Hope and Wish

Hope and Wish
H&W27. Mengorek kisah lalu



"Kalau bosen, ya ganti gaya, Yang. Kalau gak enak, ya ganti posisi, Yang." 


Jawabannya membuatku shock. 


"Mungkin namanya juga laki-laki ya, seribu perempuan dikawini juga kayaknya kurang aja? Tapi sejak kena tipu itu, gak pernah ngajakin Harum ngamer lagi sampai akhirnya nikah. Gak jajan juga, karena udah langsung taubat. Udah belajar sholat lagi, udah hafalin qunut lagi. Paling Harumnya yang sekilas nyium aku, dianya gak aku apa-apakan," tambahnya yang membuatku semakin bingung. 


"Terus nanti gimana sama aku?" Aku langsung manyun sedih. 


Kalau dia kumat, bagaimana? 


"Udah taubat sejak kena tipu sama Bunga itu, Yang. Ya gak tau gimana nantinya, orang memang begini kok orangnya. Makanya ikat aku kuat-kuat, gak minta, ya tawarin." Ia menaikturunkan alisnya terlihat mesum. 


"Awal bisa begituan sama Bunga itu gimana? Jalan dulu kah, atau buat dia mabuk dulu kah?" Aku penasaran dengan kejadian awal, hingga berbuah Zee. 


"Langsung turunin celananya, langsung masukin."


Ehh? Bagaimana? Apa katanya? 


"Melongo aja, Yang? Bener kok begitu. Kenapa sih nanya-nanya, Yang?" Ia bersandar dan terlihat sibuk dengan ponselnya. 


Eh, bagaimana ya rasanya jadi perempuan yang diperlakukan seperti itu? Entah jika dengan suami, ini dengan laki-laki asing yang bahkan tidak memiliki hubungan apapun dengan kita. 


"Apa dia tak kesakitan? Atau memang mintanya?" Aku pikir itu sebuah fantasi. 


"Gosok dulu bentar, Yang. Kelihatannya sih, gak. Soalnya langsung basah, berasa licin. Kalau gak salah ingat, dia masuk ke ruangan Abang. Terus entah bahas apa, akhirnya Abang tarik paksa celananya karena tanggung."


Ia semengerikan itu ternyata. 


"Nanti sama aku gitu tak?" Aku menyatukan alisku, aku sudah khawatir sendiri nanti bagaimana kedepannya. 


"Kemarin di kamar bengkel, gak kan? Padahal ada kesempatan, Farah masih kecil. Bisa diletakkan di kasur, tapi Abang gak lakuin. Tergantung respon perempuannya juga sebenarnya, Yang. Kalau dia teriak, nolak, berontak, pasti dilepas. Tapi waktu itu Bunga gak kok, dia berontak sedikit dan malah bekap mulutnya sendiri biar dia gak teriak."


Apa perempuan sudah di fase gatal akan seperti itu? Tapi segatalnya aku, aku bisa meminta menikah dulu meski siri. 


"Abang udah cek kesehatan?" Aku teringat Bunga dulu yang pernah menikah siri, sebelum dirinya menikah dengan Hema. 


"Udah, Yang. Bersih semua kok, Yang. Udah ditanya ayah Givan juga tentang judi dulu ikut judi apa, ditanya juga tempat tongkrongannya."


Ayah sampai segitunya? 


"Judi kartu aja, main iseng aja sama temen. Tempat nongkrong langganan ya di tempat billiard, Abang udah sebut nama tempatnya juga. Mungkin ayah Givan pengen cari tau langsung ke tempatnya, entah gimana juga. Tapi Abang bilang, keluar nongkrong di billiard itu terakhir sama ayah dan dicekoki ayah. Terakhir main di klub juga sama ayah juga. Setelah taubat, fokus ke usaha aja sama hafalan ini itu." Ia mengedikan bahunya. 


Om Hamdan mencekoki anaknya? Kok tidak habis pikir ya? 


"Ayah tanya apalagi, Bang?" Aku masih mencoba mencari jawaban sendiri dari pertanyaan yang tidak aku lontarkan pada dirinya. 


"Bawa ngobrol ke psikolog, ayah Givan terus terang punya kekhawatiran tentang orientasi s**s Abang." Ia menaruh ponselnya di atas meja. 


Siapa sih yang tengah coba ia hubungi? 


"Gimana maksudnya? Suka laki-laki kah, begitu?" Aku menyipitkan mataku. 


"Mungkin, takut anaknya dapat perlakuan s**su** yang gak normal. Tapi hasilnya oke semua, laki-laki normal kok. Ditanya sampai mendetail banget, gimana caranya pemanasan dan ditanya tentang pengetahuan Abang tentang titik sensitif perempuan. Jujur aja Abang sih, Yang. Abang belajar banyak dari Bunga, karena dia selalu bilang kalau dia enak diginikan, enak digitukan, jadi tuh tau. Karena selama dengan Harum, begituan ya begituan aja. Selagi Abang ngerasa enak, ya terus aja Abang lakuin tanpa tau apa yang dia rasakan. Tapi makin dewasa usia Abang, mulai pahami Harum. Setidaknya, dia harus keluar dulu sebelum Abang keluar. Kalau Bunga, dia rugi kalau cuma keluar sekali. Dia bakal marah atau ngambek, kalau Abang gak bisa antarkan dia  berulang kali keluar."


Memang perempuan bisa keluar berulang kali? Aku kok bisa sekali saja? Itu pun, aku sampai memberitahu Syuhada bahwa diserang titik ini dan itu membuatku terbang. Syuhada kan awam, ia lepas perjaka denganku. Ia pun tidak punya basic hal itu juga, ia hanya tau s**s ya keluar masuk saja. 


"Terus, perasaannya gimana kalau Bunga ngambek?" Kak Harum sepertinya dapat perjakanya bang Bengkel, karena ia mengatakan hanya tau s**s ya asal dirinya enak saja. 


"Gondok sendiri sebenarnya, s**s itu capek loh. Sehari sama dia, dia bisa minta nambah. Dia bilang tau beres juga, kan tetap berasa capeknya."


Perempuan meminta s**s berulang kali sehari? Bahkan pernah diberi ilmu dari pendidikanku itu, tentang seorang perempuan yang sudah mencapai kl*****nya, milik laki-laki harus dikeluarkan lebih dulu, karena akan menyakiti perempuan. Perempuan pun tidak bisa langsung dipakai, karena b***** perempuan adalah laki-lakinya. Maksudnya, harus dirang**** lebih dulu oleh laki-lakinya, karena bisa menyakiti perempuannya jika tanpa pemanasan. 


"Kalau aku ketagihan, gimana?" Aku tertawa sendiri atas pertanyaanku, ia pun ikut tertawa. 


"Ya sanggup lah kalau untuk istri sendiri sih, dia kan terkesan butuh untuk s**s aja. Istri Abang nanti, setidaknya kan dia kasih Abang minum kan? Udah lelah menggarap, bangun tidurnya dikasih makan kan? Gak ngedadak order, apalagi order sendiri kan? Adek bisa kan ngurus suami, ngelayani suami?"


Giliran aku yang dicecar pertanyaan random. 


"Kebiasaan aku…. Aku terbiasa nyimpan air di botol beling di kamar, kadang aku kasih kurma kalau lagi punya. Aku udah terbiasa bangun tidur pagi, wajib minum air dua ratus mili, terus makan setelah empat puluh menit. Empat puluh menit itu, biasa aku gunakan untuk olah bumbu dan masak nasi, giling baju, cuci alas kaki, terus buat lauk untuk sarapan. Makan siang dan makan malam beda lauk, order makanan itu di jam tanggung dan kalau masih melek di waktunya tidur, ya order makanan untuk nemenin melek. Dulu sih terbiasa puasa Senin Kamis, tapi sejak punya suami tuh tak bisa. Biasanya aku gangguin suami menjelang sholat Jum'at, jadi dia mandi wajib sebelum berangkat sholat Jum'at. Disunnahkan seperti itu, itu yang dimaksud malam Jum'atan itu tuh ya sekiranya suami mandi wajib sebelum sholat Jum'at. Ngurus yang kek gimana yang Abang mau? Ngelayani yang kek gimana yang Abang mau?" Aku menerapkan ilmu yang aku punya di kehidupanku sendiri. 


Ia berkedip beberapa kali. Kemudian, ia mengacungkan kedua ibu jarinya. "Abang gak salah pilih kok." Ia tersenyum lebar. 


Apa ekspektasi laki-laki itu tinggi? Aku jarang berbenah di rumah, aku malas menyetrika, banyak peralatan di rumah yang menggunakan mesin. Apa seperti caraku itu, cukup untuk mengurus suami? 


...****************...