
Ia lelap sepertinya, ia terlihat tenang dan nyaman di bawah selimut. Aku memfokuskan diri untuk mengusap-usap wajahku dulu dengan krim malam, tak lupa melepaskan hijabku dan menata rambutku yang memang tidak lurus.
Rambutku seperti biyung, ikal bergelombang. Aku tidak meluruskannya, tapi aku merawatnya hingga terlihat benar-benar sehat meski bukan warna asli rambutku. Yap benar, gara-gara drama Korea aku jadi mabuk rambut diwarna. Sekarang sudah pirang, warnanya sudah luntur.
Aku merasa dasterku nyaman untuk tidur, aku memilih untuk memakai daster ini saja dan merebahkan tubuhku di sampingnya. Baru juga menarik napas, tiba-tiba aku merasa tubuh sampai wajahku dikurung oleh selimut dan dipeluk seseorang.
"HAH!" Laki-laki ini berteriak kaget dengan melepaskanku.
"Kok pirang? Siapa ini?" Bang Bengkel membuka selimut yang menutupiku.
"Apa sih?" Aku terkekeh geli.
"Ih, buat kaget aja." Ia memelukku dengan hangat.
"Jadi, kayak beli kucing di dalam karung. Bahkan Abang gak tau, kalau rambut kamu pirang, Yang." Ia tertawa geli.
Jadi, ia benar-benar kaget dengan rambutku?
"Memang ngiranya gimana, Bang?" Aku menoleh ke arahnya.
Wajahnya dan wajahku amat dekat, napasnya bau rokok sekali. Bodohnya, aku malah suka dengan bau napasnya yang seperti itu.
"Yaa, ngiranya rambut hitam. Memang boleh dalam agama, Yang?" Ia membelai rambutku.
Matanya fokus pada rambutku.
"Boleh, malah tak boleh kalau diwarna hitam." Aslinya jantungku tidak baik-baik saja jika sedekat ini dengannya.
"Kirain tadi tuh orang lain, Abang salah masuk kamar." Ia tertawa geli dan mencium pipiku.
Jadi, ia pura-pura tidur?
"Gimana doanya, Yang? Ajarin, Yang." Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku.
Ini kelemahanku, ia berbicara dekat telinga saja aku sudah oleng. Apalagi, ia bernapas dan sengaja menghembuskan napasnya di telingaku.
"Aduh, aduh…." Leherku mengkerut, aku mencoba menghindari serangannya.
"Cuci dulu, Bang. Cuci dulu…." Ia harus terbiasa dengan aturan sederhana ini.
"Udah, Sayang. Hal itu, biasanya pun Abang lakuin kok." L****nya bermain di daun telingaku, meski aku sudah menekan leherku ke dalam.
"Abang…." Aku takut sendiri, karena tangannya mengunci kepalaku agar dirinya mendapat akses ke telingaku.
"Kok gemeteran suaranya? Lapar?" Ia melepaskan telingaku, tapi satu kakinya naik ke atas kakiku.
"Aku deg-degan," akuku bodoh.
Ia tertawa menang, padahal aku belum diapa-apakan.
"Ayo ajarin doanya, Yang." Tubuhnya sedikit naik, kemudian ia melepas kaosnya dengan satu tarikan.
"Bisa tak sih caranya? Kok aku takut Abang amatiran enakin perempuan?" Aku khawatir ia egois.
"Doa sih gak bisa, kalau ngenakin sih boleh dicoba dulu. Kalau masih kurang pro, ya ajarin Abangnya dong, Yang." Ia memelukku seperti aku gulingnya.
"Bismillah, Allahumma??? Apa tadi? Pelan-pelan, Yang."
Pelukannya saja erat begini, aku jadi takut digaulinya.
Aku membacakan ulang dengan perlahan, sampai ia bisa mengikutinya. Belum juga mengambil napas lagi setelah berdoa, ia langsung menyerang bibirku.
Aku sampai terengah-engah. Paham aku tengah mencari napas, ia langsung mencari titik kelemahanku yang lain.
"Shttttttttttttt…. Belum mulai, jangan terlalu berisik. Gak enak sama ayah kalau sampai ayah dengar, Yang." Ia menjeda incarannya.
Ya ampun, kepayang sekali rasanya. Aku pun tidak sadar, jika mulutku berisik dibuatnya.
"Ya salam, bibirnya sampai gemeteran. Haus?" Ia mengusap bibirku yang sekarang mungkin sudah pucat karena ulah serangannya yang acak.
"Ngeledek aja." Aku merengek dengan memeluk lehernya.
"Ini kepalanya baru mau turun, Yang. Cuma bagian atas aja, sampai mandi keringat begini." Ia melepaskan tanganku di lehernya, kemudian ia membuka kakiku dan ia mengaksesnya.
Bukan mandi keringat saja, ini sudah mandi keringat dingin.
Aku tidak mengajarinya, tapi ia bekerja dengan benar. Sesekali ia melirikku, sorot matanya seperti mengejekku bahwa dirinya mampu membuatku ngos-ngosan tanpa pekerjaan yang berat.
"Mau gantian tak?" Aku menawari opsi ini, agar jari dan mulutnya enyah dari sana.
Aku khawatir ia marah, jika aku melarangnya. Aku ingin melarang bukan karena sakit juga, tapi karena aku sudah ingin terbang sekali rasanya.
Apa yang ia inginkan? Kenapa harus menawariku dulu?
"Abang tak kepengen?" Aku bisa bernapas sedikit lega, karena punggungnya sudah tegak kembali.
"Tuh, sampai begini. Masa iya gak Abang gak pengen?" Ia menaruh senjata warisannya, di area depan yang sudah aku pangkas sampai licin.
Dirinya sudah mengeluarkan cairan bening. Iseng sekali dirinya, ia mengusap cairan itu dan menempelkan di hidungku.
Ia tertawa lepas, kala aku cemberut dan berusaha mengusap cairan pelumas alaminya. Sedang repot mengusap cairan itu, aku merasakan desakan masuk yang dilakukan perlahan.
Ia tak memberikan aba-aba.
"Kok hangat banget?" Ia bergumam dengan memejamkan matanya.
Ia menikmati sensasinya. Tapi terang saja, aku memikirkan rasanya diriku karena sudah mengeluarkan Galen di bidan desa.
"Enak tak, Bang?" Aku memberikan pertanyaan yang menjebak perasaanku sendiri.
Ia membuka matanya. "Hm? Kenapa?" Ia menurunkan punggungnya dan memelukku.
Ia seperti tidak mendengar pertanyaanku.
"Aduh…." Aku meringis kala ia terus mendesak masuk.
"Sakit? Kok ekspresinya gitu?" Gerakan mendorongnya berhenti.
"Kepanjangan keknya, sakit." Aku mereka memang sudah sampai sangat ujung, tapi ia tetap memaksakan.
"Tenang, ganti posisi aja. Jangan ganti barang Gue." Ia menegakkan punggungnya, kemudian melipat satu kakiku sampai posisiku miring.
Ia tidak melepaskan miliknya.
"Masa iya orang tinggi, itunya ikutan panjang?" tanyaku, kala ia tengah berbaring perlahan di belakangku.
Ia tetap tidak melepaskan miliknya. Ia tahu caranya merubah posisi tanpa menarik miliknya, itu tandanya ia memang ahlinya.
"Belum biasa aja." Ia memelukku dari belakang.
Ia tetap diam, bibirnya menjelajahi area leher belakangku. Sampai akhirnya aku berisik kembali, ia mulai bergerak perlahan dengan mengangkat satu kakiku.
Kena.
Aku kelojotan dan semakin membuat kamar ini penuh dengan suaraku saja.
"Yang keras, yang cepat," pintaku dengan suara bergetar dan meninggi.
Ini kelemahanku juga, aku berisik sekali.
"Wuih, sabar dong. Baru juga jalan di tempat, langsung suruh lari aja." Ia tidak memberikan apa yang aku inginkan.
"Tak mau, cepat pokoknya." Aku pun merasakan bahwa diriku semakin membuat pergerakannya licin.
"Enak ya? Gak sakit?"
Tuh, kan? Ia meledekku kembali.
"Abang…." Aku merengek dan mencoba menoleh ke belakang.
"Tenang, Sayang. Dikasih kok, yang keras?" Ia langsung melakukannya dan aku suka. "Yang cepat?" lanjutnya dengan mempercepat temponya bergerak.
Mungkin ini menjadi rekor tercepat untukku. Baru juga dirinya masuk, belum satu menit, aku sudah meninggalkan lebih dulu ke atas awan.
Aku tidak memperdulikan bagaimana ributnya mulutku, aku tidak memperdulikan bagaimana kagetnya dirinya mendapatiku yang kejang mendadak. Otakku tidak bisa berpikir sama sekali, tubuhku tidak bisa dikontrol sama sekali.
"Ya salam, Yang." Ia menempatkan sangat dalam, setelah aku mereda.
"Besok di rumah sendiri aja, malu sama mertua. Baru akad jam dua siang tadi, jam sembilan malamnya udah perang dunia begini." Ia tetap memelukku meski tangannya membuat ASI Galen tumpah.
"Kan tak berantem juga." Aku mengatur napasku.
"Ya justru itu, ngalahin orang berantem suaranya. Tapi gak apa, tetap berisik ya? Abang merasa jantan sekali." Ia bangkit dan melepaskan dirinya, kemudian ia menunjukkan otot bicepsnya.
"Mau ke mana? Lagi sih." Aku panik, saat ia merosot turun dari ranjang.
Ia menoleh dengan pandangan kaget, aku sampai tertawa geli melihat ekspresinya. Moodku selalu baik jika seperti itu caranya.
...****************...