
"Karena ayahnya itu ngomong, kalau mau lanjut ya perbaiki sikap kau dulu. Kalau udah berhenti di sini, ya jangan diperpanjang masalahnya, langsung kembalikan dan kasih alasan. Satu yang jadi pertimbangan besar untuk Han itu, dia takut anak-anaknya tersakiti oleh istri sambungnya. Sampai dia ngomong ke Kakak gini, tak apa ya bu maaf repotin kalau Farah sama Zee harus ibu awasin. Lah? Gimana ya kan? Masih bayi begini, oke terawasi. Bisa jalan aja, apa tak ikut kalap Kakak ngawasinnya? Ya oke ada pengasuh, tapi mesti aja ada gantiannya untuk mandi, sholat, makan. Anak Kakak aja, diawasi mak Nilam meski pakai pengasuh juga. Terbiasa ngurusin anak tak, tiba-tiba suruh ngawasin cucu langsung dua. Kakak tak keberatan kalau gantian, tapi dengan Farah dan Zee tanpa ibu begini, terkesan Kakak malah jadi ibu pengganti untuk mereka. Misal kau masih jadi ibu mereka, serumah nih kita. Kau bilang, Kak jagain ya, aku pengen BAB. Nah, begitu tak masalah. Nah ini, sehari semalam sama Kakak, ya Kakak jadi merasa punya tanggung jawab baru untuk mereka berdua. Pasti berefek untuk Kakak dan rumah tangga Kakak, Ra. Pas pagi Han pergi, Kakak langsung ngomong ke ayahnya. Kakak bilang, bang aku keberatan kalau harus Han kembali ke orang tua dengan dua anak tanpa ibu begini. Kata ayahnya Han, iya paham, nanti dinasehatin lagi, dia lagi goyah, biarin tenang dulu. Ya oke, Kakak coba ngerti keadaan karena orang tua manapun, termasuk Kakak nih yang mendadak punya mantu dan cucu, tak mau rumah tangga anak ketemu gede begini hancur tuh. Karena imbasnya besar, Ra. Bisa karena Han recokin ayahnya terus, jadi Kakak terkesampingkan. Bisa jadi Kakak diberi tanggung jawab untuk awasin cucu, jadi performa Kakak kurang untuk ngurusin anak dan suami, apalagi ngurus diri sendiri. Terus lagi, Kakak kan bilang gini. Han, nanti kau tambah pengasuh kah? Dia jawab, jangan dulu bu, keknya ayah dan pengasuh Farah bisa handle Zee juga. Kakak pengen betul ngomong begini…. Handaru, anak tiriku. Ayahmu itu tulang punggungku, ayah dari anak-anakku, suamiku, bagaimana caranya dia bekerja menggantikan posisiku di kantor kalau dia ngurusin anak kau?" Kak Jasmine menepuk-nepuk dahinya. "Dia itu terlalu merumitkan keadaan, Ra. Udah ada rencana dia juga, baru mau ambil pengasuh satu lagi kalau akhirnya cerai sama kau. Lah, cerai tak cerai kan dia gambar-gambor ke ayahnya dan ke Kakak kalau dia tak mau anak-anaknya kau awasin."
Melihat kekesalan kak Jasmine, aku malah terkekeh geli. Bukan aku bahagia melihat kekesalannya, tapi aku menertawakan suamiku yang merecoki orang tuanya sendiri, sampai ibu sambungnya keberatan begini.
Ia punya istri dan ia ingin merepotkan orang tuanya. Itu hal bagus, ia dicela terus oleh ibu sambungnya dan aku tetap bebas tanpa beban. Ingin aku menangis juga karena ia membuatku tersinggung kembali, tapi bukannya ia sendiri yang ingin merepotkan orang tuanya?
"Daripada kau tetap jadi istrinya, pengasuh tetap satu. Mending kau dudakan dia, pengasuh nambah dan beban Kakak sedikit berkurang. Kalau memang takut, hatinya goyah karena tau sifat asli kau, ya udah aja ya kata Kakak sih? Daripada perpanjang masalah, kami juga yang repot. Nah dia enak terbang ke kota besar bawa burungnya, anak-anaknya malah ditinggal di sini." Kaka Jasmine geleng-geleng kepala dan menempatkan jarinya menyangga dahinya.
"Kakak berani tak bilang ke suami Kakak?" Aku menahan tawa ringan.
"Udah lah, dia malah nyengir aja. Nanti mau ngomong lagi ke Han kalau udah tenang katanya, ribut terus juga capek masalahnya itu-itu aja. Kasih saran udah, ditemenin udah, muter-muter di masalah ini aja. Kalau orang tua yang ngelayangin surat cerai, kan dosa juga kita?" Kak Jasmine mengusap-usap perutnya.
"Coba kau cari jalan tengahnya, Ra. Atau kalau tak, kasih konflik lagi biar rumah tangga kalian pecah sekalian." Kak Jasmine menyandarkan punggungnya.
"Iya, Kak. Aku pun pengen cepet ketemu jalan tengahnya, sesak betul ulu hati." Aku menarik napasku.
"Udah ya gitu aja, dua gadis itu lagi melek. Sedangkan, kakeknya mau berangkat keluar sebentar." Kak Jasmine bangkit dari duduknya.
"Nanti kalau ayah Hamdan ada di rumah dan tak sibuk, aku mau main, Kak." Aku ingin mendengar sudut pandangnya juga.
"Malam tuh, Dek. Soalnya besok mau ke Singapore. Karena kondisi dua cucu begini, jadi ke Singaporenya sendirian dia. Coba tebak siapa yang jaga dua gadis itu?" Kak Jasmine menjeda ucapannya dengan wajah kesal. "Neneknya ini lah." Kak Jasmine tersenyum sumringah dengan menaruh dua telapak tangannya di dagunya.
Aku tertawa geli, sayangnya senyumnya lenyap.
"Puas kau merepotkan mertua kau ini, hah?!" Ia melirikku tajam dan mencoba membuka gagang pintu rumahku.
"Itu keputusan dia, Kak. Dia takut anaknya sama aku, aku disuruh istirahat dan nenangin diri aja katanya. Suruh tenang, meski dia kasih kalung couple ke Bunga." Ia tersenyum kecut, dengan bangkit dan mencoba membantu kak Jasmine.
"Hah? Masa? Kalau masalah kalung, Kakak kurang tau. Masalah pemberian begitu, dia semalam tak ada ngomong tuh. Coba tanyakan pasti, jangan dulu termakan katanya." Kak Jasmine urung melangkah keluar, meski aku sudah membukakan pintu rumahku.
"Bukan katanya, Bunga buat status katanya dari ayahnya Zee. Ayahnya Zee itu bang Bengkel, yang dipanggil papah itu Hema." Penjelasanku membuat kak Jasmine manggut-manggut.
"Kakak lihat status itu, kirain dari Hema. Soalnya bilangnya kenang-kenangan, kan kenangan-kenangan karena mereka mau pisah dan Hema di penjara juga." Kak Jasmine sudah melangkah keluar rumah.
"Nanti aku coba tanyakan." Aku mengulas senyum.
"Oke, Kakak yakin kau kuat. Kakak pulang dulu." Kak Jasmine berjalan menuju pintu samping.
"Ma, sibuk tak?" Aku menghampiri mama Aca yang tengah diganduli suaminya di ruang laundry.
Papa Ghifar mengganggu pemandangan mataku saja. Kenapa ia mengganduli leher istrinya, seperti anak monyet yang dibawa pindah pohon oleh induknya?
"Tak, Dek. Ini lagi dengerin Papa kau ngerengek minta motor." Mama Aca melirikku dan terkekeh kecil.
"Papa Sayang, aku minta maaf udah rusak kendaraan Papa." Aku langsung memeluknya.
"Dek, Mama mau jatuh ini. Berat kau!" Mama Aca memberontak.
Jika aku memeluk papa Ghifar, tentu saja beban bertumpu pada mama Aca yang menjadi tumpuan papa Ghifar.
"Udah minta maaf sama Han dan Zee?" Papa Ghifar melepaskan istrinya, kemudian mencium pipiku sekilas.
Ia seorang papa yang manis dan lembut.
"Kenapa gitu?" Aku memicingkan mataku.
"Dih, kenapa? Kau celakai dia, kenapa tak minta maaf? Jangankan masalah nyawa, masalah kendaraan rusak aja kalau orangnya bukan Papa ya dongkol juga. Klaim asuransinya susah, apalagi karena kesengajaan begini. Pajero loh, Dek. Awokawok…." Papa Ghifar menutupi wajahnya.
"Maaf ya, Pa?" Aku memeluk beliau kembali.
"Oke, biar asuransi yang mikirin mobil. Tapi masalah nyawa, pasti Han trauma. Papa pernah dipukul pakai gagang sapu aluminium sampai patah itu gagang sapunya, sampai sekarang Papa ngeri lihat gagang sapu aluminium. Rumah mewah, untungnya pakai vacum sama robot sapu." Papa Ghifar merangkulku, kemudian mengajakku duduk di kursi halaman belakang.
Ruang laundrynya menghubungkan ke halaman belakang.
"Jadi, aku harus gimana?" Aku baru terpikirkan.
"Gini deh…. Chat aja kalau tak berani nelpon. Nanti biasanya laki-laki langsung telpon kok misalnya itu adalah sinyal untuk berbaikan. Kan katanya Han lagi ke Jakarta kan?" Papa Ghifar memberikan perhatian penuh padaku.
"Aku tau Han tak bersalah dengan kejadian itu, tapi bukannya menghindar agar tidak dipeluk perempuan lain itu bisa, Pa? Kan Bunga lebih dulu masuk ke dalam mobil, pakai sabuk, barulah bang Bengkel masuk. Kalau dia tak setuju Bunga nebeng, kan dia urung untuk masuk ke dalam mobil." Ini yang selalu berkecamuk di pikiranku, hingga aku berat untuk meminta maaf pada suamiku.
"Hmmm…." Papa Ghifar mengusap-usap dagunya.
...****************...