
"Jadi, langkah apa yang harus aku ambil?" Aku menghela napasku.
"Tak usah bilang ayah kau, kalau Han punya rencana mau buat cabang baru. Pada dasarnya itu, rencana dan keinginan kau tuh tak boleh dipublikasikan. Soalnya biasanya malah gagal, kalah kau gembar-gembor dulu. Kan katanya kalau uangnya udah terkumpul kan? Kau bilang tadi begitu pas cerita. Berarti itu artinya nanti kan? Nah, sambil nunggu uangnya terkumpul tuh, kau nih diam aja jalani hari-hari kau kek biasa. Ikut Han, ya ikut Han. Tak perlu tunjukkin kecemasan kau tentang kota besar di lingkungan ini. Orang kampung ke kota, itu tak susah adaptasinya. Lagian, kau melek teknologi dan kau keren pakai apapun, kau tak akan disebut kampungan juga di sana. Malah orang kota yang datang ke kampung butuh waktu penyesuaian yang cukup lama. Karena sinyal internet aja bermasalah, Dek. Kau paham sendiri, berapa provider yang tembus kuat ke sini. Gilanya lagi, di jaman sekarang malah 5G susah tembus di sini. Hujan, mati lampu, jaringan langsung tak stabil. Wifi apalagi, mati lampu ya mati jaringan. Lebih susahnya mereka yang ngidam bioskop di sini, yang ngidam klub di sini. Udah pokoknya kau biasa aja ke ayah kau, kek kau tak punya rencana sama suami kau. Layanin Han baik-baik, ingat saingan kau lebih berkesan di ranjang ketimbang kau. Jangan kasih dia cela, karena istri itu wajib loh mempertahankan suaminya dan menjaga rumah tangganya." Mama Aca tersenyum manis dan mengusap-usap bahu kananku.
"Kata bang Bengkel, enakan aku kok." Aku melirik mama Aca.
"Iya, karena kau yang dipakai." Mama Aca merubah posisi duduknya, tapi langsung aku terjang hingga ia tersungkur di ranjang empuk ini.
Tawanya lepas, kami bagai anak kecil yang adu gulat di ranjang empuk.
"Aku overthinking nih! Mama tak boleh kacaukan pikiran aku." Aku menyudahi pergulatan ini, dengan membenahi hijabku dari anak rambutku yang keluar-keluar.
"Yang penting rutin olahraga aja, biar terjaga." Mama Aca menarik bantal gulingnya. "Kita tak tau kondisi area sensitif kita bagaimana sebenarnya, jadi lebih baik ambil opsi untuk merawatnya aja. Entah-entah suami-suami kita itu jujur tak ke kita, karena Mama pun ragu pengakuan papa Ghifar. Tapi pernah curhat ke mamah mertua Mama, katanya yang penting dirawat aja. Daripada terus nodong suami kita dengan pertanyaan enak tak, lebih baik kita pertahankan yang mereka bilang enak itu." Mama Aca manaik turunkan alisnya.
Benar juga, tidak salah ucapannya ini.
"Belanja yuk? Sejak kau jadi istri Syuhada, sampai ganti suami lagi. Kita tak pernah pergi belanja." Mama Aca menggeliatkan tubuhnya.
Ia nenek-nenek yang cantik. Usianya di atas papa Ghifar, tapi di bawah ayah. Keluarga besar kami kalah dengan gigi semua, aku yang masih muda saja sudah pakai geraham palsu. Semuanya bermasalah, entah perawatan veneer untuk memperbaiki bentuk gigi. Entah kawat gigi, seperti Kal dan, Athaya, Aruna dan Gwen.
Gigiku pun tidak rapi, gigi atasku gingsul dan runcing. Cuma, aku takut sakit untuk melakukan perawatan kawat gigi. Sedangkan gigi geraham satunya berlubang parah dan satunya patah, keduanya sudah dilakukan perawatan semua. Ayah apalagi, sebagian besar giginya adalah gigi palsu permanen.
"Aku izin bang Bengkel dulu ya, Ma? Aku telpon aja deh." Aku merogoh ponselku.
"Sana datengin aja, sekalian siap-siap ambil apa gitu." Mama Aca turun dari ranjang.
"Ya udah, nanti aku ke sini lagi." Aku pun turun dari ranjang.
"Hmm, pakai mobil papa aja. Papa tadi berangkat kerja naik motor, belajarin Kaf sedikit tentang pergerakan bisnis di PTnya." Mama Aca masuk ke ruang walk in closet.
"Ya, Ma." Aku lanjut keluar dari kamar dan menuju rumah kak Jasmine.
Namun, aku berpapasan dengan suamiku di halaman rumah ayah. Ia sudah memakai celana jeans dan kaos harian.
"Abang pinjam mobil ya, Yang? Abang ada keperluan di luar sama ayah." Ia menunjukkan kunci mobilku.
Segala izin pinjam segala. Pakai tinggal pakai, aku jadi merasa ia tidak menganggap barang-barang milikku adalah miliknya.
"Keperluan apa?" Aku menahan dadanya.
"Ibu Jasmine mau beli ladang di daerah sini. Orangnya yang mau jualnya ngajakin ngopi di toko material ayah. Ada bang Chandra Hema, sama kakak iparnya Hema di sana, katanya sih masih saudaranya kakak iparnya Hema." Bang Bengkel melirik ke arah teras rumah Bunga, ketika ia baru selesai berbicara.
Aku pun mendengar pintu rumah Bunga terbuka.
Ketika aku menoleh, Zee malah asyik menggaruk kepalanya.
"Mau main, Zee. Zee gak bobo? Bang Galen sama adek Farah udah bobo." Bang Bengkel menjawab biasa saja, tapi aku malah panas hati.
"Tak, Yah. Zee mau ke papah." Bunga membuka payungnya.
Pasti yang dimaksud papah adalah Hema. Sedangkan Hema katanya ada di toko material ayah, nanti Bunga berkumpul bersama bang Bengkel dong? Apa sekarang juga Bunga ingin menumpang?
"Ohh." Bang Bengkel celingukan, mungkin ia menanti ayah Hamdan.
"Bang, aku mau keluar sama mama Aca." Aku sampai lupa untuk izin padanya.
"Mama Aca?" Bang Bengkel merogoh saku belakangnya.
"Iya, Bang. Ngajakin belanja, Bang." Ia pun harus tahu tujuanku.
"Nih, passwordnya tanggal lahir Farah ya? Abang belum narik uang lagi soalnya, pegangan Abang cuma ada lima ratus. Nanti kurang untuk belanja Adek." Ia menunjukkan isi dompetnya.
Aku memang mendapatkan uang cash dari rekeningnya. Jika menipis, ya aku minta. Jika belanja online, ya menggunakan metode transfer darinya. Jika belanja bulanan di swalayan besar, ya ia yang bayar. Sama saja sih sebenarnya aku yang pegang atau dia yang pegang, aku tetap dikasih uang untuk kebutuhan kami semua. Untuk nafkah khusus pun aku meminta, karena ia tidak mengerti. Tidak banyak, tapi cukup untukku.
"Abang cukup tak pegang segitu?" Aku memandang wajahnya.
"Lebih malah, orang Abang cuma nemenin ayah aja." Ia bersandar pada mobil pink ini.
Aku melirik ke arah Bunga, ia memperhatikan kami dan melangkah perlahan. Apa ia menunggu bang Bengkel menawarinya? Atau, ia memang ingin ikut dengan bang Bengkel jika tidak ada aku di sini?
"Aku mau ambil sesuatu di rumah. Aku pakai mobilnya papa Ghifar." Pandangan mataku terarah ke arah Bunga lagi.
Perasaanku tak enak, pikiran burukku muncul kembali. Aku berpikir mereka memang niat pergi berdua, ayah Hamdan hanya dijadikan alibi saja.
"Oke, ati-ati." Suamiku melipir ke sisi lain mobil, kemudian masuk ke dalam mobil.
Aku sebenarnya ingin menunggu sampai mobil suamiku benar-benar pergi, aku ingin memastikan bahwa Bunga benar-benar tidak ikut. Tapi aku tidak enak hati pada suamiku, aku takut ia merasa bahwa aku tidak percaya padanya.
Setelah masuk ke dalam rumah, aku mengawasi pergerakan mobil suamiku yang tidak kunjung pergi. Rasanya pun lama sekali Bunga keluar pagar dengan Zee.
Sampai akhirnya….
...****************...