
"Bentar, kasih minum dulu." Ia menyodorkan botol beling yang aku bawa dari dapur.
Aku memperhatikan miliknya. Seperti yang pernah aku tebak dari bentuk jemarinya, seperti yang sudah aku duga.
"Basahi tenggorokannya aja, biar besok gak serak. Jangan kenyang-kenyang minumnya, nanti malah bunyi perutnya." Ia membantuku memegangi botol air ini.
"Abang masih lama?" Aku mengusap bibirku, setelah selesai minum.
"Sebentar lagi, lama gak dikeluarkan. Kalau boleh sih, nambah malam ini tuh." Ia memamerkan lesung pipinya karena tersenyum amat lebar.
"Boleh, ayo." Jika rasa yang diberikan seenak ini, nambah berapa kali pun tak apa.
Karena aku baru memahami, ia tidak benar-benar egois. Ia memikirkan rasa yang aku rasakan, tidak melulu tentang keinginannya memenuhi biologisnya sendiri.
"Kenapa tak jawab, tadi ditanya enak tak tuh?" Aku mengusap keringatnya, saat ia merangkak naik ke atas ranjang kembali.
"Enak, hangat banget tuh. Padahal gak demam kan?" Ia menyentuh dahiku dengan punggung tanganku.
"Sehat-sehat aja, alhamdulillah." Aku menyentuh miliknya.
"Keknya beneran panjang deh, Bang. Lebih panjang dari…."
"Shtttt, shtttt, shtttt." Ia menempatkan jari telunjuknya di bibirku. "Lebih enak ini yang jelas," lanjutnya dengan mencium leherku.
"Mau posisi apa?" Ia menggenggam tanganku yang berada di tengah-tengah tubuhnya, ia menggerakan tanganku untuk memijat miliknya.
"Jangan yang aneh-aneh, helikopter, kipas angin, atau apalah itu yang masa kini, aku tak mau nyoba. Aku suka pusing kalau kepala di bawah gitu. Kepala menjuntai ke tepian ranjang aja, udahnya langsung minum paracetamol."
Ia terkekeh geli mendengar pengakuanku.
"Abang malah gak bisa," akunya malu. "Aduh, takut patah." Ia mencium pipiku lama sekali.
"Tapi kalau d**** seringnya sakit, Bang. Apalagi, kalau panjang begini." Aku menurunkan pandanganku, untuk melihat miliknya.
Saluran pipisnya terlihat besar, sepertinya bukan karena ia lama mengenal s**s saja. Mungkin juga, karena ia pernah pipis menggunakan selang. Tapi hal itu tak membuat performanya turun, ia bisa membuatku keok dengan satu triknya saja.
Ia pesulap handal.
"Cobain dulu, bentangkannya lebih lebar. Nanti bertumpu ke bantal, biar rileks juga." Ia bangkit dan mengambil beberapa bantal.
Kami melakukannya kembali, ia tidak membuatku trauma dengan ukuran miliknya yang jelas lebih panjang dari milik suamiku sebelumnya. Apalagi posisi yang aku coba, ia memperhatikan sekali kenyamananku.
Sampai akhirnya ia bertanya, "keluar di mana, Yang?" Ekspresinya seperti menahan sesuatu, ia gelagapan sendiri.
"Di luar, Bang. Kita tunda dulu kehamilan aku."
Ia mengangguk, kemudian menariknya dari dalamku. Ia menggeram tertahan, wajahnya memerah dan ia mengurut cepat sampai lava itu membuat panas perutku.
"Makasih, Sayang. Abang ambil rehat dulu ya? Mau minta lagi, pengen nguras." Ia langsung berbaring di sebelahku.
Seperti jelly yang berantakan dimasukkan ke wadah, kemudian mengeras di tempat yang asal. Cairannya sampai sek***** itu, entah sudah berapa lama ia pendam.
"Abang, jujur ya? Aku tanya serius, aku tuh enak tak? Rasanya apa masih begini?" Aku mencoba mencontohkan dengan kepalan tanganku yang aku rapatkan.
"Hidup rasanya, Yang. Pernah lihat ayam ee? Ya kayak gitu lah, Yang. Ditambah lagi, kayak ada kedutan di dalam sana tuh. Dut-dut lagi, sering banget kayak gitu tadi Abang ngerasanya. Tapi ini paling enak loh, kasih Abang tiap hari, silahkan atur pendapatan Abang sendiri." Ia tersenyum lebar, kemudian menatap langit-langit kamar karena napasnya masih kembang kempis.
Aku pun belum mengusap saudaranya Farah.
"Abang sering dengar orang cerita, mata kedutan? Atau bibir kedutan gitu?" Aku berbaring menyamping dan menaikan kakiku ke kakinya.
"Jawab, Abang." Aku punya kebiasaan mencuci sprei dan selimut setelah berhubungan suami istri, jadi tidak masalah kotor karena benihnya ini.
"Pernah, yang katanya kalau mata kirinya kedutan itu mau dapat keberuntungan. Yang katanya mata kanannya kedutan itu mau nangis gitu kan?" Matanya berair, ia seperti mengantuk.
Aku paham ilmu tentang laki-laki yang akan lemas, nyaman dan mengantuk setelah mengeluarkan benihnya. Perempuan pun sama juga, karena saat kl****s itu mengeluarkan zat yang membuatnya bahagia.
"Aku pun sama, kalau mau keluar dan mau dienakin tuh, itunya kedutan terus. Aku pun ngerasa sendiri kalau aku kedutan, tapi tak bisa dikontrol." Aku pun tidak mengerti dengan tubuhku sendiri.
"Ohh, gitu. Ya gak masalah juga, justru nambah sensasi." Ia duduk dan menarik napasnya.
"Abang mau minum dulu, Yang."
Aku membantunya mengambil air, karena botol beling tadi disimpan di nakas dekat dengan posisi bantalku.
"Bisa gak kalau jangan dulu keluar? Maksudnya, keluarnya nanti kalau Abang mau keluar. Abang belum bisa buat Adek keluar berulang kali, sedangkan Abang keenakan setiap Adek nahan-nahan untuk cepat dikeluarkan tuh." Ia merebahkan kembali tubuhnya di sampingku.
"Ya aku tersiksa, Bang." Pekerjaannya enak sekali, meski aku sudah dikeluarkan pun. Tapi itu masalahnya, aku tidak bisa keluar berulang.
Aku kalah memberikan sensasi yang ia dapatkan dari Bunga. Hal seperti itu saja, membuatku manyun.
"Ya kalau gak tahan kan, akhirnya jeprat sendiri, Yang. Sambil Abang tetap lanjut kerjain, biar Adek bisa dapat yang selanjutnya. Biasanya yang kedua, ketiga dan selanjutnya itu gak lama dari yang pertama. Tapi masalahnya, baiknya di rumah sendiri. Sekali keluar aja, ibaratnya lampu sampai berkedip karena getaran suaranya kencang sekali. Apalagi kalau dapat multi."
Aku terbahak-bahak, karena ia meledekku itu. Aku malu sebenarnya karena berisik, tapi bodo amat. Aku keenakan dan ia harus tahu bahwa aku mendapatkan kenikmatan.
"Jangan kencang-kencang ketawanya, udah malam." Ia memelukku.
"Aku jadi mikirin, nanti besok gimana ya?" Aku mencoba meredam tawaku.
"Waktu dulu nikah pertama, katanya di kamar ini juga kan unboxingnya? Terus gimana pas besoknya itu?" tanyanya serius.
Sepertinya, teguran mertua menjadi masalah berat untuk esoknya.
"Diperawanin itu sakit, boro-boro dapat ngerasain keluar. Malam kedua dan ketiga itu libur, karena ayah bilangin juga. Sampai kurang lebih semingguan itu, bahkan sampai pindah ke rumah sendiri, aku belum pernah ngerasain keluar. Jadi ya tak berisik, Bang. Aku berisik kalau keenakan dan keluar keluar aja."
Mungkin seperti ini komunikasi dua arah, hal ranjang pun dibicarakan.
"Ayah bilangin? Waduh, pasti Abang ditegur juga." Ia nampak melamun.
"Iya dibilangin, dikasih saran. Malu sih pasti, tapi kan itu urusan Abang." Aku tertawa jahat. "Aku sih tak malu sama orang tua sendiri, biasa aja," lanjutku kemudian.
"Ah, sekalian ditegur. Ayo kita perdaya lagi anaknya mertua, kali ini harus mohon-mohon sampai nangis." Ia mengeluarkan semangat empat lima.
"Wow, wow, wow. Rehat dulu katanya, Bos?" Aku kaget karena ia bergerak cepat untuk membuka kakiku.
Ia hanya mengungkung tubuhku, tidak langsung melakukan pergerakan kembali.
"Ketagihan sensasi janda anak bos company besar." Ia menciumi seluruh wajahku.
Kami banyak bercanda jika begini.
"Masalah uang, atur aja. Nanti besok kita bahas pendapatan Abang, kurang ya nanti Abang putar otak, jangan suruh Abang putar kepala kembali ke orang tua. Adek terlalu enak untuk disia-siakan, seberapa mahalnya Abang bakal Abang penuhi. Yang penting dapat setiap hari."
Sekaya-kayanya orang tuaku, sebesar apapun pendapatanku, pada dasarnya perempuan ingin dinafkahi. Tapi jika barter nafkah hidup dengan hal-hal yang enak nikmat begini, mau sehari tiga kali seperti minum obat pun tak akan aku tolak.
Selagi ia menggauliku dengan aturan yang benar, tidak menyakitiku dan memberikan sensasinya yang luar biasa begini. Pastinya, aku akan terima-terima saja.
...****************...