Hope and Wish

Hope and Wish
H&W10. Panggilan video



Di dalam kamar, aku berpikir bahwa sebaiknya aku menjaga jarak dengan laki-laki berusia dua puluh enam tahun tersebut. Ia type yang pas untukku, lebih tinggi dariku dan jelas rupanya tidak buruk. 


Sampai di Cirebon pun, aku terus terbayang ekspresinya ketika menutup pintu mobilku dan melambaikan tangan padaku sebagai salam perpisahan. Apa ini yang namanya kasmaran? Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak membalas pesannya. 


Aku serba bisa ini itu sendiri, aku kuat dan mandiri segala-galanya. Tapi minusnya aku gampang baperan, aku mudah tergoda dengan laki-laki dan aku lemah iman. Atau mungkin, karena aku kesepian dan memang mengharapkan peranan laki-laki selama sekian lama sendiri? Atau memang ini kekuranganku? 


"Ra, HPnya bunyi terus nih." Kak Ranty memberikan ponselku sembari menggendong Galen. 


Kak Ranty adalah adiknya mama Aca, istrinya papa Ghifar. Mereka berdua yang mengasuhku saat kecil, karena kedua orang tuaku kewalahan mengurus anak-anak dan masalah lainnya. 


Ia sudah menikah dan ia menetap di Cirebon. Jarak usia kami sekitar lima tahunan, jaraknya dengan mama Aca sekitar dua puluh dua tahun. Kebobolan versi nyata, kakaknya sudah nenek-nenek, ia baru dua puluh delapan tahun. 


"Makasih, Kak. Maaf ya, Kak? Aku ngerepotin, aku nitip Galen sebentar." Aku menerima dan memandang layar ponselku. 


"Gak apa, Ra." Ia tersenyum dan berjalan ke ruangan lain lagi. 


Ada telepon masuk dari ayah. 


"Bocah Kamprettt! Bisanya ada laki-laki datang melamar?! Dia bilang udah malam mingguan sama kau lagi!" Makian dan suara lantang ayah adalah makanan sehari-hari. 


Aku tidak sedih dan aku biasa saja. 


"Iya, Yah. Aku nginep semalam di rumahnya." Pasti yang ayah maksud adalah bang Bengkel. 


"Ra!!!" Suara ayah seperti tengah menggigit sesuatu. 


"Apa ada orangnya? Coba video call, Yah." Aku ingin tahu situasi di sana. 


Tanpa diiyakan, panggilan video langsung dilakukan. Aku langsung menerimanya, karena memang aku penasaran dengan situasi di sana.


Sebelumnya baru bertukar chat, ia menanyakan pedagang parcel buat itu di mana. Ia baru sampai sana pagi tadi di hari Rabu ini, ia langsung mengambil kamar penginapan di dekat rumah orang tuaku. Kemudian, siangnya ini ia langsung berkunjung ke rumah orang tuaku. 


"Wah, ini gimana sih? Kok bisa dadakan mutusin untuk nikah?" Itu suara papa Ghifar. 


Di layar ponsel, aku melihat bang Bengkel mendekap anaknya. Sedangkan, om Hamdan ada di sebelahnya. Tidak begitu ramai, hanya ada segelintir orang. 


"Ra, kau pulang aja." Ponsel bergoyang, seolah berpindah tangan. 


Itu adalah suara biyungku, ibuku dan sekaligus istri dari ayahku. 


"Kerjaan belum beres, Biyung. Kalau udah beres, aku langsung prepare kok." Aku melihat ke arah pekerjaanku. 


Ayah hanya membalik kamera menjadi kamera belakang, tapi dirinya tidak berbicara apa-apa lagi. Aku jadi bingung sendiri, karena suasana di sana terkesan tegang. 


"Gak dadakan, Om. Udah diobrolin sama Ra, kami tiap hari pun komunikasi," ungkap bang Bengkel kemudian. 


Karena chatnya yang menurutku terjadwal, aku jadi tahu jika memang aktivitasnya dimulai sejak waktu Subuh. Pernah ia membangunkanku untuk sholat, pernah juga ia melangsungkan panggilan video dan menunjukkan aktivitasnya di waktu Subuh. 


Tidak lain dan tidak bukan, ia sibuk menggiling baju dan melipat baju yang sudah kering. Ia mengatakan juga, bahwa baju bayinya pun ia setrika semua. Aku yang perempuan, malas menyetrika baju anak, ia yang laki-laki malah rajin mengurus pakaian anaknya. Yang penting untukku, baju baru dari toko harus dicuci, lalu merek yang berada di belakang leher harus digunting, karena bisa membuat iritasi, gatal dan memerah pada leher bagian belakang bayi. 


Ya hanya dua kali Subuh sih, karena Subuh yang ketiga, ia sudah berada di daerahku. Malam Rabu ia sudah prepare menuju ke sana, Rabu pagi ia sudah ada di sana. 


"Ra, pulang aja. Nanti Ayah jemput. Ayah tak mau lagi-lagi main terima, tak mau main sepakat aja. Ayah pengen tau interaksi kau, Ayah pengen tau pendapat kau, Ayah pengen dengar keputusan langsung dari kau. Sore nanti Ayah ambil penerbangan, tapi mungkin ke kau hari Sabtu. Ada sedikit masalah di Bekasi, Ayah harus pahami sendiri."


Sepertinya biyung mengarahkan kamera ponsel ke arah ayah, terlihat sekali jika ayah seperti pusing dan setengah melamun. Ayah mungkin tidak mau aku gagal lagi, tapi siapa sih yang mau rumah tangganya gagal? 


Sepuluh kali aku mendengar sekeliling mengatakan bahwa aku harus melanjutkan rumah tanggaku dengan ayahnya Galen kemarin, tapi menurutku kesalahannya itu amat fatal. Ini mengenai sifat bawaan, sedangkan masalah itu pasti ada saja. 


Masa setiap mendapat masalah, menghadapi emosi, ia selalu menuntaskan dengan kekerasan? Sekali lagi, ini mengenai sifat. Sifat itu bawaan lahir, tidak bisa dirubah lagi. Aku memang kasar, tapi aku manusia yang punya pikiran. Aku tidak mungkin tiba-tiba memukul seseorang, jika tidak ada masalah yang serius. 


Namun, jika masalah yang serius itu bisa dibicarakan baik-baik. Tentu aku lebih memilih menyelesaikan masalah dengan cara baik-baik dulu, kekerasan hanya desakan jika aku mendapat pelecehan atau perlakuan yang kurang beruntung. 


"Nanti aku pulang sendiri kok, Yah. Aku selesaikan dulu tanggung jawab aku di sini." Aku menyandarkan punggungku dan menempatkan ponselku lebih tinggi dari kepalaku. 


Leherku lelah menunduk. 


Diam, tidak ada yang menyahuti. Papa Ghifar pun keluar dari rumah, ia seperti hanya memiliki sedikit keperluan di sana, bukan menimbrungi obrolan. 


Aku menyipitkan mataku melihat notifikasi yang muncul di layar atas ponselku. Aku hanya menariknya dan membaca pesan masuk tersebut, karena aku masih melangsungkan panggilan video. 


[Kalau lebih lama pulang, lebih lama lagi nikahnya.]


Membaca pesan tersebut, aku mengulas senyum geli. 


"Kenapa kau, Dek?" tanya biyung tiba-tiba. 


"Tak kok, Biyung. Ya udah, ngobrol aja dulu. Aku masih ada kesibukan, Biyung." Biarlah mereka di sana berpusing ria dulu. 


Aku mematikan panggilan video tersebut, kemudian melihat-lihat status aplikasi chat keluargaku. Aku jarang membuat status, membuat pun paling mengekspos anakku. Tapi lihatlah status Bunga, alay sekali sampai stripnya banyak sekali. 


Galau semua isinya, mulai dari penggalangan ayat Al-Qur'an, sampai video pendek yang seperti menyindir seseorang. Apa itu ditujukan untuk menyindirku? Tapi status tersebut ada sejak kemarin, jika dilihat dari waktunya. Berarti, ia bisa jadi belum tahu bahwa bang Bengkel datang ke sana. Atau, memang status tersebut tidak bermaksud untuk menyinggungku. 


Sampai datang hari Sabtu, aku ngebut mengerjakan pekerjaan, bahkan sampai kurang tidur, karena ayah mengatakan bahwa siang nanti ia akan menjemputku. Aku tidak tahu masalah apa di Bekasi itu, tapi sepertinya memang tidak ada anak usaha ayah yang ada di Bekasi. 


Berbarengan dengan spamnya status galau Bunga, lalu ayah mengatakan ada masalah di Bekasi. Apa ini semua masih berkaitan dengan suami Bunga? Karena suaminya orang Bekasi dan suaminya memiliki usaha di Bekasi. 


...****************...