Hope and Wish

Hope and Wish
H&W26. Suka jajan perempuan



"Aku gak akan janjikan apapun tentang sikap aku, tapi dari awal pun aku gak pernah nutup-nutupin sifat asli aku dari Ra. Aku dulu ke Harum, satu dua sikap asli aku, tetap aku jaga. Selama bertahun-tahun, aku gak pernah bentak dia. Tapi sekali waktu, pernah sifat asli aku itu keluar. Ke Ra, aku pernah bilang kalau marah-marahnya aku paling cuma ngebentak. Memang aslinya begini cara aku bersikap ke Ra, memang begini cara aku memperlakukan Ra. Cuma memang aku menahan diri, biar Ra merasa dihormati dan biar Om paham bahwa aku bisa jaga Ra."


Aku teringat saat kami di kamar bengkel. Ia minta cium bibir pun tidak memaksa, aku pun tidak menurutinya dan ia biasa saja. 


"Om paham tentang laki-laki dan segala n****nya, Han. Ya udah, bawa Ra pulang. Akad aja dulu di sini, Om coba pahami kebutuhan Ra." 


Ya Allah, alhamdulillah. Aku menutup mulutku tidak percaya dengan keputusan ayah. 


"Siap, Om. Tanggal berapa nikahnya, Om? Biar aku urus surat numpang nikah di sana. Aku pengen resmi aja, Om. Gak usah siri gitu, nanti khawatirnya banyak tertunda karena repot. Resepi sih udah dipastikan jadi, aku sama biyung udah booking WO segala macam."


Jadi di sana bang Bengkel banyak kerepotan bersama biyung? 


"Terserah kalian aja, Om di sini gampang aja urus di KUAnya. Ya paling, buku nikahnya tak langsung jadi. Cuma kan mendekati bulan puasa nih, resiko tanggung sendiri masalah sahur dan junubnya. Pengantin baru juga, kalian nanti tak bisa hajar di waktu kapan aja, karena bulan puasa loh ya?"


Ya setidaknya, aku sudah sah dipegang-pegang olehnya. Aku pun sudah halal untuk memeluknya dan menciumnya. 


"Iya, Om. Udah paham kok resikonya, Om. Nanti aku obrolin dulu sama Ra, abis itu nelpon Om lagi." 


Arghhhh, aku sudah tidak sabar ingin memeluk ayahnya Farah. 


"Oke, Han. Langsung urus aja numpang nikahnya, baru ajak Ra pulang. Biar Ra tak usah ikut kau ke Jakarta, Ra bisa datang sendiri. Ketemuan aja gitu di bandara." Sepertinya ayah khawatir akan terjadi sesuatu antara aku dan bang Bengkel. 


"Siap, Om. Udah dulu, Om. Assalamu'alaikum." Panggilan video langsung diputuskan, setelah ayah menjawab salam dari bang Bengkel. 


Aku tidak percaya ayah mudah menyetujui permintaanku. Apa saja yang terjadi di sana, sampai ayah tidak terlalu kolot dengan bang Bengkel? 


"Ikut aja ke Jakarta, Yang. Ambil kamar di hotel, Abang urus surat-surat." 


Aku takut dipegang sana-sini olehnya, sekarang saja tangannya seperti latah mengusap pundak, lengan atau pangkuanku. Jika sudah suami istri, aku pasti membiarkannya dan akan menekan rasa tidak nyaman ini. 


"Nurut ayah aja, nanti gampang ketemuan di bandara." Aku tidak mau menguji keimananku sendiri. 


Bukannya ambil kamar hotel, yang ada aku memilih untuk tinggal bersama di rumahnya. 


"Kenapa sih? Takut dianu?" Ia terkekeh dan menutup mulutnya. 


Farah menoleh ke arahku, kedipan matanya lucu sekali seolah bingung karena ayahnya sering tertawa kecil. 


"Iya, kelemahan aku tuh laki-laki keknya." Aku mendongakkan kepalaku sampai bersandar pada sandaran kursi, kemudian memijat pelipisku. 


"Kalau laki-laki bukan tipenya, pasti gak lemah juga." Bang Bengkel mengubah posisi Farah. 


"Gak keberatan kan dengan status aku duda anak dua, Yang?" Ia menghadapkan Farah pada dirinya. 


"Tak masalah, yang ngurus kan baby sitter juga." Aku menahan tawaku. 


"Ya maksudnya kan, aku bawa anak." Ia mengarahkan tangan Farah untuk menyentuh pipiku. 


Farah melongo saja melihat tangannya diarahkan padaku, ia bahkan menjatuhkan air mulutnya. 


"Tak masalah, sekalian gedein Galen. Mungkin ceritaku mirip biyung." Aku menoleh dan tersenyum. 


"Gimana?" Ia bersandar pada lenganku. 


Farah akhirnya pindah tempat ke pangkuanku, karena posisi ayahnya meleyot. 


"Dapatnya laki-laki bajingan, punya anak tanpa pernikahan dan punya anak sama perempuan lain juga." Meski jalan ceritanya berbeda. 


"Oh ya?" Ia menoleh dan akhirnya menyandarkan kepalanya lagi di lenganku setelah aku menjawab. 


"Iya, Bang. Bukan mau ngikutin jejak biyung, tapi setelah bareng sama ayah itu kerjaan biyung tuh hami terus. Hamilnya tuh tidur aja, Bang. Makan tidur, gitu terus. Jadi anak-anaknya atau anak suaminya, udah pasti dipegang baby sitter semua. Karena dirinya sendiri dan suaminya pun tak terurus, jadi gimana mau ngurus anak-anaknya?"


"Tapi boleh kan aku minta request sedikit aja?" Aku tidak mau seperti pernikahan pertamaku, di mana aku langsung dibuat hamil. 


"Boleh, masalah surat perjanjian?" Ia mencoba mencium anaknya, tapi pipinya menempel di PDku. 


"Dodol!" Sikuku mencoba mengusir wajahnya itu. 


Tawanya lepas, sepertinya ia sadar bahwa kepalanya berada di tempat yang salah. 


"Jadi minta apa, Yang?" Ia kembali bersandar di bahuku, jemarinya tengah mengguraui anaknya. 


"Jangan dibuat hamil dulu, aku belum wisuda." 


Lihatlah, mulutnya langsung rapat dengan matanya mencilak membulat melihatku. 


"Bisanya belum wisuda?" Ia berdecak dan geleng-geleng kepala. 


"Semester empat tuh aku nikah, Bang," terangku dengan tertawa geli. 


"Waduh, masih lama banget wisudanya." Ia kini merangkulku. 


"Boleh ya lanjut kuliah, Bang?" Aku menoleh ke arahnya. 


Duh, bodoh sekali. Ia kan tengah merangkulku, jadi jarak wajah kami begitu dekat. 


"Jangan KB, Sayang." Wajahnya pun ikut menoleh ke arahku. 


Hembusan napas bau rokoknya sampai begitu terasa. Mulut laki-laki yang bau rokok, aku merasa ia lebih gentle dariku. 


"Jangan cium bibir aku." Aku langsung mendorong wajahnya, karena lirikan matanya sudah tertuju ke bibirku. 


Tawanya lepas, ia memalingkan wajahnya dan bangkit dari duduknya. 


"Aduhhh, tegang lagi." Ia meregangkan ototnya. 


Aku langsung melirik ke resleting jeansnya, memang benar seperti sesak di sana. 


"Kata ayah Givan apa tadi? Terserah tanggalnya?" Ia menoleh ke arahku, dengan tetap masih berdiri. 


"Iya, Bang. Abang maunya kapan?" Aku mencoba mengajak Farah berinteraksi. 


Ia tetap celingukan, ia mencari keberadaan ayahnya. 


"Malam ini kalau bisa sih, biar pas serangan fajar langsung kepakai." Ia merogoh kantongnya. 


"Gatal juga, Bang?" Aku terkekeh memandangnya. 


"Iya lah, dulu punya pacar aja sempet jajan. Sekarang duda, boro-boro kepikiran jajan. Ingat punya anak perempuan, ingat laranya Harum kasih Abang gelar ayah. Udah dapat anak, dapat gelar ayah, masa iya mau mertahanin gelar bajingan?" Ia duduk di kursi lain yang berhadapan denganku, kemudian ia fokus pada ponselnya. 


Dulu punya pacar saja katanya sempat jajan? Jajan perempuan maksudnya? Waduh, aku kira ia hanya main dengan Bunga saja. 


"P*K?" tanyaku kaget. 


Ia mengangguk samar, kemudian menempelkan ponselnya ke telinganya. 


Aku baru benar-benar penasaran tentang dirinya, apa benar anggukkannya itu? Atas dasar apa ia jajan perempuan, kan ia punya pacar yang digunakan sebagai tempat mencurahkan b*****?


"Nanti nikah sama aku, kalau bosen sama aku, apa Abang nanti jajan perempuan?" tanyaku kemudian, karena aku melihat orang yang ia hubungi tidak kunjung menerima panggilan teleponnya. 


...****************...