
"Yaa, mau tak mau. Kau kan paham sendiri, anak-anak kau kan dipondokin semua kan? Pasti tau kan aturannya?"
Seenteng itu pakwa menjawab.
"Tepatnya itu kapan? Kapan Zee bisa kami urus?" Bang Bengkel mengajukan pertanyaannya dengan berani.
"Ya kemungkinan setengah tahun lagi. Proses cerai, kemungkinan dua bulan. Terus, Bunga tunggu selesai masa iddahnya tiga bulan. Persiapan ini itu satu bulan, masa santai gitu lah."
Aku langsung terbatuk-batuk karena salah bernapas.
"Minum, Yang." Bang Bengkel langsung menyobek tutup satu buah air mineral kemasan gelas untukku.
Sepertinya stawnya tidak ia temukan.
"Aku tak apa." Aku tetap menerima air minum darinya.
"Bukan nyuruh cerai, toh cerai udah keputusan kalian juga. Tapi cerai itu bisa lebih mudah, kalau perempuan yang gugat. Jangan pengajuan cerai lagi, misal Bunga yang ajukan, Hema jangan datang, biar prosesnya cepat. Bahas tentang masa iddah, tadi kau bilang sekarang Bunga dalam masa iddah. Iddah agama maksudnya? Kalau kata aku sekalian iddah dari hakim aja, habis masa iddah biasanya dapat surat janda atau apa gitu. Aku tak pengalaman masalah cerai nih, Bang. Tapi aku pernah dengar katanya bisa begitu juga." Aku merasa sikap ayah begitu dewasa dan stabil di sini, entah karena masih awal.
"Nyuruh orang lebih cepat," tambah biyung yang muncul dari dapur dengan membawa potongan ketupat dalam piring.
"Suami, makan nih." Biyung langsung mengarahkan sendok ke mulut ayah.
"Bentar, Canda."
Tapi ayah tetap mangap dan mengunyah.
"Cerai nyuruh orang yang biasa nanganin, langsung beres. Kasihkan aja buku nikahnya, sat set beres. Tapi datang akte janda, biasanya kena biaya lagi." Biyung duduk di depan ayah.
"Kok tadi aku tak dikasih lauk, tak ada kuahnya juga." Ayah melihat dan menunjuk isi piring biyung.
Aduh, emosi. Kenapa ayah malah terhanyut dengan makanan yang biyung bawa?
"Ayah!" Aku menepuk pelan pangkuan ayah.
"Ehh, iya, Dek." Ayah berusaha menelan cepat, karena ia tengah disuapin lauk susulan.
"Yang jelas dulu!" Aku menekan suaraku.
"Iya, biarin mereka mikir dulu." Ayah mencolek pipi biyung. "Ini siapa yang masak? Kau bisa memang?" Ayah berbicara lirih.
Aku di sampingnya, jadi jelas aku mendengarnya.
"Tak tau, Nahda yang berusaha adain makanan ini semua. Tak tau gimana ceritanya, katanya Biyung tak usah masak. Seneng dong aku, bangun waktu Subuh kek biasa, tak usah bangun dini hari untuk masak." Biyung lanjut makan saja.
"Ya Allah, berikan hambamu kekasih. Tak apa punya orang juga. Bertinju? Betinjulah."
Siapa lagi ini, ya Allah?
"Adek Cani, I love you." Ibu jari dan telunjuk berisyarat saranghaeyo itu muncul dari pintu penghubung ke halaman samping.
Itu tangan Kaf, dokter yang heboh.
"Ayah, itu Kafnya…." Perempuan bercadar itu melewati Kaf begitu saja, ia berlari kecil ke arah kami.
"Bergurau, Dek. Tak apa itu." Ayah menyambut Cani dengan kedua tangannya, sampai biyung geser ke depan Hema.
"Kau menolak calon dokter spesialis? Huh, sombong!" Kaf bertolak pinggang menghadap kami semua.
"Kamu gak bisa bertinju-tinju sih," celetuk bang Bengkel dengan tawa.
"Bisa, ayo sini maju." Kaf membuka kancing teratas kemejanya, ia seolah bersiap untuk adu otot.
"Ihh, dia ngapain sih, Yah?" Cani sampai memeluk lengan ayah.
"Dia tak kenapa-napa, Dek." Ayah seperti mendapat hiburan.
"Ah, belum diapa-apain udah takut. Awas ya kalau nanti malah minta diapa-apain." Kaf menunjuk Cani, kemudian ia berjalan ke arah halaman belakang.
"Papa, anaknya jangan disuruh pulang-pulang. Aku takut terus kalau ada Kaf, takut dipeluk dicium," adu Cani ke papa Ghifar.
"Dia pulang sendiri, Dek." Papa Ghifar hanya bisa tertawa geli.
Ini hari besar, anak-anak pasti ingin kumpul bersama orang tuanya. Termasuk juga Kaf yang tengah mengemban pendidikan lanjutan di Malaysia.
"Tak mau kau sama dia?" Ayah memeluk Cani, kemudian ayah mencium kepala Cani.
"Ayah kenapa sih? Kaf itu kenapa dia? Kalau aku buat status WA pun, dia komen I love you terus." Giliran Cani mengadu ke ayah.
"Cuma iseng itu, Dek. Ke Abang pun dia komen minta videonya aja, tiap kali Abang buat status kebersamaan sama Kakak kamu di WA." Bang Bengkel menggenggam tanganku.
Ia masih menjadi laki-laki romantis, yang sering menunjukkan kemesraan kami di depan keluarga besar. Ia tidak malu melakukan kegiatan fisik ringan seperti ini denganku.
"Sih ke Ayah kau tak bagi video kau?" sahutan ayah, menjadi gelak tawa para laki-laki di sini.
Aku paham video apa yang dimaksud.
"Gih jagain yang kecil, apa mau jadi jajan di luar?" Ayah membenahi cadar penutup wajah Cani.
Matanya saja secantik itu, wajar saja Kaf suka iseng. Matanya itu teduh, seperti ukhti-ukhti ahli ibadah. Coba mataku, sudah seperti ukhti yang penuh amarah sambil mengendarai kuda.
"Tak mau, ada Kaf. Aku mau di rumah aja, Yah." Manjanya masih untuk ayahnya.
Bagaimana ya suaminya nanti? Apa ia bisa memperlakukan adik kami yang paling lembut itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan?
"Sama Biyung, gih ajak Biyung pulang." Ayah menoleh ke arah biyung yang lanjut makan di depan Hema itu.
Hema melongo saja dan biyung tidak menawari sama sekali.
"Biyung, bawa makanannya. Gih lanjut makan di rumah, temenan Adek Cani." Ayah lanjut memerintahkan istrinya.
"Ya ampun, tinggal nganclong aja mesti ada temannya." Biyung melirik anak yang mirip sekali alimnya sepertinya itu.
"Nurut, Canda. Aku lagi ngobrol serius loh. Tak kau, ya anak kau. Mesti aja tuh!" Ayah melirik biyung seperti biyung melirik Cani.
"Anak Mas juga." Biyung akhirnya bangkit.
"Iya, anak kita. Bareng sana sama Biyung, Dek. Ajak yang kecil kalau ada yang mau, gih."
Akhirnya, dua orang yang seperti kembar itu pulang dengan piringnya juga.
"Jadi, gimana? Maaf ada gangguan kecil, sekalian ada kesempatan untuk memikirkan." Ayah membuka obrolan serius ini lagi.
"Ya menurut aku, tunggu aku benar-benar mau berangkat ke pesantren aja, Yah. Biar aku ada kesibukan di sini, sementara Zee sama aku dulu." Bunga memberikan keputusan yang tidak jauh seperti yang pakwa inginkan.
"Kenapa terus diulur? Niat permainkan?" Bang Bengkel membuka suaranya juga, malah sekarang terdengar tegas.
Tapi aku tidak suka karena ia menatap Bunga dengan cukup lama.
"Niat permainkan gimana? Kan udah aku bilang…." ucapan Bunga terjeda karena sanggahan dari bang Bengkel.
"Karena harus sepaket sama kamu itu?! Sedangkan gak bisa sepaketnya, jadi mengulur waktu terus? Dari ajuin tes DNA, kan udah ribut cerai. Kenapa tak langsung diproses? Kan itu masih jauh dari bulan puasa juga, apalagi lebaran." Bang Bengkel terkesan tidak sabaran, entah karena suatu hal tentang hatinya ke Bunga.
...****************...