Hope and Wish

Hope and Wish
H&W29. Menyimak bacaan dan mengobrol



"Kawin buru-buru betul, heran." Ayah geleng-geleng kepala, menerima selembar surat dari bang Bengkel. 


"Ranya tuh, Om." Ia melirikku.


"Halah! Kau pasti bertingkah kan?!" tuduh ayah dengan memukul kepala bang Bengkel dengan selembar kertas tersebut. 


"Coba tanya Ranya, Om." Ia melemparkan padaku. 


"Kau diapakan sama Han?" Ayah bertanya lembut padaku, tapi sorot matanya tajam sekali. 


"Dihamili," jawabku yang sengaja menjebak bang Bengkel. 


"Enak gak, Yang? Coba cerita ke Ayah." Ia mencolek daguku. 


"HEH!" Ayah menepis tangan bang Bengkel yang mencolek daguku barusan. 


"Tuh, Yah. Begitu tuh, aku tuh paling tak bisa digituin." Aku menunduk pura-pura menangis sedih. 


"Kau aja yang gampangan, masa dicolek aja tak bisa ngelawan?" sewot ayah kemudian. 


Menyedihkan, bang Bengkel malah tertawa lepas. 


"Udah pengennya pasrah aja, Yah. Ayah tuh jangan bawel coba, kepengenan aku tuh tak susah kali loh." Aku melirik ayah, kemudian memanyunkan bibirku. 


"Ya Allah, dosa apa aku? Punya anak perempuan kegatalan betul." Ayah pura-pura menangis dan lunglai di sofa ruang tamu. 


"Aku dulu gatal pun minta dinikahin dulu," timpal biyung, dengan menyediakan teh hangat untuk kami yang baru sampai rumah. 


Sedangkan Farah sudah pindah tangan ke kakeknya, om Hamdan sudah membawanya pergi ke rumah kak Jasmine. Ternyata mereka masih tinggal di sini, aku kira sudah berada di Singapore. 


"Sama siapa?" Ayah memperhatikan istrinya yang tengah menata gelas di depanku, bang Bengkel dan di depan ayah. 


Galen masih tidur katanya. 


"Sama bang Daeng lah." Biyung kembali pergi ke belakang. 


Pandai menyelamatkan diri, entah biyung menyadari tidak jika napas ayah sudah seperti kerbau penarik barang. 


"Daeng, Daeng, Daeng!" gerutu ayah lepas. 


"Ini Rabu jam dua siang? Kenapa tak pagi?" Ayah membaca ulang kertas tersebut. 


"Biar cepat sore, cepat malam, Om," jawab bang Bengkel yang membuatku melongo bodoh. 


"Memang mau ngapain kau?!" Ayah jarang bernada santai. 


Bang Bengkel tertawa kecil dan menutupi wajahnya. "Gak, maksudnya tuh biar paginya kita bisa prepare dulu. Setidaknya, Ra juga harus make up tipis-tipis," jelasnya kemudian. 


"Ya udah sana kau bersih-bersih, sarapan. KTP kalian taruh di atas meja" Ayah bangkit dari duduknya. "Kau pulang, Dek. Sana bersih-bersih, istirahat di rumah kau."


Kemudian, ayah melirik bang Bengkel. "Kau di sini aja, Han. Rumah ibu sambung kau cuma ada satu kamar."


"Aku nempatin kamar mana, Om?" Bang Bengkel meraih ranselnya. 


"Di kamar sebelah kamar Om, nanti setelah nikah nempatin kamar itu juga. Sini, dikasih tau." Ayah mengajak bang Bengkel pergi. 


Aku pun keluar dari rumah dan masuk ke rumahku sendiri. Sudah sholat Subuh dan sudah sarapan, lebih baik aku terlelap saja dulu. Toh kata ayah, Galen masih tidur juga. 


Sampai datang waktu Ashar, aku mendapat kabar dari biyung untuk berkumpul bersama dan mengaji di rumah bang Chandra selepas Maghrib. Aktivitasku sedikit terhambat, karena Galen rindu ASI secara langsung. Ia sudah nemplok saja, sejak lepas Dzuhur aku mengambilnya di rumah biyung. 


"BBnya turun kah dia, Biyung?" Aku memeriksa telinga Galen yang tengah nemplok di dadaku ini. 


Kami tengah duduk di teras, dengan mendengarkan beberapa anak-anak keluarga besar kami yang tengah berusaha menghafal. Sesekali, aku ikut biyung untuk mengoreksi hafalan bacaan mereka. 


"Naik lima ons, Dek." Biyung kembali meluruskan bacaan seorang anak yang ada di depannya. 


Bersih semua, tidak hidung atau telinga. Biyung itu resik orangnya, meski kelihatan tidur saja juga. Daki yang di kepala pun bersih tanpa membuat kulit kepala iritasi, semua bayi di sini hampir dibersihkan biyung. Ia tidak menggunakan minyak khusus bayi, tapi menggunakan minyak kelapa hasil membuat sendiri. Dari santan terus dimasak, hingga menghasilkan minyak yang bening. 


"Makannya apa aja, Biyung?" Aku bukan tidak percaya dengan biyung, tapi aku ingin tahu apa yang dimakan anakku. 


"Masak yang biyung masak aja, biar dia ikut makan, Biyung tak kasih cabai."


Aku langsung teringat gigi anakku. 


"Biyung, dia belum punya gigi. Masa iya ikut makan ikan tongkol dan sayap ayam?" Aku membayangkan Galen tersedak. 


"Bisa, Dek. Biyung masak nasinya agak benyek, tapi tetep rupa nasi. Lauknya tuh kek disuwir lembut dulu sebelum masuk ke mulutnya, tapi tetap dia kunyah kok. Pas kemarin aja, dia makan sayur kangkung, bisa kok."


"Biyung dulu kasih makan aku gimana?" 


"Tak tau, diurus sana sini. Ayah sama Biyung makan, disuapin lagi."


Kok tak tahu? Ada lagi ibu yang seperti biyung. 


"Gemuk dong aku?" Katanya mereka makan, aku disuapin kembali. 


"Anak yang kurus tuh cuma Ceysa, Dek. Yang lain, badannya pada jadi. Sampai bolak-balik ahli gizi, bolak-balik ke spesialis penyakit dalam, periksa sana periksa sini, karena badannya kurus terus."


Aku teringat badan kak Ceysa, kakakku lain ayah. Sampai sekarang sudah kembali hamil pun, badannya tetap kurus dan tinggi. Sepertinya, memang tubuhnya seperti itu. 


"Kak Jasmine udah hamil lagi, Biyung?" Telingaku menyimak bacaan Gabriel, anak bungsunya tante Ria yang akhirnya memiliki adik kembali. 


"Udah, Dek. Nikah, bulan depan udah ngisi. Mabuk kepayang, kek waktu Bunga hamil Zee. Kasihan jadinya, bolak-balik klinik terus, dehidrasi, lemes, boro-boro bisa aktivitas."


Waduh, aku takut begitu juga saat hamil keturunan benih keluarga itu. Bunga seperti itu, kak Jasmine seperti itu juga. 


"Jadi, Varro sama siapa?" Varro adalah anak pertama kak Jasmine dengan suaminya yang dulu. 


Varro Leander Dirga namanya, ayah sedikit kesal dengan nama itu karena mirip nama ayah kandungnya. Nama ayah kandungnya Revano, panggilan sering 'Van', sama seperti panggilan nama ayah. Tapi tetap jadi, yang penting anaknya sehat kata ayah. 


Oh iya, bang Vano sampai sekarang masih mendekam di penjara. Entah kelalaian atau apa, tapi ceritanya itu ia tidak mematikan kompor gas saat pergi keluar rumah. Hingga akhirnya meledak dan merusak rumah kak Jasmine dan rumah yang aku tempati, karena dapur kami satu tembok yang sama dulunya. 


"Ya tetep sama ma Nilam, Dek. Ma Nilam sama ayah kau itu, cuma beda lima tahunan. Jadi tuh, dato Yusuf tuh nikah sama perempuan yang jauh lebih muda kek bapaknya Han sama Jasmine."


Lah, begitu saja ada turunannya ya? Ya maksudku, nikah beda usia seperti itu. 


"Jadi, bang Bengkel punya adik lagi ya?" Aku tertawa geli, karena aku akan menjadi menantu dari kakakku yang paling anti denganku. 


Ya, kami ribut saja sejak kecil karena katanya aku dulu itu nakal. Sekarang pun sering ribut hanya karena menyapu tidak bersih, air tetesan gelas yang dibawa dengan tidak seimbang. 


Nanti jika kami kumpul di satu atap, pasti seru sekali antara menantu dan mertua. Ah, pasti dramanya akan seperti cerita yang diceritakan DEBM, ibu mertuaku adalah kakaknya dari kakakku yang lain ayah. 


"Udah, Kak. Anterin pulang."


Kebiasaan anak tante Ria itu seperti ini, selalu saja minta antar pulang selepas ngaji. Padahal ia datang bersama saudaranya yang lain, giliran pulang membuatku harus mengeluarkan effort. 


...****************...