
"Nelpon pak RT, Yang. Udah langsung diurus pak RW, karena jangkauan kenalan dia luas. Untuk tanda tangan ini itu, paling besok sore jadi katanya. Mau hari selasa nikah? Senin sore, surat numpang nikah udah jadi," jawabnya setelah aku bertanya kenapa ia sibuk dengan ponselnya saja.
"Rabu aja, Selasa untuk perjalanan." Aku heran, ada menikah prosesnya hitungan hari begini.
"Oke siap, Abang ngobrol dulu sama pak RWnya." Ia memberikan dot susu untuk Farah, kemudian ia meraih ponselnya kembali.
Ia berbicara dengan ponselnya di luar rumah, sedangkan aku mencoba menidurkan Farah dengan cara memberinya susu formula dalam botol dot. Rasanya pasti capek sekali memberinya botol susu sesering mungkin, karena kemarin ia hanya minum susu. Mending juga ASI, langsung hap saja. Lebih praktis, lebih instan, tidak perlu diseduh.
Jika sudah menikah dengan ayahnya, mungkin sekalian akan aku ASIhi saja dia. Daripada aku bolak-balik membuat susu formula, mending tinggal buka saja PDku. Aku pun masih rutin kok memerah ASIP, meski Galen jauh di sana.
"Abang ke bengkel dulu ya? Besok kita bareng aja pulangnya, Yang. Senin sore pak RW janjikan suratnya jadi, nanti malam Selasanya kita langsung ambil penerbangan aja. Paginya sampai tuh, bisa minta ayah Givan untuk daftar nikah. Sekalian kita milih baju kan? Entah kebaya, atau setelan jas gitu?" Ia masuk kembali ke dalam rumah nenek Dinda ini.
Rencananya tersusun rapi.
"Iya, Bang." Aku menunduk melihat Farah.
Anak perempuan ini sulit ditidurkan. Nanti bagaimana jika ayahnya bekerja, sedangkan Farah di rumah bersamaku? Aku khawatir ia mengamuk seharian, karena tidak menemukan ayahnya di rumah.
"Sini ditimang sama Ayah." Bang Bengkel mengambil alih Farah.
"Ehh, aduh lupa." Ia menepuk jidatnya dan urung menggendong Farah.
Untungnya, Farah belum aku lepaskan.
"Kenapa, Bang?" tanyaku kemudian.
"Surat perjanjiannya gimana, Yang? Nanti besok sekalian disahkan gitu, sekalian tanda tangan ayah Givan sebagai saksi."
Aku bahkan sudah tidak memikirkan hal itu, yang penting jadi dengan dirinya saja.
"Aku tak nuntut apapun, selagi tak toxic ya tak boleh cerai."
Ia terbahak-bahak sampai mendongakkan kepalanya ke atas.
"Boleh, lima puluh." Ia meninggikan bibirnya kala mengatakan hal itu.
"Abang tuh bercanda terus." Aku menyentuh tangannya.
Ia memilih duduk di lantai, hingga Farah bisa meraih rambutnya. Karena aku berada di belakangnya.
"Kalau sesederhana itu, Abang juga minta yang sederhana aja. Tolong hormati Abang sebagai suami, sayangi anak-anak Abang seperti anak kamu sendiri." Ia mengusap-usap tanganku yang tengah ia genggam dengan ibu jarinya.
"Hormati suami itu gimana? Aku tak paham." Lebih tepatnya, aku ingin tahu detailnya tentang apa yang ia inginkan dari perlakuanku.
"Yang taat gitu, Yang. Abang tau kamu lebih kaya, kamu lebih berkuasa, tapi jangan rendahin Abang tentang nafkah lahir yang mampu Abang kasih. Kalau memang kurang, ya bilangnya baik-baik, sampaikan setelah capek Abang hilang. Jangan main lempar uang yang Abang kasih, atau maki-maki Abang tentang nilai yang Abang kasih ke kamu. Misalnya juga, ayo makan. Kamu udah makan, tapi setidaknya kamu nemenin Abang makan. Abang tersentuh diperlukan seperti ini sejak jadi suaminya Harum, ngerasa banget dihormati dan dihargai."
Waduh, jadi aku harus menjadi peran pengganti dari seseorang yang sudah tiada dari kehidupannya?
"Ihh, gak bilang begitu kok, Yang." Ia sampai menoleh dengan cepat.
"Terus, gimana? Perlakuan kak Harum begitu, Abang ingin aku begitu." Aku sudah berpikir buruk, aku takut ia tidak bisa mencintaiku.
"Ya maksudnya, ya begitu loh cara istri menghormati suami. Jadi Abang yang jadi suami itu merasa bahwa kehadiran kita berharga untuk dia, bahwa kita pulang dari pekerjaan tuh ditunggu-tunggu sama dia, ditambah dia memang ingin makanannya dimakan suaminya. Abang gak pernah masalah kamu mandi atau belum, yang penting Abang sampai ke rumah tuh, kamu kelihatan happy gitu."
Arghhh, romantis. Ia suka hal-hal yang berbau romantis, tidak seperti realitanya di rumahku.
Ayahku pulang, biyung langsung heboh ini dan itu. Ayahku makan, biyung cuma menyiapkan dan dirinya pergi, sampai ayahku selalu mencuci piring bekas makannya sendiri.
Ehh, tapi mama Aca dan papa Ghifar kan begitu. Mereka terlihat selalu bersama di rumah juga, kecuali jika tengah ribut, papa Ghifar akan langsung pindah kamar sampai amarahnya reda.
"Aku tuh, tak pasti." Aku mengingat tugasku sebagai istri.
"Gak pasti gimana maksudnya?" Ia mengambil alih Farah, karena anak itu tidak mau anteng sejak ayahnya duduk di lantai di dekat kakiku.
"Ya kan aku kerja juga, makan siang sama malam ya sering di luar. Pagi sih tetap sarapan aku yang buat, kalau gak ada kerjaan ya aku yang masak sampai makan malam juga."
Ia menghela napasnya. "Maksudnya gini loh, Yang. Contoh nih, Yang. Yang makan, Abang bilang gitu. Kamu datang ke Abang, entah siap atau belum itu makanan tuh, kamu datang nih hampiri. Misalkan kata kamu, gak sempat masak Bang, aku udah beli lauk matang atau udah orderkan makanan. Ya gak masalah, yang penting waktunya Abang minta makan, ya udah ada itu makanan, Abang gak harus nungguin makanan itu datang atau dadakan beli dulu. Terus udah mulai makan nih, kamu bilang udah makan. Ya kamu jangan pergi, temenin Abang makan. Kan katanya anak-anak nanti dijaga baby sitter kan? Jadi, kamu punya waktu untuk suami kan?" Ia mendongak ke arahku, karena aku duduk di kursi dan posisiku lebih tinggi.
"Iya ngerti, Bang. Tapi kalau mood aku buruk, gimana? Aku moodyan." Aku merenggut.
"Kita coba rutin keluarin ya? Kalau masih moodyan, mungkin memang Abang yang salah sikap."
Kenapa harus tentang rutin dikeluarkan? Kenapa harus ke arah s**s? Ditambah lagi, ia malah merendah seperti itu.
"Ya bukan Abang salah sikap juga, kalau mau haid juga emosi aku tak terkontrol." Kira-kira, ia paham tidak dengan siklus mood perempuan?
"Iya tau, Harum pun gitu. Diam aja, murung aja. Cuma kan dia gak bisa marah, tau-tau nangis aja. Sampai stress sendiri aku yang jadi suaminya, dikira Abang punya salah. Cuma kalau udah murung, aku bawa pemanasan, ya gak lanjut nangis kok, keenakan malah."
Aih, sih begitu?
"Kan lagi tak mood, masa diajakin begituan?" Aku meliriknya.
"Iya, nanti coba ya? Kalau masih gak mood, mood aja punya Abang, gak masalah kok kalau inisiatif n**mood di waktu random. Mau berangkat kerja contohnya, atau pas baru selesai mandi. Bisa juga kalau Abang lagi ngambek, atau pas lagi di mobil." Ia mencolek daguku dan tertawa geli.
Fantasinya tidak jauh dari mobil. Aku tidak pernah melakukannya, karena Syuhada adalah orang yang harus melakukan dengan kontestasi penuh. Bahkan, jika ada suara orang, ia langsung panik dan down begitu saja.
"Udah, sana pulang dulu. Buat error aja ini duda."
Ia terbahak-bahak kembali, sampai Farah berkedip bingung melihat ayahnya.
...****************...