Hope and Wish

Hope and Wish
H&W89. Jasmine pamit



"Lanjut pendidikan aja lah, Bang. Kenapa aku harus ngambil D1?" Aku menyipitkan mataku pada kakak laki-lakiku yang sudah menggantikan biaya administrasi pendidikanku itu. 


"Setahun wisuda, Dek. Tapi terserah kau juga sih." Bang Chandra menyimpan kartu ATMnya. 


"Lanjutin aja, Bang. Dua tahun lagi, sambil aku nata semuanya. Minta struknya aja, nanti aku ganti biayanya." Aku melongok melihat struk yang baru keluar dari mesin ATM itu. 


Ya, aku mengekorinya sampai masuk ke bilik mesin ATM yang tersedia di area kampus untuk mempermudah pembayaran administrasi sekolah. Herannya aku pada bang Chandra, ia malah menggunakan kartu yang tidak memiliki mobile banking. Jadi kami harus berjalan menuju bilik ATM dari kantor, menuju ke area umum di depan kampus. 


"Abang sedekahkan ke janda tua." Ia mengusap-usap kepalaku dan memejamkan matanya. 


Aku langsung menepis tangannya dan ia menjauh dengan tertawa geli. 


"Abang punya uang, tenang aja. Kalau mau ganti, nanti tolong sayangi anak-anak Abang aja pas Abang udah tua tak berdaya. Bantu mereka jalanin kehidupan mereka, arahin mereka untuk bisa melanjutkan bisnis kita. Udah, gitu aja. Abang tak minta dana kembali, tapi minta tolong anak Abang jangan kau benci karena suka buat Galen nangis. Mereka anak-anak, mereka belum paham biar adik kecilnya tak nangis." Bang Chandra mendekatiku lagi dan langsung menjepit leherku. 


"Paham lah, Bang. Macam pernah aku bentak anak-anak Abang aja?!" Aku berusaha melepaskan tangannya dari leherku. 


"Kau kan masih kecil, apa-apa mainnya mutusin hubungan, bukan menelaah kesalahan masing-masing." Bang Chandra memang melepaskanku, tapi ia melirikku dan memalingkan pandangannya ke arah lain. 


Aku tersindir, bang Chandra seolah menyindir tentang masalah semalam. 


"Udahlah, Bang. Jangan bahas ini itu lagi, aku stress." Aku celingukan melihat sekeliling kampus. 


Teman-teman seangkatanku, pasti sudah senang menjadi sarjana baru. Nah aku? Masih saja jadi mahasiswi. Istrinya bang Chandra pun belum sarjana juga sebenarnya, ia masih menjadi mahasiswi dan mengambil jam di hari weekend saja. Mungkin, setahun lagi ia wisuda. Ia sempat berhenti setahun kalau tidak salah, karena kondisi hamilnya.


"Ayo, minta jadwal dulu." Bang Chandra menarikku lagi ke ruangan lain. 


"Iya, Bang." Aku manut saja. 


Hingga beberapa saat kemudian, aku dan bang Chandra pulang kembali ke rumah. Aku akan mulai belajar efektif esok harinya, setelah mendapat jadwalku. 


Bertepatan sekali saat aku pulang ke rumah, kebetulan kak Jasmine dan ayah Hamdan pamit dengan membawa cucu-cucunya. Galen ada di gendongan pengasuh Barra dan Barra digandeng pengasuhnya. Pengasuh Galen benar-benar ikut dengan mereka, ia menggendong Zee yang terlihat tidak nyaman di dekapan orang asing itu. 


"Bang Chandra mana, Dek?" Kak Jasmine menghampiriku. 


"Di rumahnya, aku turun depan rumahnya tadi. Terus, ke sininya jalan kaki." Aku memeluknya, setelah bercipika-cipiki dengannya. 


"Kalau Kakak lahiran, main ke sana ya ajak Varo? Dia tak mau ikut karena Mak Nilam tak ikut." Kak Jasmine melirik ke neneknya yang berada di teras rumahku, ia duduk di anak tangga teras bersama Varo dan pengasuh Varo. 


"Tak janji aku, Kak. Besok aku udah ada kelas." Aku sudah memikirkan outfit untuk besok. 


Bismillah, otak sepertinya mampu. Tapi aku belum ada pemasukan sampai bulan depan, yang artinya aku harus memikirkan tabunganku yang mau tidak mau terpakai untuk uang saku dan kebutuhanku dan Galen. Belum lagi memikirkan beberapa mobil yang perbaikannya tidak bisa dicover asuransi. Bisa-bisa, tabunganku ludes tak tersisa. 


Sebulan terakhir sejak menikah, aku tidak memiliki pemasukan. Aku pun tidak memiliki tabungan dari jatah uang yang diberikan suamiku kemarin. Karena uangnya diminta untuk memberi barang-barangku di hari aku meminta saja, atau untuk keperluan setiap hari. Pemegang keuangan terbesar, ya tetap dirinya. Jadi, aku tidak memiliki tabungan sepeserpun dalam sebulan belakangan. 


"Udah mulai kuliah lagi, Ra?" Ayah Hamdan mendekatiku. 


"Udah coba, panggil aja Abang Ipar. Yah, yah, yah! Tak pernah pun kau panggil aku 'bu'!" Kak Jasmine memutar bola matanya. 


"Nenek…." Aku terkekeh kecil. 


Lihatlah, ia langsung manyun dan melirikku sinis. 


"Panggil dia Yang Mulia." Ayah Hamdan membungkuk dan melipat tangannya ke depan. 


Semua orang tertawa geli, karena kak Jasmine ngambek manja dengan bergelayut di lengan suaminya. Aku jadi memikirkan rasanya tekstur kulit ayah Hamdan. Apa yang kak Jasmine rasakan saat ia mengadoni suaminya? Apa rasanya seperti menyentuh ayah sendiri? Memang dengan papa Ghifar saja lebih tua papa Ghifar, ketimbang ayah Hamdan. Tapi yang namanya laki-laki sudah empat puluh lebih, tentu tekstur kulitnya tidak sama dengan laki-laki usia dua puluh tahun lebih. 


"Tidur muka dikipasin pakai buku, digaruk-garuk punggungnya. Farah sama Zee gitu gak, neneknya yang begitu malah." Ayah Hamdan terkekeh kecil. 


Aduh, manjanya. Aku jadi iri. Ternyata, kak Jasmine memilih suami yang tua pun rasanya amat beruntung. Karena yang muda belum tentu bisa membuatnya nyaman, apalagi mau mengipasi dan garuk-garuk segala. 


"Jangan panggil aku nenek." Kak Jasmine berakting menangis, ia bergerak mendekati ayah yang baru turun dari teras rumah. 


Ayah masih kelihatan lemas dan pucat. 


"Terus apa? Masyik?" tanya ayah dengan terkekeh. 


"Masyik lagi." Kak Jasmine tepuk jidat. 


Semua orang mengantar mereka dengan tawa hangat. Ayah, biyung dan yang lain biasa saja terhadap ayah Hamdan, padahal pasti mereka tahu permasalahanku dengan anak ayah Hamdan. Syukurlah, setidaknya mereka tidak mencampur adukan masalah anak yang satu dengan anak yang lain. Istilahnya, profesional. Yang bermasalah si Han, ya ayahnya tidak kena imbasnya. 


"Dek, kalau mau pengasuh baru nanti tunggu Ayah sehat ya? Nanti kita ke yayasan yang terpercaya lagi." Ayah duduk di tangga teras, menatap mobil yang mengantar keluarga kak Jasmine ke bandara. 


"Kalau sementara aku ada jam, Galen sama biyung. Terus pas aku pulang, Galen sama aku lagi, gimana tuh, Yah?" Aku menoleh menunggu respon ayah. 


Ayah diam, ia menoleh sekilas dan memperhatikan mak Nilam yang menggiring Varo kembali ke pintu penghubung ke halaman sebelah. 


"Tak apa. Tapi kalau kau banyak tugas, anak kau gimana? Dijaga diemong sih pasti, banyak orang di sini. Pengasuh pun banyak, bisa gendong sana sini, mandi sana sini, makan sana sini. Tapi ibaratnya kalau dia tak punya pegangan sendiri, takutnya jadi cela kami untuk teledor. Kami kira Galen sama biyung, biyung bilang sama pengasuh Cala Cali, kata pengasuh Cala Calinya ternyata Galen sama pengasuh Barra. Eh tak taunya, dibawa keluar sama abang kau. Lebih buruknya lagi, ternyata anak itu dibawa main sama anak-anak kecil modelan Gabriel. Jatuh di jalan, tersesat di ladang, mencar di gang, apa tak ngeri tuh?" 


Ihh, aku jadi parno sendiri. 


"Sementara waktu, nanti aku ngobrol sama mama Aca deh. Maksudnya, sementara aku ada jam gitu tuh, Yah. Kalau misalkan tugas, mungkin bisa lah aku geser-geser. Kan mama Aca nganggur juga ibaratnya, tak megang anak kecil." Aku pikir, mama Aca tidak keberatan untuk menjaga Galen satu atau dua jam. 


"Tak ada ibu-ibu rumah tangga nganggur tuh, Dek. Tapi coba aja, mana tau mau. Nanti sorean, kita ke tempatnya Wildan ya? Sekalian kita obrolin, baiknya gimana tentang Hema." Ayah bangkit, meregangkan ototnya, kemudian naik kembali ke teras dan masuk ke dalam rumah. 


Berhadapan dengan keluarga Hema, aku jadi merasa tidak enak hati dulu. 


...****************...