Hope and Wish

Hope and Wish
H&W93. Bertamu ke keluarga Hema



"Tak usah repot-repot, Kak." Aku tersenyum lebar pada kakaknya Hema. 


Siapa ya namanya? 


"Tak ngerepotin, cuma teh manis." Ia mengambil nampannya. 


Tak mungkin tak repot, anaknya yang di dekapannya saja sampai menangis. Belum lagi anak yang lain merengek saja dan anak yang besar memanggil namanya terus. 


Aku tidak bisa membayangkan jika aku banyak anak tanpa pengasuh. Dadakan kena baby blues sepertinya. Aku paham kondisi kakaknya Hema sedang seperti ini, makanya tidak ada yang membantunya mengurus anak-anaknya di rumah. 


"Silahkan diminum, Pak Givan, Kak Ra. Saya permisi dulu." Ia buru-buru undur diri. 


"Makasih." Aku tersenyum sebelum ia pergi ditarik oleh anaknya yang merengek itu. 


"Maaf ya, Pak, Kak? Namanya juga anak-anak." Bang Wildan seperti tidak enak hati pada tamunya ini, karena anak-anaknya tidak bisa di kondisi. 


"Saya juga ngerti, di rumah pun sama." Ayah tersenyum ramah. 


Memang anak-anak di rumah pun begitu, hanya saja memiliki ruangan sendiri. Jadi keributannya tidak ke mana-mana, mereka pun tidak pernah terlihat tamu. 


"Jadi gimana, Pak? Apa ada perkembangan tentang kasus Hema?" Bang Wildan memandang ayah dengan serius. 


"Tentang Hema, dia tak sampai dikurung selama enam tahun. Perkiraan, dua sampai lima tahun. Belum ada sidang lanjutan, jadi dia belum menjalani masa tahanan yang sebenarnya," jelas ayah kemudian. 


Belum menjalani masa tahan saja, ia sudah dijauhkan dari keluarga seperti ini. 


"Saya udah ada obrolan sama Hema. Hema cuma minta motornya kembali berfungsi, jadi baiknya Saya belikan baru. Udah diproses, ditunggu dua sampai tiga hari aja motornya datang. Terus…." Ucapan ayah menggantung. 


"Maaf, Pak. Saya potong omongannya. Motor sebenarnya udah di bengkelnya bang Zio kok, Pak." Ia terlihat seperti kaget dan tidak enak. 


"Iya, Zio udah bilang. Terus Hema minta dibantu arahin usaha, nah kau dulu sementara Hema masih di penjara. Kalau bisa, besok pagi jam tujuh datang ke rumah ya? Nanti Saya antar, untuk selanjutnya bisa dibicarakan waktu yang baiknya." Ayah mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya. 


"Kalau boleh tau, usaha apa ya, Pak? Kira-kira, perlu biaya berapa? Untuk tempat usahanya mungkin aku cari di…." Suara bang Wildan menggantung, karena ayah mengangkat tangan kanannya. 


"Datang aja ya? Masalah ini itu, itu gampang aja. Ini sedikit infonya." Ayah memberikan kertas tersebut. 


Kertas apa ya?


Banh Wildan menerima dan melihat isinya. Ia diam sejenak, kemudian memandang ayah dengan kaget. 


"Apa tak berlebihan, Pak? Makasih, Pak." Bang Wildan cepat-cepat mencium tangan ayah. 


Ayah mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan bang Wildan. "Tak, Hema yang malah terlalu berlebihan." Ayah tersenyum ramah. 


"Saya tak paham keputusan Hema. Tapi apa Hema yang minta ganti ini semua?" Tangan bang Wildan seperti gemetaran. 


Apa ia amat shock? 


"Hema tak minta apapun selain masalah motor itu. Udah tenang aja, nanti kita bicarakan ke depannya. Sekarang kita fokus dulu, biar Hema tak dapat hukuman lama." Ayah mengambil gelas tehnya. 


"Diminum nih, Dan." Ayah menawari bang Wildan. 


"Iya, silahkan, Pak." Bang Wildan seperti belum bisa mencerna semuanya. 


"Bang, Saya minta maaf karena kondisi Hema malah harus di sana." Rasa tidak enak itu kian muncul di hatiku. 


"Tak apa, Kak Ra. Udah pilihan Hema sendiri juga. Sebenarnya agak kaku juga sama anak itu, terkesan membuat dirinya sial terus. Pilihannya tak pernah benar rasanya tuh." Bang Wildan menyugar rambutnya. 


"Yaa, maaf aja nih, Pak. Sejak milih Bunga, makin runyam aja dirinya. Bapak mungkin tak tau, tapi bang Chandra tau banyak. Dia tau kalau Saya dan Fajriah keberatan Hema nikahin Bunga. Apalagi kondisinya belum sembuh, Saya udah feeling kehidupannya bakal lebih amburadul." Ketidaksukaannya terhadap Bunga, kentara sekali dari nada bicaranya. 


"Kenapa? Bunga itu perempuan, kalau Hema bisa nuntunnya kan mungkin tak akan serunyam ini."


Aku kaget dengan respon jawaban ayah. 


"Karena tau Hema pasti tak bisa nuntun, kami tau kondisi Hema seburuk apa. Ditambah harus jadi kepala rumah tangga, ditambah model perempuannya harus banyak dibenahi juga." Bang Wildan sampai geleng-geleng kepala. 


"Bunga banyak dibenahi gimana?" 


Aku merasa, ayah lebih cenderung pura-pura tidak tahu. 


"Ya lihat aja di sosial medianya yang lama. Orang sini pada tau kok gimana kelakuan anaknya dokter Ken itu." Bang Wildan melirik ke arah lain. 


Aku tidak pernah kepo tentang Bunga. Namun, apa benar Bunga mempublikasikan keburukannya? 


Ayah manggut-manggut. "Ya mungkin jodoh sama Bunganya sampai sini." Ayah menggosok telapak tangannya ke pangkuannya. "Kalau begitu, kami permisi dulu. Besok ditunggu ya? Nanti tentang Hema gampang kita kabar-kabaran aja." Ayah bangkit dari posisinya. 


"Siap, Pak. Makasih untuk semuanya." Bang Wildan tersenyum dan mengantar kami sampai ke teras rumahnya. 


Aku kembali yang mengendarai mobil ayah, ayah baru masuk ke dalam mobil setelah membantuku mengarahkan parkir. 


"Satu persatu, Dek. Kita temui Bunga dulu ya? Nanti setelah Hema dapat jadwal sidang lagi, nanti kau ke Hema lagi. Tenang, Ayah temani." Ayah menepuk dadanya sendiri. 


Aku mengerutkan dahiku dan menoleh ke arah ayah. "Kenapa harus ke Bunga? Dia yang salah, aku tak mau minta maaf." Aku kembali menatap ke depan. 


"Kita tengok aja, Dek. Masalah siapa yang harus minta maaf, lihat nanti di sana aja. Tapi kita perlu tau itikadnya gimana, apalagi ke Ayah yang selama ini selalu gantikan peran orang tuanya. Dia tak sepenuhnya salah, kau pun tak benar juga." Ayah membuka setengah jendela mobil di sisinya. 


Lagian kenapa juga aku masih memusuhi Bunga? Toh laki-laki yang aku pilih kemarin sudah terlihat juga murahannya. 


"Jadi sekarang ke mana?" Aku mengatur napasku. 


"Ke rumah pakwa kau, Dek." Ayah terlihat menikmati angin dari jendela mobil


"Oke, Yah." Aku langsung berbelok cepat ke arah jalanan yang lebih dekat ke rumah pakwa. 


Sesampainya di sana, aku mendengar suara kegaduhan. Ada suara tangis, ada suara orang berteriak dan ada juga suara barang-barang yang seperti dilempar entah terjatuh. 


Ada apa ini? Apa Hanna sedang tidak bisa dikondisikan? Atau kondisi lebih buruk sedang terjadi? 


"Ada apa ya, Dek?" Ayah memandang pintu rumah pakwa Ken yang tertutup rapat. 


"Tak tau, Yah. Kira-kira, kedatangan kita membantu atau memperburuk keadaan?" Aku berjalan mendekati ayah yang berdiri di depan mobilnya. 


"Ya kau ngertiin aku tak?!! Selama ini siapa yang selalu ada?!! Tua nanti pasangan kau ini yang urus, bukan anak perempuan yang tak tau diri itu!" Suara perempuan penuh emosi itu terdengar sampai di tempat kami berdiri. 


Aku tidak mendengar sahutan dari pakwa Ken, mungkin ia berbicara lirih. Atau ia dalam kondisi yang tidak kami ketahui. 


"Aku tak bakal nuntut apapun, tak bakal mempermasalahkan ini dan itu. Udah capek dengan semua ancaman, larangan dan batasan kau. Percuma aku ngabdi seumur hidup juga, kalau kau tak pernah bisa memuliakan pasangan kau. Aku tak minta kau milih, terserah mau kau tahan berapa anak yang ingin kau asuh. Aku tak akan pergi dengan bawa apapun seperti yang kau tuliskan di surat perjanjian itu, kau tenang aja." Suara itu diikuti dengan suara tangis. 


Ayah langsung berjalan cepat ke arah daun pintu rumah pakwa. 


...****************...