
"Hahay…." Ayah tertawa renyah.
"Gak bakal cerai, Biyung. Nanti mau promil sekalian," jelas bang Bengkel dengan perlahan.
"Ribut besar, ujung-ujungnya promil. Entah lakinya atau perempuannya yang bungul ini." Ayah seperti menggerutu.
"Bahasa tambangnya keluar," ujar Cani dengan terkekeh.
"Oh, memang iya begitu Kakak kau itu."
Aku jadi merasa salah mengambil keputusan, karena respon ayah seperti itu. Bungul itu makian kasar, artinya seperti 'bodoh'. Itu bahasa Kalimantan Selatan, office Company Putra Tunggal Berintan ada di sana, meski anak usahanya ada di mana-mana.
Ceritanya panjang, hingga akhirnya officenya ditetapkan di kota itu. Dulunya itu Putra Tunggal Berintan adalah tambang ilegal, kemudian peralihan kekuasaan dan diambil alih kembali. Tambang ayah yang memakai nama Putra Tunggal Berintan itu, ada di Sorong Papua. Sedangkan ayah memiliki tidak hanya satu usaha, semua pusat usahanya ada di Kalimantan Selatan. Kantor besarnya ada di sana, meski usahanya seperti tahi ayam yang ada di teras tetangga.
Ribet, pusing. Tapi kami anak-anaknya tahu jelas alurnya, jadi kami tidak salah paham pada ayah yang disebut orang-orang menjalankan bisnis ilegal. Sekarang sudah tidak ilegal, bahkan dokumennya sangat lengkap sampai sudah seperti bukti perselingkuhan suami orang di aplikasi T itu.
"Apa sih, Ayah?" Aku memandang ayah cukup lama, sampai akhirnya ayah menoleh ke arahku.
"Tak salah kan Ayah ngomong tadi?" Ayah meninggikan dagunya.
"Awas aja kau!" Ayah menunjuk kedua matanya dengan kedua jarinya, kemudian ia beralih menunjuk mata bang Bengkel dengan dua jarinya juga seperti akan mencolok mata bang Bengkel.
"Aku diancam-ancam terus." Bang Bengkel ngenes sekali kelihatannya.
"Tak, Han. Beneran Ayah sih, tak akan tolerir sama kau lagi." Ayah menghela napasnya.
"Udah tuh, Mas." Biyung mengusap punggung suaminya itu.
"Dah, sana pulang. Ayah mau tidur." Ayah bangkit dari posisinya.
"Jadi kami gimana? Boleh pindah sementara tak?" Aku bingung, karena belum mendapat keputusan dari ayah.
"Katanya mau promil? Kalau kau tak ikut, ya gimana? Mau pakai rahim perempuan multital*nte?" Ayah merangkul biyung, menggiring biyung untuk masuk ke kamar.
"Ayah, aku tidur sama siapa?" Cani terlihat panik.
"Sini, sini. Duh…. Ngantuk betul Ayah." Ayah urung masuk ke kamarnya, ia merangkul anak yang paling dijaga-jaga itu.
"Ada Galen, Yah." Aku bingung, ranjangnya satu nanti isi tiga orang dewasa.
"Biarin duh, ada susnya Cala Cali. Sana-sana, pulang. Promil katanya? Proposalan dulu kek ngapain." Pintu kamar ayah tertutup rapat dengan tiga orang dewasa yang masuk ke dalamnya.
"Ayo pulang, Yang." Bang Bengkel bangkit dan menarik tanganku.
"Ya udah, Abang pulang ke ayah Hamdan." Aku bangkit dan hendak berjalan. Namun, ia langsung menggendongku seperti karung beras.
"Huft…. Tipes menyebabkan istriku kurus kering. Ayo kita suntik sampai gemuk." Ia memukul part belakangku yang persis di samping wajahnya.
"Heh!" Aku khawatir terjatuh.
"Pendidikan, pendidikan apalah! Alasan aja! Kuliahnya gak, malah hamilnya ditunda-tunda." Bang Bengkel berhasil membuka pintu rumah.
"HEH! Kamprettt!" seru seseorang dari halaman rumah.
"Tenang, Bang. Nyolong istri sendiri, bukan istri mertua." Bang Bengkel menurunkanku, kemudian aku menoleh ke seseorang yang ada di halaman.
"Buat kaget aja!" Bang Chandra terus berjalan mendekat.
"Kampet…." Anak kecil yang ada di punggung bang Chandra itu terkekeh kecil dengan mengikuti ucapan bang Chandra.
"Heh, tak boleh." Bang Chandra menurunkan anak sulungnya setelah sampai di teras rumah.
Sepertinya, ia memiliki kedekatan dengan anak sulungnya Bunga ini.
"Ya dong." Anak tiga tahun kurang itu lompat-lompat di dekat bang Chandra.
"Ya dong, ya dong! Huuuuu…. Marahin mamah Da huuuuuuu, isengin adik-adik terus ini huuuuu…." Bang Chandra mengusap ingus anak sulungnya itu.
Anaknya malah tertawa geli diledekin seperti itu. Dasar anak-anak, ia tidak mengerti orang tuanya hampir murka.
"Jadi diungsikan ini? Sana ke Zee tuh." Bang Bengkel menunjuk rumah yang Bunga tempati.
Barra mengikuti arah pandang bang Bengkel. Kemudian, anak laki-laki berambut hitam lebat itu menggelengkan kepalanya.
"Main sama kakek Ken katanya, Bang." Bang Chandra berjongkok, kemudian menggendong kembali anak yang terlihat tengah berpikir itu.
"Tak ah, sama kakek Ipan aja." Suara anak ini ternyata tengah serak.
"Kenapa sih gak mau?" Bang Bengkel menggandeng tanganku.
"Gini, Pakcik." Barra bertolak pinggang pada satu tangannya, kemudian ia melebarkan matanya.
Aku yang tadinya ingin menjitak anak ini, jadinya tertawa dengan anak ini. Barra anaknya sering membuat murka orang tuanya, karena saat pulang dari Singapore ia sering menangis tanpa sebab dan berlangsung lama. Herannya lagi, tidak ada yang mampu menolongnya sampai akhirnya suaranya habis sendiri. Sepertinya, ia habis menangis lagi hingga suaranya serak begini.
Ia tidak nakal, tapi kemauannya yang tidak kami mengerti menguras kesabaran kami.
"Jadi kamu mau ke mana?" Bang Bengkel mengusap kepala Barra.
"Ajak Galon pulang, hehe…." Ia tertawa mengejek, melirikku dan menutup mulutnya sendiri.
"Galon! Galon! Galen, Bro." Aku menarik hidungnya.
"Iya, Makcik. Galen pulang sama aku tak? Bobo sama aku." Ia lancar sekali berbicara, anaknya cenderung berisik.
"Ada Makciknya, bobo sama Makcik Galennya," terangku kemudian.
Ia langsung menoleh pada bang Chandra, kemudian tangisnya diraungkan dengan lepas.
"Iya, ini kan jemput Galen. Jangan nangis, nanti Galen ikut nangis. Kalau Galen udah tidur, Abang ikut tidur ya?" Bang Chandra mengusap-usap dada Barra.
Jadi, Galen sudah menjadi bestinya Barra?
"Heh, Bang Bro. Galennya udah bobo, Abang juga bobo. Nanti Galen bangun, Abang ikut bangun ya? Jangan nangis, nanti Pakcik larang Galen untuk main sama Abang nih." Bang Bengkel mengusap-usap lengan mungil Barra.
"Jangan…." Barra sedang berusaha meredakan tangisnya.
"Masuk yuk? Ayo, kita cari Galen." Bang Chandra melewati kami dan masuk ke dalam rumah.
Bunga, kau tak meributkan anak sulung kau yang di bang Chandra? Lihatlah, ia menguras kesabaran orang tua asuhnya. Kau pasti tak akan merasakan dan menikmati momen-momen seperti ini.
"Di sana Galen main sama Barra terus?" Aku melangkah digandeng bang Bengkel.
"Iya, kata kak Nahda tuh Barra nurut kalau ada Galen. Galen makan, dia ikut ambil nasi untuk makan dia sendiri. Galen tidur, dia ikut tidur, anteng rebahan kalau dia gak bisa tidur tuh. Badannya juga sampai berisi beberapa hari Galen di sana, karena katanya Barra jadi jarang nangis. Tau sendiri kalau Barra nangis lupa makan, lupa tidur, sekalinya tidur dicek terus napasnya."
Benar seperti itu, ia sehat tapi bolak-balik rumah sakit terus untuk cek tentang pertumbuhannya. Badannya garing, ia kurus dan orang tua asuhnya takut Barra stunting. Kurusnya sudah seperti ayah kandungnya yang jelas peca*** obat terlarang.
"Silahkan masuk, Nona. Malam ini aku akan melayanimu." Bang Bengkel membukakan pintu rumah untukku dan mempersilahkan aku masuk.
Aduh, tak aman ini.
...****************...