Hope and Wish

Hope and Wish
H&W88. Cerita dari bang Chandra



"Masih pagi, Bang." Aku menguap lebar dan meregangkan otot tubuhku. 


"Tanggung, biar sekalian melek Abangnya. Belum tidur dari semalam, urus ini itu. Kalau udah tidur, nanti malah susah bangunnya. Jam setengah tujuh berangkat, urus-urus selesai, pulang, tidur deh." Bang Chandra duduk di sofa ruang keluarga, dengan memilah dokumen tersebut. 


"Memang Abang ngurus apa malam-malam?" Aku melepaskan hijabku yang sudah tidak karuan, kemudian mengikat ulang rambutku tanpa sisir. 


Untungnya, aku tidak memakai jarum pentul untuk pengait hijab. 


"Ngobrol sama ayahnya Han, sama Han sampai jam dua belasan. Jam satu, ambilkan dokumen kau. Kuasa hukum ayah datang untuk ambil soalnya, biar besok diurus katanya. Dianya dari luar kota tuh langsung mampir ke sini dulu sebelum pulang, bela-belain biar tetap dipercaya sama ayah terus. Ngobrol, tanya-tanya ke dia, sampai jam dua dia baru pulang. Abang baru lanjut makan, terus urus kerjaan. Ini baru pulang, terus ke dapur makan oats, terus ke ruangan ayah ambil data-data kau. Disusun dulu, terus Abang mau pulang siap-siap mandi, sarapan. Berangkat deh, pulang-pulang langsung molor." Bang Chandra tersenyum lebar. "Ayo cepat!" Bang Chandra mencolek bahuku. "Sat-set, Dek. Biar Abang bisa rehat nih, ngantuk." Ia mengucek matanya. 


Ya Allah, abangku. Pasti ia lelah sekali, semalaman suntuk ia tidak tidur. 


"Abang ngobrol apa sama ayah Hamdan dan bang Bengkel? Sampai jam dua belasan, lama betul." Aku memakai kembali hijabku. 


Bang Chandra seperti melamun, entah ia mengingat kembali obrolannya semalam. 


"Jadi tuh, intinya Han tak mau cerai. Dia tak sengaja ngomong gitu, karena badan capek, tiba-tiba kau ngajak berantem gitu. Dia tuh pengen kau segan sama dia sedikit aja, gertak sambel lah ibaratnya. Sedangkan, porsinya kata-kata cerai itu tak bisa dijadikan gertakan. Ayahnya Han juga kek marah sama Han tuh, Dek. Maksudnya gimana katanya, kau takut sama Ra sampai anak-anak harus di kak Jasmine terus? Dikiranya ayahnya Han, semalam dua malam aja, karena bahasanya Han itu, biar Ra tenang dulu, takut stress kalau dengar suara anak-anak nangis, apalagi bukan anak kandungnya. Ternyata eh ternyata, Han ini tak bilang kalau dia takut anak-anaknya sama kau. Terus ngomongin kewajiban laki-laki, inilah, itulah. Ayahnya Han pengen Han itu bisa bimbing istrinya, bisa ngajarin. Mirip ayah kalau marahin kita juga, tapi mulutnya ayahnya Han lembut dan pandai milih kata-kata." Bang Chandra mengipasi wajahnya dengan dokumenku. 


"Terus gimana lagi, Bang?" Ternyata laki-laki yang aku pilih itu, pikirannya belum sepenuhnya matang untuk dijadikan pendamping. 


"Suruh Han pulang, anterin Ra. Kata Han, terserah aja, aku tak akan pernah anterin Ra pulang, karena perceraian itu bukan kehendaknya. Terus kan pagi ini ayahnya Han mau berangkat ke Singapore, jadi tuh kalau bisa katanya pengasuhnya Galen diminta untuk urus Zee. Nanti masalah bayaran, biar urusannya sama ayahnya Han dulu. Anak-anaknya Han nih, sekarang jadi tanggung jawabnya ayahnya Han. Karena Hannya gitu sih, keras kepala, susah dikasih paham. Menurutnya benar, ya begitu terus maunya. Ayahnya Han capek nemenin dia katanya, jadi pengen bebasin Han aja terserah dia mau melangkah ke mana. Sampai bahas yang masalah ayahnya Han mau pinjem uang ke Han, tak jadi katanya. Udah nanti ayahnya Han pikirin sama kak Jasmine aja, uang Han terserah mau diapakan. Jadi nanti nih kak Jasmine, Farah dan Zee beserta pengasuhnya diboyong ke Singapore. Sementara waktu biar tak bolak-balik, katanya menetap di sana aja sampai kak Jasmine melahirkan. Sambil ngumpulin uang untuk bangun lantai dua dan tiga di rumah kak Jasmine, barulah kak Jasmine pulang bareng cucu-cucunya itu. Nanti ayahnya Han paling bolak-balik ke usahanya, untuk rencana renovasi. Setelah beres, katanya menetap di sini sampai tua. Untuk pekerjaan ini itu, urus usaha kak Jasmine, ya nanti pakai orang semua. Sadar diri dirinya udah tua, pengen menikmati hidup katanya." Bang Chandra menguap kembali. 


Aku mencandak dokumenku yang menjadi kipasnya, bisa-bisa ia lelap nantinya. 


"Maunya tuh tetap lanjut sama kau, jangan hiraukan kalau dia ini sebenarnya diceraikan. Kak Jasmine suruh di sini aja katanya jagain anak-anaknya, nanti sebulan sekali dia pulang. Sekarang nih dia fokus untuk usahanya dulu. Apalagi kan sekarang ayah udah cabut perjanjian, makanya tadi semalam Abang ngobrol sama kuasa hukum agak lama. Tapi nanti berlakunya setelah pembukuan bulan depan, jadi sekarang masih terikat kerjasama sama ayah. Nanti empat usaha Han kembali ke tangan Han, kalau usaha ayahnya Han sih tetap masuk ke anak usaha ayah, karena dia memang pengen tuanya enak di sini ada yang ngurus. Pinter juga ayahnya Han ini, cari istri yang muda, biar tuanya istrinya kuat ngurusin dia." Bang Chandra terkekeh kecil. 


"Ngurusin dia juga tak gratis, Bang. Imbalannya lima belas usaha otomotif." Aku meliriknya. 


"Tapi misalkan ayahnya Han wafat, itu tetap dibagi sama Han dan adiknya Han, bukan untuk kak Jasmine. Lah, lagian juga kak Jasminenya kaya." Bang Chandra bangkit dan menjambakki kepalanya. 


"Abang pulang dulu, bantu urus He Five sama Barra, biar tak ngantuk. Jam setengah tujuh ke rumah Abang ya, Dek? Pakai gamis rapi tuh, jangan pakai daster. Mau ke kantornya dulu, kau tak langsung masuk kelas." Bang Chandra melirikku sebelum dirinya pergi. 


Jadi, setelah sekian lama menjadi ibu rumah tangga aku akan kembali menjadi mahasiswi? Aku akan memakai rok plisket dan kemeja, atau memakai blazer dengan paduan gamis formal? Hmm, padahal aku terlanjur nyaman berdaster. 


Bismillah saja, aku yakin aku pasti bisa melewati kerepotan ini dengan mengasuh Galen juga. Tak apa pengasuh Galen diminta, Galen masih punya ibunya yang strong luar dalam ini. 


Aku harus kuat olahraga juga, biar tidak bertambah garing saat menjanda karena tidak ada yang menyirami. Awalnya aku gemoy, aku harus kembali ke gemoy sehat kembali. 


Aku semoga bisa menghandle dramanya Han yang katanya tidak mau aku ceraikan dan alat bersikap biasa saja saat dirinya pulang itu. Lagian, ia pulang juga untuk apa? Anak-anaknya tidak di sini, masa pulang untuk menjadi suamiku? Kan ia sendiri yang awalnya mengatakan kata cerai untukku? 


Setelah mandi dan sholat, aku memulai kerepotanku untuk mengolah makanan Galen. Galen harus sehat dan tumbuh dengan baik dari makanan yang aku usahakan untuknya. Ia satu-satunya aset berhargaku, ia harus menjadi anak laki-laki yang paling beruntung dan kelak menjadi suami yang paling beruntung. Jangan sampai seperti ibunya ini, menjadi istri yang kurang beruntung. Aku pun berharap, ia bisa memanusiakan istrinya agar istrinya tidak merasakan berada di posisiku saat ini karena sudah memilih Galen. 


Aku akan mengusahakan didikan yang luar biasa untuknya, agar ia juga memahami bagaimana berharganya seorang wanita di hidupnya. 


...****************...