Hope and Wish

Hope and Wish
H&W85. Ribut dengan Chandra



"Ngap betul, ya ampun. Tadi istri usap-usap muka pakai tisu basah, sekarang adik sendiri nemplok aja. Lagi pedes ini, Dek." Bang Chandra seolah risih dengan tindakanku. 


Pasti kondisinya berbeda, jika ia tahu keadaanku sekarang ini. Anehnya, ia tidak panik seperti ayah melihatku menangis. Ia hanya kaget, saat aku membuka pintunya tanpa salam. Bukan maksud tidak sopan, masuk ke rumah saudara tanpa salam. Tapi jika aku mengucapkan satu kata saja, maka tangisku pecah seperti saat ini. 


"Abang, aku diceraikan." Sayang sekali, panggilan dari bang Bengkel berlanjut kembali. Hal ini menyulitkanku untuk menunjukkan bukti dari bang Bengkel itu. 


"Heh?!"


Aku yakin, ia tidak mungkin tidak mendengarku. Bang Chandra menarik kedua bahuku, ia melepaskan diriku dari dadanya. 


"Kau jangan ngaco aja! Ribut sedikit, wajar. Cerai lagi, cerai lagi! Gimana sih?!" Ekspresi kaget dan marahnya kentara sekali. 


Ekspresi ini persis saat bang Chandra mengetahui aku akan cerai dengan Syuhada, lalu sekarang terulang kembali. Jelas terlihat ia tidak percaya, atau mungkin ia beranggapan aku ketagihan perceraian. Sungguh, aku tidak ingin menjanda kembali. Tapi suamiku dengan lancang meloloskan talak itu. 


Aku punya ide, aku langsung mengaktifkan mode penerbangan begitu panggilan tersebut berhenti sejenak. Kemudian, aku menunjukkan hasil tangkapan layar isi pesan bang Bengkel padaku. 


Bang Chandra langsung menyimak, begitu ponselku aku sodorkan padanya. Ia nampak serius sekali, aku yakin sambal petai buatan istrinya itu sekarang nampak tidak menggugah seleranya lagi. 


"Kau tak minta cerai di sini, tapi dia ceraikan karena ketahuan? Abang tak bakal tanya lebih lanjut, Abang cuma pengen dengar jawaban dari mulut kau. Kau ridho tak kalau seandainya Han minta maaf, terus kalian lanjutkan rumah tangga kalian kembali? Udah, Abang tak nanya banyak-banyak." Bang Chandra memegangi kedua telapak tanganku yang tengah menggenggam buku nikah. 


Aku menggeleng berulang, air mataku jatuh kian derasnya saja. Aku tidak mencari bukti apapun, tapi bukti itu datang sendiri padaku. Berarti jelas laki-lakiku bukan laki-laki mahal, yang bisa menjaga statusnya. 


"Ya udah, ayo pulang ke ayah. Abang temani ngomong dan jelasin ke ayah, pulang ke Abang pun tak masalah, kalau kau kuat diganggu He Five." Bang Chandra bangkit, kemudian mengambil kaosnya yang tersampir di sandaran sofa single. 


"Ayah lagi sakit, Bang. Aku lari ke sini, karena tau ayah lagi sakit." Aku harap bang Chandra mengerti kondisi ayah, sekalipun ini keadaannya mendesak. 


"Sebentar." Bang Chandra memegangi pelipisnya, setelah ia memakai kaos. 


Apa ia sakit? Darah rendah? 


"Abang kenapa??" Aku menghampirinya dan menyangga lengannya, aku takut ia ambruk. 


"Ihh…." Ia melirkku. "Lagi mikir ini, Dek," lanjutnya membuatku malu sendiri. 


Lagian, kenapa ia memegangi pelipisnya segala? Terkesan seperti ia tengah pusing. 


"Kau pulang ke wali, wali menengahi. Wali tegur suami, suami mengerti, kau bisa kembali kalau ridho. Kalau kau tak ridho, suami kembalikan ke orang tua dengan baik-baik." 


Kenapa bang Chandra malah menjelaskan tentang adabnya? 


"Iya, paham. Terus aku harus gimana? Kan tadi Abang tanya ridho tak, ya tak ridho aku. Nyuruh Han balikin aku ke ayah? Sok, Abang yang ngomong. Tapi baiknya, proses cerai masuk malam ini. Abang, aku gampang luluh dan aku tak mau kejadian ini terulang berkali-kali. Aku malu sama diri aku sendiri, kalau kembali luluh ke suami manipulatif kek dia." Aku menunjuk dadaku sendiri. 


Bang Chandra menatap mataku. Kemudian, ia memalingkan pandangannya dan menghela napasnya. 


"Rumah tangga itu pasti ada konflik, Dek. Kulkas rusak aja, diperbaiki dulu loh. Kalau memang udah rusak betul, barulah rongsokin dan beli baru. Nah, ini rumah tangga. Apa-apa cerai, mau sampai kapan nikah cerai terus?" Bang Chandra menghempaskan tubuhnya ke sofa single. 


Ia kira aku ketagihan menjanda? 


"Aku capek begini terus, Bang. Dia bilang takut sama aku, dia tak percaya anak-anaknya aku asuh. Sebagai gantinya, kak Jasmine direpotkan. Bang, aku malu, Bang." Aku menepuk-nepuk dadaku, kemudian aku duduk di sandaran tangan sofa yang bang Chandra duduki. 


"Takut? Kenapa takut?" Bang Chandra memicingkan matanya padaku. 


"Dia takut aku nyelakain anaknya, kalau aku ribut sama dia." Napasku ngos-ngosan sekali, amarahku mendidih. 


"Ck…. Takut anaknya kau masak rupanya." Bang Chandra memijat pelipisnya kembali. 


"Udahlah, Bang. Ajukan aja perceraiannya." Aku tidak mau nanti malah berubah pikiran karena bujuk rayunya dan penjelasan manisnya. 


Masalahnya, aku selalu lemah oleh tutur katanya. Aku jadi curiga, jika laki-laki itu menggunakan jurus pengasihan. 


"Nanti, Dek. Ini berat ini, jangan asal ajukan aja. Ayah aja belum dengar kan? Atau minimal, biarkan Abang ngobrol dulu sama Han. Kau buru-buru sekali, cerai kek aji mumpung Han salah ngomong. Makanya tadi Abang nanya kau ridho tak kalau Han kembali dan minta maaf, karena kejadian ini bisa diurai. Bukan berarti kau tak ridho, terus jalan keluarnya cerai. Abang harus ngobrol dulu sama Han, kalau kondisi ayah lagi tak memungkinkan sih." Bang Chandra berdiri dan berjalan ke ruangan lain. 


Ia muncul kembali, dengan telepon yang tersambung di telinganya. Menghubungi siapa ia? Kenapa bang Chandra seperti berpihak pada bang Bengkel sih? Kan aku sudah bilang, jika aku tak ridho. Masih saja ia berusaha mencari keterangan lain, seolah agar aku tidak jadi untuk cerai dengan bang Bengkel. 


"Abang tak dengar aku ya?!" Mulutku ngegas di depan wajahnya. 


"Ampun! Bocah satu ini!" Bang Chandra meraup wajahku. 


"Abang tuh tak ngertiin aku, tak paham perasaan aku." Tangisku pecah kembali, bukan karena sikap kasar kakakku. Namun, karena aku merasa tidak ada yang berpihak padaku. 


"Hayo! TEROS! BERANTEM SANA DI HUTAN!" pekik ayah tiba-tiba, dengan terbukanya pintu rumah bang Chandra. 


"Ayah…. Bang Chandranya tuh." Aku berlari ke pelukan ayahku. 


Tubuh ayahku masih hangat, tapi ia keluyuran di malam hari yang dingin begini. 


"Kok jadi GUE?!" Bang Chandra bersedekap tangan, ketika aku meliriknya. 


"Ya memang tuh Abang, tak pernah paham perasaan perempuan!" Tangisku lepas seperti saat kecil aku berkelahi dengan kak Key. 


Aku tidak pernah ribut dengan bang Chandra saat kecil, tapi sekarang ia terkesan malah berpihak di kubu laki-laki. Dasar memang, laki-laki itu sama saja. 


"Apa sih kau?! Jadinya ke mana-mana!" Bang Chandra memandang ke belakang ayah, kemudian mendekatiku yang tengah mendekap ayah dan ia mencubit hidungku dan tangan satunya menarik bibirku. 


"ABANG!!!" Bisa-bisanya aku punya abang yang sepertinya. 


"Han yang ceraikan, Abang yang diteriakin terus. Gila kau?! Hm! Hm! Hm!" Bang Chandra mencium pipiku amat gemas, sampai sakit rasanya. 


"Bang, ish! Apa sih kau nih!" Ayah mendorong bang Chandra, tangannya meraih untuk memutar telinga bang Chandra. 


"Sukur! Dimarahin Ayah!" Aku memandangnya sinis. 


Ia malah memasang wajah jelek, kemudian melipir ke belakang tubuh ayah. 


"Masuk aja, Pak. Banyak nyamuk di luar, maklum halaman rumahnya penuh sayur mayur." 


Bang Chandra mempersilahkan orang lain untuk masuk, berarti ayah tidak datang sendiri? Terus, kenapa ayah kemari juga? 


...****************...