Hope and Wish

Hope and Wish
H&W50. Dikecewakan keputusan



"Bukan melarang, Han. Satu atau dua bulan, mungkin oke tak masalah. Tapi kan kau tau persyaratan Ayah di awal, kau pun tau kan alasan terbesarnya kenapa Ayah ingin kumpul. Terus juga, ini terlalu beresiko. Karena kenapa? Karena anak-anak kau belum ada pengasuh. Cukup biyung yang pernah bau badan karena keteteran anak dan pekerjaan rumah, Han. Masalah sepele istri keteteran itu, imbasnya ke mana-mana. Bukan hanya di penampilan, tapi performa di ranjang. Karena dia udah lelah urus segalanya, dia tak fokus urus kita. Pengasuh itu untuk meringankan, biar anak tetap terjaga dan ayahnya tetap terurus istrinya. Kalau gaji kau UMR, mungkin Ayah bakal memaklumi keadaannya. Tapi kau mampu dan Ayah sarankan yang terbaik, karena Ayah pernah memberatkan istri dan hal itu jadi masalah yang besar."


Apapun yang ayah sarankan, itu seperti dari pengalaman hidupnya. Ia memberikan saran yang terbaik, agar kami para anak mantu tidak merasakan imbas buruknya. 


"Ya mungkin satu atau dua bulan itu, Yah." Bang Bengkel seperti memiliki keinginan keras untuk membawa keluarga kecilku pergi. 


"Perjalanan bisnis, tak apa. Hilangin suntuk, tak apa. Jangan lari dari masalah, kau tau masalah kau di sini belum beres. Ra orangnya kepikiran kalau masalah belum beres, makanya apapun itu dia pengennya gerak cepat."


Aku paham, intinya ayah melarang. 


"Aku ngerti, Yah." Bang Bengkel menoleh dan menggenggam tanganku. 


Rasanya lelah sekali mengobrol tidak memiliki jalan keluar begini. 


"Apa aku sama bang Chandra aja?" Bunga memandang semua orang, setelah tidak ada suara sedikitpun. 


Opsi Bunga tidak berakal menurutku. 


"Orang tuanya aja disuruh pulang, Dek. Jangankan saudaranya, adiknya, kakaknya. Rumah mereka besar, tapi anak mereka pun banyak juga. Terlalu rumit di pandangnya, kalau harus ada orang lain di rumahnya. Lagi pun, mereka suami istri yang punya privasi." Papa Ghifar langsung menolak usulan Bunga. 


Sebenarnya tidak benar juga, bahkan Galen pun sering dibawa menginap oleh bang Chandra. Hanya saja, Bunga termasuk orang asing dan bisa meretakkan rumah tangga bang Chandra. Meskipun kakak ipar orangnya santai, ia cemburuan juga. Pekerjaan suaminya pun ia bantu, agar suaminya memiliki banyak waktu dengannya dan anak-anaknya. Dari situ saja, terlihat sekali bagaimana kakak ipar menguasai kepemilikannya. 


"Ya udah, gini aja…. Tak masalah Bunga tinggal di lingkungan aku untuk sekarang, tapi tolong saat masa iddah, dia kau bawa, Bang. Masa iddah itu rumit, batasannya memang luas, tapi anak kau belum tentu paham titiknya. Masalah pesantren, oke terserah mau kapan Bunga dimasukkan. Yang penting aku udah nyaranin nih, toh keputusan akhirnya pun terserah dilaksanakannya dengan orang orang bersangkutan. Aku kasih opsi ini, untuk masa depan Bunga juga. Masalah Zee ini yang menyangkut rumah tangga anak aku, Bang. Aku tak bisa diam, aku minta ketegasan di sini." Ayah mengetuk-ngetuk karpet lantai. 


"Ya kan sementara ada ibunya, biar sama ibunya dulu. Toh, Ra pun belum dapat pengasuh. Kalau Zee diboyong dari sekarang, ya kalian juga Ra jadi keteteran. Katanya kau tak mau anak kau keteteran, Van." Pakwa memandangku dan ayah secara bergantian. 


Bisa saja pakwa menjawabnya. 


"Begitu? Oke, aku turutin. Sementara Zee sama Bunga lagi, gitu? Oke." Ayah sangat ketus dalam menjawab, ini bukan pilihan yang keluar dari hatinya. 


"Ya, terus gimana coba, Van?" Pakwa membuang napas. 


"Aku jadi paham nih, kalau memang obrolan kekeluargaan itu harus banyak maklumnya. Padahal perjanjian awal gak begini." Bang Bengkel seperti berbicara sendiri. "Ya udah, ayo pulang, Sayang." Bang Bengkel menarikku untuk berdiri. 


Aku tidak pernah melihat bang Bengkel setidak sopan ini. 


"Permisi, Yah. Permisi semuanya," ucapku saat berlalu pergi dibawa suamiku. 


"Padahal pagi baru maaf-maafan, siangnya udah gondok lagi aja." Bang Bengkel merangkulku ketika sudah berada di halaman rumah. 


"Bang, jalan ke minimarket dulu yuk?" Aku sudah tidak mood membahas ini. 


Ia tidak langsung menjawab. Ia melirikku dengan sedikit menundukkan kepalanya, kemudian ia mencium dahiku dan tersenyum samar. 


"Mood booster, Mamah Ra." Ia mengusap-usap kepalaku. 


Ia memang seromantis itu, di rumah pun tingkahnya selalu begini. 


"Abang pernah makan stuff roti?" Aku mencoba mengalihkan seluruh pikiranku dari seputar pembicaraan tadi. 


"Apa sama dengan botok roti? Yang dibungkus daun pisang?"


"Mirip, Bang. Mau?" Itu bukan pekerjaan yang panjang, aku bisa membuat cemilan ringan untuk mengalihkan pikiran dan kekecewaan bang Bengkel. 


"Boleh juga tuh yang rasa pisang, durian, strawberry. Rubbid, atau ekstra thin." Ia tersenyum lebar dan menaik turunkan aliasnya. 


Aku menyikut perutnya pelan, hingga ia tertawa geli. 


Sesampainya di minimarket, benar juga itu yang dicari olehnya. Mana letaknya di depan kasir, bang Bengkel langsung memborong beserta pelumasnya juga. Aku jadi kaget dan malu sendiri, karena roti tawar, santan, jajanan kesukaan dan lain-lain, beriringan dengan alat kontrasepsi. 


"Belum pernah coba kan yang bergerigi?" Ia tersenyum mesum, ketika sudah berada di halaman parkir minimarket ini. 


Apa aku akan digarap siang-siang begini? Aku kira mood booster laki-laki itu makanan, ternyata diriku sendiri. Pantas saja tadi ia bilang 'mood booster, mamah Ra'. Ternyata aku toh yang ingin diolah dan dimakannya. 


"Bersarung pun belum pernah coba." Aku tertunduk malu. 


"Oke, kita cobain di ruang tamu. Mumpung anak-anak kita lagi ada yang megang, aji mumpung." Bang Bengkel melangkah lebih cepat. 


Ia tidak sabaran. 


"Tapi aku berisik." Aku insecure karena reflek tidak sadarku itu. 


"Hajar aja, biarin yang lain dengar juga sekarang sih. Abang udah gak malu-malu, toh memang keluarga Adek kan suka ngeledek juga. Malu sekalian kan?" Ia bergerak semangat untuk membuka pagar dan mempersilahkan aku masuk. 


"Tapi aku suka malu ke Abang." Aku menunggunya menutup pintu pagar lagi. 


"Ngapain malu? Adek hamil pun, bakal Abang pijat perenium secara rutin."


Arghhh, aku mengerti lagi apa itu pijat perineum. Jadi, itu pijatan mudah di area inti perempuan dan pembuangan perempuan. Hal itu ditunjukkan agar saat melahirkan normal akan minim sobekan. Pasti ia rutin melakukan pijatan itu untuk ibunya Farah.


"Abang sih memang doyan kalau mijit begitu." Aku tahu kesukaannya. 


Ia suka sekali berada di tengah-tengah tubuhku. Bahkan selama sebulan pernikahan, aku jarang diberi izin untuk memberikan service untuknya. Ia selalu mengatakan, aku c**** untuknya. Kadang aku ingin bertanya, apa ia melakukan hal itu pada setiap wanita yang menemaninya di ranjang. 


"Aku mau pipis dulu, Bang." Aku sudah mengerti, ketika membuka pintu rumah dan ia menggenggam tanganku untuk aku mengikutinya. 


"Pipis di Abang aja." 


Itu hal jorok, yang langsung mendapat tatapan sinis dariku. Ia mengerti maksud tatapanku, ia melepaskanku dan ia duduk di ruang tamu. 


Tapi saat aku tengah pipis, ia malah muncul dan buang air juga. 


Dasar, suami. 


"Abang sering ya berbagi kamar mandi begini?" Aku memperhatikan kegiatannya. 


Ia menoleh padaku. 


...****************...