Hope and Wish

Hope and Wish
H&W56. Menuntut keputusan cepat



"Sok, sok. Kuping aku dengerin nih." Aku mengusap air mataku yang masih lolos, kemudian memandangnya bengis. 


"Surga Adek tuh di Abang loh, jangan kayak gitu ke suami." Ia menatap balik sorot tajamku. 


Segala bawa-bawa surga, padahal dirinya yang berbuat kesalahan. 


"Jadi, Abang pikir Abang tak berdosa kalau berbuat kek gitu ke aku? Kan aku bilang di awal, udah aja sana pulang istirahat. Tak usah di sini, tak usah urus aku di sini. Respon aku tak akan kek gini, kalau Abang tak buat salah. Aku bukan orang gila, tapi aku begini karena Abang nyepelein aku." Aku menepuk-nepuk dadaku. 


"Ya maksudnya, jangan kayak gitu juga. Yang sopan, Dek. Pelan-pelan ngomongnya, gak usah mandang Abang kayak Abang musuhnya gitu."


Sudah ketularan virusnya Bunga dan paksa. Ya, ya, ya terus di awal kalimat. 


"Memang Abang sopan ke aku? Aku lagi sakit terus dibentak itu sopan? Aku sakit sehari semalam tak Abang cari kabar dan tanya keadaannya itu sopan? Kalau datang-datang ngajak ribut begini, mending udah aja sana pulang. Jangan buat kondisi aku tambah kurang sehat." Aku menggeleng dan menyeka air mataku lagi. 


"Ya udah, ya udah. Abang minta maaf ya? Jangan marah lagi. Adek sakit apa?" Ia mencoba menahan wajahku, saat aku hendak berpaling lagi. 


Sesak rasanya. 


Mending sekali hantam saja seperti Syuhada, emosiku sekalian meluap dengan balasan tanganku untuknya. Kemarin tidak sesesak ini, kemarin tidak sekecewa ini. Meskipun akhirnya membawa diriku susah sendiri, meskipun akhirnya aku yang repot sendiri. 


"Semudah itu???" Aku menatapnya tak percaya. 


"Ya salam." Ia menarik napas panjang. "Zee kejang terus pas Abang udah sampai sana, terus lanjut pengobatan dan suruh terapi pertama. Nanti tiga hari kemudian, diminta datang lagi lihat perkembangannya," lanjutnya kemudian. 


"Kejang lagi? Yang bener? Kalau anak masih kejang intens, tak mungkin Zee diperbolehkan pulang. Apalagi sampai langsung ke playground." Aku jadi ingin bertanya pada ibu lain yang memiliki anak dengan kondisi epilepsi, benarkah harus terapi di playground? 


"Terapi, Dek. Siapa bilang ke playground?" jelasnya kemudian.


Loh? Salah informasi atau bagaimana? 


"Pakwa yang bilang kalau kalian ke playground." Aku langsung memandang wajahnya, agar aku bisa menilai perubahan ekspresinya. 


Ia terdiam, lalu bola matanya berputar. Ia seperti berpikir dulu untuk menjawab. 


"Ya dari terapi itu langsung ke playground."


Lebih bangsat lagi ternyata kebenarannya. 


"Kita pisah sementara aja dulu, Bang. Rumah tangga kita baru sebulan, pembatalan pernikahan juga masih bisa keknya, atau cerai sekalian. Biar di terapi selanjutnya, Abang bisa langsung traveling dari terapi itu. Anak kejang intens kan? Di rumah sakit tak lama, terus terapi dan langsung jalan-jalan. Aku tau loh playground itu letaknya di mana." 


"Berarti hari kemarin itu bukan hari yang parah untuk Zee kan? Tapi itu hari yang parah untuk aku, Bang. Atas dasar apa, sampai Abang tak pulang? Zee kejang intens aja, Abang sempat pulang."


Ia diam lagi, ia menghindari kontak mata denganku. Terlihat sekali jika memang ia bersalah, ia ingin mencari alasan. Entah karena, muncul rasa tidak enak hatinya padaku. 


"Bunganya sakit, Dek. Dia berobat di poli umum, jadi Abang jagain Zee. Habis Bunga berobat sendiri, dia banyak istirahat. Kalau Zee gak ada yang jaga, takutnya dia kejang tapi gak ada yang lapor ke dokter," tuturnya lembut. 


Jadi begitu? 


"Kerjasama kalian hebat betul, udah pantas tuh jadi orang tua. Apa ayah bilang di awal kan? Bunga bentar lagi mau janda, tunggu sebentar. Tapi Abang ngambilnya malah yang udah janda." Aku berbicara lembut, tapi entah tersampaikan tidak untuk menyindir nuraninya. 


"Jangan ngungkit-ngungkit, Yang. Kan tetap kamu yang Abang pilih, kamu tetap tempat pulang Abang." Ia menahan pipiku yang lain, kemudian mencoba mencium pipiku yang dekat dengan wajahnya. 


Aku diam, bukan berani aku sudah memaafkan dan rela ia cium. 


"Aku bukan tempat pulang, orang yang pulang bawa masa lalunya. Memang udah dibahas dari awal, tapi aku tak nyangka kalau Abang sampai segitunya ke Bunga." Aku melepaskan tangannya yang masih berada di rahangku. 


"Jangan mandang Bunganya, Yang. Pandang Zeenya, Abang di sana karena Zee."


Ia menjadikan anaknya alasan, entah doktrin Bunga yang mulai merasukinya. 


"Iya, terserah aja. Intinya aku gitu aja, Bang. Abang pulang dulu ke ayah Abang, lebih baik kita pisah sementara waktu. Sampai Abang bisa tegas untuk ambil Zee secepatnya, atau lepasin Zee sama keluarga ibunya." Aku tidak mau hal seperti ini terulang kembali. 


"Ya kan harus rembukan lagi, Yang. Gak bisa tiba-tiba Abang bawa pulang Zee, sedangkan kondisinya lagi kayak gitu." Ia bertopang dagu, kemudian tersenyum padaku. 


Ia kira aku akan luluh dengan senyumannya. 


"Terserah mau rembukan lagi atau ribut lagi, aku tak akan ikut serta di dalamnya. Intinya kita jangan serumah dulu, Abang pulang ke ayah Hamdan aja dulu. Terserah, Farah mau tetap di aku atau dibawa juga. Aku tak akan libatin anak dalam permasalahan kita, aku pun tak akan ributin anak dan nahan anak untuk dibawa ayahnya. Kita masih suami istri, sampai Abang perbaiki hubungan kita dan tegas untuk mutusin tentang Zee. Terserah mau Abang bilang aku jahat aku sebaliknya, aku coba ngertiin keadaan. Tapi aku tak mau keadaan kek gini jadi kebiasaan yang berulang. Memang anak sakit siapa yang mau, pasti tak ada yang berharap anak sakit. Tapi kalau suami aku terus ributin anak yang ada di masa lalunya, tanpa bisa kasih keputusan apapun, aku yang pasti terluka di sini." Aku tetap ingin melanjutkan keputusanku itu. Aku tidak peduli Bunga akan tersenyum senang atas renggangnya rumah tangga kami, tapi yang jelas aku tidak mau ada drama bang Bengkel yang gelisah memikirkan Zee terus menerus. 


"Kamu tuh kayak gak nerima anak Abang ya?" Ia tersenyum kecut. 


Loh, tidak menerima katanya? 


"Bukan tak nerima, ini namanya tegas. Imbasnya ke rumah tangga kita loh, Bang. Aku kan tadi udah sempat bilang, bawa Zee ke aku, biar kita urus. Atau lepasin Zee, biar terurus keluarga ibunya. Masalah Farah? Apa aku harus berdrama nahan Abang untuk tak bawa Farah? Aku bukan lagi bahas tentang Farah anak bawaan Abang, tapi nanti Abang kepikiran terus kalau Farah di aku. Disangkanya aku pilih kasih ke Farah, disangkanya aku jadi ibu tiri yang kejam, terus nanti Abang sering datangin aku karena alasan anak. Udah kebaca, aku tak mau terlalu drama. Udah dibilang, aku pengen keputusan yang cepat. Toh Zee di Bunga juga, Abang pasti tetap boleh nengok, pasti tetap diminta kebutuhannya." Jadi begini rasanya jadi ibu tiri ya? Apapun tentang anak, pasti dikiranya aku tidak menerima anak bawaannya. 


Ia mengusap wajahnya, kemudian mengambil napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia melamun sejenak, kemudian kembali memandang wajahku. 


...****************...