Hope and Wish

Hope and Wish
H&W37. Dibabat biyung



"Apa yang harus dicerahkan? Apa masalah dia? Apa pernah berbagi dengan saudara atau orang yang dituakannya? Anak aku haid sakit perut aja ngadu, Bang. Aku tak tau masalah dia apa, dia tak pernah datangin aku dengan masalahnya. Aku sih malas jadi mas Givan yang ngutilin masalah terus, aku kalau pusing, mas Givan marah. Katanya kalau pusing, jadi tak profesional jadi istri. Tapi namanya aku orang tua, mesti ada aja anak yang ngadu dan aku harus pusing juga meski akhirnya lapor ke suami juga." Biyung melirik Bunga dan memandang pakwa kembali. 


Ohh, ternyata Bunga pun tak pernah cerita apapun dengan biyung. 


"Biyung kan pasti tau masalah aku dari anak-anak Biyung." 


Bunga sok penting sekali. 


"Terus Biyung harus datangin kau, begitu? Sorry ya, kau bukan ibu mertuaku." Biyung membenahi ujung hijabnya, nampak sekali sombongnya. 


"Kau ketularan Givan." Pakwa terkekeh dan seolah ingin menarik hidung biyung. 


"Lagian, anak Abang drama betul. Udah paling bener jadi istri orang, bertingkah segala." Biyung memutar kepalanya, untuk melihat rumahnya. 


Pasti ia takut suaminya bertolak pinggang dan mengamatinya dari jauh. 


"Biyung tak tau kan, kalau Hema kumat lagi? Biyung tak tau kan, kalau pas itu usahanya bangkrut sebelah?" Bunga sampai memajukan kepalanya. 


"Tapi dengan tandanya kau buang akses komunikasi, kau pulangkan orang ayah, berarti kau mampu sendiri." Biyung menjentikan jarinya. 


Bunga melirik ayahnya, kemudian ia tertunduk. Entah maksud kode lirikan itu apa. 


Biyung orangnya cepat marah juga, jika uluran tangan keluarganya dilepeh begitu saja. Bagaimana pusingnya Bunga saat itu, harusnya jangan memutuskan komunikasi dengan keluarga. 


"Biyung tak ngerti perasaan aku." Bunga nampak murung. 


"Tak ngertinya gimana? Kau masih punya ayah, Biyung cuma punya ibu saat itu. Ditambah lagi, ibu di luar negeri jadi TKW, tak pernah bisa curhat, cuma bisa nanya kabar. Biyung sama siapa? Sama bibi dong, sama kek kamu di Cirebon dulu sama bibi kan? Kau kurang perhatian dari bibi, kau lari ke mana? Lari ke laki-laki. Biyung dong, lari ke pesantren. Selang*****n kau gatal, kau berzina. Biyung dong, minta dinikahi sama papa Ghifar. Kena nasib buruk, Biyung diperkosa, alhamdulillah dinikahin tuh. Kau dapat nasib buruk, diperkosa juga, malah lanjut cobain barang yang udah nerobos masuk. Kau bercerai, Biyung pun pernah bercerai juga. Kau bisa loh pulang ke orang tua, tapi gangguin Han yang jelas bujang. Biyung toh, pergi ke Padang bawa anak dan badan. Bingung pulang ke mana, keluarga jauh di Jawa. Mau pulang ke Jawa, uang tak cukup. Kau lebih beruntung kan, kau pasti punya uang kan? Tapi tak kau ambil untuk pulang ke orang tua. Kau punya kesempatan nikah sama Han, tapi kau milih rujuk sama Hema. Biyung kah, Biyung nih? Ketemu bujang di Padang, nikah kok sama bujang itu. Alhamdulillah bahagia meski berkelok juga, sama juga kan kita punya anak satu sejak cerai dari suami. Kau punya anak Han, si Zee. Biyung punya Ceysa, dari suami Biyung yang paling bisa memperlakukan wanitanya. Cerai lagi loh Biyung sama ayah kandungnya Ceysa, punya kesempatan rujuk, malah harus mengikhlaskan sebelum memiliki. Lebih pahit loh, Bunga. Lebih sakit, lebih menyesal. Tapi kau jelas udah bahagia dengan suami, tau suami sakit, bukannya berobat, malah kau tuntut harus bisa keras. Gila dong laki-laki kau, Bunga. Untung Hema tak bunuh diri tuh, malu loh laki-laki kau gitukan. Tak membenarkan Hema, tapi kau pun tak benar juga kek gitu. Semua yang terjadi di hidup kau, pilihannya ada di tangan kau semua. Kau punya pilihan yang lebih indah, tapi kau milih mutarin satu titik dengan alasan yang sulit dipahami. Han kurang apa memang? Dulu kau tolak, sekarang nyerempet minta sepaket sama Zee. Kau bukan selera Han lagi, Han tau enaknya punya istri orang baik-baik. Dia ketagihan punya istri orang baik-baik, sedangkan dia udah hafal tabiat kau. Dia tak mungkin ambil pilihan untuk merepotkan dirinya sendiri, Bunga. Bebannya anak perempuan, dua lagi. Satu laki-laki yang pernah ngeharapin kau, sekarang tak ngelirik sedikitpun sama kau. Terus kau masih berada di titik ini? Mau nunggu berapa laki-laki yang buang kamu, yang nolak keberadaan kamu? Perbaiki diri tak akan buat kau nyesel, ini bukan tentang buang-buang waktu. Kau udah jauh lebih baik, jangankan sedalam lesung pipinya Han, laki-laki setinggi kriteria khayalan kau pun pasti kau dapatkan, Bunga. Hema sembuh pun, trauma dia buka hubungan sama kau kalau kau masih begini aja. Tapi mungkin beda cerita, kalau dia tau kau udah jauh lebih baik dan udah berubah. Kasian sama diri kau sendiri, jangan sok-sokan kasian sama anak. Anak punya bapak yang bertanggung jawab, punya Kakek yang sayang ke dia tuh." Biyung menunjuk pakwa dengan dagunya. "Tapi apa kau yakin, ada laki-laki yang masih mau bertanggung jawab atas hidup kau? Apa ada laki-laki yang tulus nyayangi kau? Kau kan tau sendiri, kasih sayang Ayah kau berat ke adik-adik kau. Harapin apa kau dari Ayah kau? Kalau memang kasih sayang orang tua tak kau dapatkan lagi, bukan caranya kau malah bertingkah untuk buat Ayah kau repot. Mending fokus naikin kualitas diri, biar dapat suami yang sayangnya tulus dan sayangnya lebih dari Ayah kau ke kau. Biyung tak pernah loh rasain kasih sayang ayah, alhamdulillah dapat ayah mertua yang perhatian betul. Dapat suami yang sayang betul, dapat anak-anak yang perhatian full, dapat ipar-ipar yang tak toxic. Bisa ngerasain kehangatan keluarga sekarang, dari kisah keluarga uang lima belas ribu dulu. Bodo amat di Cendal-Cendol, Biyung ngerasain tulusnya mereka dari panggilan itu. Kau tanam satu kebaikan di si A, bisa jadi kau metik kebaikan di si B. Kau kurang beruntung di kisah lama, bisa jadi kau jadi manusia paling beruntung di kisah baru. Satu yang jangan kau lupa, belajar dari kesalahan kau. Biyung kalau nanti cerai lagi juga, tak mau pergi dari rumah, tak enak. Udah suruh ayah Givan aja yang pergi sana, dia sih laki-laki, tidur di mushola juga bisa. Contohnya kek gitu lah belajar dari kesalahan, jangan ulangi kebodohan dan kecerobohan kemarin. Gara-gara mikirin sakit hati, jadi sakit badan karena tak pikir panjang." Biyung tersenyum lebar pada Bunga. 


Pakwa tertunduk, pakwa pasti nyesek juga dibilang biyung seperti itu. 


Ini sih, sekali babat langsung kena semua. Ayah dan anak itu langsung introspeksi diri mungkin sekarang, aku tidak tahu juga sih. Tapi yang jelas, mereka langsung diam dan tertunduk lesu. Mereka tidak menyahuti apa-apa, mereka hanya diam dan membuatku bingung. 


...****************...