
"Ayah tak angkat? Kenapa?"
Gelengan samar yang aku dapatkan, aku pun tidak berniat bertanya lebih karena ayah pasti akan berbicara sendiri jika sudah waktunya buka suara. Ayah bukannya orang yang suka didesak dengan pertanyaan atas dasar rasa penasaran, ia lebih sering buka suara sendiri jika sudah saatnya berbicara.
Kesibukan dimulai esok harinya, Galen pun dilempar sana-sini sampai aku pulang kuliah. Ayahnya Farah pun tidak pernah muncul sebulan belakangan, hidupku cenderung lurus dan fokus dengan pendidikan dan anak saja.
Saat mobil Civic Turbo warna merah datang pun, ayah mengatakan bahwa Handaru sudah tidak tinggal di sini dan meminta pihak dealer untuk menghubungi Handaru saja. Karena pemilik mobil tersebut pun atas namanya, bukan atas namaku. Resepsi pun digagalkan, biyung mengatakan tak apa uangnya hanya kembali tujuh puluh persen, mungkin karena dirinya tidak rutin sedekah katanya.
"Besuk Hema di tempat terapinya, Dek." Ayah menjemputku di kampus.
"Loh? Memang boleh keluar hotelnya?" Aku duduk dan menutup kembali pintu mobil.
"Kondisinya kolaps, fisiknya tak kuat nahan candunya." Mobil yang ayah kendarai berjalan perlahan.
"Jadi, dia dalam perawatan intensif?" Aku membayangkan kondisi Hema sekarang.
"Heem, masuk sore tadi."
Sekarang Hema masih di tempat terapi, yang artinya ia benar-benar tidak baik-baik saja sekarang. Karena toleransi tidak banyak, jika kondisi Hema tidaklah begitu buruk.
"Aku jadi kepikiran, Yah." Aku melamun memandang lurus ke depan.
"Dua tahun masa tahanannya, belum dipotong kelakuan baik Hema selama menjalani masa tahanan. Tapi setiap rutin Ayah jenguk, dia selalu lagi sekarat. Boro-boro mau berbuat baik, boro-boro melakukan aktivitas yang bermanfaat." Ayah menggelengkan kepalanya berulang.
Aku hanya bisa diam, aku tidak tahu harus berbuat apa karena sepertinya kondisi ini sangat menyiksa Hema. Aku bebas berkeliaran, bahkan melanjutkan pendidikan. Hema yang malah sekarat dan tersiksa di sana.
Sampai di tempat yang katanya ini adalah tempat terapi Hema, terlihat seperti klinik tapi bukan klinik kesehatan umum. Tempatnya pun tidak begitu ramai, ditambah dengan plat nomor mobil yang terparkir di sini berbeda-beda, yang menandakan bukan dari daerah sini saja.
Apa ini tempat rumah pengobatan jiwa? Aku mendengar suara orang merintih, meminta tolong, bahkan raungan orang menangis dan mengamuk. Semakin masuk ke gedung ini, semakin jelas terdengar meski dari depan meja pendaftaran.
"Hermawan masih belum dipindahkan?" Ayah langsung berbicara pada perempuan yang mendata pendaftaran tersebut.
Ia melihat ke arah ayah. "Masih, Pak," jawabnya ramah.
Ayah menggandeng tanganku. "Terima kasih." Ayah mengajakku berjalan ke ruangan lain yang jauh dari depan gedung ini.
Tidak disangka, ada polisi yang duduk di depan ruangan yang kata ayah itu adalah ruangan Hema. Jujur saja aku gugup, karena akulah yang bersalah dalam kasus ini. Namun, Hema yang malah merasakan hukumannya.
"Makan siang belum, Pak?" sapa ayah ramah dengan berjabat dengan tangan polisi tersebut.
"Wah, kebetulan belum nih," jawab polisi tersebut dengan tersenyum lebar.
Ayah menoleh ke arahku dan menunjuk ruangan Hema. "Kau ke dalam dulu, Dek. Ayah beli makan siang dulu." Ayah mengusap bahuku.
"Boleh, Pak?" Ayah memandang polisi tersebut seolah meminta izin.
"Boleh, boleh, Pak. Silahkan."
Ayah mengangguk dan berlalu pergi. Aku hanya mengulas senyum pada polisi tersebut, kemudian masuk ke dalam ruangan Hema.
"Astaghfirullahal adzim, astaghfirullahal adzim, astaghfirullahal adzim…." Hema duduk memeluk lututnya di atas brankar pasien, dengan mulutnya yang terus menobatkan istighfar.
Dua kantong infus menjadi perhatianku, belum lagi dengan alat-alat lain yang tertempel di kakinya. Ia terlihat sehat, tapi ia menahan sesuatu tersebut sampai bermandikan keringat.
Tidak ada perawat atau dokter yang menunggunya, ia seorang diri di atas brankar pasien tersebut. Ia menyeka keringat di pelipisnya, kemudian menoleh ke arahku.
"Ra…. Tolongin aku, Ra. Doain aku kuat, Ra." Suaranya bergetar, napasnya tersengal-sengal.
"Hem…." Aku merasa bersalah melihat kondisinya, meski aku yakin ia seperti ini bukan karena masa hukumannya.
"Astaghfirullahal adzim…. Ya Allah…." Ia menghapus sesuatu yang meleleh dari matanya.
"Apa yang kau rasa?" Aku mendekatinya.
"Aliran darah tuh keknya terasa betul, rasanya sakit. Aku jarang tidur, aku tak bisa tidur." Ia menangis lepas seperti Barra, dengan memeluk kakinya sendiri.
Ya Allah, pasti ia amat tersiksa.
"Hem, kau pasti kuat. Sabar ya? Ayah pasti usahakan pengobatan terbaik untuk kau." Aku yakin Hema bisa semalaman dalam perawatan begini, ini hasil usaha ayah dan kemampuan finansial ayah.
Karena kakak iparnya masih belajar di kabupaten sebelah, yang katanya pulang seminggu sekali. Di sini pun tidak ada keluarganya, yang pasti ia bisa di sini karena ayah juga.
"Ra, peluk aku." Ia meraih tanganku, tangannya terasa amat dingin.
"Tapi, Hem…." Aku sulit menolak, karena aku kasihan padanya.
Tidak disangka, baru juga aku mendekap tubuh dingin penuh keringatnya. Tiba-tiba, tubuhnya langsung menegang dan matanya melihat ke atas. Aku melihat selang infus tersebut dipenuhi darah, sayangnya tubuhku terkunci olehnya untuk meminta pertolongan di luar ruangan.
"Tolong, Pak…. Pak Polisi…," teriakku lepas, berharap suaraku tembus keluar ruangan ini.
Ada apa dengan Hema? Kenapa tubuhnya kejang? Apa ia akan tiada? Jika iya seperti itu, yang ada aku semakin merasa dzalim pada dirinya.
...****************...