Hope and Wish

Hope and Wish
H&W67. Keputusan tetap



"Coba dipahami aja, Pakwa." Aku memberikan hasil tangkapan layar di ponselku, karena tiba-tiba Bunga mengaktifkan pesan sementara yang membuat jejak pesannya lenyap di room chat suamiku. 


"Apa ini?" Pakwa mengerutkan alisnya. 


"Digeser aja kalau udah bacanya, Pakwa." Aku mencontohkannya. 


"Iya, Ra." Pakwa terlihat serius menyimak. 


"Tak ada pesan yang mencurigakan kok, Ra." Pakwa masih fokus menyimak hasil tangkapan layar tersebut. 


Masa orang cerdas yang memiliki rumah sakit besar tidak memahami baiknya bersikap ke suami orang? Apa ia tidak memahami anehnya panggilan masuk jam sebelas malam itu? 


"Coba dilihat screenshot daftar panggilannya itu. Masa iya tak mencurigakan kalau nelpon suami orang malam-malam? Masa iya butuh ke suami orang sampai segitunya?" Aku mengangkat satu alisku menunggu respon pakwa. 


"Ya, kan namanya kondisi darurat mana tau waktu?"


Sudah mulai 'ya, ya, ya'nya. 


"Makanya biar keurus ayahnya, sekalian aja Zee di Bang Bengkel. Aku tak masalah kok, Pakwa. Aku tak merasa terbebani, aku tak merasa direpotkan karena adanya Zee di dalam keluarga kecil kita. Biar Bunga ya tenang, tak repot harus nelponin terus ayahnya Zee." Aku mengusap pangkuan suamiku. 


Aku merasa tidak akan ada habisnya pembelaan mereka, karena ayah dan anak itu sama saja. 


"Iya, Ra. Kan udah diputuskan, nanti kalau Bunga udah mau ke pesantren, urusannya dengan Hema udah selesai, Zee kan pindah ke Han. Kurang jelas apa sih, Ra?" Pakwa menghela napasnya, seolah aku ini makhluk bodoh yang diberi pengertian. 


"Jadi selama masalah Bunga belum selesai dan dia belum berangkat ke pesantren, dia harus selalu ngejar-ngejar suami aku? Suami aku lewat pulang ke rumah, Bunga langsung ngejer dan bertamu di rumah aku dengan bilang Zee nyariin, Zee pengen main sama ayah. Itu kondisi di mana Bunga taunya aku masih di klinik, begitu aku yang buka pintu dia langsung panik. Basa-basinya dengan nanya, kau udah pulang Ra? Tuh, asal Pakwa tau aja begitu kelakuan Bunga. Aku jelas ngajak ribut, aku jelas ngamuk. Aku juga butuh quality time sama suami aku, bukannya malah suami aku dijajah Bunga lagi. Memang Zee anaknya, paham Zee ditanggung ayahnya. Tapi kan sementara hak asuh masih di Bunga dan sementara Zee masih sama ibu kandungnya, ya jangan apa-apa ayahnya dong. Sekali lagi, bukan aku keberatan. Tapi ayahnya Zee ini punya istri dan punya anak lain. Istri mana yang tak ngamuk, kalau suaminya diganggu terus sama ibu dari anak di luar pernikahannya? Zeenya yang tak excited ketemu ayahnya, tapi Bunga jadikan alasan biar dia punya waktu ngobrol dengan ayahnya Zee. Entah salah atau tak aku ngomong, tapi itu asumsi aku, Pakwa." Aku menjeda kalimatku untuk mengambil napas lebih banyak. "Intinya aku keberatan, kalau apa-apa Bunga melibatkan terus suami aku. Udah mana suami aku orangnya panikan, tak tegaan, ya udah kek kerbau dicucuk tuh. Toh hak asuh kan masih di Bunga, artinya bisa dong asuh Zee tanpa peran suami aku?" lanjutku kemudian. 


Aku melihat urat-urat leher pakwa menonjol, ia seperti menahan emosinya. Apa ia marah, karena aku mengatakan hak itu tentang anaknya? Apa ia tak terima? 


"Udah, Ra. Sekalian aja Zee tak usah pindah asuh kalau kek gitu." Jakun pakwa naik turun. "Han orang tuanya juga, Bunga orang tuanya juga. Apa salahnya Han ikut andil dalam ngasih perhatian ke Zee? Apa salahnya Han ikut andil untuk tau perkembangan medis Zee?"


Kok seperti ini tanggapan pakwa?


"Jangan kayak gitu, Pakwa. Aku ambil tengahnya aja, iya silahkan Zee di Bunga dulu sampai urusan Bunga selesai. Setelah urusan Bunga selesai, nanti Zee diurus sama aku dan Ra. Aku tetep ikut andil untuk tumbuh kembang Zee kok, Pakwa tenang aja." Suamiku langsung bersuara. 


Ia takut dengan ancaman itu, tapi ia tidak takut murkanya aku. 


Apa itu kode? Apa ia punya rencana? Tapi rencana apa? Kenapa aku tidak diberitahu dulu olehnya? 


Pakwa diam, ia mengatur napasnya dan tertunduk sejenak. 


"Sebenarnya, ini masalah kalian kan? Sebenarnya, ini masalah intern kan? Tapi karena ketakutan kau, kau takut suami kau direbut, jadi kau mengkait-kaitkannya dengan Bunga dan Zee. Kalau dibolak-balik keputusan akhirnya kek yang utama, kenapa sih harus diributkan terus? Toh Zee di rumah sebelah juga, kau pun bisa kontrol suami kau, Ra. Han bisa ke sana ke mari dengan mudah Seolah-olah, itu masalah besar untuk kau."


Lah, lalu bagaimana? Suamiku istrinya berapa memang? Kenapa suamiku harus ke sana ke mari? 


"Iya, Pakwa. Kita masih pengantin baru dan kita masih butuh quality time, sedangkan masalah anak ada aja, apalagi tentang kesehatan anak kan gak bisa ditunda lagi. Jadi mau gak mau, keharmonisan kita yang terganggu. Mohon maklumnya aja, Pakwa." Bang Bengkel tersenyum samar. 


Improvisasi apalagi ini? Atau, bang Bengkel mengalah pada pakwa lagi? 


"Ra…. Kau yang percaya sama suami kau coba. Kau tak yakin kalau Han bisa jaga n****nya? Kenapa kau seolah terus beranggapan bahwa antara Han dan Bunga itu terjadi perselingkuhan, dengan Bunga yang menggoda Han? Awal teguran kau tadi maksudnya begitu kan?"


Orang tua seperti ini harusnya didoakan tidak kesehatannya dan untuk umur panjangnya? Berapa lagi jatah usia pakwa Ken? Kenapa ia masih hidup padahal sudah melewati beberapa novel? 


"Karena hal itu terjadi karena adanya kesempatan, Pakwa. Pakwa lupa caranya mikar istrinya papa Ghifar? Alasan ambil lemari kaca, ternyata kan ngambil kesempatannya kan? Ya mirip-mirip lah, beda kesempatan dan ceritanya aja. Selingkuh karena n**** tuh begitu, Pakwa. Sekali hap, sekali terjadi, selepas itu tinggal nyeselnya aja." Aku berbicara dengan nada lembut dan tersenyum manis. 


Namun, nyatanya kalimat itu mengandung unsur yang membuat urat-urat pakwa Ken semakin bertambah tegang. 


"Kau tuh sama aja kek ayah kau, Ra. Setiap kali ngobrol, ujung-ujungnya ngajak ribut. Udah! Intinya gitu aja, Pakwa permisi." Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu. 


"Biar dibantu, Pakwa." Bang Bengkel langsung melangkah cepat untuk membukakan pintu yang tertutup otomatis dan terkunci otomatis jika tidak diganjal itu. 


"Han, tugas kau tuh ngajarin istri yang kek gitu." Pakwa Ken melirikku, kemudian memandang bang Bengkel. 


Bang Bengkel mengulas senyum, ia mengangguk mantap. "Aku tau, Pakwa," jawabnya kemudian. 


Bang Bengkel langsung menutup pintu setelah pakwa keluar, kemudian ia merapatkan gorden ruang tamu ini. 


"Kenapa sih selalu ngalah sama orang? Kenapa kalau sama istri sendiri malah terkesan tak mau ngalah?!" Aku bangkit dan berjalan mendekatinya. 


...****************...