
"Kenapa, Dek?" Biyung mengejarku ke rumah.
Tangisku begitu lepas, setelah masuk ke dalam rumah. Aku tidak bisa berbicara, aku hanya bisa terduduk di lantai dan memeluk diriku sendiri. Sampai akhirnya biyung duduk di sofa, kemudian menjadikan pangkuannya sebagai tumpahan air mataku.
"Kenapa lagi kau? Siapa yang berani nakalin kau? Kubu terkuat kan diri kau sendiri, Ra." Biyung mengusap-usap kepalaku.
Aku tidak bisa berkata-kata, tindakan bang Bengkel membuat goresan besar di hatiku. Kemarin ia aku pinta untuk pergi, ia malah tetap tinggal. Sekarang ia minta ia untuk pulang, ia memutuskan untuk tidak lagi menemani tidurku.
"Hadeh, masih aja kek waktu kecil. Kalau nangis, tenaganya dikeluarkan semua." Biyung menekan kepalaku amat gemas.
"Hallo, Mas. Ini Ra nangis nih, pusing aku sih denger tangisannya. Dari kecil sampai besar, nangisnya masih aja lepas."
Biyung langsung mengadu pada suaminya ternyata.
"Iya, Mas."
Setelahnya, aku merasakan usapan pelan di kepalaku. Ia tidak mengatakan apapun, ia tidak memberiku kata-kata penenang juga.
Harusnya, biyung tidak usah melapor pada ayah. Karena ayah bisa terpancing emosi, jika tahu anak perempuannya sampai menangis seperti ini.
"Ra, Ra…." Terdengar helaan napas biyung.
"Jaman sekarang rumah tangga banyak dramanya betul. Masalah tak besar juga, dishare di sosial media. Biyung dulu pengen juga ngeshare, tapi takut ketahuan mertua. Tau mertuanya galak, jadi diem-diem aja sampai berantakan juga. Ehh, tapi karena tak punya kuota juga sih."
Entahlah, ocehan biyung malah membuatku berpikir keras.
"Masalah hati ya, Dek? Capek sih, makanya mending Biyung sama ayah kau aja."
Huaaaaaa….
"Biyung enak sama ayah, aku sama siapa???" Suaraku seperti monster yang muncul dari dalam lautan dalam.
"Kau biasanya dienakinnya sama siapa?" Biyung tertawa lepas dengan menunjuk wajahku.
"Biyung!!!" Aku memukul pelan pangkuan biyung.
"Ayah tuh datang." Biyung menunjuk ke arah pintu rumah yang terbuka perlahan.
"Kenapa, Dek?" Kepanikan ayah kentara sekali di wajahnya.
Aku menggeleng, aku tetap memilih untuk berada di pangkuan biyung. Jika berpindah padanya, aku takut mulut ini mengadu. Kemudian, ayah malah besar pada suamiku dan mencampuri urusan suamiku.
"Lama tak pernah nangis, kenapa sekarang nangis lagi? Apa yang buat sakit? Sebelah mana yang sakit?" Ayah ikut bersimpuh di pangkuan biyung.
"Dari belakang dia, Mas. Mungkin jemput Han di rumah Jasmine, soalnya siang tadi Han jemput Farah dan pengasuhnya untuk ke rumah Jasmine."
Diam-diam, ternyata biyung memperhatikan.
"Biar Ayah tanya." Ayah langsung berdiri.
Aku menahan kaki ayah. "Tak usah, Yah."
"Anak Ayah nangis begini, terus kau bilang tak usah?!" Ayah menunduk memandangku.
"Coba biarkan satu sampai tiga harian, Mas. Kita diam-diam aja dulu, kita pura-pura tak tau. Masa baru sedikit, kita negur. Ujung-ujungnya mereka baikan, kita yang malu karena udah nuain." Biyung masih mengusap-usap kepalaku.
Ayah seperti memikir ulang ucapan biyung. "Masalahnya tuh apa, Ra?" Ayah memilih duduk di samping biyung.
"Cerai aja kah? Rumah tangga baru sebulan, kok banyak betul masalahnya," lanjut ayah kemudian.
"Tak, Ayah. Aku masih pengen punya suami dia." Ini pengakuan yang sebenarnya merendahkan harga diriku, tapi aku benar-benar tak ingin pisah dengannya.
"Terus kenapa sampai nangis begini? Tiga hari di hotel, Ayah kira kalian menikmati waktu kalian tanpa anak."
Perkiraan ayah salah besar. Tiga hari di sana, rasanya sesak bukan main karena suamiku berbicara seperlunya. Aku melakukan kesalahan yang sangat besar untuk menyelamatkan rumah tangga kami, hal itu membuatnya takut padaku.
"Bang Bengkel nginep di rumah kak Jasmine," akuku takut.
"Kenapa dia nginep? Kemarin suruh pergi, kalian bareng lagi. Ini abis nginep di hotel, malah milih pulang ke orang tuanya."
Aku menggeleng, aku memilih untuk tidak mengatakannya pada ayah alasan yang sebenarnya. Sekali lagi, aku masih berharap dia tetap menjadi suamiku.
"Barangkali kek Ghifar, Mas. Coba biarkan satu sampai tiga hari, karena biasanya Ghifar kan balik sendiri ke istrinya setelah amarahnya redam," tambah biyung kemudian.
"Yakin? Terus kalau selama itu, anak kita nekat, gimana? Pikiran aku udah kacau betul, Canda. Mikirin ini, itu, ditambah lagi masalah menantu labil begini." Nampaknya ayah termakan rasa kesalnya, aku tahu aku hanya membuat ayah repot.
"Ada aku yang nungguin Ra." Biyung mendongakan wajahku, kemudian mengusap air mataku.
Sayangnya, air mataku tak mau berhenti. Terus dan terus saja merembes.
"Kau jago tidur, Canda." Ayah memegangi ubun-ubun kepalaku. "Pulang sama Ayah ya? Jangan sendirian di rumah ya? Ayah temani." Raut sedih di mata ayah nampak sekali terlihat.
Aku tak kuat melihat ayahku sesedih itu. Kini tangisku lebih lepas dari sebelumnya, karena melihat sorot mata ayah yang sedih dan lelah.
Tok, tok, tok….
Aku berharap yang mengetuk pintu adalah suamiku, aku harap ia pulang karena suara tangisku menembus ke rumah belakang. Meskipun tak mungkin terdengar, tapi aku harap batinnya merasakan kesedihan karena tangisanku.
"Ra…. Kau kenapa, heh?" Ketukan pintu masih terdengar.
Ayah bangkit dan membuka pintu rumahku. Ayah, biyung, bang Chandra, kak Nahda dan suamiku tahu pin pada gagang pintu rumahku.
"Kenapa kau nangis?" Mama Aca langsung bersimpuh dan memelukku.
"Kenapa kau ke sini-sini?" tanya ayah dengan duduk kembali di tempatnya.
"Klaim asuransi mobil pink, Ghifar butuh tanda tangan kau. Ini aku bawa formulirnya, terus tolong kasihkan ke adik kau." Adik ipar ayah memberi perintah pada ayah.
"Ish! Lagi begini kondisinya, segala minta tanda tangan." Ayah mengambil selembar surat dari mama Aca.
"Kenapa kau, Cantik? Terakhir kau SD, tak pernah-pernah lagi kau nih nangis." Mama Aca memberikan usapan lembut di punggungku.
"Udah nih." Ayah memberikan kembali selembar surat tersebut.
"Dibilang kasihkan ke Ghifar! Ampun, sepupu muda ini tak pernah patuh sama kakak sepupunya!" Nada bicara mama Aca langsung naik.
Mama Aca adalah anak dari kakaknya nenek Dinda. Di satu sisi, ayah adalah saudara muda mama Aca. Tapi di sisi lain, mama Aca adalah adik iparnya.
"Hadeh!!!" Ayah pergi dengan selembar surat tersebut.
Mama Aca diam, ia baru kembali berbicara setelah pintu rumah tertutup rapat kembali.
"Kenapa sih, Dek? Coba bilang ke Mama." Mama Aca mengusap air mataku seperti biyung.
Aku memandang matanya, kemudian melirik ke arah pangkuan biyung. Aku harap mama Aca mengerti, bahwa aku tidak bisa mengungkapkan masalahku di depan biyung, karena biyung akan membocorkan pada ayah.
Mama Aca berkedip rapat. "Ya udah, ayo nginep di rumah Mama. Mungkin kau bosen suasana rumah tangga, mungkin kau pengen ngerasain suasana rumah Mama yang heboh kalau ada Kal sama Kaf. Udah lebihin adik-adiknya yang kecil." Mama Aca menggelengkan kepalanya dan memutar bola matanya, seolah ia pusing dengan dua anak tersebut.
"Bilang dulu ke ayahnya, Ma," ujar biyung kemudian.
"Iya, kan Givan ada di sana juga. Ayo, Dek. Jangan sendirian di rumah, ini malam Jum'at Kliwon." Mama Aca berbisik, seolah menceritakan hal yang seram.
"Lah, ikut sih. Suami aku ada di sana." Rempongnya biyung mulai di sini.
Mama Aca malah tepuk jidat, sebelum akhirnya kita sama-sama menuju ke rumah mama Aca. Termasuk juga biyung yang menggandeng erat tanganku, sedangkan mama Aca berjalan di belakang kami.
Niatnya mama Aca ingin mengelabui biyung, agar mengizinkan aku menginap di rumah mama Aca, agar aku tidak sendirian di rumah. Eh, ternyata malau biyung ikut ketakutan dan ngintil ke rumah mama Aca.
...****************...