih anaknya yang menangis tersebut.
Una adalah panggilan untuk istrinya, bunda maksudnya. Namun, Barra kecil tidak bisa memanggil 'bunda'. Tetapi, ia bisanya memanggil 'una'.
"Yang bungsu nih, Bang. Ampun, tak mau anteng betul." Ayah mencandak tangan cucunya yang benar-benar mirip sepertinya.
"Ayo ke sus." Itu panggilan untuk pengasuh anak-anak bang Chandra.
Lima anak laki-laki tersebut sudah digiring masuk ke dalam ruangan kembali, aku melihat mereka akhirnya dibawa naik semua ke lantai atas. Rumah sebesar ini akhirnya hidup juga, untungnya anak bang Chandra langsung banyak.
"Kenapa, Van?" Pakwa Ken muncul di depan bang Bengkel.
Galen anteng sekali di dekapan bang Bengkel, ia memainkan kancing kemeja bang Bengkel yang terpasang rapi. Bajuku sering berkancing, tapi ia tidak pernah seanteng itu bermain kancing.
"Ehh, kalau si Zee memang belum punya asuransi kesehatan?" tanya ayah kemudian.
"Udah, ikut rumah sakit yang di sana." Pakwa berbaur dengan kami semua di halaman samping.
"Itu asuransi kepakainya gimana sih? Bisa klaim di sini? Aku tak paham, karena alhamdulillah Kirei tak pernah sakit parah." Pakcik Gavin pindah tempat, karena ia tengah merokok.
"Bisa klaim di rumah sakit sini juga, bisa kepakai di mana aja. Jangkauannya Asia, selagi masih di kawasan Asia ya bisa kepakai. Zee udah punya kok, semuanya punya termasuk Hema." Pakwa memandang kami semua satu persatu.
Asuransi milik kak Nahda juga bisa dipakai di Singapore. Program bayi tabung tidak bisa menggunakan asuransi, tapi untuk cek up tiap bulan, seperti USG bisa menggunakan asuransi tersebut. Ya persis lah seperti yang dibilang pakwa, tapi kenapa Bunga minta dibuatkan asuransi?
"Kalau bisa, ngobrolin begini setelah nikah aja. Perempuan aku udah ngelirik aku terus, Om. Takut malam tiba-tiba minta gagal. Repot nanti, udah pesen Civic Turbo atas nama dia lagi."
Aku merespon dengan tawa, ia peka juga ternyata.
"Untuk bawaan nikahnya kah mas kawin?" tanya pakcik Gavin kemudian.
"Bawaan nikah, Om. Mas kawinnya biasa, emas." Ia merubah posisi Galen di gendongannya.
Aku jadi ingin tahu tanggapan bang Bengkel.
"Kalau kemarin gak wafat, gak akan nikah lagi juga, Om. Dingin Om sendirian terus." Jawabannya membuat kami terkekeh geli. "Resepsi dari biyung, catering dari aku, sama uang tunai untuk Ranya. Biyung minta isi kamar, tapi dipikir lagi untuk apa. Kemarin Ra nikah, bawaannya banyak dan masih kepakai. Jadi mending rupa uang aja katanya, biar Ra bisa alokasikan untuk yang lain."
Gila, biyungku tak kira-kira sekalinya ikut andil. Resepsi darinya katanya?
"Heran, yang nikah ini biyung kah Ra? Kok kehendak di biyung semua?" Pakcik Gavin paling bisa mencairkan suasana.
"Jadi maksudnya gimana? Tadi Bunga minta apa?" Pakwa Ken menyentuh pundak bang Bengkel.
Jagoan kecil tidak terima, tangan pakwa langsung dibuang oleh Galen begitu saja.
"Ya minta asuransi. Terus dia ada khawatir tentang kartu keluarga, dia minta ikut kita aja di kartu keluarga," aku bang Bengkel dengan merendahkan suaranya.
"Kau mau aku keluarkan dari kartu keluarga kita nanti?!" Suaraku langsung lepas.
"Tuh, Om. Udah aja bahas nanti, resikonya tinggi ini." Bang Bengkel garuk-garuk kepala terlihat gelisah.
Melihat bang Bengkel ditertawakan semua orang, aku jadi kasihan padanya. Apa aku terlalu galak? Tapi inilah sifatku.
"Dia lagi bercanda?" Pakwa menoleh ke arah bang Bengkel dengan mengangkat satu alisnya.
"Iya mungkin, bercanda. Tapi intinya, Zee gak boleh diambil kalau aku nikah lagi. Padahal dengan aku nikah lagi, apalagi Ra yang jadi ibu sambungnya, pasti hidup Zee terurus dong? Om tau sendiri kan bagaimana urusnya keluarga Om Givan? Tapi ya gak apa, bisa dibicarakan nanti aja." Terlihat wajah tidak enak bang Bengkel saat mengatakan hal itu.
Ia orang yang tidak enakan.
"Keknya, Om sama Bunga perlu pembicaraan pribadi, Han. Lagian, toh kamu sama Ra juga. Kita dekat loh, Om pun tak akan izinkan Bunga pindah kota lagi meski udah tak punya ikatan pernikahan dengan Hema. Keluarga Hema pun ada di sini, Hema pasti diurus kakaknya lagi. Dari awal pun memang Om agak berat lepas Zee, dia cucu satu-satunya ibaratnya. Karena kan tau sendiri, anak Om ya begitu, Bunga ya begitu, Barra ya ada orang tua asuhnya yang sekarang lebih hak karena dokumennya kuat. Zee di Bunga atau di kau, kan tetap kita tinggal di lingkungan yang sama." Pakwa seperti keberatan memutuskan tentang Zee.
"Mau dimanjain lagi? Terus kegap sama laki-laki lagi? Tegas sedikit kenapa sih?! Bukan aku mikirin masa depan Zee, itu masih terlalu lama, SD aja enam tahun. Tapi aku mikirin Bunga, Bang. Dia masih muda, masih dua puluh tigaan. Masa depannya di depan mata, esok harinya tergantung dia hari ini, jatah umurnya masih panjang kalau memang dikasih umur panjang. Kalau Bunga di rumah, jaga anak, hidup dijatah, tetap tak punya ilmu, nanti gimana kedepannya? Aku nih mikirin loh, Bang. Setidaknya, dia harus punya ilmu dulu. Sebulan sekali bisa kok kita jenguk, ajak anak-anaknya, biar tau ini ibunya. Kek Cali, biar dia dalam asuhan aku, ada apa-apa dia tetap lapor ke ayah kandungnya, tetap ngadu ke ibu sambungnya. Kita bareng-bareng berperan, kita bareng-bareng repot. Bukan aku dukung Han ambil anaknya, yang ada anak aku repot juga karena harus urus anak Bunga kan? Tapi aku mikir tak gitu, Bang. Aku mikir biar Bunga bisa berubah, biar dia punya waktu untuk memperbaiki diri tanpa punya beban dan tanggung jawab sementara. Dia nimba ilmu, satu atau tiga tahun. Lanjutin pendidikannya, minimal D1 lah. Terus ajarin kerja, kasih tanggung jawab pekerjaan. Kita lihat gimana progresnya, kita lihat bagaimana dia dilepas setelah punya ilmu agama dan pendidikan. Aku tak mematok perubahan seseorang itu karena pendidikan, banyak kok orang tak punya yang sukses dan bawa naik derajat orang tuanya. Tapi kau orang bertitel dan anak kau model Bunga yang tak punya ilmu dan pedoman yang kuat, Bang. Kau orang berada dan anak kau begitu, kalah sama orang tak punya. Kau ngerasa gagal tak sih jadi orang tua, Bang? Ceysa kek gitu aja nasibnya, aku pengen nangis tiap kali ingat. Aku mau betul Bunga dipesantrenkan, biar dia punya pedoman hidup, Bang. Setidaknya, ilmunya terpakai untuk dirinya sendiri dan kehidupannya kelak. Semoga nasibnya lebih baik, setelah dia punya ilmu dan ngelewatin ini semua. Memang banyak kok orang yang berubah lebih baik tanpa harus masuk pesantren, tanpa harus diarahkan begini begitu. Tapi dia udah tiga kali loh, Bang. Dia udah tiga kali bawa dirinya sial terus, Bang. Sama suami sirinya begitu, sama Hema tak seberapa beruntung, terus sama Han. Kau tau sendiri dari mulut Bunga kan? Barra itu udah ada sebelum mereka menikah. Coba, gimana rencana kau untuk anak kau itu?! Pikirkan kedepannya, jangan mikirin kasihan Zee dijauhkan ibunya, jangan mikirin tak ada penerus kau. Kal dan Kaf itu bisa nerusin, aku yakin kok mereka tak lupa anak cucu kau kalau kau udah tak ada, Bang. Sayang itu tak harus diberi fasilitas terus, tak harus dimanja terus. Kau memang tak malu kalau anak kau tak bisa apa-apa?! Kau memang tak malu kalau anak kau tak terarah begini?! Kau memang tak malu kalau anak kau tak punya ilmu?!" Ayah sudah maju, semua orang terdiam.
...****************...