
"Nen…." Galen menepuk-nepuk dadaku.
"Yang…. Udah adem belum hatinya? Minta maaf, Yang." Ia berada di ujung kakiku yang tengah selonjoran, sedangkan Galen naik ke pangkuanku.
Aku masih diam, aku fokus pada Galen yang ingin menyusu padaku.
"Yang, maafin Abang." Ia merunduk penuh, sampai bibirnya menyentuh jemari kakiku.
Ia terlalu berlebihan, aku segera menarik kakiku. Namun, ia menahannya.
"Abang minta maaf, Yang. Tolong maafin Abang." Ia mencium kakiku lagi.
"Drama betul! Tak usah minta maaf, pasti aku datangi kalau Abang berani tegas!" Aku menggerakkan kakiku, sehingga terlepas dari wajahnya.
"Ya salam, dibilang drama. Abang ngumpulin nyali untuk bisa datang ke Adek secara pribadi begini, Abang ngerasa bersalah dan Abang mau perbaiki semuanya. Maaf respon Abang kemarin, bukan maksud hati untuk balik marah ke Adek. Apa ya, respon mendadak aja gitu loh." Ia memijat-mijat telapak kakiku.
Masa iya mendatangiku istrinya sendiri harus pakai nyali? Apa karena ia merasa bersalah, jadi ia takut dahulu untuk mendatangiku.
"Berani tegas tak?!" Aku tak ingin banyak basa-basi.
Ia menunduk, kemudian mengangguk.
Ya Allah, ia seperti bocah sekali. Apa karakter kami tertukar?
"Mau ambil opsi apa?!" tanyaku dengan memperhatikannya.
"Adek maunya apa, Abang ikut aja."
Aih, ada lagi yang begini?
Tok, tok, tok….
"Assalamualaikum, Ayah. Zee nyariin, Ayah ditelpon tak diangkat-angkat."
B***nya sih ini.
"Mana HP kau?! Aku pastiin kau mati hari ini!" Aku menengadahkan tanganku ke arahnya.
Ia memberikan ponselnya dari saku baju kokonya.
"Awas kau!" Aku langsung bangkit dengan mengantongi ponselnya dan menggendong Galen.
Pintu rumahku langsung aku buka lebar-lebar, hingga adzan Maghrib terdengar lepas bertepatan dengan nampaknya Bunga di depan pintu rumahku tanpa memakai hijabnya.
"Tadi lihat Ayah lewat, Zee nunjuk-nunjuk Ayah aja." Bunga fokus memandang anaknya, dengan menggerakkan tangan kiri anaknya.
Ia tidak tahu jika aku yang membuka pintu adalah aku. Sepertinya ia tidak tahu, jika aku sudah pulang. Apa begini kelakuannya selama aku di klinik.
"Kebetulan kau ke sini, silahkan masuk. Aku mau ngomong penting sama kau!"
Bunga langsung mundur satu langkah. Mulutnya terbuka dan matanya mekar seketika, kemudian ia segera menutup mulutnya dengan tangannya.
"Kau udah pulang, Ra?" Ia gelagapan seperti berbicara di dalam air.
"Kenapa?! Kau ngerasa tak bebas sekarang?! Masuk kau, cepat!" Aku menunjuk area dalam ruang tamuku dengan daguku.
Suara film berhenti, sepertinya bang Bengkel menjeda filmku. Aku hanya fokus pada Bunga, sampai ia duduk di karpet ruang tamu di dekat bang Bengkel. Mejanya sengaja aku amankan, agar aku nyaman menonton film.
"Aku tak mau banyak bicara, karena aku tak betah ada kau di rumah aku. Langsung aja, aku sama SUAMIKU minta Zee dalam asuhan kami." Biarkan ia mendengar jelas jika laki-laki masa lalunya ini adalah suamiku sekarang.
"Ya kan, waktu itu kita rembukan. Kenapa sih, kok kau tiba-tiba minta Zee? Zee lagi sakit, kau pasti tak telaten urus dia."
Bener kan, ia langsung 'ya kan' saja?
"Jadi bisa dong tak buat suami aku repot, kan kau tau kita tak telaten?" Aku menyentuh lutut suamiku, aku harap ia mengerti bahwa aku ingin ia diam dulu.
"Maksudnya, kau yang tak telaten urus anak. Galen aja di bang Chandra terus kok." Wajahnya menyebalkan sekali.
"Kan aku sakit, sedangkan suami aku kau kuasain. Tak ngotak ya kau?!" Suaraku meninggi dan aku menunjuk wajahnya.
Ia langsung menundukkan kepalanya.
"Ya udah aku bilang ke ayah dulu."
Aku tahu ia ingin kabur.
"Hei, ayah kau terserah kau. Karena kau terlalu banyak alasan, ayah kau jadi banyak alasan juga menyampaikannya." Tanganku gemas ingin merusak wajahnya.
"Kan ini tentang cucunya, Ra. Kau kenapa sih ngotot betul?!" Ia bangkit dengan masih menggendong Zee.
"Aku risih sama kau! Kalau kau tak ngerecokin bang Chandra, kau malah ngerecokin suami orang!" Mungkin aku terlalu frontal, tapi harusnya dia sadar jika aku mengamati sepak terjangnya.
"Yang…." Bang Bengkel merangkulku dan mengusap-usap bahuku.
"Kau ributnya sama suami, aku yang jadi sasaran." Ia berjalan ke arah pintu.
Ia tidak akan bisa membuka pintu yang terkunci otomatis itu.
"Aku baik-baik aja sama suami." Pernyataanku membuatnya menoleh cepat ke arahku. "Tapi kau harus tau, kalau Zee baiknya cepat kau kasihkan ke kami, sebelum akhirnya Ayahnya mutusin untuk lepasin asuhan Zee sama kau dalam segala KEREPOTANNYA," lanjutku kemudian.
"Maksud kau gimana? Kau bawa pengaruh buruk untuk suami kau ya, Ra?" Ia tersenyum kecut.
"Bang, bukain pintunya," pintanya cepat.
Aku menoleh ke samping kanan, di mana suamiku berada. Ia malah menggeleng cepat, untuk permintaan dari Bunga itu.
Pasti ia takut padaku, ia tidak mau aku sudutkan dan aku salahkan untuk melakukan tindakan kecil itu.
"Ya kau kan kekeh untuk urus Zee sendiri, ya urus aja anak kau sendiri. Dia bukan nasab suami aku, suami aku tak punya kewajiban apa-apa. Anak biologis dalam hukum kan cuma dapat hak materi aja, apalagi tanpa perkawinan. Jadi harusnya materi aja cukup, Bunga. Kau pasti paham, tapi kau lebih milih untuk sampaikan ke ayah kau dulu kan?" Aku bangkit dan bergerak untuk membukakan pintu. "Hal-hal kek gini, pasti disampaikan ke ayah kau. Tapi kalau kau diberi amanat, pasti tak akan pernah kau sampaikan. Malah kau yang dadakan ambil alasan sakit, biar bisa nahan suami orang." Aku bisa melihat reaksi wajah kagetnya dari dekat.
"Amanat apa?! Kau kerjaannya nuduh-nuduh aja, Ra." Ia nampak kaget saat aku menyampaikan hal itu.
"Ayah udah tau semuanya, Bunga. Hati-hati hidup di tengah-tengah orang yang kau khianati, kapan aja kau bisa masuk, tapi belum tentu bisa keluar dengan selamat." Aku membukakan pintu untuknya lebar sekali.
Seperti sekarang. Ia enak datang mengetuk rumahku, beranggapan bahwa suamiku seorang diri di rumah. Lalu ia aku persilahkan masuk, tapi ia membutuhkan tuan rumah juga untuk membukakan pintu kembali.
Ia langsung pergi tanpa sepatah katapun. Aku tidak tahu perasaan orang seperti Bunga, ia tahu malu tidak sih?
Dengan amanat yang sengaja tak ia sampaikan itu, ia masih berani tinggal di lingkungan ayah tanpa rasa sungkan sedikitpun. Jika orang yang memiliki pikiran normal, pasti ia tidak seberani ini. Orang yang punya hutang saja, malah menjauhi orang yang dihitanginnya kok. Apalagi kasusnya tidak menyampaikan amanat seperti Bunga. Aku jadi teringat ucapan Hema, Hema yang kemungkinan ODGJ, tapi Bunga yang sudah pasti ODGJnya'.
"Yang, sok tanya apapun. Sok cek semuanya. Abang gak akan ngelak, Abang gak akan mangkir, Abang gak akan marah balik lagi. Tapi jangan usir Abang, jangan ngomong kasar ke Abang lagi, Yang. Abang inget aja sampai sekarang." Kelopak matanya terlihat menonjol, ia seperti menahan takut dan tangisnya.
Dia pikir aku sekasar apa?
...****************...