
"Gimana, Bang?" Aku menyambut makanan yang diantarkan.
"Yang, bentar deh. Waktu Abang cerita di voice note itu, aslinya disimak dan didengar gak sih?"
Kenapa ia menanyakan kejadian tiga bulan yang lalu? Iya, saat itu aku tengah menunggu orderan makanan dan om Hamdan menghampiriku.
Jadi, sekarang dirinya memanggilnya 'abang'? Ah, ngena sekali. Buat aku bertambah baper saja.
"Ya didengar dan disimak dong." Aku mulai mencicip satu persatu makanan ini, termasuk isi piringnya juga.
"Apa coba isi voice note pas itu?" Ia memperhatikan kegiatanku mencicip makanan.
Aku menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. "Abang cerita tentang empat usaha Abang yang diasuh ayah kan? Terus Abang juga bilang, kalau ayah tanam modal ke usaha Abang, biar nantinya bagi hasil?"
Ia kira aku tidak pernah menyimak ceritanya.
"Tau sih. Terus dari tadi ngobrol nyimak gak? Segala sambil makan." Ia geleng-geleng kepala.
"Nyimak kok, Sayang." Aku mengusap pipinya dan melanjutkan untuk makan makananku.
Lagian kan, yang makan itu mulut. Yang mendengarkan kan telinga.
"Pengen rasanya aku c**** bibirnya, aku gigit lehernya," gerutunya lirih.
Mesum saja duda satu ini.
"Terus gimana tadi? Kenapa Zee tak dibawa?" Aku merasa pertanyaanku belum dijawab.
"Tunggu hasil tes DNA keluar, terus kita nikah. Bunga ngomong, Zee dan dia itu sepaket. Hema udah angkat tangan, dia lebih fokus nanya tentang Bara ke bang Chandra. Artinya, mereka bakal pisah. Dengan kalimat Bunga yang seperti itu, Abang berpikir kalau memang dia mau ikut Abang juga kalau Zee dibawa Abang, yang artinya Abang harus nikahin dia. Daripada nikahin dia, lebih baik nikahin Adek Ra Sayang lah. Nanti tinggal kita pikirkan lagi strategi untuk ambil Zee. Yang penting ngunci Abang kan, biar dia gak berani tebar jebakan lagi gitu. Khawatirnya, alasan nengokin Zee, gak taunya Abang dijebak. Soalnya sebelumnya tuh, kalau datengin dia, pasti akhirnya melakukan. Padahal udah kuatin hati, biar gak ladenin n****nya lagi. Tapi pas nyampe depan dia, dipancing-pancing terus, segala nyanggupin tau beres lagi. Kan kita laki-laki sulit nolak jadinya, Yang."
Aku melongo bodoh, dengan menoleh ke arahnya dalam kondisi mulut yang terisi penuh.
"Sok laris Abang ini." Aku melanjutkan kunyahanku.
"Gak minta percaya dan gak lagi ngumbar aib juga. Tapi udah trauma, khawatir terjebak lagi. Abang diminta Hema untuk nyukupin kebutuhan Zee, karena ekonomi dia lagi kolaps. Sedangkan, Bunga mintanya barang, bukan uang. Kalau Abang antar ke sana, otomatis dipersilahkan masuk untuk mindahin barang sama Bunga dong? Nanti kalau kejadian lagi, gimana? Kalau udah nikah sama kamu kan mending aja, kamu yang bawain masuk ke rumah Bunga. Paling apa sih? Diapers, pakaian, susu formula, gak bakal berat berkilo-kilo."
Kok Bunga seperti itu? Apa iya Bunga seburuk pikiran bang Bengkel?
"Memang kenapa tak mau balik sama Bunga, Bang? Dari kalimatnya yang sepaket sama Zee aja kan, berarti memang kasih kode untuk bawa dia juga." Kode itu sangat jelas.
"Suaminya aja nyia-nyiain, Yang. Om Ken aja shock banget, tujuan om Givan malah mau masukin Bunga ke pesantren salafi katanya. Di situ dia histeris, udah kayak dia ini disiksa hidup-hidup. Maaf ya? Abang kok malah berpikir, apa otak perempuan itu waras? Tapi gak Abang ucapkan itu, Abang diam aja. Soalnya gimana ya? Orang-orang terdekatnya aja pun, pengen yang terbaik untuk dia. Tapi gak paham juga, apa yang dia pengen."
"Menurut Abang, kenapa Hema nyia-nyiain?" Aku tidak merasa Hema menyia-nyiakan istrinya.
"Hema buka di sana, kalau dia gak pernah bareng seranjang meski udah rujuk itu. Karena dia pernah usaha beberapa kali, untuk bangkitin tengah-tengah tubuhnya, tapi gak bereaksi sama sekali. Kata dia, di situ mulai sadar kalau memang Bunga hamil kembali bukan karena dia. Ditambah juga, Hema dapat tekanan dari Bunga. Jadi om Givan menyimpulkan, kalau Hema kembali ke dunia lamanya karena tekanan dari Bunga. Kalau perkiraan Abang sih, Hema dipaksa untuk nga****, tapi dia gak mampu."
Aku langsung keselek buncis yang ada di mulutku. Aku ingin menyalahkan resto ini tidak pandai memilih buncis yang muda, tapi aku sadar jika aku kaget dengan ucapan frontal bang Bengkel.
"Ya ampun, Sayang." Ia menepuk-nepuk punggungku, kemudian memberikan aku es teh miliknya.
Aku baru mencerna semuanya setelah tenggorokanku lega, bahwa Hema tidak bisa e*****. Aku baru memahami semua susunan kata yang bang Bengkel ucapkan tentang Hema, yang memang secara tidak langsung ia memberitahukan bahwa Hema laki-laki yang kurang beruntung.
Iyalah, pasti ia sangat merasa sial dengan kondisi miliknya yang seperti itu.
"Pantas aja Abang dimanfaatkan." Aku geleng-geleng kepala setelah memahami semua susunan rencana Bunga.
Pantas saja Bunga menggunakan batang bang Bengkel untuk menghamilinya, karena jika memang Hema masih baik-baik saja, aku yakin sekalipun pisah, mereka tetap bisa berzina. Ya, aku pernah mendengar tentang Hema dan Bunga yang pernah berpisah. Tapi kabar itu simpang siur, lebih tepatnya aku hanya mendapat cerita dari 'katanya' dan pengakuan cerita bang Bengkel saja.
Lagian, jika memang Hema masih keras. Rasanya, Bunga tidak akan menggunakan kebodohan n**** bang Bengkel.
Iyalah, bang Bengkel kalah karena n****.
"Makan lah, Bang." Aku menawarinya makan, setelah makananku hampir habis.
"Jadi ingat biyung kalau lihat kamu makan tuh." Bang Bengkel terkekeh dan mengambil sendoknya.
Ya, aku anak biyung. Dibuat wajar saja jika aku doyan makan, bahkan waktu remaja aku digeber susu UHT di pesantrenku. Susu UHT yang tawar itu loh, yang gambarnya sapi. Mungkin karena itu aku jadi tinggi, ditambah aktivitas fisik yang memang banyak.
Aku menimba ilmu di pesantren modern, di mana cuci baju pun bisa laundry. Menu makanan bisa memilih, seperti di prasmanan. Tapi tentu aku selalu mengambil lauk yang setara dengan ukuran nasi, bahkan lebih. Ini kebiasaanku dari kecil, yang dibiarkan memakan lauk tanpa nasi.
Kata biyung, coba hidup di zaman biyung. Makan lauk tanpa nasi, akan ditakut-takuti bisa cacingan. Tapi anehnya, mama Aca, ibu asuhku itu. Lauk cepat habis, ia malah senang. Karena ia tipe orang yang tidak bisa mengira-ngira harus seberapa banyak masak, ia takut kekurangan lauk, ketimbang kelebihan lauk. Karena kalau kelebihan lauk, biyung akan senang mendapatkan kiriman masakan.
Simpel sekali hidup di tengah-tengah ipar.
Untungnya mereka orang kaya, jadi tidak perhitungan pengeluaran sekali masak plus dibagi-bagikan juga. Uang pegangan habis, ya tinggal ambil lagi.
"Aku jadi kepikiran, gimana nantinya kalau bertetangga sama Bunga?" Aku membuang napasku perlahan, dengan meliriknya.
...****************...