Hope and Wish

Hope and Wish
H&W34. Kabar di tengah-tengah keluarga



"Alhamdulillah, serius akad besok?"


"Di KUA atau di rumah?"


"Langsung resepsi atau nanti?"


"Kok mendadak lagi aja kek Bang Chandra, bingung nyiapin hadiahnya."


"Kok sedih aku, kasian Kakak dapat duda."


"Dudanya ganteng."


"Kau tak salah pilih, Han. Tapi semoga aja, kau tak salah kasih."


Tanya jawab dan gelak tawa bersahutan, kami berbaur dengan obrolan setelah acara tahlil selesai. Anak-anak dibiarkan terlepas bermain berlarian, tapi kami para orang dewasa lebih dulu mengamankan bekas bungkus makanan para tamu dan kami juga mengamankan barang pecah belah di tengah-tengah anak-anak yang berlarian dengan bahagia. 


Laki-lakiku itu pandai berbaur dengan keluarga besarku, dengan cepat pun ia menghafal susunan keluargaku. Ia bahkan bertanya terang-terangan tentang caranya memanggil anggota keluarga yang lain, bahkan ia bertanya secara rinci tentang susunan keluarga dari yang tertua sampai yang termuda. 


Tapi yang paling mengocok perut adalah, ayah dan anak menjadi menantu ayahku semua. Mereka tak menyangka, jika suami kak Jasmine itu ayahnya bang Bengkel. Mereka mengira, itu adalah pamannya bang Bengkel atau kakaknya. 


Perbedaan umur bang Bengkel dan ayahnya itu sekitar dua puluh tahun, ditambah lagi ayahnya masih terlihat sehat, bugar dan produktif. Ia tidak terlihat begitu tua, ditambah lagi caranya berpakaian bisa memantaskan diri dengan kak Jasmine. 


Kan ada juga orang tua yang sudah merasa tua, dirinya akan terus memakai baju koko, atau baju batik setiap hari. Tapi tidak dengan om Hamdan dan keluargaku yang lain yang sudah berumur, mereka bisa memantaskan pakaian mereka tergantung kebutuhan. 


"Jadi tidur di mana kamu, Han?" Om Hamdan sejak tadi menimang cucunya, ia terlihat sekali sayang dengan Farah. 


Masalahnya Varro sudah terbiasa dengan ma Nilam, ia terlihat akrab dengan om Hamdan, tapi tidak pernah mau diajak dengannya. Aku yakin bukan karena om Hamdan tidak mencoba menjalin kedekatan dengan Varro, tapi karena Varro anaknya sedikit sulit untuk dekat dengan orang baru. 


Tapi Galen? 


Ya, seperti kelihatannya. Ia sudah mabuk di dekapan calon ayahnya. Ia tiarap berkelana ke sana ke mari, ke orang-orang yang biasanya memang dekat dengannya. Seperti ayah dan bang Chandra, meski pada akhirnya ia lelah dan merengek menuju ke bang Bengkel. 


"Di rumah aja, sampai seminggu setelah nikah. Gue punya aturan begitu, biar diperhatikan gerak-geriknya dulu." Ayah memutar bola matanya sok sombong. 


Kami tertawa semua karena tingkah ayah. 


Bang Bengkel langsung menoleh ke arahku, entah apa yang ia pikirkan. Mungkin ia sedikit khawatir dengan malam unboxing kami, entah pemikiran lain yang ada di otaknya. 


"Masih demam?" Aku menempelkan punggung tanganku ke dahinya. 


Terasa hangat. 


"Demam ringan aja, Yang. Bekas vaksinnya itu senut-senut, selebihnya aman." Ia tersenyum samar. 


"Model Ra perempuannya, ya kita semua ngontrak. Yuk pulang yuk, Ma." Kaf pura-pura bubar barisan. 


"Nikah juga lah nanti. Tak pernah nampak bawa perempuan, tak pernah dengar kabar kau punya pacar. Aku curiga keminatan kau." Aku melempar bekas kulit kecang ke arahnya. 


"Hmm, taruh satu perempuan di kamarku. Kubuat hamil langsung, Ra," sahutnya sinis, yang mendapat tawa renyah semua keluarga. 


"Fokus spesialis dulu ya, Kaf?" Pakwa buka suara. 


Sejak tadi pun ada Bunga, ia ada di sisi bang Chandra sejak tadi. Ia mengobrol dengan bang Chandra dengan volume suara rendah, ia seperti tidak peduli dengan pengumuman yang ayah buka. 


"Siap, Pakwa. Cani juga masih sekolah ya, Dek?" Ia menaikan alisnya dan tersenyum lebar pada adik perempuanku. 


"HEH!" Segitu tengah fokus mengobrol, bang Chandra langsung kalap dengan gurauan Kaf. 


"Kenapa, Bang? Boleh kali sama sepupu tuh, sah-sah aja." Kaf cengengesan tanpa dosa. 


"Aku tau belangnya kau!" Bang Chandra mirip seperti ayah, mudah sekali meninggikan suaranya. 


"Wah, Bang Han ada belang di sini." Kaf menunjuk paha bagian dalamnya. "Ra mau-mau aja tuh."


Belang apa maksudnya? 


"Ih, ngeri sih. Kau kok tau?" Aku melirik Kaf dengan Heran. 


"Aku dulu dokternya!" aku Kaf murka, dengan meraup wajahku. "Pikiran kau ke mana-mana!" lanjutnya sewot. 


Semua orang terkekeh, tapi bang Bengkel panik dan membenahi hijabku yang sedikit mleyot. Mungkin ia takut Kaf menarik hijabku kali, padahal ya tak akan mungkin. 


Loh, bisa-bisanya Galen malah sewot. Hingga akhirnya, ia menangis karena bang Bengkel menyentuh hijabku tadi. 


"Ini sih harus diungsikan nih, cucu Kakek nih." Ayah mengangkat Galen yang menangis dan menolak ditolong olehku da bang Bengkel. 


Belum juga ibunya hamil lagi, sudah drama saja. Ia memiliki titik posesif yang tinggi, sepertiku pada beberapa barang favoritku. Mungkin sekarang bang Bengkel menjadi favoritnya, yang tidak diperbolehkan disentuh dan menyentuh orang lain. 


"Pulang yuk, Yang? Badan pada sakit, efek vaksin kayaknya." Bang Bengkel meregangkan otot lehernya. 


"Ayo, ayo." Aku bangkit, aku mengerti ia harus beristirahat agar besok bisa fit. 


"Ayo, Biyung." Aku mengajak ibuku. 


"Duluan aja, Dek. Ajak ayah aja tuh, punggungnya kelihatan dari jendela." Biyung menunjukkan arah luar dengan dagunya. 


Ia tengah heboh dengan ipar-iparnya, tapi ipar yang laki-laki. Ipar perempuannya kebanyakan tengah menggiring anak-anak mereka, karena hari sudah semakin malam. 


"Ayo, Dek. Aku akan melindungimu dari Kafir." Aku menunjukkan mataku dan kemudian mata Kaf dengan dua jariku. 


Kaf mendelik kaget. "Abang calon dokter spesialis loh, Dek. Masa iya tak mau sama Abang, Adek Cani cantik?" Kaf mengulurkan tangannya pada Cani. 


Semua orang tertawa geli, apalagi Cani malah kalap dengan tingkah Kaf. Aku tahu dan semua orang tahu bahwa Kaf hanya bercanda, tapi adik perempuan yang sangat diproteksi oleh ayah ini memang dibatasi berbaur dengan sepupu laki-laki karena kekhawatiran ayah. Jadi, mungkin Cani sedikit panik dengan gurauan Kaf. 


"Farah nanti sama Ayah aja, Han. Minum obatnya, istirahat yang cukup," seru om Hamdan kala ketiga punggung kami sudah membelah orang-orang di sini. 


"Ada belum obatnya, Han?" Perhatian pakwa untuk bang Han membuatku takut.


Aku takut hal itu membuat bang Bengkel tidak enak, kemudian setuju untuk melanjutkan kisah dengan Bunga. Konyol sekali pikiranku, tapi itulah ketakutanku. 


"Udah ada, Pakwa. Udah dikasih sama Biyung." Bang Han tersenyum dan melemparkan pandangan ke arah biyung. 


Bang Bengkel sudah belajar panggilan ke saudara. 


"Canda, kau kasih Han obat apa?" tanya pakwa kemudian. 


"Panadol biru, Bang. Dikiranya aku kasih Promag?" Jawaban biyung membuat tawanya lepas. 


"Kau kan polos kali, Cendol. Kan kami juga khawatir kau kasih Bodrex flu dan batuk," celetuk papa Ghifar, yang membuat biyung lebih ditertawakan. 


Ampun, tidak ada batasan di sini. 


"Yang, beneran biyung dipanggil cendol?" bisik bang Han, setelah kami melanjutkan langkah kaki kami. 


Tanganku digandeng Cani, adikku ini seperti selalu tidak nyaman berada di keramaian keluarga. Ia lebih nyaman berada di ketiak ayahnya. 


"Ya biasanya gitu kalau tak ada ayah, kalau ada ayah ya kakak ipar pastinya, Bang." Aku melirik ke arah ayah yang ternyata masih berada di teras rumah. 


"Yah, aku boleh minta izin tak?" tanya Cani lembut, ia pindah untuk menggandeng ayah. 


Galen melihat ke arah kami. Aku beraksi untuk menggandeng lengan bang Bengkel, anak laki-laki itu benar-benar langsung menangis kembali. 


Waduh, gawat nih. Alamat tidak bisa tidur bersama. 


Galen, Galen. 


...****************...