
Aku terganggu karena suamiku berulang kali keluar masuk dari kamar kami.
Setelah ASI dikuras, nyatanya demamku tak kunjung turun. Alhasil, Farah diungsikan karena khawatir tertular demam dariku. Sedangkan Farah memiliki riwayat demam kejang, jadi diusahakan ia jangan sampai demam. Galen pun diungsikan, karena ayah ingin cucunya dariku itu tetap sehat.
"Bang, ada apa?" Jelas waktu istirahatku terganggu karena bang Bengkel bolak-balik terus.
Aku tidak bisa jika mendengar suara sedikit.
"Abang bingung banget, Yang." Ia menunjukkan ponselnya. "Zee kejang lagi, bahkan matanya sampai ke mutar gini. Kejang sadar namanya katanya." Jemarinya sampai dingin, ia pasti tengah panik sekali sekarang.
Pengirim video tersebut adalah Bunga. Aku jahat memang, aku baru percaya jika Zee sakit sekarang.
"Ya udah ke sana aja." Aku tidak memiliki pilihan lain.
"Tapi keadaan kamu gimana?" Ia membelai wajahku.
"Aku tak punya riwayat kejang dari kecil, Abang tenang aja." Aku mengusap punggung tangannya yang menggenggam tanganku.
"Bukan gitu maksudnya, kan Adek lagi sakit. Masa Abang pergi?"
Ia tahu sebenarnya. Tapi aku berhati juga, aku tidak bisa menahannya jika ia gelisah setengah mati begini.
"Kalau memang Abang bersalah, pasti ada buktinya. Datangi tinggal datangi aja, kan tujuannya pengen jagain Zee." Aku tidak tahu mulutku lembut atau tidak, tapi ia memandangku lama sekali.
"Kasih Abang kepercayaan, Yang." Ia mengusap pipiku.
"Akan aku kasih." Aku mengangguk pelan.
"Telpon Abang ya kalau Adek kenapa-napa? Abang tak bisa mutus ayah Hamdan untuk pergi, dia jaga Farah." Ia tersenyum samar dan tetap memandang mataku.
Aku tahu ia coba menghantarkan keyakinan yang lebih besar untukku, tapi aku tetap ragu padanya. Aku tidak yakin ia tahan dengan kemolekan Bunga, ia tetap cantik meski sedang kekurangan modal untuk kecantikannya.
"Iya, tenang aja." Aku menghela napasku.
Rasa kecewa itu ada, ini manusiawi menurutku. Tapi Zee butuh ayahnya dan ayahnya mengkhawatirkan anaknya. Aku harus berbesar hati meski keadaanku sedang sakit, aku pasti bisa kuat dengan suhu badan tiga delapan koma delapan ini. Aku perempuan dewasa, aku tak mungkin selemah anak kecil.
"Nanti chat Abang kalau Adek belum tidur lagi ya?" Ia mencium dahiku cukup lama.
"Oke, Bang." Aku tidak banyak merespon, keadaanku cukup tersiksa jika banyak bicara.
"Abang pergi dulu, jaga diri ya, Sayang?" Ia bangkit dan mengambil dompetnya di atas nakas.
"Iya, Abang juga jaga diri." Aku meraih tangannya dan menciumnya.
"Iya, Sayang. Assalamualaikum." Ia tersenyum dan keluar dari kamarku.
Lekas sehat badan, agar tidak sedih saat orang terdekat pergi untuk anaknya sendiri. Bodoh sekali aku ini, lemah badan memang membuat diriku cengeng. Aku tidak boleh iri dengan anak bang Bengkel, karena anak itu pun akan menjadi anakku juga.
Kantukku belum datang kembali, jam satu dini hari aku masih bermain ponsel. Karena aku merasa ASIku penuh kembali, aku memerahnya dengan mesin otomatis lagi.
Harus ya? Bunga bangga sekali dengan kebersamaan itu, sampai harus dipajang di status WA kembali. Suamiku duduk di kursi dekat brankar, ia. tengah mengusap-usap kepala Zee. Sedangkan Bunga berada di kursi sisi lainya, ia sengaja menghadapkan kamera ponselnya ke arah dirinya, bang Bengkel dan Zee.
Apa aku cemburu?
Nyatanya, kecemburuan ini semakin menjadi. Sampai datang esoknya, bang Bengkel tetap bolak-balik mengkhawatirkan Zee.
"Ra, kau dirawat aja biar cepet sembuh." Ayah kembali mengecek dahiku sore sini.
"Ayo, Yah." Aku tidak mengerti juga dengan demam ini, karena tidak kunjung turun meski aku sudah minum paracetamol beberapa kali.
"Ada diare? Atau sembelit?" Ayah membantuku memakai hijabku.
"Sembelit, Yah. Mules, tapi tak BAB juga, padahal rasanya kek mau BAB." Aku tidak bisa mendeskripsikan secara khusus.
Lututku lemas sekali.
"Ayah gendong aja."
Masalahnya, aku takut ambruk bersama.
"Jalan aja, Yah. Bisa kok." Aku menggandeng lengan ayah.
Lihatlah, laki-laki terhebat ini menemaniku sampai esok tiba. Dari tes darah, menunggu hasil sampai pemberian obat di infusku pun ayah tetap ada.
Aku tidak mengabari bang Bengkel. Ponselku tertinggal, aku pun memang tidak memainkan ponsel setelah melihat-lihat status Bunga malam itu. Tapi jika ia pulang ke rumah, pastinya ia akan mencariki. Namun, ketidakhadirannya di sini berarti menandakan ia tak pulang. Biyung tahu aku di sini, jika bang Bengkel pulang pasti biyung memberi tahu bang Bengkel atas kabarku.
"Nanti Kaf ambil ASI kau ini." Ayah membantu mengemas ASI perahku.
"Tapi jangan diminum Kaf, Yah." Aku hanya bergurau.
Ayah menoleh dengan ekspresi lelahnya. "Ayah jadi khawatir juga." Ayah tidak pernah menanyakan tentang bang Bengkel.
Ayah tidak pernah membahas tentang Zee, meski ayah tau Zee ada di rumah sakit.
Tapi sesak ya rasanya, bahkan suamiku tidak tahu kabarku. Bahkan suamiku tidak mengkhawatirkanku, bahkan suamiku tidak pulang untuk memastikan keadaanku.
Positif thinking, mungkin Zee tengah parah di sana. Jadi bang Bengkel panik, jadi bang Bengkel tidak sempat mengecekku.
"Hidup tanpa cinta, bagai taman tak berbunga."
Jagoannya papa Ghifar muncul tanpa salam.
"Aduh, aku jadi trauma pengen nikah. Aku takut istriku kurus kering sepertimu, Nona." Ia mengalungkan cooling bag di lehernya seperti kalung berbandul besar.
"Makanya jangan jadi duda." Ayah terkekeh kecil dengan mengambil tas tersebut, dengan cara seperti mengambil medali dari leher Kaf.
"Tapi rasa duda, Yah. Bang Chandra tau, makanya ngelarang aja aku sama Cani. Cani cantik kali, Yah. Ayah restuin tak aku sama Cani?"
Kaf seperti hiburan untukku.
"Iya, spesialis dulu." Ayah mengacungkan ibu jarinya.
"Yes, yes, yes." Kaf malah selebrasi.
"Kau frustasi betul tak punya-punya kekasih, sampai isengin Cani terus." Ayah memasukkan ASIPku.
"Kata pakcik Gavin, iseng-iseng berhadiah. Iseng juga aku tak ganggu kali, Yah. Tapi kalau jodoh ya tak masalah juga, aku siap menjadi dokter keluarga." Kaf malah mengangkat satu tangannya seperti para pejuang.
Ia absurd, ia lucu.
Dulu aku akrab sekali dengannya, kita satu asuhan. Ya benar, ia anak tirinya mama Aca. Ia cengeng dan ia takut dengan sup panas, apapun yang berkuah panas ia takut. Ia memiliki trauma dengan sup panas di masa kecilnya, hingga besar pun ia selalu mendinginkan makan berkuah sebelum masuk ke mulutnya.
Makan bakso pun begitu. Makanya ia tidak pernah makan bakso dengan dikasih mie, karena khawatir mienya mengembang.
"Harus pandai bisnis juga, Kaf. Kau pewaris." Ayah bertopang dagu, setelah selesai menyusun ASIPku
"Siap, Yah. Itu pun kalau jadi mantu, tak jadi ya aku tetap jadi dokter keluarga." Kaf mengambil alih cooling bag tersebut.
"Apa kata nanti, Kaf. Anak perempuan yang satu itu, Ayah pengen dia selesaikan pendidikannya dulu. Ra juga entah gimana ini pendidikannya, masih dua tahun lagi, mangkrak di jalan." Ayah melirikku.
"Aku nunda kehamilan, rencana setelah resepsi pengen lanjut kuliah, Yah." Aku lupa belum menyampaikan ini pada ayah.
"Dengan kondisi anak tiga? Suami kepengen diurus?" Ayah menaikkan satu alisnya.
...****************...