Hope and Wish

Hope and Wish
H&W95. Membantu makwa



"Terserah kau, Bunga. Ayah udah angkat tangan." Ayah benar-benar mengangkat kedua tangannya. "Kau pun baiknya selamanya di ayah kau aja, ibu sambung kau diusir. Tak ada yang ngurusin ayah kau kelak, adik-adik kau dan juga kau." Ayah mundur beberapa langkah. 


"Sehat-sehat ya? Ayah tak akan pindah rumah, kau tetap boleh berkunjung dan minta ampau lebaran." Ayah merangkulku, kemudian menarikku keluar dari kamar Bunga.


Aku serba bingung di sini. 


"Mau ke mana lagi, Yah?" Aku manut saja dibawa keluar rumah pakwa oleh ayah. 


Pakwa pun tidak terlihat di mata, pasti ia tengah repot mengurus anak-anak spesialnya. Mungkin, sudah waktunya ia merasakan semua kerepotan istrinya selama ini. Makwa Ajeng sudah sangat bersabar dan bertanggung jawab pada anak-anaknya selama ini, ia pun tetap berkomitmen untuk tidak sampai ke lingkungan keluarga besarku. 


Namun, saat aku membawa mobilku kembali ke rumah. Aku melihat makwa Ajeng yang berjalan seorang diri masih dengan pakaian dan kondisi yang sama. Makwa Ajeng bisa terkena sanksi, jika memakai pakaian terbuka seperti itu. Dress selutut dan tanpa lengan, hanya kain jarik pelindung utamanya. 


"Yah, keknya makwa Ajeng perlu pakaian." Aku memelankan laju kendaraanku. 


"Ya udah kau tanya, jangan Ayah." 


Aku mengangguk, aku sudah mendapatkan izin dari ayah. Tinggal aku menyegat makwa Ajeng dan menyapanya. 


Sampai akhirnya, aku sudah berada di hadapannya. Wajahnya basah karena air mata dan keringat, rambutnya terlihat jelas dari sisi depan begini. 


"Makwa pegang uang? Butuh sesuatu? Jangan nolak, biar aku bantu sedikit." Aku tak ingin memperkeruh masalahnya, jika membiarkannya pergi dengan pakaian seperti ini. 


Ia tertunduk sejenak, memandangku kembali dan meraup wajahnya sendiri. "Boleh minta tolong antarkan ke ATM dan toko pakaian terdekat? Udah, itu aja. Aku udah ditegur orang lewat tadi." Makwa Ajeng menunjuk wanita tua yang menggendong kayu berjalan ke arah gang kecil. 


"Boleh, Makwa. Mari…." Aku merangkulnya dan membantunya membukakan pintu mobil. 


"Boleh saran, Makwa? Kalau bisa uangnya ditarik aja semua, takut dibekukan sama pakwa." Entah kenapa aku malah berbicara seperti ini. 


Beliau mengangguk. "Apa bisa di bandara tak pakai KTP?" Makwa Ajeng memandangku sebelum aku menutup pintu mobil kembali. 


Aku urung untuk menutup pintu mobil. "Bisa tak ya, Yah?" Aku tidak ahli dalam pemahaman seperti ini. 


"Bisa pakai SIM, surat keterangan dari desa, atau surat kehilangan. Tapi pernah Ayah juga pakai KTP yang difoto aja, nanti dicetak dan ditunjukkan semacam fotocopy KTP itu," jawab ayah dengan menoleh ke bangku belakang, di mana makwa Ajeng duduk. 


"Makwa mau dibantu di desa?" Aku menawarkan bantuan lagi. 


"Tak usah, Ra. Makasih. Aku ada foto KTP, nanti dicetak aja." 


Oh, syukurlah. Jika begitu, ia tidak akan kesulitan.


"Terbangnya ke mana? Kalau ke luar negeri ya harus ada paspor," tanya ayah kemudian. 


Makwa Ajeng sebelumnya mengurus pekerjaan di Brazil, jadi mungkin pikir ayah ia akan kembali ke Brazil. 


"Gorontalo, Bang," jawab makwa Ajeng kemudian. 


Ayah hanya mengangguk, kemudian aku menutup pintu mobil. Aku berjalan cepat dan mengambil alih kemudiku kembali. Aku mengantar makwa Ajeng ke ATM dan menunggunya, sedangkan ayah anteng di mobil saja. 


Masalah baru muncul, karena makwa Ajeng keluar ATM dengan banyak uang cash dan ia tidak memiliki tempat uang. Aku berinisiatif memberikan dompetku, tapi ia menolak. Ia malah mengambil kantong plastik bersih yang berada di sisi bilik ATM, kemudian menjadikannya tempat uang. 


"Ra, boleh minta rekening kau? Aku transfer ke kau, nanti kalau aku udah punya rekening baru, aku hubungi kau untuk transfer balik. Limit pengambilan cuma lima belas juta soalnya," ujar makwa Ajeng, setelah berada di dalam mobil kembali. 


"Boleh, Makwa." Aku langsung menyebutkan nomor rekeningku yang sudah aku hafal, karena hanya memiliki satu rekening. Tak lama kemudian, notifikasi uang masuk dari rekening atas nama makwa Ajeng telah masuk ke rekeningku. 


"Nomor telepon kau, Ra," pinta makwa Ajeng yang langsung aku sebutkan. 


"Aku udah chat, itu nomor aku ya? Toko baju mana aja, Ra. Paling dekat dari sini aja. Antarnya sampai toko baju aja, nanti aku lanjutin pakai travel aja ke bandara. Makasih ya, Ra, Bang Givan?" Makwa Ajeng membereskan uangnya itu. 


"Siap, Makwa. Sama-sama." Aku menyahuti, karena ayah diam saja. 


Ayah sebenarnya baik juga, tapi mungkin ada insiden atau ayah menjaga dirinya untuk tidak banyak berbicara pada makwa Ajeng. 


"Nitip Cali ya, Bang Givan? Maaf ngacauin keadaan di masa lalu." 


Aku melirik ke spion tengah, aku melihat makwa Ajeng melihat ke arah ayah. Namun, ayah seperti tidak menyadarinya. 


"Anak itu aku pulangkan ke ayahnya juga balik lagi balik lagi. Jadi udah tak ada basa-basi nitip, orang anaknya betah sama Canda." Ayah menjawab ucapan makwa Ajeng, ayah cukup bisa menghormati lawan bicaranya, meski mungkin ayah kurang menyukai makwa Ajeng. 


Aku hanya menebak dari raut wajah ayah saja. 


"Jadi Cali bakal sampai besar di asuhan kau terus, Bang?" tanya makwa Ajeng kembali. 


"Tak masalah sama aku sampai mati juga, yang penting anaknya tau diri aja." 


Jawaban ayah kurang ramah, tapi setidaknya ayah tetap menjawab. 


"Toko baju meme Tika mau kah, Makwa? Biasanya ada gamis atau setelan kok, tak melulu daster." Aku menepikan kendaraanku. 


Meme Tika adalah istri dari pamanku juga, adiknya ayah. Ia memiliki toko dari barang yang diproduksi di konveksi milik biyung, tapi dikelola oleh orang ayah. Biyung hanya mengakui dan hanya memiliki nama usaha plus pajak saja, selebihnya ya ayah juga yang repot. 


"Tak apa, Ra. Makasih ya?" Makwa Ajeng membuka pintu mobil. 


Aku ikut turun, meski ia menanyakan kenapa aku mengikutinya. Aku hanya menemaninya sampai mendapatkan baju, kemudian aku berpamitan. Sampai sini saja aku membantunya, mungkin selanjutnya ia akan sampai ke tujuannya dengan lebih mudah. 


Aduh, pakwa. Pakwa sangat tidak terpuji sekali menyuruh istri pergi dengan pakaian kurang layak, ditambah menjelang Maghrib. Meski makwa Ajeng memiliki uang, tapi kan ia tidak siap jika pergi hanya dengan membawa apa yang ada di badannya saja. 


"Ke mana lagi nih, Yah?" Aku betanya pada ayah dulu, sebelum memutar setir mobil ini. 


"Ya udah beli bakso, itung kepala orang yang di rumah. Nanti masalah sidang Hema biar Ayah sama kuasa hukum Ayah yang datang, kau fokus kuliah aja. Baru nanti setelah Hema menjalani masa hukuman dan boleh dijenguk, nanti kau harus ikut jenguk. Setidaknya, kau harus terlihat berempati pada seseorang yang berjasa untuk kau." Ayah berbicara dengan memainkan ponselnya, entah siapa yang mengganggunya di ponsel. 


"Siap, Yah." Aku merasa sedikit plong, karena satu persatu konflik mulai turun. 


"Han baru hubungi Ayah," ungkap ayah sembari membuang napas beratnya. 


Jadi kemarin itu ia tidak ada menghubungi ayah? 


...****************...