Hope and Wish

Hope and Wish
H&W86. Membuka permasalahan



"Gimana, Ra?" Ayah Hamdan memperhatikan aku yang tengah sesenggukan di pelukan ayah. 


"Ayah harus gimana lagi, Dek? Apa Ayah mesti minta maaf ke perempuan yang Ayah permainkan, biar kebahagiaan hampiri kau, Dek." Ayah mengusap-usap punggungku. 


"Ya hallo, Han." Itu suara bang Chandra. 


Jadi, kakakku yang lemot itu benar-benar menghubungi ayahnya Farah? Rasanya sudah amat berat untuk bibir ini menyebut bahwa laki-laki itu masih suamiku. 


"Bang, coba cek rumah Ra. Aku takut dia gantung diri atau semacamnya, dia susah dihubungi," sahut dari seseorang yang bang Chandra hubungi ini. 


"Iya, bener. Tadi baru diselamatin dari leher aku, pindah ke leher Ayah. Hampir tengleng aku ini."


Aku lekas menegakkan kepalaku dan melihat keberadaan kakakku. Ia ada di sofa single, dengan mengangkat sebuah ponsel dan mengarahkan ke arah kami. 


"Yang…. Yang…." 


Aku hafal alunan suara tersebut. 


"Udah, Dek. Jangan nangis aja, Ayah tambah sakit lihat kau nangis aja. Sedalam itu kah sakitnya sampai harus nangis? Ra kecil, jatuh pun tak pernah nangis. Ra nangis kalau tak diajak Ayah kerja, tak diajak Ayah keluyuran. Ra tuh tak doyan nangis, tapi doyan merengek minta ikut sama Yayah." Ayah berbisik lirih, dengan mengusap air mataku. 


"Yang, Abang minta maaf…. Coba pahami sedikit aja, coba besarin maklumnya. Jangan langsung nyudutin, jangan langsung ngira." Suara laki-laki itu terdengar tak stabil. 


"Ngobrolnya di sana aja, Bang." Ayah menoleh ke arah bang Chandra. 


"Sama Ra juga?" Bang Chandra menunjukku. 


"Tak, sama kau aja dulu." Ayah memelukku kembali, aku bersembunyi di dadanya lagi. 


Aku sudah tidak menangis, tapi air mata ini selalu bocor.


"Iya, Yah." Bang Chandra pergi ke ruangan lain. 


"Udah tenang belum, Ra?" tanya ayah Hamdan kemudian. 


"Sebentar." Ayah membantuku untuk merapikan kerudungku.


"Ayah ambil minum dulu ya?" Ayah tersenyum samar. 


"Boleh Ayah ngomong sekarang?" ujar ayah Hamdan, setelah aku menaruh gelas di atas meja. 


"Boleh." Aku melihatnya, kemudian menundukkan kepalaku. 


"Jadi, yang tentang video call tadi. Itu kondisinya Bunga lagi telpon Ayah, dia lagi ngobrol sama pengasuh Farah. Terus, si Han juga coba telpon Ayah terus. Tapi tak bisa masuk, karena nomor telepon Ayah lagi sibuk. Dia hubungi nomor pengasuhnya Farah, terus Bunga usul tuh untuk dihubungkan ke Han aja. Han matikan panggilannya ke nomor pengasuh Farah, terus terima panggilan video dari Bunga. Itu kan panggilan grup, ada Ayah, Bunga dan Han," jelas ayah Hamdan kemudian. 


"Benernya harus ada aku, kalau memang tak mau buat suasana makin runyam. Tapi aku udah tak mau lanjutin perdebatan apapun, yang udah ya udah. Toh talak udah diucapkan juga, aku udah nerima kok." Aku tidak mengerti, kenapa bang Bengkel tidak memiliki inisiatif untuk menggabungkan panggilan video itu denganku juga. 


Padahal jelas, dirinya itu menjanjikan untuk menghubungiku kembali setelah sampai di rumah. 


"Ya maafnya di situ, kami gak terpikir," ungkap ayah Hamdan kemudian. 


Memang mudah meminta maaf, tapi aku tidak bisa memaklumi tindakan bang Bengkel. Ia seolah lupa padaku dan lupa janji kecilnya untuk menghubungiku kembali. 


"Udah aja, Yah. Tak perlu maaf-maaf, aku lebih ikhlasnya udahan aja." Aku tidak mau harga diriku diinjak-injak oleh rasa maklumku sendiri. 


"Ayah Givan, mohon jelaskan ke Ra." Ayah Hamdan menangkupkan telapak tangannya. 


"Ini titik permasalahannya gimana?" Ayah memandang ayah Hamdan dan aku bergantian. 


"Yah, semalam mereka nengok Bunga dan kasih Bunga kalung couple dengan Zee. Entah itu couple untuk Zee atau dirinya, tapi aku dapat informasi itu dari Bunga sendiri. Dia buat status itu, yang kak Jasmine pun bisa lihat juga. Yang artinya, memang tidak dikhususkan untuk manas-manasin aku aja. Terus sesampainya dia di Jakarta itu, dia janji untuk hubungi aku setelah sampai di rumah. Jujur aja, aku tuh kepikiran jelek, takut dia kecelakaan di jalan atau gimana, karena sampai malam dia tak bisa dihubungi karena nomornya sibuk terus. Tak lama, aku baru tau dari status Bunga lagi kalau mereka betiga ini melakukan panggilan video. Yah, aku nungguin kabarnya. Terus, malah dapat kabar dari orang secara tidak langsung bahwa dia lebih dulu komunikasi sama ibu dari anak perempuannya yang lain ketimbang sama istrinya. Aku tak protes apapun, aku tak ngomong apapun. Aku ngirim screenshot status WA Bunga ke dia, tiba-tiba dia balasnya malah talak satu. Dia bilang, lebih baik kita cerai aja, apa-apa dipermasalahkan. Kan tau sendiri, ada Zee di antara abang sama Bunga. Aku bukan mempermasalahkan hal itunya, tapi kenapa harus ngehubungin orang dulu, sedangkan aku istri yang selalu mendoakan dia tak dia kasih kabar lebih dulu? Daripada mulut aku doakan yang tak baik, takutnya. Lebih baik udah aja, biar tak terus dipermasalahkan terus. Kan dia bisa bebas juga mau hubungin siapa dulu, tak harus janjikan istrinya juga. Kasih tau bang Bengkel aja, Yah. Lebih enak menduda, tak terikat komitmen dan tak harus menjaga perasaan istri, tak ada yang mempermasalahkan janji dari mulutnya dan tak harus kasih penjelasan apapun setiap dia ngasih sesuatu ke perempuan lain atau ngehubungin perempuan lain. Setelah masalah yang waktu aku sakit, dia berinisiatif untuk komunikasi dengan Bunga lewat aku. Tapi setelah Zee di tangannya, aku dilangkahin terus. Kan sekarang tujuan dia udah tercapai kan untuk dapatkan Zee? Ya udah aja, aku tak ada fungsinya juga di hidupnya. Dia lanjutin aja rencananya dengan anak-anaknya, toh aku jadi istri pun udah tak ada fungsinya lagi kok. Dia takut sama aku, dia tak mau anak-anak di tangan aku, ngapain juga masih lanjutin rumah tangga? Masalah makin kompleks, sekarang dia beranggapan bahwa aku terus yang kurang mengerti dirinya." Bibirku bergetar, air mataku tak terbendung kembali karena berusaha menjelaskan masalah yang begitu menyesakkan hati itu. 


Ayah dan ayah Hamdan saling memandang. Aku tidak paham, apa yang di pikiran mereka mengenai sudut pandang yang aku ceritakan. 


"Yah, ini permasalahan bisa diurai dan ditata kembali. Saya selaku orang tua Han, gak pengen lihat rumah tangga anak Hancur. Demi Allah, Saya gak kurang-kurangnya nasehatin Han." Ayah Hamdan mengangkat tangan kanannya, kemudian tertunduk murung dan menggelengkan kepalanya. 


"Masalahnya, Han bisa natanya tak? Pas aku tanya juga, dia pengen blok nomor Bunga, atau tak komunikasi tentang Zee lewat Ra. Tapi pas praktiknya beda lagi kan? Ini kepala keluarga, mulutnya ngomong sendiri, tapi tak bisa dilakukan sendiri." Ayah berbicara perlahan. 


"Memang gak ada kesempatan untuk Han? Memang sebaiknya harus bercerai, begitu? Bisa dibilang, ini masalah kan bukan masalah besar." Ayah Hamdan tengah mengusahakan anaknya. 


"Yang diberi kesempatannya ini seorang Han. Pertanyaannya, apa Han bisa memperbaiki semuanya untuk kesempatan ini? Masalah sikap Ra, dia tak akan loh kasar dan menuntut begini, kalau Han bisa menuntun dia dan menengahi dia. Aku bawa surat perjanjian ini itu, biar dia itu mikir maksudnya. Biar ada batas yang mendasari dia, jadi dia bertindak jangan sampai di luar batasan dia. Tapi ditelaah, nyatanya Han tak pernah ada berubahnya. Ra berbuat salah, malah dia tinggal, dengan alasan takut. Padahal, itu kesempatan dia untuk ngemong Ra. Anak yang tak sopan aja, orang tuanya disalahkan. Apalagi ini istri, kenapa suaminya tak ajarkan yang baiknya? Mulut masyarakat kita biasanya begitu dalam menyimpulkan." Ayah mengetukkan jarinya di atas meja. 


...****************...