Hope and Wish

Hope and Wish
H&W41. Improvisasi prosesi



"Terus gimana lagi, Yah?" Suara bang Bengkel seperti menahan tawa. 


"Baca basmallah." 


Aku menunduk, tapi aku mendengar jika ayah masih berada di sisiku. 


"Basmallah aja? Gak basmallahirrahmanirrahim?"


Aku ingin tertawa lepas, aku menahan tawa perutku sampai berguncang. 


"Bismillahirrahmanirrahim dong, Han! Eh kau nih, tololnya jadi!"


Aku melihat perut bang Bengkel berguncang juga, pasti ia mencoba menahan ngik-ngiknya. 


"Ya ampun, Besan. Ngasih taunya yang bener dong." Suara om Hamdan pun seperti samar dengan tawa. 


"Bacot kau, Menantu!"


Tawa bang Bengkel lepas seketika, ia melepaskan tangannya dari ubun-ubunku. Tidak ada yang tidak tertawa, semua orang lepas tertawa. Om Hamdan pun sepertinya sudah mengenal mulut ayah yang memang ramah lahir batin. 


"Serius coba! Udah pada kepikiran nasi kotak ini. Kau tak cepat selesai, kita semua tak makan-makan." Celetukan pakcik Gavin menambah geger suasana. 


Ya Allah, sudah seperti pernikahan pelawak. 


"Oke, oke, Pakcik. Aduh, maklum nih amatiran," sahut bang Bengkel kemudian. 


"Dengerin dulu, Han. Tangan kanan di ubun-ubun Ra, baca doa Allahumma inni as 'aluka khairahâ wa khairamâ jabaltahâ alaih. Wa a 'ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ jabaltahâ alaih. Terus, kau tiup ubun-ubun Ra. Abis itu, Ra cium tangan kau." Ayah menepuk pundak bang Bengkel.


Ada Bunga dan Hema juga di sini, Hema ada di sebelah bang Chandra, ia tengah menggendong Barra. Sedangkan Bunga, ia ada di sisi pakwa dengan menggendong Zee. Mereka tidak beriringan, mereka memiliki jarak sekat beberapa orang. 


Aku jadi memikirkan perasaan Hema atas pengakuan istrinya. 


"Aku gak hafal do'anya, Yah. Minta tolong pelan-pelan bimbing aku, Yah." Bang Bengkel memelas sekali. 


Ayah menghela napasnya. Ayah yang emosian, dapat menantu yang menguras emosi begini. 


"Rasanya pengen aku maki kau tiap hari, Han," gerutu ayah dengan melirik tajam ke arah bang Han. 


Aku memilih untuk tertunduk, mencoba menahan tawa dan membekap mulutku sendiri. 


"Aku udah ngaku fakir ilmu dari awal," aku bang Bengkel lirih. 


"Ya Ayah kira, kau tak sefakir ini." Ayah berada di samping bang Bengkel sekarang, aku bisa melihat pergeseran kakinya karena aku tetap menunduk. 


"Ayo mulai lagi, Yah." Suara bang Bengkel mulai serius. 


"Baca basmallah lagi." Ayah mulai memberi perintah. 


Tangan kanan bang Bengkel mulai ditempatkan di ubun-ubunku. "Bismillahirrahmanirrahim…." Bang Bengkel memulai sesuai petunjuk awal. 


Harusnya sih latihan dulu, tapi aku pikir dirinya paham. Jadi acara sepele seperti ini, tidak terjadi selucu ini. Ya sudahlah, ini akan menjadi kenang-kenangan terindah untuk pernikahan kita. 


"Allahumma inni as 'aluka…." Ayah mulai menuntut sepenggal doa. 


Bang Bengkel mengikuti bacaan yang ayah ucapkan dengan perlahan. 


"Khairahâ wa khairamâ jabaltahâ alaih." Ayah melanjutkan doa yang tengah ia bimbing. 


Seseorang yang tengah dibimbingnya pun melakukan dengan benar. 


"Wa a 'ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ jabaltahâ alaih." Ayah menyelesaikan doa yang ia tuntun. 


"Wa a 'ûdzubika min syarrihâ wa syarrimâ jabaltahâ alaih." Bang Bengkel mengulanginya dengan perlahan. 


"Tiup ubun-ubunnya. Terus, kau kasih tangan kanan kau ke Ra untuk dicium."


Bang Bengkel melakukan dengan benar, semriwing angin pelan terasa di kepalaku. Namun, kedua tangannya tiba-tiba ada pelipisku. Ia membingkai wajahku dan membawa wajahku mendongak ke arahnya, tanpa persetujuan ia melakukan improvisasi dengan sangat cepat. 


Aku melongo bodoh, kemudian menoleh ke arah ayah yang ternganga dengan mata yang membulat. Bang Bengkel menahan malu, ia berjongkok dan menutupi wajahnya. Tapi aku melihatnya tertawa lepas tadi, ia senang ribut dengan ayah sepertinya. 


"Terserah kau! Terserah kau! Cium tangan dia dulu, Ra." Ayah tetap menginginkan hal itu. 


Aku maju satu langkah, kemudian mengulurkan tangan kananku padanya. Entah kami kenapa, tapi bang Bengkel tetap berjongkok dan malah mencium tanganku seperti pangeran mencium tangan Cinderella. 


Tawa para saudara lebih lepas dan puas, ayah sampai menginjak kakinya ke bumi berulang kali dengan napas yang sudah seperti kerbau mengamuk. 


Menantunya lagi, ia malah bangun dan memelukku dengan tawa lepas. Ia seperti senang melihat mertuanya dikuasai emosi karena kekuan hati. 


"Terserah, terserah!" Ayah geleng-geleng kepala dan balik badan. 


"Iya-iya ini, Yah. Ini bener nih, Yah." Suara bang Bengkel menahan langkah kaki ayahku. 


Bang Bengkel berjabat tangan denganku, kemudian membawa tangan kanannya naik untuk aku cium. Aku pun melakukannya, membiarkan beberapa detik prosesi itu berlangsung dengan suara kamera menjepret. 


"Ayo kita serbu nasi kotak." Bang Bengkel melepaskan tangannya, kemudian mengeluarkan semengat juangnya. 


"Kau foto-foto sama Ra!" Ayah melanjutkan langkah kakinya pergi. 


Tak henti-hentinya dirinya menjadi sarangnya tawa dari para saudara. 


"Oh, ya udah deh. Ayo, Yang. Yang semangat ya, Yang?" Bang Bengkel meraih tangan kananku dan menarikku menuju ke arah pakcik Ghava yang melambaikan tangannya. 


Mulai dari foto ala pengantin, foto keluarga kecil dan keluarga besar, kemudian berakhir dengan foto kekonyolan kami. Ia ternyata cerongo sekali, tangannya sering menyentuh punggang, perut dan mengusap lengan, ia pun tidak malu berpose tengah menciumku. Bahkan, ia meminta satu foto kami mengadu bibir kami, dengan pemandangan para saudara yang tengah menyantap nasi kotak. 


"Tenang, Yang. Kita makan nasi tumpeng besar sekalian, jangan yang kotak-kotak lagi." Ia menarikku untuk duduk. 


Ia konyol dan aku happy. 


"Santai-santai aja dulu, Han. Nanti kalau udah nikmati waktu kalian, kita obrolin tentang Zee. Pihak pesantren nerima Bunga lepas lebaran nanti, jadi kita bisa obrolin tentang Zee lain hari. Kalian nikmati aja dulu waktu kebersamaan kalian." Pakwa mendekati bang Bengkel dengan menggendong Zee. 


Tadi pun kami berfoto bersama Zee. 


"Siap, Pakwa. Tapi jangan terlalu mengulur sebaiknya, Pakwa. Aku gak merasa terganggu kalau ngobrolinnya pas kondisi aku gak lagi main sama Ra, Pakwa." Bang Bengkel memberikan air mineral gelas yang sudah terpasang sedotan untukku. 


Pakwa Ken tertawa lepas, Zee sampai mendongak saja melihat kakeknya. 


"Menjelang lebaran pas tuh, Han. Karena hasil tes DNA pun keluar, jadi kita bisa langsung ngobrolin ke Hema juga." 


Bang Bengkel di tengah, posisinya diapit olehku dan pakwa. 


"Tergantung kebijakan ayah mertua aja, Pakwa. Memang sih ada benernya pas hasil tes DNA keluar, meski Bunga udah ngaku sejak awal. Tapi kalau kata ayah mertua dibicarakan lebih cepat, ya gak apa. Kalau memang baiknya dibicarakan nanti, ya gak masalah juga. Biar kita kasih waktu untuk Bunga nikmati momen dengan Zee juga kan? Sebelum benar-benar dia lepasin Zee, biar dia fokus untuk nimba ilmu." Bang Bengkel menautkan jemari tangannya ke tangan kiriku. 


Ia physical touch dan aku menyukainya. Ia romantis, mak. Hal sederhana seperti ini, untuk aku perempuan cukup menyentuh hati. 


Eh, orang yang dibicarakan langsung muncul. Ayah datang membawa bolu pernikahan berukuran sedang ke arah kami. 


"Ini, Nak. Yang ini dimakan bareng Han." Ayah memberikannya padaku. 


Tadi bolu ini dua tumpuk, yang di bawah yang berukuran besar sudah dipotong setelah dipakai foto-foto tadi dan sudah dibagikan ke para bocil. 


"Iya, Yah." Aku melepaskan tangan bang Han, kemudian aku mengambil alih bolu tersebut. 


"Eh, Han. Kau hafal doa berhubungan suami istri belum? Jangan bilang kau tak bisa?!" Ayah bertolak pinggang di depan bang Bengkel. 


Tenang, menantunya slow. Ia tidak akan marah, meski mertuanya bertolak pinggang di depannya. 


"Ya salam, begituan pun ada doanya?"


Aku langsung shock, kemudian menoleh cepat ke arahnya. Tak pakwa, tak ayah juga, ia dapat tatapan kaget dari kami semua. 


Jadi, suamiku benar-benar senol itu? 


...****************...