
"Siapa itu, Bang?" Aku bertanya pada anakku yang aku gandeng tangannya.
"Yayah."
Jawabannya membuatku kaget. Apa ia Galen masih ingat dengan Han?
"Bang, ain. Mamah mau bobo." Galen melambaikan tangannya dan kakinya seperti tidak sabar untuk turun dari teras rumahku.
Loh? Aku bertanya tentang Han, tak tahunya Galen malah fokus ke dua orang yang berjalan di belakang mobil merah itu.
"Lah, Bang Barra mau main di Galen, malah Mamahnya mau bobo." Bang Chandra berjalan semakin mendekat dengan menggandeng Barra.
"Ayo ain." Galen sudah girang melihat Barra semakin mendekat.
"Barra….," sapa perempuan yang masih duduk di dalam mobil merah tersebut, dengan jendela yang turun semua.
"Iya," sahut Barra dengan menoleh sekilas.
Bang Chandra sepertinya baru menyadari siapa yang datang itu.
Namun, kita semua dikagetkan dengan suara dua anak kecil yang menangis, yang berada di sebelah kanan rumahku. Tepatnya, di pintu penghubung halaman rumah itu.
"Itu Ayah, sana gih." Kak Jasmine terlihat santai menyikapi dua cucunya yang menangis itu. Ia tengah menggendong anaknya yang berusia sekitar lima bulanan itu.
Ia sudah bersalin dan anaknya seorang perempuan. Yang artinya, ketika anak kak Jasmine menikah akan butuh Han sebagai kakak sedarahnya. Bila mana ayahnya sudah wafat.
"Ma Ibu…." Farah menarik-narik pakaian kak Jasmine.
"Tak ah, Ibu mau mam." Kak Jasmine sudah berdamai dengan keadaannya yang mau tidak mau harus mengurus kedua cucunya juga.
Di sini terjadi drama anak-anak perempuan tersebut yang dipaksa untuk ikut oleh Han dan Bunga.
Ya, perempuan itu adalah Bunga. Aku tidak pernah tahu kabarnya, tapi sekarang muncul dan tidak mau turun dari mobil merah tersebut. Aku berpikir, mungkin sekarang keadaannya terbatas.
Bagaimana rupa Han?
Tidak jauh beda, ia tidak memiliki tanda luka apapun. Yang mungkin, memang sudah sembuh karena peristiwa itu terjadi setahun belakangan.
"Bu…." Zee bahkan memeluk kaki kak Jasmine.
"Itu Ayah sama Bunda, Dek. Orang tua Kak Zee dan Adek Farah." Kak Jasmine mengusap kepala dua anak perempuan tersebut.
"Diangkat aja, Bang," seru Bunga dari dalam mobilnya.
Bang Chandra terlihat tidak peduli, aku pun menyambut Barra yang datang dan menggandeng Galen.
"Ambil topi sama masker kalau Adek mau main, ini siang hari. Cuaca panas, banyak debu." Barra mengusap rambut Galen.
"Abang ambilin sana." Bang Chandra membukakan pintu rumahku, kemudian dua bocil itu nyeruntul masuk dan kembali sudah dengan kondisi Galen yang memakai topi dan masker.
"Kau tak pakai, Bang?" Aku memperhatikan Barra.
"Tak, Makcik. Kan yang suka bersin-bersin tuh Adek Galen, aku tak pernah sakit." Barra menahan Galen untuk tidak turun dari teras yang cukup tinggi.
Galen memiliki alergi debu, ditambah ibunya malas bersih-bersih rumah. Hal itu membuatku harus rajin, karena demi Galen agar tidak selalu bersin.
"Ayo dianterin, Yayah mau kerja." Bang Chandra menggandeng dua anak laki-laki itu.
"Makcik tak mau keluyuran, Bang. Mau tidur Makcik nih." Anak laki-laki Bunga itu selalu menyangka aku akan keluyuran terus.
"Yayah…. Tolong…." Zee menangis dan mencoba menggapai tangan bang Chandra, ketika dirinya diangkat oleh Han.
"Izin mau ajak dia periksa, Bang. Sekalian Bunga ikut biar tau kondisi anaknya." Han menahan langkah bang Chandra.
Herannya, Galen tidak kenal lagi dengan laki-laki itu. Mungkin karena ia lupa, tapi ia fokus saja dengan Barra yang tengah mengajaknya berdebat tentang permainan yang akan mereka lakukan.
"Itu Ayah Zee." Bang Chandra mengusap air mata Zee.
"Terserah, itu anak-anak kau." Bang Chandra mengajak Barra dan Galen melipir untuk melewati Han.
Ah, bodo amat. Aku masuk lagi ke rumah, toh Galen ada yang menjaga juga.
Tangisan dua anak perempuan tersebut bersahutan cukup lama. Aku terpikir keadaan Zee, epilepsinya sering kambuh karena menangis. Makanya anak itu dimanja sekali oleh kak Jasmine, karena kak Jasmine tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Zee.
Sampai akhirnya suara anak-anak menangis itu hilang, kemudian lelapku terganggu oleh suara tangisan orang dewasa. Gaduh sekali rasanya, seperti sumber tangisan itu berasal dari jarak yang dekat.
Aku mengucek mataku dan mengumpulkan nyawaku. Aku memperjelas indera pendengaranku, untuk mengenali suara itu. Seperti suara kak Jasmine, ia sepertinya dalam kondisi yang tidak baik atau kesusahan.
Apa anaknya terjatuh? Atau ia yang terjatuh? Aku panik, karena ia pasti seorang diri di rumah. Dua pengasuh itu pasti ikut pergi, sedangkan ayah Hamdan tengah di Singapore.
Cepat-cepat aku keluar dari rumah, kemudian mencari sumber suara. Kebetulan sekali ada biyung yang berjalan cepat ke arah pintu penghubung halaman samping, dengan aku yang ikut bergegas mengejar biyung.
Aku yakin pasti terjadi sesuatu dengan kak Jasmine.
"Ada apa, Biyung?" Aku mencoba meraih bahu biyung.
"Tak tau, kata Barra ada suara orang nangis. Anak kau di dalam, lagi makan jeli buatan Biyung mereka bareng Cala Cali." Sempat-sempatnya biyung menjawab, dengan kondisinya yang berlari pelan seperti bebek yang takut ketinggalan rombongan itu.
Aih, aku meledek ibuku lagi.
"Ada apa, Jasmine?" Biyung mencoba membuka pintu rumah kak Jasmine dengan ibu jarinya.
Raja dan ratu di keluargaku ini pasti memiliki akses masuk ke pintu rumah anak-anaknya. Hal itu dilakukan, sebagai upaya mereka untuk bisa menolong anak-anaknya bila terjadi sesuatu di dalam rumah. Selebihnya, mereka tidak bermaksud untuk mengganggu privasi anak-anaknya.
Aku bergegas menggendong bayi laki-laki yang ikut menangis dan tergeletak di atas kasur tersebut.
Kak Jasmine bersimpuh di tengah-tengah ranjang dengan memeluk ponselnya. Apa ia mendapat kabar buruk dari suaminya yang berusaha menstabilkan usahanya yang berada di luar negeri itu?
"Ayah Hamdan kenapa?" Aku paham tidak ada bekas mertua.
Aku bangkit dan mengayunkan tubuh anak perempuan ini, sepertinya ia terkejut dengan suara tangisan ibunya itu.
"Kurang ajar mereka berdua! Tau begitu, biarkan anak-anak itu di rumah aja. Selama sama aku, tak sampai begini akhirnya biarpun aku keteteran, pengasuhnya kerepotan. Udah tau anaknya penyakitan, kenapa diajak ke waterboom?!!"
"Harusnya sadar diri gimana kondisi ibunya itu, mau nengok ya di rumah aja. Dibawa pergi nyatanya tak bisa jaganya!!!"
Kak Jasmine mengatakan hal itu di tengah tangisnya. Biyung menghapus air mata kak Jasmine, ia memeluk kak Jasmine tanpa menanyakan apapun. Aku pun bingung sendiri, apa maksud ucapannya karena aku baru bangun tidur. Ditambah, anak laki-lakinya pun menangis lepas sekali membuat fokusku terbagi.
...****************...