
"Ra…. Han…."
Tok, tok, tok….
Tengah menggap-menggap seperti ikan di darat begini, malah ada tamu yang datang.
"Ra…. Udah tidur kah?"
Aku seperti mengenal suara itu, sepertinya itu suara paksa.
"Abang, itu…." Aku menepuk lengan suamiku.
"Kenapa, kurang dalem?" Ia malah menekan lebih dalam lagi.
"Ada tamu, Bang. Tak dengar kah?" Konsentrasiku sudah buyar.
"Masa?" Ia diam sejenak, seolah tengah mendengarkan suara di tengah kesunyian jam setengah sembilan ini.
Dering teleponnya berbunyi, ia menghela napas dan meraih ponselnya.
"Pakwa Ken, Yang. Ck…. Ganggu aja." Ia menaruh lagi ponselnya.
"Ada apa gitu, angkat aja." Moodku untuk bersamanya langsung turun.
"Hadeh…." Ia melepaskan miliknya, kemudian meraih ponselnya lagi.
Napasnya terengah-engah, ia tengah ada di atasku tadi. Malam ini ia bekerja keras, karena katanya ia kasihan padaku yang terlihat lemas.
"Ya hallo…." Ia meraih gelas berisi air minum.
Ia tidak langsung menyahuti lagi, aku pun tidak tahu apa yang pakwa tanyakan. Ia menjeda sejenak, karena ia tengah mengusir kehausannya.
"Di rumah. Lagi ngamer, Pakwa. Maaf, gak dengar."
Tepuk jidat, bisa-bisanya ia mengatakan tentang aktivitas kami.
"Ohh, ya udahlah. Iya gak apa, nanti aku sama Ra keluar." Bang Bengkel menoleh ke arahku.
Kasihan sekali ia belum keluar, malah harus berhenti di tengah jalan.
"Iya, Pakwa." Bang Bengkel memunguti pakaiannya.
"Yang…." Ia menaruh ponselnya, ia sudah selesai menelpon. "Ada pakwa di luar, katanya mau ngobrol sebentar" Ia memakai pakaiannya.
"Abang belum selesai, gimana?" Aku bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, dengan menarik selimutku.
"Adek udah keluar kan? Abang bisa lanjut nanti." Ia memijat pelipisnya, barulah mengenakan CDnya.
Aku tahu, hal itu pasti membuat kepala atasnya langsung nyut-nyutan.
"Bilang aja tunggu di rumah Bunga aja, Bang. Kita lanjutin dulu." Aku kasihan padanya.
"Lihat." Ia menunjukkan senjata yang katanya tengah berusaha menghamiliku itu.
"Waktu muda tuh, ada yang ketok-ketok itu panik, langsung muntah. Sekarang kok gak panik ya? Pengen sih lanjut, biar sekalian plong. Tapi malah dianya tidur dulu tuh." Ia melipat miliknya ke atas, kemudian bangun dan memakai CDnya.
Ohh, aku tahu.
"Sensasinya lebih terasa gitu ya, Bang? Lebih seru gitu kan maksudnya?" Aku masih malas untuk berpakaian.
"Deg-degan gitu, Yang. Takut ketahuan, kan belum sah. Sekarang sih, tadi Abang malah ngaku lagi ngamer. Tapi rasanya gak masalah ketahuan, toh di rumah sendiri dan privasi aman, mikirnya gitu. Namanya juga suami istri, kan pasti melakukan. Beda sama yang pacaran, kan gak semua yang pacaran itu begituan." Ia mengambil pakaianku, setelah ia mengenakan celananya.
Aku paham, ini dijelaskan juga dalam ilmu yang aku dapatkan. Perempuan yang melahirkan anak hasil zina pun, katanya nikmat melahirkannya dicabut. Karena sensasi takut ketahuan dan rasa malu lebih besar, yang membuat sensasi sakit itu lenyap.
"Gak, enak begini. Bisa fokus kalau gak ada gangguan tamu begini." Ia terkekeh kecil. "Abang cuci dulu ya?" Ia beranjak pergi ke kamar mandi.
Setelah kami membersihkan diri, akhirnya kami menemui tamu tersebut. Pakwa ada di luar sambil merokok, dengan ditemani oleh bang Chandra.
"Barra mana, Bang?" Aku melangkah ke teras rumahku lebih dulu.
"Udah tidur, Dek. Minta adik yang kek Galen, katanya kelima adiknya tak ada yang kek Galen." Bang Chandra terkekeh kecil.
"Bedanya apa sih?" Aku menoleh ke belakang, melihat suamiku yang tengah menyisir rambutnya dengan jemarinya.
"He five susah dibercandain tuh, Yang. Kalau Galen kan, ditoel aja langsung nyengir. Jadi Barra girang karena ada yang merespon dia dengan senang hati. Belum aja dia tau, kalau Galen ke semua orang yang dia kenal pasti langsung pamer gusi."
Waduh, mendengar penjelasan bang Bengkel. Aku khawatir Barra besar sifatnya doyan mencari perhatian seperti ibunya lagi, karena karakternya ingin direspon dengan senang hati, seperti terkesan ia kurang mendapat respon baik dari sekelilingnya.
"Naik sekilo setengah si Barra, selama empat hari Galen di sana. Galen makan, dia makan juga. Galen ngemil, dia ngemil juga. Galen ngedot ASIP, langsung dia minta buat susu botol." Bang Chandra bercerita dengan ekspresi senang.
Pastilah senang, anak yang diamanatkan itu tumbuh sehat di tangannya. Ia pun frustasi juga, saat pihak posyandu sampai ke rumah untuk melihat Barra karena BBnya dalam KMS sudah di area kuning. Barra anak orang kaya disebutnya, tapi bisa dibilang kurang gizi.
"Ya udah, Galen di sana aja."
Ringan sekali pakwa mengatakan hal itu.
"Mau kami bawa ke Jakarta, Pakwa," ungkap bang Bengkel kemudian.
"Abang pulang dulu ya? Yang ketiga belum tidur tadi sih, mau ngelonin dulu." Bang Chandra langsung pamit pergi.
Aku mengangguk. "Iya, Bang."
"Tadi katanya Ra marah-marah ke Bunga?" Pakwa melangkah mendekatiku.
"Masuk aja, Pakwa. Biar enak ngobrolnya." Bang Bengkel berjalan ke arah pintu rumah kami dan langsung membukanya.
"Silahkan, Pakwa." Aku mempersilahkannya untuk masuk.
Pakwa mengangguk, kemudian melangkah perlahan masuk ke rumahku. Aku agak tersinggung saat ia masuk, karena ia mengedarkan pandangannya setelah berada di dalam rumahku.
"Pakai ART, Ra?" Pakwa duduk di sofa ruang tamu kami.
"Gak, Pakwa. Ra sakit, aku bersihin rumah, aku tata ulang. Gorden aku ganti, karpet aku laundry. Biar pas dia pulang, anak-anak kumpul, udah nyaman bebas debu." Bang Bengkel menceritakan dengan tersenyum lebar.
"Iya kaget Pakwa tuh, Ra tumben rumahnya sampai licin begini." Pakwa terkekeh dan menoleh ke arahku.
"Hmm, ngeledek." Aku tersenyum kecut, bang Bengkel dan pakwa malah tertawa bersama.
"Padahal hasil pesantren ya, Han? Kaget tak, Han?" Pakwa menggosok telapak tangannya dan menoleh ke arah bang Bengkel lagi.
"Pesantren modern sih, Pakwa. Jadi, dia mana nyentuh baju kotor dan lain sebagainya. Ra cerita dari awal kok dia begini orangnya, aku cari istri kok Pakwa, gak cari ART." Bang Bengkel mempertahankan senyumnya.
Pakwa manggut-manggut, ia diam sesaat.
"Tadi gimana? Zee mau diambil?" Pakwa mengusap lehernya.
Ia pasti kedinginan lama di luar rumah. Harusnya, ia ke rumah anaknya dulu. Sudah tahu waktu Ashar pun, di sini kabut dingin sudah datang. Eh ia malah bertamu malam-malam, ditambah menunggu lama di luar rumah lagi.
"Bunga ceritanya gimana, Pakwa?" Aku menarik napasku, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Katanya kau ngajak ribut, dadakan minta Zee? Kan pas lebaran, Pakwa udah kasih keputusan untuk ambil Zee begitu urusan Bunga selesai. Kau ribut sama Han? Terus Zee dijadikan alasan keributan kalian? Kalau memang Zee buat kalian ribut sih, udah aja biar neneknya Zee yang urus Zee. Biar makcik Ajeng yang urus, sementara Bunga di pesantren. Biar rumah tangga kalian tentram gitu kan?" Pakwa menoleh padaku dan bang Bengkel secara bergantian.
...****************...