Hope and Wish

Hope and Wish
H&W30. Berduaan di halaman rumah



Aku tidak salah lihat sepertinya, benar itu bang Bengkel. Kenapa mereka berduaan di bawah pohon mangga, di halaman rumah bang Chandra? Ke mana Farah? Kenapa ia tidak merecoki ayahnya? 


"Kak, ajak Galen main ke rumah aku." Gabriel menarik-narik kaki Galen yang tengah aku gendong. 


"Udah sore, nanti malam Galen ada di rumah bang Chandra kok." Aku dan Gabriel itu sepupu, hanya saja memang ia masih kecil. 


Ia sepuluh bersaudara kalau tidak salah. 


"Iya, aku datang kok. Mau makan-makan di sana, ulang tahunan." Ia memamerkan giginya. 


Anak-anaknya tidak ada yang mirip tante Ria, semuanya mirip pakcik Gavin. Kecuali Kirei, anak itu mirip Bunga karena mereka satu ayah. 


"Siapa yang ulang tahun, Dek?" Aku membukakan pagar rumah tante Ria.


Rumahnya berada di belakang studio musik milik salah satu omku.


"Bang Chandra, Kak." Ia langsung berlari kabur setelah sampai di halaman rumahnya. 


"Makasih, Kak Ra," serunya sebelum masuk ke dalam rumah. 


Ya setidaknya punya tata krama, meski menyampaikannya tidak bagus juga. 


Aku memutuskan kembali keluar halaman rumah, karena aku masih teringat kebersamaan bang Bengkel di halaman rumah bang Chandra. Aku tidak ikhlas calon suamiku dikempit Bunga. 


Jika memang ingin bersaing, aku akan menunjukkan tentang bagaimana aku mempertahankan milikku. Dulu kecil saja, tidak akan aku biarkan saudaraku mengambil mainanku tanpa izin. Apalagi tentang kepemilikan seperti ini. 


"Ayah tuh, Bang." Aku mengusik Galen, agar ia melepaskan dadaku. 


Berhasil, lehernya langsung tegak dan ia celingukan. 


Cepat-cepat aku membereskan kancing bajuku dan menutup kembali dengan hijabku. Esok aku akad nikah, aku tidak mau Bunga mengacaukan moodku. 


Galen bersuara, ketika ia melihat bang Bengkel. Tangan dan kakinya tidak mau diam, ia seperti begitu ingin cepat maraih bang Bengkel. 


"Eh, anak Ayah. Udah ganteng aja nih." Bang Bengkel langsung menyambut aku dan Galen yang berjalan ke arahnya. 


Saat aku melihat Bunga, ia ketahuan tengah memperhatikan kami. Sebelum akhirnya, ia buang muka dan pura-pura sibuk sendiri. 


Suara Galen rewel, tangannya berusaha mengusir Zee dari gendongan bang Bengkel. Hingga akhirnya, ia menangis mengamuk karena bang Bengkel telat mengembalikan Zee pada Bunga. 


"Ngambekan Abang tuh." Bang Bengkel menunduk, ia mencoba menciumi Galen yang sudah tidak mau untuk digendong olehnya. 


Padahal, Zee sudah kembali ke Bunga. 


"Keluyuran aja, bukannya rehat untuk besok." Aku pura-pura memarahi bang Bengkel, padahal aslinya ingin memakinya. 


"Disuruh ayah, Yang. Tadi siang abis vaksin, demam ringan sekarang rasanya."


Waduh. 


"Memang waktu nikah yang pertama, belum vaksin?" Aku pura-pura tidak menyadari keberadaan Bunga. 


Aku asyik mengajak ayahnya Zee ini untuk mengobrol saja. 


"Belum, Yang." Ia memutariku, karena Galen tidak mau menghadap ke wajahnya. 


Jika Bunga pergi, akan aku cecar dia dengan banyak pertanyaan. Jika aku ribut di depan Bunga, ia akan senang karena aku ribut dengan bang Bengkel. 


"Ayah diencus, Bang. Aduh, atit." Akhirnya Galen mau pindah tangan ke bang Bengkel. 


Aku ingin tahu bagaimana kelanjutan obrolan mereka, tapi aku memilih sok dewasa dan mencoba tidak ikut campur dulu. 


"Aku ke bang Chandra dulu ya, Bang?" Aku mengambil daun kering kecil, yang jatuh di atas rambutnya. 


Bang Bengkel sedikit menurunkan kakinya, agar aku mampu meraih kotoran di atas kepalanya. 


"Maaf ya? Sebentar, Yang," ujarnya lirih sekali. 


Mungkin ia sadar atas kesalahannya. 


Meski di halaman rumah, kenapa mereka harus berduaan? 


"Hm, pegang Galen." Aku meninggalkan mereka pergi, kemudian masuk ke rumah kakakku. 


Tidak ada sofa di sini, semuanya sudah berupa hamparan karpet. Apa nantinya aku akan menikah di sini? 


Aku celingukan, sampai akhirnya pakwa Ken berjalan ke arahku. Ternyata, ayahnya Bunga ada di sini. 


"Udah, bareng bang Bengkel." Aku menoleh ke halaman, menunjukkan bahwa laki-lakiku ada di sana. 


"Memang bener mau nikah, Dek?" Pakwa duduk di dekat pintu, membuatku ikut duduk di dekatnya. 


"Iya, Pakwa. Ada yang belum selesai sama Bunga?" Pastinya belum selesai, tapi aku hanya pura-pura tidak tahu saja. 


"Yaa, bukan belum selesai sih. Pakwa tak tau apa-apa, tapi gegernya tuh Zee mau dibawa Han. Ada selentingan lagi, katanya Bunga cerai nanti, mau nikah sama Han."


Loh? Loh? Loh? 


"Han janjikan?" Aku tidak bisa pura-pura lagi, ekspresi marah dan panikku mulai bercampur. 


"Tak tau, Pakwa tak ikut obrolan. Tapi ya Pakwa kira, Bunga sama Han tuh mau nikah. Eh tak taunya, kau yang mau jadi sama Han."


Bukan mau jadi saja, aku pun akan akad esok harinya. 


"Dari tiga bulan yang lalu, kita udah dekat tuh." Tidak juga, selama tiga bulan malah lost kontak. 


"Beneran?" Pakwa seperti tidak percaya dengan pengakuanku. 


"Bener." Rasanya galau sekali hatiku ini. 


"Adik Ipar," seru seseorang dari dalam rumah. 


"Kak, aku capek. Aku mau numpang istirahat di sini." Aromanya, aku akan diminta untuk memegang anaknya. 


"Tuyul! Malah udah capek duluan." Kepala kakak iparku itu muncul. 


Ia adalah teman menonton film yang paling asyik, sayangnya anaknya langsung lima. Belum sulungnya satu, yang ada bukan nonton film, tapi kerja bakti menjaga anak. Pengasuhnya ada tiga, tapi tetap saja kerepotan. 


"Acara apa sih, Kak? Tau anaknya banyak, segala buat acara." Lima bayi itu berusia lima belas bulan, mereka sudah lincah bergerak ke sana ke mari. 


"Ketemu tahun wafatnya kakek nenek, Dodol! Kau ahli warisnya, malah tak tau."


Aih. 


"Ya maaf, lupa." Tapi biasanya acara rutin itu ada di masjid. 


Kenapa kali ini dilangsungkan di rumah? 


"Ayah mana ya tadi?" Itu suara bang Bengkel. 


"Ayah siapa?" Pakwa memberikan jalan untuk bang Bengkel lewat. 


"Ayah Hamdan." Bang Bengkel nyelonong masuk dengan sedikit berbungkuk kala melewati pakwa. 


Galen bersuara, ia masih berada di dekapan laki-laki tinggi itu. 


Terdengar suara orang berbincang, aku penasaran dan akhirnya mencari sumber suara. Ada ayah, ada om Hamdan, ada bang Chandra, ada juga pakcik Gavin. Mereka semua ada di halaman samping, dengan kelima anak bang Chandra. 


"Eh ada Kakak Ipar." Aku mengajak om Hamdan tos boom. 


Mereka semua terpingkal-pingkal, padahal semuanya tadi tengah serius. 


"Ayah mertuaku kakak iparku, keponakanku adalah adik suamiku," tambah pakcik Gavin, yang membuat suasana tambah terendam tawa renyah. 


"Yah, itu tuh Bang Bengkel berduaan aja sama mantan FWBnya." Aku mengadu palsu. 


"Iya heran, mepet terus. Mana aku orangnya gak enakan," tambah bang Bengkel kemudian. 


"Ada masalah apa, Han?" Om Hamdan tengah menggendong Farah ternyata. 


"Minta buatin asuransi kesehatan untuk Zee, Yah," jawab bang Bengkel kemudian. 


"Asuransi kesehatan? Kirei aja dapat asuransi luar negeri loh, dari rumah sakit ayahnya yang di Malaysia. Kok bisa minta buat sama kau?" ucap pakcik Gavin dengan memandang bang Bengkel dengan serius. 


Kenapa ada saja dramanya sih? 


...****************...