Hope and Wish

Hope and Wish
H&W80. Menjaga sikap



"Ma, aku pulang dulu ya? Bang Bengkel WA aku." Pagi ini aku bergegas menuju ke dapur, tempat mama Aca tengah sibuk-sibuknya. 


"Oke, Sayang. Bilang, jam sepuluh nanti mau keluar sama Mama." Mama Aca mengulas senyum dan mengangkat ibu jarinya. 


"Oke, Ma." Aku bergegas keluar dari rumah mama Aca. 


Namun, sesampainya di rumah aku malah melihatnya tengah mengeluarkan koper. 


"Abang berangkat dulu ke Jakarta ya?" Ia memelukku di depan pintu rumah. 


"Sekarang?" Aku melepaskan pelukannya dan memandang wajahnya. 


"Iya, Yang. Sehat-sehat ya? Ayo anterin Abang ke bandara." Ia memelukku kembali. "Semoga pas Abang pulang, suasananya gak kayak begini lagi."


Aku merasa sedih, karena ia tiba-tiba ingin pulang ke Jakarta seorang diri. Aku tahu ia sudah mengatakannya, tapi aku tak mengira jika harus secepat ini. 


"Ya, Bang. Aku ambil sesuatu dulu." Aku berniat mengambil dompetku. 


"Iya, Yang. Abang pamit ke ayah dulu, sekalian nitipin Adek sama Galen." 


"Iya, Bang." Aku mengangguk. 


Jika dipikir lagi, kenapa harus membawa koper? Ia banyak pakaian di rumah yang di Jakarta kan? Kenapa ia tidak membawa ransel saja untuk barang-barang elektroniknya yang ia butuhkan? 


"Yang…. Ayo." 


Tak lama, aku mendengar seruannya. Aku segera keluar dari rumah, dengan sudah berganti baju dan membawa dompetku. 


"Apa kata ayah?" Aku menghampirinya. 


"Iya boleh. Abang sekalian pinjam mobil tadi." Bang Bengkel menarik kopernya dan memasukkannya ke mobil ayah. 


Ia ternyata berani meminta izin pada ayah, meski semalam ia tidak pulang. Mungkin ia berani, karena ia tidak tahu jika membuat anak perempuan ayah ini menangis. 


"Yang, resepsi tetap jadi ya? Nanti tiga hari sebelum resepsi, Abang udah pulang, Abang udah bilang ke ayah sama biyung." Ia membukakan pintu mobil untukku. 


Mobil yang rusak parah itu tidak ada di sini. 


"Apa kata mereka?" Aku penasaran saat ia mengajukan pernyataan seperti itu pada mereka. 


"Cuma iya aja, Yang. Memang kenapa gitu?" Ia menutup pintu mobil kembali, setelah aku duduk di sampingnya. 


Sekarang jam tujuh, aku akan mengantar ke bandara. Berarti kisaran jam sepuluh, kemungkinan aku masih dalam perjalanan pulang. Aku akan mengabari mama Aca, untuk membatalkan rencana jam sepuluh nanti. 


[Ma, aku nganterin bang Bengkel ke bandara. Keknya aku tak bisa ikut ngopi jam sepuluh nanti.] aku lebih dulu membatalkan, sebelum mengatakan pada bang Bengkel. 


Mobil sudah berjalan, sudah menuju jalanan gang yang muat satu mobil saja. 


"Abang bawa baju Adek dan Galen," ucapnya tiba-tiba. 


"Untuk apa?" Aku menoleh padanya. 


"Barangkali kangen." Ia mengulas senyum. 


Aku hanya manggut-manggut, aku kira ia akan mengatakan bahwa ia nanti akan menjemputku. 


[Ya tak apa, Dek. Kabarin aja bisanya kapan.] pesan dari mama Aca masuk dari bar notifikasi ponselku. 


[Siap, Ma.] balasku cepat, dari bar notifikasi. 


"Dek, diam aja? Kenapa?" Ia mengusap pahaku. 


Aku bingung, aku takut salah ucap padanya dan membuat masalah bertambah besar. Sebenarnya ini bukan masalah, tapi aku merasa seperti memiliki jarak dengannya. 


"Penerbangan jam berapa?" tanyaku kemudian. 


"Jam dua, Yang," jawabnya dengan mengangkat tangannya dari pangkuanku. 


Nah, loh? 


"Kenapa berangkat sekarang?" Aku yakin ia akan jenuh menunggu di bandara. 


"Jalan-jalan dulu, Yang." Ia menginjak pedal rem, karena akan menyebrang naik ke jalan raya. 


"Adek maunya ke mana? Abang pengen beliin perhiasan."


Bolehkah aku meminta dirinya dan hatinya saja? 


"Terserah aja." Aku memberikan senyum manisku untuknya. 


Bukan karena aku berbunga akan diberikan perhiasan olehnya, tapi karena niatnya yang katanya ingin memberikanku perhiasan. 


"Kenapa gak kayak biasanya? Kenapa, Yang?"


Apa ia ingin aku mulai mengajaknya berdebat lagi? 


"Tak apa-apa, Bang." Aku merasa ia membawa kendaraan ini lambat sekali. 


"Semalam Abang nengok Bunga sama ayah," ungkapnya yang membuatku menelan ludah. 


Aku memahami ia mencoba terbuka, tapi aku tidak bisa santai jika menyangkut semua hal tentang Bunga. 


"Terus?" Aku memicingkan mataku. 


"Patah tulang dua kaki. Ada efeknya ke perut, karena kena benturan dan tekanan berulang katanya. Sebenarnya gak ada masalah besar di perut, mungkin dalemannya masih meradang kali ya?" Di sorot matanya seperti miris. 


Rasanya aku sulit untuk meminta maaf karena tindakanku kemarin. Aku tidak akan begitu, kalau Bunga tidak menyentuh suamiku. Jika ia menyadari kesalahannya, mungkin aku bisa berpikir juga untuk kekhilafanku. 


"Abang ngomong apa ke Bunga?" Aku berharap mulutnya mewakili permintaan maafku. 


"Cepet sembuh." Alisnya terangkat sebelah. "Kenapa gitu?" lanjutnya kemudian. 


Ya sudahlah, kenapa juga aku menginginkannya mewakilkan permintaan maafku? Kan sebaik-baiknya harapan, jangan berharap pada manusia. 


"Tak apa." Aku mengukir senyumku kembali. 


"Kamu aneh banget, Yang. Kenapa sih ngomong kayak seperlunya aja?"


Aku menjaga ucapanku, sikapku padanya. Aku tak mau lagi karena ucapanku dan sikapku, ia malah lebih tidak percaya padaku. Yang ada, nantinya aku malah dilarang untuk bertemu anak-anaknya. 


"Tak apa, Bang. Tak ada apa-apa dan tak punya masalah." Ia beranggapan aku berubah, tapi aku merasa ia yang demikian. 


"Gara-gara semalam Abang gak pulang? Kan tau kalau Abang di tempat ayah Hamdan, gak keluyuran. Cuma nengok Bunga, itu pun karena sekalian bilang kalau Zee udah di Abang." Penjelasannya seperti memaksakan kalau ia tidak salah karena tindakannya. 


Terserah, aku tidak menyalahkan tindakannya juga. Ia menengok Bunga dengan ayahnya pun sudah terjadi dan sudah terlewat kok, meski baiknya menengoknya ditemani denganku. Tapi pikirnya, mungkin memang baiknya ia datang dengan ayahnya karena mengira aku mengajak Bunga bermusuhan. 


"Aku paham, Bang." Aku tidak ingin membahas bagaimana cengengnya diriku semalam, aku malu mengakuinya. 


Aku takut disepelekan olehnya, jika ia tahu ia adalah laki-laki yang pernah aku tangisi. Ia akan besar kepala, lalu memperalat rumah tangga kami. 


"Hmmm…. Kayaknya kita gak baik-baik aja. Adek kangen Abang?" 


Pertanyaan apa itu? 


"Menurut Abang?" Aku meliriknya. 


Ia mengedikkan bahunya. "Abang ngerasanya biasa aja, kan kita tiap hari ketemu." Ia terkekeh kecil layaknya itu sebuah candaan. 


Aku tidak haid dan sudah empat hari ia tidak menyentuhku, sebelumnya tidak pernah seperti itu, kemudian ia menganggap biasa saja? Ya oke, aku akan terbiasa tanpanya. 


"Kayaknya iya deh. Adek kalau udah badmood aja, lama nih gak dikeluarkan. Kita cari lahan sepi"


Aku menoleh cepat, mendengar ucapan selanjutnya itu. Belum juga aku menyahuti, ia sudah berbelok ke arah jalanan yang membelah lahan kopi. Tapi ini akses kendaraan ke pabrik papa Ghifar, satu atau dua mobil pekerja pasti lewat sini setiap harinya. 


"Kenapa berhenti di sini?" Sebenarnya aku tahu apa yang ingin ia lakukan. 


Tapi, apa cukup leluasa jika di dalam mobil? 


"Shtttt, shttt, shttt…." Senyumnya merekah, tapi senyumnya sudah tidak lagi menyenangkan hatiku. 


Kali ini, pancaran panas ia beberkan sampai tumpah ke jok mobil ayah. Hatiku berkecamuk, entah kenapa aku tidak berharap hamil anak suamiku setelah banyak masalah begini. 


Aku takut ditinggalkannya dengan seorang anak perempuan yang aku besarkan, aku khawatir kelak nanti menjadi rebutan. Kemudian ia mempersulit perwalian nikah, jika kelak anak perempuannya besar di tanganku. Aku seorang istri yang jahat, karena benar-benar takut hal buruk tentang rumah tanggaku mempersulit keturunanku. 


...****************...