
"Menurut Biyung, aku baiknya di pesantren mana?" tanya Bunga kemudian.
Loh? Langsung ambil keputusan saja.
"Di pesantren salafi daerah sini aja, kan bukan untuk perbandingan pendidikan yang lebih tinggi juga, cuma untuk nuntut ilmu. Kalau kau berat, kau tak ikhlas, kedepannya bakal lebih sangat berat." Biyung tetap bisa tersenyum, meski lelah berbicara panjang lebar tapi tidak ada yang menanggapi.
"Iya, Biyung. Besok aku cari informasi bareng Ayah." Bunga menoleh ke arah ayahnya.
"Boleh, hadiri pernikahan Ra. Kau harus pikirkan tentang hak asuh Zee, kau paham Ayah kau repot sendiri."
Sebaiknya tuh biyung sudah saja jangan nyletuk tentang pakwa lagi, takut pakwa tiba-tiba mengulti biyung.
"Aku udah bilang, kalau Zee memang anak Han." Santai sekali Bunga mengatakan hal itu.
"Terus? Biyung kerepotan kalau harus satu paket sama kau, Bunga. Orang tua kau kaya, mintalah resiko hidup kau ke Ayah kau aja. Zee sih makannya paling nasi tiga sendok, sayur bayam, jadi deh kek menu makan Galen." Biyung terang sekali tidak mau direpotkannya.
"Aku jadi mikirin, Canda. Kalau Zee sama Han, siapa yang bakal urus?" Pakwa membenahi posisi Zee.
"Han nganggur kok, Galen sih ada kakeknya, ada pakwanya. Farah ya ada Ra, bisa gantian sama pak Hamdan kalau Ra masak. Pengasuh sih pasti, cuma nanti nunggu yang punya sertifikat. Farah punya riwayat kejang, tak bisa asal comot pengasuh aja, minimal harus paham tentang medis. Untuk Zee pun mungkin sama, Galen sih biarin tak usah diasuh juga bisa besar sendiri."
Aku langsung mendelik ke biyung. Eh, ia malah terkekeh. Anakku dimudahkan begitu saja, dikiranya Galen sudah baligh.
"Jadi intinya mau pakai jasa baby sitter resmi?" Pakwa bertanya ulang.
"Iya, Bang. Mas Givan udah datangi yayasan, kalau nanny sih ada, baby sitter tak ada katanya."
Biyung mulai membuatku bingung.
"Apa bedanya sih, Biyung?" Aku menoleh menunggu biyung menjelaskan.
"Kata ayah kau sih, nanny itu yang ngurus anak usia dua sampai lima tahun. Kalau baby sitter, yang ngurus anak nol bulan sampai dua tahun. Kan bersertifikat tuh, mereka punya pelatihan khusus, jadi mereka biasanya mengerti tentang pertolongan pertama pada anak dan lain-lain. Beda nih sama pengasuh bayi yang nyomot dari saudara jauh aja gitu, pengasuh bersertifikat jelas lebih terlatih. Tapi ayah kau pun masih pakai pengasuh saudara kan? Nah, dia pakai karena tau sifatnya saudara jauh yang diambil itu. Biasanya, yang pengalaman punya anak, atau pengalaman urus bayi. Cuma kan riwayat Farah sama Zee kejang, tapi tak bisa pakai saudara yang mau kerja sama kita, karena orang biasa kek kita itu panikan kalau kejang."
Sebenarnya bingung juga mendengar penjelasan biyung, tapi ya sudah saja lah.
"Anak kau langsung tiga, Ra. Apa pendapat kau?" Pakwa menyeleksiku untuk menjaga cucunya rupanya.
"Han tuh, tak minta Ra urus anak, Bang. Bilang ke aku tuh, carikan aja baby sitter tiga, untuk Galen, Farah sama Zee. Ra di rumah, untuk perhatiin anak-anak dan ngajarin anak-anak aja. Ra ditugaskan untuk ngurus dia malah, untuk urus makanan di rumah. Pas sebelum Ra pulang, dia sama Chandra masuk ke rumah Ra. Ada alarm bohlam yang konslet tuh, jadi kilometer listrik jeplak terus. Nyari sapu, tak ada. Nyari pel-pelan, tak ada. Chandra ngasih tau, Ra sih pakai robot, dia tak bersih kalau nyapu katanya. Jadi Han ketawa aja pas cerita ke aku, nyapu ngepel ada robot, cuci piring dan baju, ada mesin, lipat nyetrika pun ada mesin, Ra tiap hari ngelus-ngelus aku deh katanya."
Bisa-bisanya biyung bercerita seperti itu di depan Bunga dan pakwa? Oke, pakwa sih ikut tertawa. Tapi Bunga kan jadi melirik aku, pasti ia berpikir dirinya lebih baik dariku untuk urusan bersih-bersih rumah.
"Masalahnya apa sih, Ra? Kok tiap nyapu rumah tuh tak bersih? Pakwa pernah dengar fakta ini." Pakwa melihat ke arahku.
Kalau aku tahu alasanku pun, sudah pasti aku perbaiki diri sendiri. Sampai habis berapa banyak robot nyapu, karena dipakainya benar-benar setiap hari. Itu loh yang piringan bulat dan bisa bolak-balik sendiri di lantai, terdiri dari vacum, sikat dan entah apa. Tapi memang berfungsi untuk menyapu dan mengepel.
"Bukan tak bersih, Pakwa. Tapi terlewat tuh, kadang debunya ketinggalan di belakang. Tak paham lagi aku, mana aku emosian lagi. Diserok dari kanan, lari ke kiri, dibersihkan dari kiri, debunya ketinggalan di belakang." Atau mungkin karena aku orangnya bergerak cepat, jadi debunya seperti berterbangan karena rokku?
"Kalem dikit geraknya itu loh, Dek. Untuk suami kau tak brewokan." Biyung menepuk pundakku.
"Ya karena aku sekalian tak nyapu, Biyung. Kalau aku masih nyapu, mungkin tuh brewokan." Aku terkekeh kecil.
Ah, semoga saja suamiku tidak banyak komplain.
"HEH!"
Aku, biyung, pakwa dan Bunga langsung tersentak kaget. Zee yang baru terlelap, kini membuka matanya kembali.
"MAU BERAPA LAMA LAGI NGOBROLNYA!!!" Ayah bertolak pinggang dan berseru dari sana.
"Iya, Mas. Ra nih…." Biyung langsung buru-buru pergi.
Aku disalahkan.
Daripada dapat amarah ayah, aku pun mengambil langkah seribu untuk menuju rumahku. Aku tidak tahu ayah membawa biyung masuk ke rumah dengan cara apa, entah dicangking, atau dikempit ketiak, toh sama suaminya sendiri.
Aku harus tidur cepat, karena Galen akan bangun pukul sebelas untuk ASI. Sedangkan, paginya aku harus bersiap untuk akad jam dua siang.
Pagi-pagi sekali, bang Chandra sudah action mengambil gondolanku. Galen sudah diungsikan, dengan cukup banyak ASIP beku yang dipindahkan ke lemari pendingin rumah bang Chandra.
"Enakan belum badannya, Bang?" Aku menyapa laki-laki yang tengah duduk di meja makan rumah biyung.
"Alhamdulillah mendingan, Yang." Ia mengangguk dan tersenyum lebar.
"Ra, ke salon nanti Kaf antar. Perawatan kecil, lanjut make up." Ayah menarik satu kursi untuk tempat dudukku.
"Kenapa tak sama Biyung?" Aku menoleh ke arah biyung, yang tengah membuat teh dalam teko.
"Mau ke klinik, Dek." Biyung menjawab santai, dengan mengambil tutup teko.
"Canda! Canda!" Panggilan ayah seperti sebuah peringatan.
Ada apa? Siapa yang ke klinik?
"Ehh, anu Dek. Biyung mau ambil catering dulu, akad aja pun harus ada makan-makan kan?" Biyung tersenyum canggung.
"Loh, bukannya orang cateringnya nanti mau antar sendiri?" Bang Bengkel mengerutkan dahinya.
"Ada tambahan, Han." Ayah menghela napas.
Terlihat panik, tapi ia menekan rasa itu agar terlihat tenang.
"Tambahan apa, Om? Biar aku ganti." Bang Bengkel benar-benar memperhatikan ayah dengan seksama.
Pasti ia pun merasa ada yang aneh dari ayah.
"Biyung mau ke klinik, memang siapa yang sakit?" Aku lebih memilih bertanya pada biyung, karena kesempatan keceplosanya tinggi.
...****************...